Sampai hari ini pun aku masih bersyukur karena bisa menatapmu. Tidak peduli kau sedang muram atau tersenyum
.
Seperti biasa, sore hari adalah waktuku pulang dari kampus. Melewati jalan yang sama, pepohonan rindang di samping jurusan mesin dan penerbangan. Biasanya matahari bersinar terik di musim seperti ini, tapi hari ini langit teduh. Matahari bersembunyi di balik awan, mungkin malu.
”Yosh, hari ini belajarnya cukup sukses. Aku yakin, besok akan bisa lebih sukses lagi.” Aku memotivasi diriku sendiri karena besok ada ujian. ”Ujian itu seperti menghadapi miniboss di game RPG. Kalo levelingnya dah cukup, musuh kayak apapun jadi sepele.” Aku mengatakannya kepada diriku sendiri. Beruntung hari sudah sore, jadi jalan ini sepi. Jika tidak, akan ada orang yang berbisik di belakangku, mengatakan aku orang gila atau apa.
Kalaupun mereka ada dan mengatakan aku gila, aku akan memaafkannya. Perasaanku benar benar sedang melambung. Besok ujian, tapi aku sudah siap sembilan puluh persen. Sepuluh persennya adalah kehadiranku besok.
Aku menatap daun daun yang berguguran tertiup angin. Ah... kalo hati lagi senang, semuanya memang tampak indah ya. Bahkan kucing yang mengeong saja terdengar seperti suara musik. Berat tas di tangan kananku pun jadi tidak terasa.
Tiba tiba aku melihatmu. Sendirian dan terdiam. Ingin kusapa, tapi tidak sanggup kulakukan. Jadi aku hanya tersenyum saja padamu sambil menundukkan kepala tanda hormatku.
Kau tidak membalas senyumanku dengan senyuman, malah kulihat air mata mulai menggenang di pelupuk matamu. ”Ah, jangan menangis.” Kukatakan itu padamu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi jangan kau menangis sekarang di sini.
Mungkin kau menangis karena sedih. Mungkin kau kesepian karena tidak diperhatikan. Banyak kata mungkin yang terlintas dalam pikiranku. Tapi apakah kebahagiaan yang kumiliki sekarang tidak tersampaikan padamu? Tidak bisakah rasa senangku mengobati kesedihanmu? Tidak cukupkah senyumku untuk membuatmu tersenyum?
Kau tetap diam tak menjawab. Air mata itu masih juga tidak berhenti, menetes makin deras. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Ingin kubelai lembut dirimu, tapi itu bukan hakku. Kalau ikut menangis bersamamu, itu bukan sifatku.
Ah, sudahlah. Menangislah sekencang yang kau mau. Memang banyak yang menanti tangisanmu. Tapi tunggulah sampai aku tak dapat melihatmu lagi. Karena tas ini tidak boleh kubiarkan basah. Lalu aku berjalan makin cepat, berusaha meninggalkanmu. Kembali ke rumah tinggalku.
Air matamu semakin banyak. Mungkin kau melihatku menjauh. Menganggapku sama seperti yang lain, tidak memperhatikanmu. Tidak. Bukan itu. Jika ini waktu yang lain, aku bisa membiarkan kau menangis di bahuku. Tapi tidak kali ini.
Aku akan menunggu tangismu reda di bawah atap rumah. Dimana aku tidak bisa melihatmu. Menangislah, tapi jangan berlebihan. Aku akan menanti kesedihanmu hilang dan kau bisa menatapku kembali dengan senyum. Kitapun bisa tersenyum bersama. Aku, kau, dan matahari yang saat ini bersembunyi.
dikirim Psylo 27 minggu 2 hari yang laluTag:









