STAGNASI
Seluruh dunia seakan berhenti. Angin mendadak tidak berkesiur, air juga berhenti mengalir. Rona merasa lumpuh, mendadak seluruh organ tubuhnya terasa ikut mati. Seluruh sistem dikepalanya macet. Kemana lari? Rona tak mendengar apapun yang bernyanyi. Semua dan segala menghilang tak tentu arah. Segala dan semua pergi, bahkan otaknya tak mau bekerja untuk memilah dan memilih ada apa.
Rona meletakkan tubuhnya yang dingin terkena tempias air hujan dari teras ke sebuah kursi tua di sudut. Matanya yang bulat bening menatap curah hujan yang jatuh dari langit diatas sana. Diingatnya hari-hari yang lalu, hujan begini biasanya dia sibuk bercengkerama dengan belitan-belitan gagasan dikepalanya. Tapi sekarang? Hujan kali ini justru hanya membawanya pada pertanyaan-pertanyaan yang saling berlomba memenuhi benaknya. Dan semakin membuatnya bingung harus mencatat yang mana.
Rona ingat, dahulu ketika hujan berderai deras adalah saat berlomba lari dari teras ke halaman depan rumah, berarti menyantap sepiring pisang goreng hangat. Tapi kadang-kadang hujan berarti meringkuk di tempat tidur. Sendiri. Hujan juga berarti luruhnya debu-debu berganti cipratan-cipratan kotor air terkena kaki. Hujan berarti kembali pada negeri putih seperti yang dulu seringkali diceritakan kakek menjelang tidur.
Kini semua itu hilang berganti dengan otaknya yang tumpul berhenti pada satu titik. Tak berganti. Alangkah capai memikirkan segala laju, segala orang dalam segala masa. Rona merasa lelah memampati pikiran kecilnya dengan persoalan segala orang. Dan sekarang, kali ini, semua itu selesai.
Apakah itu berarti tugas telah dirampungkan?
Ternyata tidak. Rona justru terbelit dengan otaknya yang berhenti berpikir. Padahal dulu, ketika berbagai persoalan siapa saja menyapanya, otaknya baik-baik saja. Tidak pernah macet, apalagi berhenti sama sekali. Otaknya baik-baik saja, masih mampu menghitung 2 x 2 = 4, masih mampu merasa manis dan pahit. Tetapi sekarang tidak lagi.
Ketika keinginannya mengistirahatkan otak agar tak semakin parah dengan kesibukannya memilih dan memilah, dengan tuntutan skenario untuk banyak bicara terpenuhi, otaknya justru macet. Otaknya tak mau bekerja. Seakan ada ribuan buruh pabrik berdemo mogok kerja di otaknya sehingga mesin-mesin produksi tidak lagi mampu bekerja karena yang mengoperasikannya dengan asyik bercengkrama bersantai-santai di depan puluhan kejadian yang bisa saja menjadi sumber berita.
Rona merintih. Betapa keadaan seperti ini jauh lebih menyiksa daripada memaksa otaknya terus bekerja pada saat matanya tak bisa lagi diajak bekerja sama. Betapa keadaan ini jauh lebih menyulitkannya dari pada sekedar tergopoh-gopoh menemukan sebuah cerita baru diantara tumpukan berbagai peristiwa yang oleh sebagian orang dianggap tak lagi mewakili perasaan mereka.
Rona terus bercakap-cakap dengan kebosanannya sendiri. Sampai sebuah kilat terang benderang membelah langit memperlihatkan seorang nenek berdiri kedinginan diguyur derasnya hujan dibawah atap regol halaman depan. Siapakah nenek itu?
Siapa tahu nenek itu hanya bayangan dirinya sendiri ketika menjadi sepi tanpa penghuni? Apakah benar dia hanya sebuah bayangan yang diciptakannya sendiri? Ataukah seorang pejalan tua yang sedang mencari tempat mengistirahatkan diri sebelum hujan deras ini berhenti?
Rona membuka pintu. Menemukan sebuah bayangan hitam berdiri di samping pintu regol menatapnya dengan mata lelah. Rona beranjak menghampiri ditengah guyuran air yang deras menampar-nampar bumi. Siapakah engkau? Rona bertanya dengan tatapan matanya. Sang nenek hanya berkedip sejenak, Rona tak mengerti menatap langkah perempuan itu menjauh. Meninggalkan deru tak henti.
Sampai saat ini Rona masih tak mengerti.
dikirim ayy 27 minggu 2 hari yang laluTag:









