Sebenarnya ini belum selesai, masih ada lanjutan ceritanya. tapi Missing Mind benar-benar selesai, nanti akan ada cerita baru lagi (story 2). thanks!!!!
"Missing Mind
Part 3 - Last
Inikah kehidupanku?
Yang semula hanya diterangi oleh bintang-bintang di langit, sekarang malah menjadi anak keluarga terhormat.
Inikah kenyataannya?
Atau hanya mimpi?
Sayang, bahkan bibirku pun tak sanggup menjawabnya.
Aku bukan siapa-siapa. Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa aku harus menerima apa yang bukan milikku?
Aku tak layak.
Tak layak.
Tidak.
Aku harus melepaskan hak ini. Aku bukan seorang Shino Asuka, anak keluarga terhormat yang disegani oleh banyak orang. Aku bukan seorang Shino Asuka yang mempunyai pelayan yang baik budinya.
Aku bukan Shino Asuka.
Bukan aku.
Tapi hati kecilku menegaskan bahwa kenyataan itu takkan pernah dapat disangkal, bagaimanapun caranya.
Tunggu.
Aku sadar, dengan meninggalkan sedikit rasa nyeri di kepala dan cemas di hati.
Kubuka mataku.
Bukan.
Aku masih bermimpi. Entah di mana keberadaanku sekarang. Yang dapat kulihat hanyalah kegelapan semata.
"Hmm?"
Aku melihat secercah cahaya di kejauhan.
"Lari. Lari."
Entahmengapa tetapi hati kecilku memaksaku untuk berlari menjauh.
"Lari, lari, lari."
Tetapi aku tetap tak bergeming.
Mungkinkah aktin dan miosin dalam serabut lurikku tak mau bereaksi sehingga jalinan otot kakiku tidak berkontraksi?
Cahaya itu bergerak mendekat. Makin dekat.
Sekarang cahaya itu berada sejengkal dari tempat di mana aku menjejakkan kakiku. Dari situlah aku dapat melihat siapa gerangan yang membawanya.
Ternyata seorang tua dengan jubah hitam, melekat dan menutupi seluruh tubuhnya. Dengan lilin di tangan kirinya dan sehelai daun di tangan kanannya dia menatap mataku.
Tatapan matanya membuatku sakit.
"Kau tahu sedang ada di manakah kau ini?" desahnya. Aku hanya terdiam setelah mengetahui pertanyaannya tak mungkin kujawab.
Aku yakin berbohong-atau mengatakan hal yang lain hanyalah sebuah kesia-siaan.
Ya, lebih baik aku diam.
"Sebelum kau menemukan kuncinya, kau akan berada di sini selamanya."
"Apa maksudmu??" seruku.
"Fuh..."
Cahaya itupun sirna.
Kegelapan itu kembali menyelimuti seluruh ragaku. Yang kutahu hanyalah suara langkah kaki yang makin menjauh, yang tak kudengar sebelumnya.
Hatiku mulai bergejolak. Nuraniku bernapas terengah-engah, seakan lolos dari maut.
Yang kuhadapi sekarang adalah dua makhluk jalang yang tak pernah mengenal rasa malu. Mereka akan berterus terang sampai aku merasa puas akan jawaban mereka.
Mereka bicara.
"Keluarlah kalau kau bisa."
"Keluar atau mati."
Aku mulai berpikir. Berpikir keras. Kali ini lebih keras dari biasanya.
"Hilang. Hilang. Hilang dan mati."
Entah mengapa tetapi otakku tak merespon. Yang ada di sana hanyalah mimpi-mimpiku, dan kesadaran akan diriku.
"Sepuluh detik lagi, Shino."
Apa? Aku Shino? Benarkah aku ini Shino? Tak mungkin. Aku tetaplah aku.
"Sembilan, Shino."
Aku merasakan hari-hariku hilang. Short dan long term memoryku seakan sirna perlahan. Kini otakku berusaha mencetak blueprint yang isinya hanyalah Shino, Shino, dan Shino.
"Bukan!!!!! Aku bukanlah Shino!!!"
"Tujuh, Shino."
"Enam, itulah kebenaran yang harus kauterima."
Kini aku makin bingung, karena aku seakan tak mengenal diriku. Otakku benar-benar tak menyupport. Di dalamnya hanya ada mimpi-mimpi tak berguna dan satu nama, Shino Asuka.
"Lima, terima dengan hati."
Tubuhku mulai meyakini bahwa setiap anggotanya merupakan milik Shino Asuka.
"Empat, kematian dan kemusnahan."
Aku benar-benar tak sanggup. Ingatanku-yang kuingat sekarang hanyalah mimpi-mimpiku yang terdahulu. Diriku, bahkan namaku saja aku sudah tak tahu.
"Tiga, ini adalah milikmu selamanya."
Segala ingatan tentang diriku sudah dihabisi.
"Dua, peroleh kuncinya."
Shino. Shino. Shino. Shino. Shino. Shino. Shino. Shino.
"Aku... Shino..." desis bibirku perlahan.
Sial!!!
"Satu, tetaplah bermimpi! Dia takkan pernah terkalahkan!"
Selesai.
dikirim ramza_nightmare 27 minggu 1 hari yang laluTag:








