"well, hanya Allah yang tahu apa maksudku, Pak"
"“Kamu sangat naif, itulah sebabnya saya selalu menelponmu untuk menanyakan pendapat kamu.” Seru pria itu. Smiling voice-nya terdengar kentara sekali. Gadis itu menunduk sambil tetap memegang ponselnya agar menempel di telinganya. Ah andai gadis itu bisa bertatap langsung dengan pria itu sekarang, ia ingin tahu sekali apa ucapannya tulus atau dibuat-buat sebagai alasan untuk selalu menelponnya hampir setiap saat.
“Naif?” Sebuah tanya yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Gadis itu berpikir keras, apa memang dirinya naif.
“Iya, kamu terlalu memandang dunia dari sudut pandangmu sendiri. Menganggap semuanya sama seperti kamu. Ideal selayaknya apa yang kamu konstruksikan dalam pikiranmu. Dan yang utama, kamu selalu membantah semua kata-kataku. Ibaratnya kamu itu penyeimbang agar aku tahu harus memutuskan apa.” Pria itu bercerita makin berapi-api.
“Tapi pak, saya membantah bukan karena saya tidak setuju, tapi kebanyakan apa yang bapak usulkan selalu saja bertentangan dengan keyakinan saya.”
Sebuah tawa renyah menjawab pernyataan si gadis, “Itulah sebabnya saya selalu menelponmu. Kamu selalu memberi jawaban polos, yang naif, jujur, terdengar klise tapi sebenarnya apa yang kamu ucapkan adalah benar.”
Gadis itu tersenyum diam-diam sebelum memulai pembicaraan pertama dari puluhan pembicaraan berikutnya.
* * *
Mereka saling menatap. sekilas saja, lalu si pria membuang muka. Si gadis menunduk. Mengharapkan keadaan berubah, kembali membaik seperti dulu, sebelum kesalah-pahaman itu muncul.
“Saya tidak ada maksud apa-apa ketika menceritakan itu, Pak. Tidak ada maksud menyindir atau apapun. Yang saya lakukan murni tanpa saya pikirkan untuk menyinggung Bapak, saya hanya melakukan sesuatu yang menurut saya baik.”
“Itulah, karena kamu terlalu naif, mengganggap semua orang berpikiran sama denganmu, kamu jadi ceroboh. Apa kamu tidak berpikir yang kamu lakukan itu menyakiti saya?” Dia bicara dengan nada tinggi. “Padahal saya percaya sekali padamu, saya menceritakan semua yang saya alami, rasakan, dan semua harapan-harapan saya, tapi kamu malah menginjak saya.”
“Saya tidak ada maksud, Pak.” Kata gadis itu lirih hampir menangis.
“Dengar, mulai sekarang, jangan harap saya akan membantumu lagi.” Katanya sambil menunjuk wajah si gadis lalu buru-buru pergi. Pria itu berjalan cepat membelah gerimis. Sedangkan gadis itu berdiri terpaku memandang punggung pria itu sampai menghilang. Si gadis berpikir, membantu? Bukankah selama ini gadis itulah yang selalu meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah pria itu?
Tak lama gadis itu pun berlalu.
* * *
Waktupun berlalu, tak ada lagi yang tersisa dari rasa saling percaya itu kecuali sekat-sekat penghalang yang kini tinggi menjulang.
dikirim kenary 27 minggu 3 hari yang laluTag:








