Gadis Bermata Malaikat


Perawan Pasir Putih

Awan putih, pasir putih, buik ombak pun putih…
Berbaur dengan desiran ombak membentuk sayap langit
Mempertontonkan hamparan dunia buih
Terombang-ambing menanti pantai

Pakaian putih, rok putih, kulit pun putih…
Sepasang mata letih menjelajah jauh ke belantara langit
Menangkap rangkaian awan berbentuk sayap malaikat
Menusukkan kegetiran harapan dan penantian

Seorang gadis berdiri melayang di atas gundukan pasir putih. Perlahan dia menyibakkan rambutnya yang lurus, sejenak kilauan hitam bergoyang melewati bahu. Angin pantai sedikit menggoda, seakan ingin membuat rambut si gadis terus berayun cantik. Mata gadis itu tak henti menangkap bayangan langit, matanya begitu teduh, bayangan matanya terlukis dalam, sorotan matanya memelas tangis, sepasang mata itu terlalu letih memandang ungu. Mata itu mata malaikat…

Gadis cantik, kulitnya pun putih, hidungnya tak terlalu mancung, bibirnya merah tipis, wajahnya yang sempurna diukir oleh senyuman yang indah, lekukan manis di pipinya tatkala ia tersenyum membuat ia seakan bersayap, keindahan itu adalah pencerminan dari langit…

Gadis itu sedang menunggu… entah sudah berapa lama gadis itu memandang langit, juga entah apa yang ditunggui oleh gadis berparas dewi itu, namun tak penah ada bayangan yang tertangkap mata, semuannya konstan, anginnya, awannya, warna langitnya… Mungkinkah ia menunggu malaikat?

Gadis itu kokoh berdiri, nyala raja langit mencoba merayu gadis itu untuk berteduh… namun gadis itu tak menggubrisnya. Harapan itu menaunginya dari sengat, penantian itu mengubah nyala menjadi beku

Gadis cantik, kulitnya pun putih, apa yang ia tunggu?
Gadis cantik, senyumannya indah, mengapa yang ia tunggu tak kunjung datang?
Gadis cantik, gunakan sayapmu… dapatkah engkau terbang???
Gadis cantik, kepakkan sayap malaikatmu… sambut awan itu…

Gadis itu tetap tersenyum, senyuman yang ta pnah berubah… tak bisakah ia sejenak mengrenyitkan muka dan meneriakkan kata-kata serapah… “Bah… Persetan dengan kau!!! Aku lelah menunggumu!”. Tak akan, mungkinkah ia menghianati penantiannya selama ini… itu tak akan terjadi…

Gadis bodoh, apa yang ia tunggu?
Gadis bodoh, mengapa yang ia tunggu tak kunjung datang?
Gadis bodoh, dia tak kan pnah bisa terbang…
Gadis bodoh, yang ia tunggu tak kan datang…

Awan putih, pasir putih, buik ombak pun putih…

Semuanya adalah sama memancarkan putih, namun… sekejap gadis itu mengubah kemonotonan itu, dan serentak semua tak menjadi sama lagi walaupun semua mengalir di bawah putih. Gadis cantik itu mengangkat guratan senyumnya. Senandung senyum yang lama ia pendam kini ia lepaskan. Bibir itu bergerak indah. Lesung pipi itu melunak. Mempertegas paras dewinya yang tak bernoda. Senyuman baru itu indah sekali… cantik… Kini ia cantik bukan karena paras dewinya, tapi karena senyumnya… Perlahan senyuman itu mengubah sorot matanya, kini matanya tak memelas lagi, cara matanya memandang… itu adalah mata seribu malaikat…

Gadis itu menadahkan tangan ke arah langit… Serentak buih meloncat ke udara seakan menyambut kedatangan… awan ikut membuat celah mempersilakan kedatangan, pasir putih meninggikan gundukan, membuat gadis itu medekat pada kedatangan… mungkinkah itu…???

Mungkinkah yang ditunggunya datang???

Benar…

Gadis itu menunggu malaikat.. malaikat yang bersayap putih.. putih itu murni… putih itu suci… putih itu tak ternoda..

Sekarang, malaikat bersayap itu pun datang…

Tangan hangat itu melelehkan kebekuan dari sebuah penantian… tangan lembut itu dibalut bulu-bulu sayap…tangan itu mendekap hangat tubuh gadis cantik itu… tangan itu tangan malaikat…

Gadis cantik itu berbisik tawa kecil… gadis cantik itu menyambut tangan malaikat… Gadis cantik itu menyambut dekapan hangat malaikat… malaikat bersayap yang dinantinya dengan penuh kegetiran dan harapan… kini ada di pelukannya…

Tangan malaikat itu mendekap erat, dan si gadis pun membuatnya makin erat. Tangan malaikat itu mengusap rambut si gadis. Lalu tangan itu menjamah tubuh si gadis, dan gadis itu tak meronta. Kemudian malaikat itu mencium bibir mungil si gadis, dan gadis itu pun juga tak meronta. Malaikat bersayap mengulum bibir si gadis, gadis itu diam pasrah. Gadis cantik itu memberikan penantiannya untuk malaikat itu, dan sekarang ia memberikan sisa dari penantiannya untuk malaikat itu jua…

Gadis cantik.. malaikat bersayap… saling mendekap erat tubuh mereka
Gadis cantik.. malaikat bersayap… saling menjamah tubuh mereka
Gadis cantik.. malaikat bersayap… saling mencium bibir mereka

Si gadis tak sabar ingin menjamah sayap malaikat. Si gadis menggapai sayap malaikat itu, dan malaikat itu menanggalkan sayap putihnya. Lalu… malaikat itu menanggalkan pakaian putih si gadis. Malaikat itu menjamah tubuh si gadis dan menciumi tubuhnya. Malaikat itu menggigit lembut bibir si gadis, menghisapnya dan menguluminya, berulang-ulang sampai bibir gadis itu menjadi amat basah. Si gadis itu mendesah merasakan lembut sentuhan berbalut bulu-bulu sayap. Terus-menerus tangan itu membelai tubuh si gadis. Si gadis tak meronta ketika tangan itu membelai setiap kulit tubuhnya. Si gadis diam pasrah merasakan setiap sentuhan dan rangsangan tangan malaikat.

Gadis cantik… dan malaikat yang telah menanggalkan sayapnya… saling mengulum bibir mereka…
Gadis cantik… dan malaikat yang telah menanggalkan sayapnya… saling membasahi bibir mereka…
Gadis cantik… dan malaikat yang telah menanggalkan sayapnya… saling membelai tubuh mereka…

Si gadis sedikit meronta ketika belaian itu menyambut bibir kewanitaannya. Namun si gadis tak kuasa untuk lepas. Mata gadis berulang kali berteriak lemah memohon agar jeratan hangat itu segera berakhir.. tapi belaian rangsang itu terus menyerang bertubi-tubi. Membuat bibir mahkota si gadis menjadi basah, dan si gadis pun kehilangan kekuatannya. Si gadis melemas. Ia tak mampu lagi berdiri kokoh, ia pun jatuh lemas di atas gundukan pasir putih. Si gadis tak berdaya. Si gadis itu lelah setelah penantian panjang. Si gadis melepuh.

Malaikat tak bersayap menindih tubuh rapuh si gadis dengan kokoh di atas pasir putih. Tanpa disadari oleh si gadis, malaikat tak bersayap telah menangalkan semua kain yang menutupi tubuh si gadis. Lalu malaikat tak bersayap menghujani gadis itu dengan napsu birahinya bertubi-tubi, malaikat tak bersayap mengoyak mahkota si gadis! Si gadis itu tak kuasa menahan rasa getir menembus dagingnya, dan sang merah mengalir melewati paha si gadis. Si gadis memejamkan mata, menahan rasa sakit yang tak penah ia rasakan. Mata gadis itu kembali memelas tangis, kini butiran kristal sudah terbentuk dari sudut matanya. Si gadis menangis, tak kuasa ia menahan rasa sakit. Si gadis itu pun tak brani membuka matanya. Tangan si gadis meraba-raba hamparan pasir, mencoba menggapai sayap putih yang ditanggalkan malaikat itu. Namun sulit mencarinya. Dan si gadis pun akhirnya menjamah sesuatu, tapi bukan sayap! Terasa dingin, beku, gelap. Itu tulang belulang!!! Gadis itu tersentak, dan serentak membuka mata. gadis itu semakin terkejut melihat neraka di depan matanya.. DIA BUKAN MALAIKAT…!!!

Siapakah yang ada dihadapan si gadis???

OH TUHAAN…!!! Malaikat itu berubah suram! Dari bahunya keluar sayap mendung. Wajah malaikat itu memancarkan gelap. Serentak awan beralih hitam. Pasir pun berubah warna menjadi hitam. DIA IBLIS!!! Si gadis itu meronta-ronta dan berteriak memanggil langit. Namun langit tak kan pnah mendengarnya. Mendung telah mengusirnya. Si gadis berusaha lepas dari jeratan sang iblis. Namun sang iblis kokoh menindih si gadis. Si gadis menjerit takut ketika sang iblis menunjukkan kuku-kuku nerakannya, lalu meremas kaki si gadis kuat-kuat seraya sang iblis mencabut tulang kaki si gadis sampai keluar dari dagingnya dengan keras. Si gadis berteriak kesakitan… sakit sekali.. Wajah gadis itu memucat memancarakan ketakutan, kesakitan, dan kebencian. Darah gadis itu memancar deras menguraikan hitam pasir menjadi merah, dan seketika itu sang iblis pun tertawa menggelegar. Si gadis menerus menjerit kesakitan… matanya berbinar-binar, matanya yang teduh meleleh, menjadi gemrecik kebencian. Ingin si gadis membakar sang iblis… namun untuk menghentikan teriakan rasa sakitnya saja si gadis tak kuasa… belum sempat si gadis meneriakkan kata-kata serapah, sang iblis sudah lenyap dibawa mendung… yang tersisa hanya gelegar tawa ejekan sang iblis… juga rasa sakit yanag terpaku dalam, mengikis setiap kata harapan dan penantian... seketika itu hatinya ikut berdarah…

Jeritan si gadis meneriakkan kebencian itu meretakkan langit, mengusir awan-awan putih, mengubahnya menjadi mendung, lalu mengukuhkan gelap sebagai raja terang…

…dan seketika itu juga, nyala lampu seraya berpijar dari pojok ruangan di lantai dua sebuah rumah kuno di salah satu daerah pinggiran kota Cimahi. Seorang wanita berumur 25 tahun baru saja terbangun mendengar jeritan salah satu penghuni kamar dari rumahnya. Wanita itu sekarang sedang mendekap seorang gadis yang baru saja terbangun.

"hiks.. hiks.."
gadis yang usianya jauh lebih muda dari wanita yang sedang membelai rambutnya itu kini sedang berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak. Gadis itu bersandar lemas ditubuh kakaknya. Kaki mungil gadis itu telah hilang...

"Tara, maafin kakak, kakak udah berusaha bikin mama percaya, tapi pengaruh Om Budi ke keluarga kita sangat kuat, sayang jangan takut, apapun yang terjadi kakak bakal lindungin kamu Tara!"

wanita itu meniupkan udara hangat kepada adek nya yang masih berumur belasan tahun mencoba membangunkannya dari neraka.

"hiks.."
suara isak tangis ketakutan itu tak kan pnah berhenti sampai gelap terusir dari langit… kedua wanita itu berdekapan erat saling menerima dan memberi hangat tubuh mereka, dan senandung duka itu akan berulang lagi esok saat gelap…

**** tamat/belum? ***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Gadis Bermata Malaikat (37 weeks 2 days ago)
80

Narasinya menghanyutkan... Kayak nonton film bisu berwarna, lengkap dengan orkestra membayang menerjang di sisi telinga *tsah
Tapi akhirannya itu perlu nebak2...

Writer atiqulaira
atiqulaira at Gadis Bermata Malaikat (2 years 27 weeks ago)
70

GOOD! TOP BGT, menguras emosi jiwa ;p

Writer destikhoirunnisa
destikhoirunnisa at Gadis Bermata Malaikat (2 years 28 weeks ago)
30

waaaaaah

Writer sasayaku
sasayaku at Gadis Bermata Malaikat (5 years 18 weeks ago)
90

waww, ditunggu kelanjutannya, menarik sekali

Writer lelaki_rumput
lelaki_rumput at Gadis Bermata Malaikat (6 years 5 weeks ago)
50

sungguh berbakat dirimu, dari kayta2 nya seolah bernyawa, lam kenal...!

Writer cassle
cassle at Gadis Bermata Malaikat (6 years 41 weeks ago)
80

gaya bahasa yang unik... tapi kok saya kagak ngerti yak..? hehehehe ^^ maaaap...

Writer bulqiss
bulqiss at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
70

Menarik..walaupun banyak yang diulang.Tapi Aku suka pemilihan kata-katanya..
Tetap semangat

Writer -riNa-
-riNa- at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
60

kayaknya blom ending ya? tu masih awal aja?

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
50

cantik? Definisi cantik tuh apa? atau setidaknya "cantik",memiliki ruang khusus untukn disetubuhi lewat kata, penafsiran, atau apalah

Writer aii_only
aii_only at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
70

gimana ya... ya seru kok. bagussssss. thumbs up!

Writer izayoi
izayoi at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
50

apa pengarang nya ajah yg bunuh diri kehabisan kata-kata... huahauhau..

Writer aisha shiifa
aisha shiifa at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
70

Seru...
detil penggambarannya, cocok buat jadi sebuah novel
aku tunggu kelanjutannya ya...

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Gadis Bermata Malaikat (7 years 33 weeks ago)
90

Bunuh diri nggak endingnya???