When love doesn't need a reason

59
points
"

tulisan ini aku buat pada tanggal 1 Mei 2007

"

When love doesn’t need a reason
Penantian emang ngga selalu berakhir dengan kebahagiaan…bahkan terkadang penantian yang kita lakukan terkesan membuang waktu..menyisakan luka, pedih perih…tapi entah kenapa cinta selalu menutup segalanya..seakan semua hal itu hanyalah penggalan-penggalan cerita untuk mengukir salah satu sudut yang diberi nama kebahagiaan. Bahagia?? Bahkan cinta pun membuat air mata seakan menjadi kebahagiaan. Bah! Aku tak percaya!!! Bahkan sedikit pun!!
Seperti biasa aku berjalan gontai menuju sebuah halte. Menanti…lagi-lagi menanti.
“Mbak duduknya geseran dikit dong” seorang pria separuh baya menepuk bahuku.
“Eh,…maaf Pak..silakan.” Aku mempersilakan pria separuh baya itu duduk di sebelahku. Aku maklum, jam-jam seperti ini halte memang terkenal penuh. Sebenarnya jujur saja aku agak sedikit muak dengan bau asap rokok yang berlalu-lalang di sekitarku. Bau-bau keringat yang bercampur aduk, dan kesesakan yang membuatku gerah. Akhirnya aku berdiri. Meninggalkan kehirukpikukan dunia yang dibuat oleh orang-orang itu. Dunia?? Akhh..apa itu dunia. Duniaku sekarang hanyalah berbatas antara baju putih dan abu-abu, duniaku sekarang penuh dengan tugas-tugas harian, PR-PR sekolah, ujian, small test dadakan, dan cerita-cerita murahan yang kudengar dari miss gossip kelas sebelah. Yang ceritanya sampai di telingaku, entah mungkin angin baru iri dengan kesendirianku. Hanya satu yang membuat duniaku yang abu-abu ini jadi berwarna bak pelangi. Ada satu alasan kenapa aku masih berusaha untuk mencintai duniaku ini. Satu alasan. Dan seperti halnya anak seumuran aku. Aku jatuh cinta, aku bertahan untuknya dan aku menantinya.
Tiba-tiba bus merah itu menghentikan lamunanku, menghentikan penantian tiga puluh menitku bersama segala kepenatan yang ada di sini. Dan aku pulang. Pagar berduri keperak-perakkan menyambut kedatanganku. Sebuah rumah mungil, yang halamannya penuh dengan hijaunya dedaunan membuatku merasa makin nyaman, aman, dan tentram. Begitu pintu pagar kubuka, ada seorang wanita yang wajahnya menenangkan, ramah dan penuh senyum menyambutku. Dialah ibuku.
“Udah pulang sayang..Gimana tadi ujiannya, bisa kan?” Aku mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi aku langsung melangkahkan kakiku menuju ke pembaringan. Di kamarku yang sederhana tapi tertata rapi. Tampak berderet-deret buku-buku yang sudah rapi di atas meja belajarku. Padahal seingatku terakhir kali aku meninggalkan meja belajarku, buku-buku berserakan kemana-mana.
“Mungkin Ibu.” Pikirku.
Ibuku adalah wanita yang hebat, bekerja membanting tulang sendirian. Dia juga sekaligus pengganti sosok ayahku yang entah kabur dengan wanita macam apa. Aku juga ngga habis pikir, kenapa ayahku meninggalkan ibuku yang terlihat cukup sempurna itu. Cantik, cerdas, baik, ramah, sayang padaku. Terlebih aku tahu seberapa besar ibuku mencintai ayahku. Kulihat entah sudah berapa malam yang dia habiskan untuk menangisi kepergiannya. Tanpa sepengetahuanku tentunya. Entahlah macam apa ayahku itu, aku tak pernah melihatnya. Bahkan untuk pertama kalinya pun. Dia meninggalkan ibuku dengan aku masih di dalam perutnya. Hanya demi seorang perempuan lain. Yang kata orang adalah perempuan pelacur, murahan. Tapi tidak bagi ibuku. Kata ibuku, ayah terlihat lebih bahagia bila bersama perempuan itu. Bijak sekali ibuku. Seandainya aku melihat kejadian itu aku benar-benar akan memberi pelajaran pada ayahku. Sampai sekarang pun aku tidak pernah tahu bagaimana rupanya. Ibu selalu melarangku untuk membicarakannya. Dan kata ibu aku lebih baik tak usah tau. Aku hanya bisa menurut. Apalah aku..aku hanyalah seonggok tulang berdaging yang telah dia lahirkan dengan pengorbanan hidup mati, sesosok raga yang jiwanya kini terpusatkan pada ujian-ujian, pada rumus-rumus yang membuatku mati bosan, pada angka-angka yang penuh dengan desimal dan pembulatan. Membuatnya tak lagi murni. Seperti aku.
Satu-satunya hal yang ingin kulihat adalah senyuman ibuku. Makanya satu-satunya cara yang bisa kulakukan saat ini adalah menjadi anak baik, anak pintar hingga dia bisa melihat bahwa aku, Ardina Rosmawati bisa menjadi orang sukses yang ngga bisa sembarangan orang menganggapnya tiada dan ngga penting. Dan aku yakin aku akan mencapainya. Pasti. Dan untungnya aku menemukan sesuatu yang membuatku bisa bertahan di sekolahan yang sebenarnya kalo boleh jujur membuatku mati kering, mati bosan dengan kekonyolan-kekonyolan tingkah anak bau kencur, dan dari hati yang paling dalam aku ingin berteriak. Aku benci seragam putih abu-abu ini. Aku benci!!
Penantian ini membuatku nyeri, aku tak tahu apakah penantianku ini berharga untuknya juga. Karena penantianku ini agaknya tak ada arti di matanya, menanti pada seseorang yang tak menantikanku, berharap banyak pada sesuatu yang tak akan pernah ada, tapi bagi sang penanti, seperti aku ini, akan selalu tetap menantikan semuanya itu. Menanti ini tak membuatku bahagia, penantian ini begitu menyiksa dan terasa begitu lama. Tapi toh, pada akhirnya aku hanya tetap bisa menantinya. Menunggu sosok dirinya berpaling untuk melihatku. Dia teman sekelasku, anaknya baik, suka menolong, manis senyumnya, ramah, peduli pada sahabat-sahabatnya. Dia adalah yang selalu menghantui pikiranku, menggoyahkan setiap nuraniku untuk tak berpaling pada yang lain, dia yang tengah maya dalam anganku. Pertemuanku dengannya sebenarnya sangat biasa, tak ada kesan sentimental atau hal-hal yang berbau romantis. Aku menjadi sahabat dekatnya awal aku duduk di bangku sekolah ini. Sering bercanda bersama, sering berbagi bersama, bahkan tak jarang pula aku mencuri banyak waktunya untuk mendengarkan semua kekesalanku, kesedihanku, dan kepenatanku. Dan dia dengan sabar selalu memberikan waktu-waktu itu, tak perduli betapapun dia sibuknya. Sayangnya aku ngga duduk sebangku ma dia. Dia ada jauh di belakangku. Lebih merasa nyaman duduk agak di belakang bersama teman-teman basketnya. Sesekali aku menengok ke arah belakang untuk mencuri-curi pandangnya. Dan kini dia tengah melihatku. Oh..God..!!! Dia melihatku. Coba lihat senyumnya manis sekali. Indah sekali dia itu.
“Ehem! Ardin!” suara besar guruku memanggilku.
“Upsss..” lirihku. “Iya Pak??”
“Lebih menarik ya lihat belakang daripada memperhatikan saya.”
“Maaf, Pak. Tadi….hanya…nggg….” langsung reflek aku menyambar sebuah correct pen yang ada tepat di belakangku. “Ini Pak tadi correct pen saya dipinjam Anton.”
“Hmmm…” Pak Kusno guru Matematikaku agaknya tak percaya. Tapi ya masa bodoh lah.
“Ya sudah kamu maju ke depan kerjakan soal ini.” Pak Kusno benar-benar membuatku mati langkah kali ini. Dengan langkah malas aku maju ke depan kelas. Dahiku mulai berkerut bingung. Soal apa ini. Begitu aku membaca soal itu, sumpah aku sudah benar-benar menemukan jalan buntu. Bahkan aku tak tahu soal itu mau dibawa kemana, dan menghasilkan angka pasti atau angka tak murni seperti biasanya. Gila….!! Soal ini benar-benar membuat orang berotak pas-pasan kayak aku ini susah bernafas. Sepuluh menit…..papan tulis hanya penuh coret-coretan yang ngga berarti…lima belas menit…aku mulai gelisah karena jawabannya entah bersembunyi di mana. Kakiku mengetuk-ngetuk lantai keramik putih pucat, sepucat wajahku.
“Tliiiililiiit….tlilit….” Sebuah ponsel mengejutkan jantungku. Kulihat Pak Kusno berjalan keluar kelas dengan membawa ponselnya. Selamat!!! Begitu aku menengok ke belakang telah hadir dengan cepat selembar kertas yang berisi uraian-uraian jawaban soal yang kini tengah aku kerjakan. Aku hapalkan langkah pengerjaannya cepat-cepat. Takut Pak Kusno keburu kembali lagi. Begitu aku mendengar suara langkah sepatu Pak Kusno, aku buru-buru melipat kertas jawaban itu dan memasukkannnya ke dalam saku rokku. Aku pura-pura serius mengerjakan. Tentu saja kali ini aku makin lancar. Rumus-rumus dan uraian jawaban yang tadi kuhapal langsung kutuangkan cepat-cepat ke dalam papan putih di hadapanku.
“Ya bagus, Ardin! Silakan kembali duduk.”
Huff!! Akhirnya. Aku melirik ke arah sahabat yang dengan baik hati menolongku keluar dari kebodohan ini. “Thanks.” Bisikku ke arahnya.
“Stupid! Malu aku terlihat tolol tadi. Mana dia yang malah ngebantuin. Idiot..idiot….!!!” batinku.
Dentang bel sekolah membahana. Akhirnya rutinitas yang membosankan ini berakhir juga dan seperti biasa aku berjalan menuju halte di depan sekolahku.
“Din!”ada sebuah suara yang membuatku menghentikan langkah.
“Eh, Nay...! Ada apa?!”
“Ngga ini mo latihan. Kamu mo langsung pulang?”
“Mungkin. Aku bingung mo ngapain kalo ngga pulang juga.”
“Nonton basket aja. Ntar ada pertandingan loh.”
“Iyakah?” aku terkejut. Berarti itu tandanya dia yang selalu membuatku susah tidur itu bakal ikut bermain juga. Hatiku berbunga. Aku mengangguk kemudian. “Oke. Ntar aku lihat.”
“Sip!Ya dah aku pergi dulu ya. Takut telat latihan.”
# # #
Pertandingan itu membuatku tak bisa melepaskan mataku darinya. Dia terlihat begitu bersemangat, begitu hebat dan begitu mandiri. Ada apa denganku ini?? Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh mencintainya. Tidak boleh!! Akh…aku bingung. Aku merasa bersalah karena aku mencintainya. Karena aku ngga bisa melepaskan pikiranku darinya. Ini ngga boleh! Ini salah! Aku berteriak menentang perasaanku, aku menghujat semua penilaianku kepadanya. Akh…lagi-lagi dia tersenyum padaku. Aku membalas senyum manisnya itu. Tuhan….aku bingung. Kenapa harus dia?? Pertandingan berhenti sejenak. Dia menghampiriku..ya ampunnn dia datang. Aku mencoba membuat debaran jantungku tak bersuara. Agar dunia tak mendengar, agar dunia tak tertawa.
“Datang juga, Din.”
“He-eh. Semangat banget kamu. Keren.” Pujiku ngga basa-basi. Meski kali ini aku deg-degan tak karuan.
“Harus dong!”
“Eh, yang tadi pas pelajarannya Pak Kusno makasih banyak ya.” Ucapku tulus.
“Alah sama temen sendiri juga. Santai aja.” Dia meminum minuman berenergi yang kubawa untuknya.
“Akhh..segerrrr banget. Thanks juga buat ini.” Tunjuknya pada minuman yang kini berada di tangannya.
“Balesan buat yang tadi.” Jawabku.
“Naylaaaaa……!” tiba-tiba pelatih memanggilnya, karena pertandingan akan dimulai lagi.
“Eh, aku tanding dulu ya. Liat ampe selesai lho. Ntar aku anter deh pulangnya.” Katanya.
Aku mengangguk, mengiyakan. “Sukses ya.” Kataku memberinya semangat.
“Sip.” Ujarnya. Dia pun berlari kembali ke tengah lapangan. Memainkan perannya sebagai kapten. Seperti aku yang memainkan peran sebagai sahabatnya.
-end-
(1 Mei 2007)

Your rating: None Average: 5.9 (10 votes)
dikirim luvandraa 27 minggu 1 hari yang lalu
Tag: