Ketidakpastian akan selalu muncul dalam kehidupan...
Hanya keyakinan yang bisa mengalahkannya...
Memasuki jam pelajaran ke lima hati Dian tak karuan takutnya. Tatapan tajam dilorong itu tak kunjung hilang dari dalam benak Dian. Butir-butir keringat pun mengalir deras dari kepala menuju ke dagu, lalu menetes jatuh. Siapa saja yang melihat Dian dalam keadaan seperti ini langsung bertanya-tanya apakah dia sakit dan mau dibawa ke ruang kesehatan. Dian pun hanya menggelengkan kepala dan berbohong bahwa cuaca panaslah yang membuatnya berkeringat. Semuanya hanya terdiam bingung mendengar kata-kata Dian itu karena tempat Dian duduk adalah tepat berada di atas kipas angin yang sudah dinyala dengan kecepatan penuh.
“Siang, anak-anak. Sesuai dengan informasi minggu lalu, hari ini kita ada ulangan.”
Suara guru yang baru masuk itu membuat para murid dengan lesu menaruh tas-tas mereka di depan kelas lalu mengambil kertas ulangan di meja guru. Dian dengan tenang mengambil kertas ulangan di depan dan kembali ke tempat duduk, siap untuk mengerjakan apapun soalnya. Setelah suasana kelas diam, bu guru bangkit berdiri dan membagi soal-soal ulangan di setiap baris lalu dilanjutkan oleh para siswa ke arah belakang.
Selang beberapa detik ketika Dian mendapatkan soal dari teman yang ada di depannya, suara ketukan pintu terdengar, membuat semua orang di kelas menoleh ke arah suara itu. Paru-paru Dian serasa berhenti, tak bisa bernafas menahan gejolak ketakutan di dalam dirinya. Cewek aneh itu kini sedang berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan yang tajam, lalu beralih kepada guru.
“Ada apa?”
Hanya itu saja yang dapat ditangkap telinga Dian. Merasa tak memiliki urusan dengan cewek aneh itu Dian kembali fokus pada soal ulangan di depannya. Dikerjakannya dengan mudah nomor pertama, lalu berhenti sejenak mengambil nafas. Seketika itu juga hati Dian seperti terhimpit dua batang besi yang besar. Cewek aneh itu sudah selesai berbicara dengan bu guru dan kini dia melangkah mendekat ke arah meja Dian. Degupan jantung Dian terdengar jelas, dan serasa aliran darahnya juga menekan lebih kuat di dalam arterinya. Semakin dekat cewek aneh itu ke arah Dian membuat pikirannya melayang aneh juga. Dibayangkannya cewek aneh itu akan menamparnya lagi meski di depan guru, atau lebih parah lagi akan menghajarnya hingga babak belur. Kesialan nutuk yang kedua kali telah datang tepat di hadapannya. Dian mengangkat kepalanya pelan-pelan dan melihat seulas senyum manis yang ia tahu bahwa itu dibuat-buat.
“Dian, boleh pinjam paket Matematika, nggak?” Dikatakan dengan nada yang memaksanya untuk mengatakan iya.
“Hmm… Boleh.” Dian hanya pasrah menghadapi situasi ini dan beranjak ke arah depan kelas untuk mengambil paket Matematika.
“Terima kasih ya.” Seraya mengambil paket tersebut dari tangan Dian.
“Iya.”
Tanpa ada kata-kata lagi, cewek aneh itu segera permisi dan meninggalkan kelas. Dian hanya bisa mengeluh dan mencatat dalam pikirannya untuk segera membeli paket Matematika yang baru karena ia tahu paketnya yang tadi tak akan pernah kembali lagi.
Bel berbunyi kembali tanda kegiatan sekolah untuk hari ini telah berakhir. Dian yang telah lama lupa akan rasa lapar dalam perutnya kini hanya bisa duduk termangu tak berani untuk keluar kelas. Terbayang, cewek aneh itu akan mendatanginya, menamparnya atau mungkin hal yang lebih mengerikan lagi. Dan pada akhirnya nanti, dirinya hanya akan tinggal nama saja. Diarahkan tangannya mengusap-ngusap kembali tamparan cewek aneh itu pada pipi kirinya, masih terasa sakit. Ditambah lagi tatapan waktu itu, ketika Dian berjalan menyusuri lorong ruang kesehatan, tak ada lagi keraguan dalam diri Dian bahwa kini dirinya dalam bahaya besar.
Tangannya gemetar ketika memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Nafasnya tak beraturan layak sehabis olahraga. Teman-teman Dian yang tadi masih banyak di kelas kini sudah berkurang satu demi satu. Teman-teman Dian yang bertanya pada dia tentang kenapa dia tidak pulang hanya diberi alasan bohong yaitu dia masih ada kerjaan di sekolah, padahal Dian saat ini sedang bingung bagaimana caranya dia bisa pulang dengan selamat sentosa tanpa harus bertatap muka dengan cewek aneh itu.
Kelas telah kosong, hanya ada angin-angin sepoi saja yang menemani diri Dian seorang. Ditatapnya pintu kelas dengan wajah cemas. Ditunggu beberapa saat sambil mengusap keringat di dahi. Hati kecil Dian menyuruhnya untuk berlari keluar sekolah dengan menutup mata tanpa menggubris siapapun yang memanggil. Namun pikiran itu ditepis langsung karena dia tahu hal itu adalah hal konyol yang sudah tidak ia sukai sejak kecil. Diketuk-ketukan jemari lentik miliknya pada meja sambil memikir keputusan apa yang tepat untuk dilakukan.
Menit-menit berlalu, ketukan jemari Dian sentak berhenti berganti menjadi genggaman tangan yang menandakan kuputusan terakhir sudah terambil. Dian menegakkan badan lalu perlahan-lahan melangkah ke depan menuju keluar kelas. Angin sepoi-sepoi kembali menerbangkan rambut Dian untuk kesekian kalinya dan terasa dingin di bagian leher karena bercampur dengan keringat yang sedari menempel erat di tubuh Dian. Di mulut pintu, Dian dengan sikap sangat hati-hati menggenggam ujung pintu dan mengarahkan kepalanya keluar untuk mengintip adakah seseorang yang sedang menunggunya keluar dari sana. Belum sempat seluruh kepala Dian keluar dari pintu, sebuah tangan sudah memegangnya terlebih dahulu. Sentak Dian berteriak ketakutan.
“Ah!!! Jangan dekati aku! Jangan dekati aku! Aku tidak punya salah padamu!” Teriak Dian sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir orang di depannya.
Dian merontak lebih keras lagi ketika tangannya kini sudah tidak bisa digerakkan lagi karena kuatnya cengkraman orang tersebut padanya. Karena takut, Dian menutup rapat-rapat matanya siap menerima tamparan kedua. Keringat yang tadi sudah mulai mengering kini kembali lagi keluar. Dicoba dengan menendang-nendang tulang kering orang tersebut, namun tak sampai. Tak tahan dengan keadaan ini, membuat akhirnya Dian berteriak kencang dan menggema di seluruh ruangan. Kaget mendengar teriakan yang begitu keras, genggaman erat pada tangannya mulai melemah dan akhirnya terlepas. Dian yang merasa bahwa kini dirinya di atas angin segera membalas balik dengan menamparnya sekuat tenaga. Detik berhenti ketika orang itu terjatuh ke lantai. Kedua orang itu secara bersama diam dan saling menatap kaget. Dian dengan tamparan hanya bisa membisu, sedangkan orang tersebut hanya bisa mengelus pipinya keheranan.
“Steven! Kamu masih ada di sini? Maaf ya, aku kira cewek aneh itu…” Kata Dian tercengang dengan apa yang barusan dia lakukan.
“Terus, kamu kenapa tiba-tiba nampar aku?”
“Maaf ya, Steven. Aku kira cewek aneh yang tadi pagi.” Kata Dian dengan muka penyesalan dan kini mendekat untuk mengelus pipi Steven yang ia tampar.
“Cewek aneh siapa?” Tanya Steven penasaran.
“Tadi pagi, ada cewek aneh yang nampar aku dan bilang kalau tidak boleh dekat-dekat denganmu, Steven. Jadi tadi pagi aku gigit tangan kamu juga karena aku kira kamu itu cewek aneh itu.”
“Cewek siapa?”
“Tidak kenal, pokoknya dia mengancam untuk tidak dekat-dekat kamu.”
“Hmm… Pasti salah satu fansku. Maaf kalau gitu, kamu jadi harus tersiksa begini.”
Mendengar kata fans dari Steven membuat Dian tertawa geli. Sekejap rasa takut dalam diri Dian pun hilang karena kini Steven berada bersamanya. Dibantu Steven yang terjatuh karena tamparannya tadi. Ditariknya kuat-kuat tangan Steven membuat Steven yang mengira Dian tak akan menarik sekuat itu hilang keseimbangan. Steven yang semula hanya akan berdiri kini terdorong ke depan membuat mereka berdua sekarang berada dalam jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas yang hangat dapat mereka rasakan satu sama lain. Sejenak mereka berdua hanya bisa saling menatap. Mata coklat yang bening milik Steven menyita perhatian Dian. Mata Steven yang tegas seakan-akan menyeret Dian masuk ke dalam hatinya. Membiarkan Dian melihat isi hatinya. Binar-binar mata Steven seakan menyatakan diri bahwa Dian adalah wanita yang sudah menjadi pujaan hatinya sejak dulu. Degup jantung Dian kembali bekerja keras. Detak jantung itu kembali merambatkan suara yang kuat dalam gendang telinga, memberitahukan Steven bahwa dirinya juga menginginkan hal sama.
“Dian, bolehkah aku melanjutkan perkataanku yang tadi tertunda di ruang kesehatan.” Tanya Steven dengan senyum manis memikat.
“Perkataanmu yang mana?” Tanya Dian berbohong untuk mengulur-ngulur waktu.
Walaupun Dian tahu bahwa dirinya juga suka pada Steven, tapi sampai saat ini, di dalam hati kecil Dian masih terasa bahwa belum pada waktu yang tepat untuknya menjalin kasih dengan Steven, terlebih lagi dengan adanya kedatangan cewek aneh yang memperburuk keadaan mereka berdua.
“Sebenarnya sejak dulu…”
“Eh… Steven, aku buru-buru nih, aku mau ada les. Jadi aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu besok.” Selanya dengan cepat sambil melangkahkan kaki keluar kelas meninggalkan Steven yang kebingungan dan hanya mengiyakan perkataan Dian. Selama perjalanan keluar sekolah, Dian hanya bisa berdoa agar Steven tetap menunggunya, menunggunya hingga ia siap menerima cinta dari seorang lelaki. Tak sadar dia meneteskan air mata, air mata permohonan agar permintaannya dikabulkan.
Diluar sekolah, hati Dian masih berdegup keras mengingat seberapa dekatnya tadi dia dan Steven berdiri. Dipegang dadanya untuk merasakan bahwa dia benar-benar tidak sedang berkhayal. Dilayangkan kepalanya kembali ke sekolah dan bersyukur Steven tidak mengejar dirinya karena dia juga tidak tahu harus berbuat apa bila sampai Steven mengejarnya. Ditatapnya kembali ke arah jalan di depannya sambil mencari-cari mobil sedan silver. Ditemukan mobil itu sedang parkir di pojok jalan sempit tidak jauh dari tempatnya berada. Dengan berlari kecil Dian menuju ke arah mobil tersebut. Menghempaskan tubuhnya ke dalam kursi mobil dan menghela nafas panjang. Ditanya sopir tersebut apakah langsung pulang. Dian menggangukkan kepalanya namun segera meralat gerakannya. Dikatakannya untuk pergi ke toko buku terlebih dahulu.
Esok harinya Dian berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya karena ayahnya ada rapat mendadak di kantor. Dian yang biasa banyak mengobrol dengan ayahnya kini hanya diam melihat awan dari kaca depan mobil. Ayah Dian yang melihat kelakuan anaknya yang tidak biasa itu hanya senyum-senyum sendiri berpikir bahwa itu adalah masalah percintaan yang sering dialami kaun remaja. 15 menit kemudian mobil Dian telah memasuki kawasan sekolah, sedangkan Dian masih tetap termenung memikirkan nasib yang akan dia terima hari ini.
Suasana sekolah masih sepi, hanya ada seorang satpam yang stand-by 24 jam di sekolah yang tentu saja dilakukan bergantian dengan satpam lainnya. Kabut masih terlihat meski sangat tipis. Butir-butir air yang mengembun pada dedaunan seolah-olah memancarkan kesegaran bagi mereka yang melihatnya. Udara dingin yang berhembus menusuk kulit membuat Dian mempererat pelukan pada dirinya sendiri dan segera masuk ke dalam sekolah. Lorong utama sekolah ternyata tak kosong sepenuhnya seperti yang dia pikirkan. Sudah ada beberapa siswa datang lebih pagi daripada dia. Guru-guru yang bertugas pagi juga sudah ada di ruang guru maupun administrasi. Wajah mereka tetap berseri-seri siap untuk mengajar meski pelajaran yang diajarkan adalah yang tentu saja sudah melekat erat dalam otak mereka. Diujung lorong utama sekolah ada ruangan yang cukup besar dan mengarah pada dua arah lagi. Arah pertama adalah menuju ke kantin dan arah yang kedua adalah menuju ke lantai dua tempat kelas Dian berada. Sejenak Dian berpikir untuk langsung saja ke kelas dan tidur sebentar karena tadi dia harus bangun pagi-pagi yang bukan merupakan kebiasaannya. Namun, dilangkahkan kaki ke arah kantin untuk membeli makanan kecil untuk menemaninya nanti bila ternyata di kelas tidak ada siapa-siapa.
Dilewatinya gerbang kantin dan segera menuju ke kantin paling pojok tempat biasa dia makan. Dari kejauhan terlihat bahwa seseorang sedang membeli di kantin yang akan dia datangi. Jarak dari dia dan kantin kian memendek dan pada langkah-langkah penghabisan Dian berhenti dan berbalik, lalu mengatupkan mulut dengan kedua tangannya. Cewek aneh yang dia takuti kini sedang berdiri tegap di sana, mungkin juga sekarang sedang menatap tajam padanya. Pikiran Dian segera menyuruhnya beranjak pergi dari situ, tapi setelah itu mengurungkan niatnya karena percuma, cewek aneh itu bisa saja mendatangi kelasnya. Dian menyesal kenapa dia tidak langsung saja naik, tidak perlu membeli camilan karena dia sudah makan tadi di rumah. Diputar otaknya untuk mencari alternatif lain dan setelah beberapa lama memungguinya, diputuskan untuk mendatanginya guna menjelaskan semua. Didekatinya dan ketika sudah dalam jarak yang cukup untuk melakukan interaksi, pincingan matanya membuat mulut Dian terkunci rapat.
“Masih berani kamu dekat-dekat sama dia!” bentaknya langsung ke pokok permasalahan.
“Tidak, waktu itu aku hanya memperban lukanya saja.” Jawab Dian pelan tapi pasti.
“Kalau cuma perban luka, kenapa bisa sampai membuat hatiku panas! Kalau jawabanmu sampai tidak bagus, mati kau!” bentaknya pada Dian.
“Tapi… Tapi…” Tak tahu Dian akan nama cewek yang sedang dia ajak bicara.
“Tapi apa! Kamu itu sudah mengganggu PDKTku dengan Steven!” bentaknya lagi.
“Tapi kalau memang kamu suka dia, kita kan bisa saingan secara sehat. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” Kata Dian polos.
“Tidak ada yang boleh mengganggu!!! Tidak ada persaingan sehat!!! Tidak ada yang boleh tahu aku suka dia!!! Dan Namaku Desy!!! Kuperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan Steven, kalau sampai aku melihatmu dengannya lagi, kamu tahu akibatnya.”ditinggal begitu saja tanpa menunggu Dian mengeluarkan unek-uneknya.
Desy kini telah membelakangi Dian. Dengan kuat diremasnya nasi bungkus yang barusan ia beli. Matanya telah berkaca-kaca, ingin menangis. Dia tahu dia tidak akan bisa menandingi Dian dalam menaklukan hati Steven. Dilangkahkan lebih cepat menjauhi Dian takut ketahuan kalau sebenarnya dia tidak sejahat yang dipikirkan. Dengan menundukkan kepala Desy menaiki tangga sekolah, tapi baru pada pijakan pertama terlintas perbuatannya pada Dian waktu itu. Diseretnya Dian ke lorong sepi di ujung sana dan ditampar keras-keras pada bagian pipi. Sejenak Desy memegang pipinya sendiri merasakan sakit yang dirasakan Dian waktu itu. Diulang-ulang memori itu dan serasa di hati bahwa yang ia lakukan adalah salah. Tapi segera diusir pikiran itu dan berkata meyakinkan diri bahwa dia melakukan itu karena marah pada Dian yang mendekati Steven. Dia marah karena Dian mulai bermesraan dengan Steven. Dia marah karena Dian mulai bermanja-manja dengan Steven. Dan akhirnya air mata menetes jatuh dati pipi Desy, tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Dia tahu dia marah karena dirinya tidak mungkin mendapatkan Steven.
Pikiran Dian kembali stress menghadapi hal ini. Diurungkan niatnya untuk membeli camilan di kantin dan sejenak duduk diam di kursi kantin. Dilihatnya kini Desy sedang membelok keluar dari kantin. Ditatapnya dan melayanglah pikirannya ke awan. Sebuah pertanyaan muncul, apakah dia harus berhenti mengejar Steven, atau berbuat sebaliknya. Direnungkan sambil melihat ke sekeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan jawaban atas pertanyaannya tadi. Hanya kebimbangan yang terasa di hati, tak ada jawaban yang memuaskan hati Dian. Ditarik dalam-dalam udara masuk ke paru-paru, ditahan sebentar, lalu dihembuskan pelan untuk sekedar menenangkan diri. Merasa sedikit tenang Dian pun beranjak pergi meninggalkan kantin.
Di anak tangga pertama, Dian bertemu dengan Steven.
“Kenapa Dian, kok murung?”
“Tidak kok, aku ke kelas dulu ya.”
Hanya itu yang dikatakan Dian lalu segera meninggalkan Steven dalam kebingungan untuk kedua kalinya.
Jam pertama dilewati dengan ulangan Biologi. Rasa stress di kepala Dian membuat dia tidak bisa berpikir jernih. Semua soal yang mudah menjadi terasa sulit. Jawaban yang tentunya perlu penjelasan yang panjang lebar oleh Dian dijawab dengan singkat. Dan diakhir ulangan Dian hanya bisa memijat kepalanya karena ini ulangan kedua yang akan hancur lebur dengan warna merah. Setelah itu, sisa waktu oleh Dian hanya dihabiskan dengan duduk di kursi menikmati udara yang dihembuskan oleh kipas angin sambil memikirkan kelanjutan hidupnya. Apakah bisa dia nanti bersama dengan Steven. Apakah bisa nanti dia nanti berbaikan dengan Desy. Apakah bisa nanti ulangannya bagus. Semua hanya bisa dipikirkan tanpa satupun bisa diatasi.
Hari demi hari dilewati Dian dengan perasaan yang tidak enak. Hari-harinya selalu tak jauh dari pengamatan mata Desy. Di saat istirahat, waktu pergi ke kantin, ke WC, bahkan kadang-kadang Desy masuk ke kelasnya hanya untuk menakuti-nakuti dirinya. Pernah suatu hari supir Dian tidak bisa menjemput dan berakibat dia harus pulang sendiri. Di saat sedang berjalan ke jalan raya, sebuah motor telah berhenti tepat di sampingnya. Ditatapnya dengan perasaan curiga bahwa dia mau diculik, tetapi ketika helm orang tersebut dibuka ternyata yang keluar adalah seseorang yang lebih ditakuti daripada penculik, yaitu Steven. Sadar bahwa tidak biasanya Dian berjalan kaki sendiri membuat Steven berinisiatif untuk mengantarnya pulang ke rumah. Dian sendiri hanya bisa menggangguk dan naik ke motor Steven. Dilaluinya jalan-jalan dengan perasaan was-was dan juga senang karena kini di depannya ada seorang pria ganteng pujaan hatinya. Tak sekedar diantar pulang, mereka berdua mampir dulu di café dekat rumah Dian dan tentu saja di sana mereka menikmati suasana layaknya pasangan yang baru jadian.
Hari demi hari berganti minggu. Ulangan-ulangan sudah banyak dibagikan. Ulangan Matematika mendapat 30. Ulangan Biologi 55. Ulangan Fisika dapat 40. Dan ulangan Bahasa Indonesia mendapat 65. Melihat nilai-nilai yang begitu merah darah, Dian hanya bisa memejamkan mata menunggu seseorang menepuk pundaknya dan berkata bahwa ini hanyalah sebuah mimpi belaka.
Beberapa hari setelah pembagian ulangan, keadaan Dian membaik. Dia tidak lagi mendapat teror dari Desy. Kedatangan Desy ke kelas pun juga sudah mulai jarang. Dian pun tersenyum sendiri melihat kehidupannya akan segera kembali seperti semula. Namun, teringat bahwa sudah 1 bulan lama dia tidak bertemu dengan Steven, saling menyapa pun hanya satu kali. Dian merindukan waktu bersama dengan Steven. Waktu bercanda dengannya. Waktu berduaan saja dengannya. Waktu ketika dia bersama dengan Steven di café. Dan waktu pertama kali bertemu dengannya.
Hujan begitu deras menghantam bumi membuat telinga siapapun terasa sakit harus mendengarnya. Sudah 2 jam lamanya Dian menunggu mobil sedan silver yang akan menjemput dirinya, tapi sampai saat ini masih belum datang. Di sana hanya tinggal dia sendiri saja yang merupakan siswa. Para guru pun kini sudah mulai menuju ke area parkir untuk pulang. Satpam hanya tinggal di pos penjaga tak kemana-mana karena hujan yang lebat itu. Tak sadar bulu kuduk di tangan Dian mulai berdiri pertanda dinginnya udara telah masuk ke dalam tubuh. Tak tahu harus apa Dian hanya termangu melihat keluar pagar sekolah berharap sedannya segera muncul.
Kini udara telah menusuk hingga tulang Dian. Dinginnya tak terkira. Dian masih menatap pagar sekolah yang catnya sudah memudar lama sebelum ia masuk sekolah ini. Karena dingin, Dian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengitari sekolah sekedar menggerakkan badan agar tetap hangat. Dibalikan badannya menuju ke lorong utama tapi langkahnya terhenti. Ternyata masih tersisa seorang siswa lagi. Tampangnya ganteng menurut Dian, postur tubuh yang tegap dan tinggi membuat dirinya terlihat berwibawa. Rambut yang jabrik dan kulitnya yang putih bersih serta wajahnya yang tanpa jerawat juga menjadi tambahan plus bagi cewek yang sedang mencari jodoh, termasuk Dian. Terpana oleh laki-laki di depan mata membuat orang tersebut salah tingkah.
“Kenapa lihat-lihat? Ada yang salah ya?” tanya orang itu bingung sambil mencari-cari letak kesalahannya.
“Ah… Hanya kaget ada orang lain selain aku di sini.”
“Oh… Aku tadi ada kerjaan.” Balas siswa itu dengan senyumannya.
“Kerjaan apa sampai sore begini?” balas Dian dengan senyuman pula.
“Ya, hanya tugas buat remidiku.” Jawab siswa itu sambil mengusap-ngusap kepalanya.
Baru saja Dian ingin berkata lagi, siswa itu dengan cepat menyuruh Dian untuk menunggunya sebentar. Dia segera berlari keluar sekolah dan berbelok ke kanan membuat Dian tak bisa melihatnya lagi. Ditunggu beberapa saat sambil ikut berjalan pelan ke arah siswa itu pergi. Tak lama kemudian, dia datang dengan membawa nampan silver dan 2 mangkok bakso di atasnya. Dian tertegun menyaksikan itu. Dirinya tak menyangka dia akan begitu baik pada Dian yang sudah menunggu 2 jam dengan pertu keroncongan.
“Nih buat kamu. Kamu pasti sudah lama di sini.” Diberikan satu mangkok pada Dian.
“Terima kasih ya. Kita baru aja ketemu tapi kamu sudah baik padaku.” Diterima bakso itu hati-hati karena panas.
“Oh ya, namaku Steven.” Katanya memperkenalkan diri.
“Namaku Dian.” Balas Dian juga.
Hujan deras yang dingin dan mangkok bakso yang panas ditambah dengan seorang cowok ganteng di sampingnya membuat suasana menjadi romantis. Canda dan gelak tawa mereka mengalahkan gemuruh hujan saat itu. Tiap canda yang dikatakan oleh Steven membuat Dian tidak bisa lepas dari rasa riang yang kini membalut dirinya. Tiap tawa yang keluar memiliki suatu getaran yang membuat detak jantung Dian bergemuruh keras. Tiap senyum yang muncul dalam bibir Steven seakan memberikan sesuatu pada hatinya yang sudah lama tidak pernah ia temui. Sesuatu yang bila terisi terus-menerus akan membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin dan berarti untuk dijaga, yaitu sebuah cinta yang murni dari hati yang terdalam.
Selesai menyantap bakso, Steven menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Dian pun setuju dan segera menuju ke area parkir. Digasnya motor itu agak lama agar mesin tidak terlalu dingin. Lalu setelah merasa cukup, dilajukan keluar sekolah dan tentu saja mereka berdua terkena hujan lebat itu. Basah kuyub dalam kemesraan. Dan hati Dian waktu itu juga basah kuyub dengan diri Steven.
BERSAMBUNG...
dikirim Cire 27 minggu 3 hari yang laluTag:









