Till The End (1)

19
points
"

Cerpen keduaku....
Mohon kritiknya lagi ya...
Thx.

"

Aku duduk di pelataran café yang sangat ramai. Sudah lima belas menit aku menanti di tempat ini. Aku menghembuskan napas. Keragu-raguan kembali merayapi diriku. Tidak. Aku tak boleh ragu-ragu. Ini adalah keputusanku. Aku kembali melirik jam tanganku. Lama.

“Hai. Sudah lama kau menunggu, Cella?”

“Tidak juga. Aku baru tiba. Duduklah, Sam.”

Sam tersenyum meneduhkan sembari duduk di hadapanku. Matanya yang biru lembut, rambutnya yang selalu berantakan… Sebentar lagi aku harus kehilangan itu semua. Aku menghembuskan napas. Aku tahu kalau aku sangat menyayanginya. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang memilikinya. Ini akan sangat sulit. Namun apalah dayaku?

Tanpa kusadari, sebutir air mata bergulir di pipiku.

“Ada apa?”

Ia tetap perhatian dan selalu mengkhawatirkanku seperti biasanya. Aku menggelengkan kepala secepat mungkin, dan tersenyum padanya. Ia membalas senyumku. Kemudian, tangan Sam bergerak menggenggam erat tanganku. Namun, aku segera menariknya. Aku takut tak akan bisa lagi melepaskannya.

“Hey, kau baik-baik saja, Cell?”

Aku diam saja.

Sam menghembuskan napas. “Cella, apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Kau boleh menceritakannya padaku. Aku selalu siap mendengarkanmu.”

Aku menggelengkan kepala pelan.

“Cell, aku selalu menyayangimu.”

Tidak. Jangan berkata seperti itu lagi. Itu hanya akan membuatku semakin sulit untuk melepasmu, Sam. Kini aku tak dapat menahan air mata ini lagi. Aku menangis deras. Samar, dapat kulihat wajah Sam yang begitu khawatir. Aku harus mengakhirinya sekarang juga.

“Sam. Sudah cukup.”

Sam nampak kebingungan.

“Kita tak perlu berhubungan lagi. Kita akhiri saja segalanya.”

“Mengapa?” Keterkejutan dan kepiluan terlihat jelas di wajah Sam. Aku tahu, ia tak akan dapat menerima keputusanku yang terlalu tiba-tiba ini.

“Aku… Aku tak mau lagi bersamamu.”

“Jelaskan padaku mengapa, Cell…”

“Aku tak mau lagi… Aku sudah terlalu jenuh untuk segalanya, Sam. Aku memang tak dapat mengungkapkannya dengan baik. Namun, aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin kau pergi saja dari hidupku.”

“Aku meminta penjelasan yang logis, Cella.”

Aku menghembuskan napas. Sam… Andai kau tahu…

Tidak. AKu tak bisa melanjutkan ini lagi. Aku takut tanpa sengaja mengatakan segalanya. Jika itu terjadi, semua akan hancur berantakan. Biarlah Sam tak mengetahui kenyataan ini hingga kapanpun. Biarlah dia memulai kembali kehidupannya setelah ini, tanpa perlu memikirkanku lagi.

“Selamat tinggal.”

Aku segera meninggalkan kursi dan berlari secepat yang aku mampu. Terdengar suara Sam yang memintaku kembali. Aku sama sekali tidak melihat ke belakang. Aku tak ingin sampai berubah pikiran lagi. Ini adalah keputusan yang terbaik, bagiku juga baginya. Jika ia dapat membenciku, mungkin itu akan lebih baik…

-bersambung-

Your rating: None Average: 4.8 (4 votes)
dikirim Olivierly 27 minggu 1 hari yang lalu
Tag: