Immortality

40
points
"

Cerpen Pertamaku... Harap dikomentari ya...
Thx a lot!

"

Gelap. Ngilu terasa di sekujur tubuhku.

Perlahan, aku membuka mataku dan memandang ke sekitarku. Berbagai buku, mulai dari Crafts and Hobbies(1), My Story So Far(2), The Da Vinci Code(3), hingga Naruto(4) nampak bertebaran di lantai, meja belajar, dan tempat tidur. Rupanya aku ada di kamarku sendiri. Sepertinya aku tertidur siang tadi saat membaca buku-buku tersebut, sekalipun tak ada yang masuk ke dalam otakku.

Aku menghembuskan napas.

Sudah malam. Aku mendekati jendela. Aneh, tak biasanya satu bintang pun tak terlihat. Bukan hanya bintang, bulan pun sama sekali tak nampak. Angin yang biasanya menyentuh lembut permukaan tubuhku, malam ini berhembus kencang seakan menggetarkan pembuluh darahku. Mungkinkah mereka menjadi seperti itu karena turut iba akan kepedihan hatiku ini?

Aku kembali menghembuskan napas.

Lantai kayu yang mengalasi lorong di balik kamar ini berderit dengan keras. Aneh, rumah ini seharusnya kosong. Aku yakin telah mengunci semua pintu dan jendela. Apakah ada seseorang yang berjalan di lorong itu? “Siapa?” Hening. Tak ada jawaban yang kuterima. Namun, gagang pintu tiba-tiba terayun perlahan, dan pintu terbuka.

Aku hanya dapat membelalakkan mata melihat sosok yang tiba-tiba ada di depanku. “Jared?” Pria tegap yang ada di hadapanku itu diam saja. Ia tetap tampan dan gagah sejak terakhir kali aku melihatnya. Namun, raut wajah dan sorot matanya nampak sangat pilu. Mengapa? Kamu tidak harus bersedih. Karena yang tersakiti itu aku, bukan kau.

“Untuk apa kau kemari, Jared?”
Ia tak menjawab. Aku berjalan mendekatinya perlahan-lahan.
“Leira.”
“Ya?”
Ia terdiam lagi.
Aku lagi-lagi menghembuskan napas. “Jared, jawab aku. Ada apa sebenarnya?”

Ia hanya terdiam memandang ke arahku. Namun, mengapa pandangannya seolah menembus diriku? Seakan yang sedang ia lihat bukan aku, melainkan sesuatu yang berada dibalikku. Aku menoleh ke belakangku. Tak ada apa-apa di sana, hanya sebuah foto diriku yang kupajang di atas meja belajar.

“Hey, jangan main-main lagi. Ayo jawab sekarang.”
Ia tetap saja diam.
“Jared! Kau dengar aku, kan?”
Hening.
“Dengar, Leira.”

Aku menghembuskan napas untuk yang keempat kalinya dalam satu jam terakhir ini. Akhirnya ia bicara juga. “Ya, aku mendengarmu sejak tadi. Cepat katakan apa yang kau mau. Jangan terus-menerus diam seperti ini. Kau membuatku takut.”

“Aku minta maaf telah menyakitimu. Mungkin aku memang salah telah mengakhiri hubungan kita demi Andrea yang sahabatmu. Namun aku tak mampu menahan perasaanku. Aku dan Andrea benar-benar saling mencintai. Selain itu, perasaanku padamu perlahan-lahan sirna dan berubah menjadi rasa sayang terhadap sahabat.”

“Aku sudah dengar itu tadi pagi.”
“Aku tak tahu kau memaafkanku atau tidak.”
“Tentu saja aku tak bisa memaafkanmu. Hatiku telah terluka, tahu.”
“Namun kuharap itu tak menjadi alasanmu untuk melakukan semua ini, Leira.”
“Apa maksudmu? Memangnya aku telah melakukan apa?”

Jared menghembuskan napasnya. “Semoga kau beristirahat dalam kedamaian abadi.”

Jared membalikkan tubuhnya dan beranjak hendak keluar dai kamar. “Tunggu! Aku tak mengerti apa maksudmu, Jared!” Aku bergerak, berusaha menggapainya. “Jared! Tunggu aku! Apa kau dengar?” Aku menepuk pundaknya, namun itu hanya menjadi keinginanku semata. Tanganku tak pernah menyentuh pundaknya, melainkan menembusnya.

Barulah aku ingat sekarang…

Aku adalah HANTU…

(1) buku yang berisi mengenai cara-cara membuat suatu keterampilan, keluaran Reader’s Diggest
(2) buku autobiografi dari pemain sepakbola ternama, Wayne Rooney
(3) novel yang terkenal dan laris di berbagai belahan dunia, ditulis oleh Dan Brown
(4) komik Jepang yang membahas mengenai kehidupan ninja, dibuat oleh Masashi Kishimoto

Your rating: None Average: 5.7 (7 votes)
dikirim Olivierly 27 minggu 2 hari yang lalu
Tag: