Penyakit itu menyelamatkanku

Jus Alpukat itu hanya kutatapi dingin. Aku tak memiliki niat untuk meminumnya. Ya, entah kenapa aku memesannya. Aku hanya merasa aku harus memesannya. Entah mengapa, aku selalu merasa kalau dia hadir di sini.

***

“Kau senang sekali dengan Jus Alpkukat?”
“Kau sendiri kenapa senang dengan Jus Jeruk?”
“Rasanya manis. Aku senang dengan yang manis.”
“Pantas saja kau menikahiku. Karena aku manis bukan?”
“Idih! GR!”
“Hehe..”

***

Kenapa? Kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya? Sudah setahun lamanya semenjak peristiwa itu. Satu tahun sudah dia meninggalkanku. Bukan! Dia tidak meninggalkanku. Tuhan sayang padanya. AIDS telah mengakhiri perjuangannya di dunia. Maafkan aku Kekasih. Maafkan aku yang telah menodaimu bertahun-tahun yang lalu. Aku tak tahu kalau pergaulan bebasku telah menghadirkan virus nista dalam diriku.

Sampai sekarang aku tak mengerti akan sikapmu. Tak sedetik pun kau meninggalkanku. Kau tak pernah marah padaku. Semenjak kau diketahui mengidap penyakit itu, kau memang berubah. Tapi perubahanmu membuatmu merasa menjadi lebih baik. Kau anggap itu teguran. Kau anggap itu peringatan. Kau tahu akan ada kehidupan yang lebih kekal. Lalu kau perbaiki dirimu. Pergi dari dunia hitam. Tak lupa pula kau mengajakku. Mengajak jiwa, yang sejak saat itu, yang hampir setiap hari mengutuki dirinya. Tanpa kusadari, penyakit itu menyadarkanku.

Kekasihku, aku tak kuat lagi. Sepertinya aku akan meninggal sebentar lagi. Tak apa, aku memang ingin bertemu lagi denganmu. Bisakah? Maukah Dia memaafkanku?
“Ayah kenapa menangis?”
“Ayah tidak menangis. Tidakkah kau melihat senyuman Ayah?”
“Ya. Tapi Ayah juga menangis”
“Ini tangis bahagia.”
“Bahagia kenapa?”
“Bukankah kau bilang kau sudah hafal setengah al-Qur’an? Ayah bangga denganmu nak. Jangan seperti Ayah.”
“Aku juga bangga dengan Ayah.”

Anakku memelukku, yang terbaring di tempat tidur, dengan uraian air matanya. Aku tahu aku dibiarkan hidup satu tahun lebih lama untuk setidaknya memenuhi kewajibanku pada anakku. Kini, dia telah akil baligh. Pengobatan yang selama ini kami lakukan memang hanya untuknya. Kami tak ingin dia tertular virus seperti kami. Kami ingin membesarkannya setidaknya hingga dewasa. Dan kini,dia telah mengerti semuanya. Dia memang pintar. Besok keluarga adikku akan membawanya. Aku memang mengamanahkan anakku pada adikku. Aku yakin adikku akan mendidiknya dengan baik. Dia memang sangat berbeda denganku. Dia orang yang taat agama.

Ya Tuhan kini aku berpasrah diri pada-Mu…(Entah kenapa, jus alpukat itu menumpahkan isinya layaknya sebuah tangisan...)

dikirim muhammadusysyawal 10 weeks 1 hari yang lalu
Tag: