Thx atas semua komentar yang telah diberikan...
Itu sangat membantuku...
Aku berjalan gontai di taman umum.
Sudah lima hari lamanya aku mengakhiri hubungan dengan Sam. Tiga hari pertama, Sam terus menerus berusaha menghubungiku. Aku tak mengangkat satu pun teleponnya, tak membalas satu pun pesannya, dan tak menemuinya saat ia mendatangi rumahku.
Aku menghembuskan napas dan duduk di salah satu bangku.
Kepalaku sakit sekali. Sungguh-sungguh terasa ngilu. Wajahku saat ini pasti sudah berubah pucat. Aku menunduk, berusaha mengatasi rasa sakit ini. Tak berhasil. Kepalaku semakin dan semakin sakit. Apakah memang aku tak bisa lagi menghirup udara luar?
“Ada yang bisa kubantu?”
Seseorang menyapaku. Aku menengadah dan melihat wajah orang itu. Ia nampak melotot. Mungkin aku pun demikian. “Sam…” kataku pelan dan ragu. Mengapa pada saat seperti ini, orang yang kutemui adalah Sam?
“Cella, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali.”
“Tidak. Pergilah, Sam.” Ia tetap saja mengkhawatirkanku.
“Aku akan menemanimu.”
“Mengapa kau tetap saja baik padaku?” Mulutku telah melontarkan kalimat tanpa komando. Ini pasti karena sakit kepalaku.
“Aku tetap menyayangimu, Cella.”
“Kau tak boleh menyayangiku.”
“Mengapa?”
“Karena…” Kesadaranku semakin menipis. Sakit kepala ini terlalu menggangguku.
“Cell? Kau tak apa-apa?”
Wajah Sam semakin samar. Namun aku tahu ia sangat khawatir. Kesadaranku semakin hilang. Aku menutup mataku dan roboh ke dalam pelukan Sam. Masih dapat kudengar suara paniknya yang terus memanggil-manggil namaku.Aku juga dapat merasakan Sam menggendongku. Wangi tubuh yang sangat kurindukan. Kesadaranku hilang sepenuhnya.
Bau rumah sakit. Walau aku tak lagi mendengar suara-suara dengan jelas, aku tahu dengan pasti bahwa ada seorang dokter yang telah memeriksa kondisiku. Aku merasakan selang pernapasan menempel pada hidungku. Ada infus yang tertanam di tanganku, dan elektro kardiogram yang dinginnya terasakan di dada.
“Dokter, bagaimana keadaan Cella?”
Aku tahu dokter itu menghembuskan napas. Apakah ia akan mengatakan kondisiku yang sebenarnya pada Sam? Tidak. Sam tak boleh tahu kondisiku. Berbohonglah. Katakan saja pada Sam kalau aku hanya terlalu lelah. Aku tak ingin membuat Sam lebih khawatir dari ini. Lagipula, apa artinya usahaku berpisah dari Sam bila pada akhirnya Sam mengetahui semuanya?
“Ia terkena kanker otak stadium empat.”
Sam diam. Wajahnya sekarang pasti pucat. Terdengar langkah kaki, mungkin doketer meninggalkan ruangan ini dan memberi kesempatan Sam untuk menemaniku. Saat ini Sam pasti duduk di sebelahku, aku bisa merasakannya.
“Cella… Inikah alasanmu menjauhiku?”
Benar… Pergilah sekarang Sam, kau masih terlalu muda untuk memperoleh kehilangan. Kau terlalu baik untuk terlukai. Lebih baik jika kau segera pergi dari sini dan mencari sebuah cinta yang baru, Sam.
“Aku akan terus mendampingimu, Cell.” Ia menggenggam tanganku.
“Aku akan tetap menyayangimu, sekalipun keadaanmu seperti ini. Sekalipun jika kau membenciku.” Ia mengecup dahiku dengan lembut. Aku masih bisa merasakannya. Aku masih ingin hidup dan bertemu lagi dengan Sam. Aku ingin dia tahu aku mencintainya. Namun…
“Cell? Cella? Dokter! Kemarilah! Tolong Cella!”
Tuhan menghendaki lain….
Elektro kardiogram pun berbunyi dengan sangat nyaring di ruangan itu…
dikirim Olivierly 27 minggu 1 hari yang laluTag:








