Namaku Arbi

30
points
"

Sebuah cerita tentang realita yang tak nyata
ketakutan yang fana

"

Namaku Arbi

Namaku Arbi. Anak dari bapak dan ibu pegawai negeri. Hidup dari hasil korupsi. Kakak dari empat orang adik. Yang satu telah mati.
Namaku Arbi. Anak dari bapakm dan ibu pegawai negeri. Hidup dari hasil korupsi. Tapi masih terjerat utang sampai mati. Demi menghidupi kami.
Namaku Arbi. Anak dari bapak dan ibu pegawai negeri. Hidup dari hasil korupsi. Yang memutuskan untuk pergi. Bangkit melawan nasib diri. Demi meraih mimpi. Menafkahi bapak dan ibu naik haji. Dari hasil keringatku sendiri. Bukan hasil korupsi.
Namaku Arbi. Yang tak pernah berani. Berani melawan korupsi. Berani untuk bermimpi. Berani untuk berani. Berani untuk berteriak pada dunia bahwa ”Namaku Arbi. Anak dari bapak dan ibu pegawai negeri...”
* * * * * *
Aku sedang berada di gedung kampus. Di ruangan tanpa AC. Sibuk berkutat dengan deretan angka fiktif. Yang mereka sebut uang.
Aku masih berada di gedung kampus. Di ruangan tanpa AC. Masih berkutat dengan deretan angka fiktif. Masih sibuk menghitung laba rugi milik tokoh yang direka-reka. Masih bergelut dengan neraca yang bagai perca. Masih terjerat dengan arus angka yang membuat pusing kepala. Apa yang seharusnya mudah, malah dibuat susah dalam satu kata yang bernama akuntansi. Dan mereka menyebut itu ilmu.
Aku tetap sedang berada di gedung kampus, di ruangan tanpa AC, ketika kurasa ponsel di sakuku bergetar halus. Sembunyi-sembunyi kulirik layar ponselku. Ternyata ibuku yang menelepon.
Aku berdiri. Bergumam sendiri tak jelas. Bahasa tubuhku mengisyaratkan pada sang dosen bahwa aku perlu keluar. Kutinggalkan ruangan tanpa AC itu. Mencari celah sepi untuk berhenti.
”Assalamualaikum,” sapaku.
”Waalaikumsalam... Halo... ” kata suara ibuku di ujung sana.
”Iya mah, ini Arbi. Ada apa? Arbi lagi kuliah nih...”
”Mamah...” suara ibuku berubah jadi isakan. Awalnya pelan. Isak pun menjadi tangis.
”...”
”Mamah udah enggak kuat lagi, Nak! Para penagih utang itu kemarin mendatangi tempat mamah kerja. Mereka menemui atasan mamah. Mereka bilang mamah tukang tipu dan macam-macam, bahkan mulai bulan depan mereka menyita gaji mamah. Sekarang mamah enggak nerima gaji, sedangkan gaji bapakmu engga seberapa karena sudah habis untuk membayar cicilan pinjaman ke bank...”
”...”
”Apa mamah harus melakukannnya lagi...?? Mamah terpaksa. Kamu tahu sendiri kan? Kamu ngerti kan? Kalau engga begitu, darimana kami makan sehari-hari? Darimana mamah membiayai uang sekolah adek-adekmu? Darimana mamah bisa ngasih kamu uang buat biaya hidup kamu di Jakarta?”
”...”
”Mamah udah putus asa...”
”...”
Tit... tit... tit...
Pembicaraan kami terputus, seperti pita suaraku yang mendadak putus dan tak bisa bicara.
Aku takut. Aku tak berani. Aku bisu. Aku pura-pura buta. Aku pura-pura tuli. Aku ingin mati. Tapi aku takut mati.
Aku hanya bisa kembali ke duniaku, ruangan tanpa AC. Kembali bergelut dengan bahasa rumit akuntansi yang mereka sebut ilmu. Kembali berkutat dengan deretan angka fiktif yang mereka sebut uang dengan banyak nol di belakang. Yang kutahu takkan pernah dapat kuhitung. Yang kutahiu takkan pernah dapat kumiliki. Dan mereka menyebut itu mimpi.
Bahkan aku tak berani untuk bermimpi.
* * * * * *
Malam hari.
Harusnya aku belajar untuk meraih mimpi. Harusnya aku belajar agar pengorbanan bapak dan ibuku tak sia-sia. Harusnya aku belajar agar aku bisa menafkahi bapak dan ibu naik haji.
Tapi aku tidak.
Malam hari ini aku menonton tv. Warta berita.
Mataku terpusat tajam. Mencari, berharap tak kutemukan yang kucari. Menanti, berharap tak hadir yang kunanti.
Tubuhku gelisah. Telingaku menegang saat kudengar kabar dari mulut si pembawa berita.
Di sana. Di dalam kotak berwarna yang mereka sebut tv, terdapat berita seorang pegawai negeri yang dipenjara karena telah melakukakn korupsi dan menipu tetangganya sebesar seratus juta rupiah yang dijanjikannya sebagai uang masuk untuk menjadi pegawai negeri.
Perempuan pegawai negeri itu meronta ketika polisi memasukkannya ke dalam sel yang sempit dan bau. Berontak dan teriak, ”Demi anakku...!!!”
Aku menangis. Entah harus sedih atau gembira.
Bukan itu yang kucari dan kunanti. Aku bersyukur tidak menemukannya malam ini. Aku bisa belajar dengan tenang malam ini. Aku bisa tidur dengan nyenyak. Dan aku masih bisa berdoa agar besok aku masih bisa belajar dengan tenang dan tidak menemukan yang kucari dan kunanti.
Bapak... Ibu...
Arbi tahu Arbi masih takut. Masih belum berani. Tapi Arbi bisa berdoa, karena Arbi tahu masih ada Tuhan. Masih ada hari esok yang lebih baik. Tuhan pasti akan menjaga mereka.
Kumatikan tv. Kuraih ponsel. Kuketikkan huruf demi huruf di ponselku yang mereka sebut sms. Satu kalimat singkat.
”Pak, Bu, Arbi sayang kalian.”

Malam hari. Aku belajar.
* * * * * *
Namaku Arbi. Anak dari bapak dan ibu pegawai negeri. Kakak dari empat orang adik. Yang satu telah mati. Hidup dan cari makan di Jakarta sendiri. Demi meraih mimpi. Menafkahi bapak dan ibu naik haji.
Namaku Arbi. Yang tak ingin seperti bapak dan ibuku yang pegawai negeri yang terjerat utang sampai mati.Yang masih sering tak berani.
Sampai detik ini aku masih belum berani. Tapi setidaknya kini aku bisa berkata dengan bangga. Meskipun tidak berteriak, bahwa ”Namaku Arbi. Anak dari bapak dan ibu pegawai negeri...”

Selesai (bianglala)

Your rating: None Average: 6 (5 votes)
dikirim arbi bianglala 27 minggu 1 hari yang lalu
Tag: