Task Force : Stradivarius (Episode Dua)

47
points

BRAK!Bunyi suara pintu yang dibuka dengan kasar oleh Lonant,ia terkejut bukan main ketika melihat Stradivarius—dalam keadaan tiduran—sudah membuka matanya yang sedingin es itu dan menodongkan pistol berperedamnya ke arahnya.Lonant hanya bisa diam terpaku sembari mengangkat tangannya,Stradivarius kembali menyarungkan pistolnya ke speed holster-nya.

“Bersiap-siaplah,kita akan berangkat untuk menyelamatkan orangmu malam ini!”ujar Lonant ketakutan.Stradivarius langsung bangkit dari tidurnya,meraih dan memanggul kembali tas ransel berukuran sedangnya yang berat itu,dan langsung berjalan meninggalkan Lonant sendirian di kamar pinjamannya yang masih berusaha memastikan jantungnya masih ada pada tempatnya.

“Tu,tunggu!”susul Lonant.

Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang lebar dan sangat gelap,lampu-lampu rumah yang menyala Cuma bisa bersinar remang-remang,membuat desa ini seperti desa yang penuh dengan rahasia.”Hey,kawan!..Tadi kau melakukannya cepat sekali!”puji Lonant.Namun Stradivarius tak menggubrisnya,ia hanya terus menatap ke depan dan berjalan mengikuti arah.”Hanya orang yang sangat terlatih yang bisa melakukan hal seperti itu!”lanjutnya.

Lagi-lagi,tak ada jawaban dari si manusia es itu.Lonant hanya bisa menelan bulat-bulat pil pahit diacuhkan oleh Stradivarius.Tapi rasa kagum yang muncul itu masih bisa mengalahkan kedongkolannya atas arogansi Stradivarius.”Itu dia tempatnya.”tunjuk Lonant.Stradivarius mengalihkan pandangannya,melihat siluet sebuah lumbung gandum kecil yang terkena sinar rembulan.

Setelah berjalan hampir dua kilometer panjangnya,akhirnya mereka sampai di sebuah lumbung padi.”Akhirnya kita sampai.Ayo kita masuk.”ajak Lonant tak sabar.Stradivarius terdiam beberapa saat,memandangi Lonant penuh curiga,Lonant bisa melihat tangan kanan Stradivarius yang secepat angin itu sudah menyentuh gagang pistolnya.”Ada suatu hal yang harus kita lakukan sebelum menyelamatkan orangmu.”jawab Lonant.

Tatapan tajam Stradivarius akhirnya sedikit memudar,ia mulai kembali tenang,walau Lonant bisa melihat kalau kawannya dari negri sebrang itu masih terlihat tidak mempercayainya.Stradivarius menyusul Lonant yang masuk lebih dahulu,dengan—masih—menyentuh gagang pistolnya.

Di dalam lumbung gandum,Stradivarius bisa melihat empat orang pemuda desa sedang sibuk memproses bijih gandum tuaian desa mereka,ada juga yang sedang mengatur-atur tumpukan jerami yang menjadi penganan kuda-kuda penarik bajak mereka.Seorang pekerja lumbung memandangi Lonant dan Stradivarius,Lonant mengangguk kepada pekerja itu.

Pekerja lumbung gandum itu langsung bergegas menuju sebuah tumpukan jerami,dengan cekatannya ia memindahkan tumpukan jerami itu.Setelah tumpukan jerami itu sudah dipindahkan,ia meraba-raba lantai lumbung.GRET!Bunyi derat engsel pintu yang terbuat dari kayu lapuk itu terdengar bergerak.Ternyata sebuah pintu rahasia yang sedang dicari oleh orang itu.”Semua sudah berkumpul.”ujar pekerja itu.

Sedangkan di Ruang Komando,Komandan Piccard hanya bisa duduk menyimak pembicaraan antara Stradivarius dan Lonant lewat peralatan penyadap suara.”Stradivarius masuk ke dalam persembunyian pemberontak.”ujar Anne.”Pak,apa yang harus kita lakukan?”tanya Anne.”Serahkan semuanya padanya,dia tahu apa yang harus ia lakukan.”jawab Komandan Piccard yakin.

Mereka berdua menuruni tangga bawah tanah yang sempit itu,si pekerja lumbung itu langsung bergegas menutup pintu rahasia itu dan menimbunnya dengan jerami setelah kedua tamu rahasia itu sudah hilang ditelan gelapnya malam.Stradivarius dan Lonant harus bersusah-payah menyurusi lorong bawah tanah yang hanya memiliki lebar satu setengah badan orang dewasa itu.

Semakin dalam lorong bawahtanah mereka susuri,semakin terdengar suara-suara manusia sayup-sayup,semakin dekat dengan markas rahasia para pemberontak itu.Tiba-tiba datang sorot lampu senter kepada Lonant dan Stradivarius.”Ini aku.”jawab Lonant.Beberapa saat kemudian sorot lampu senter itu meninggalkan wajah mereka berdua.

Ternyata sorot lampu itu berasal dari dua orang penjaga markas rahasia itu,Stradivarius bisa melihat para penjaga itu bersenjata lengkap,walau tak begitu terlihat jelas karena pencayahaan yang kurang memadai.”Komandan sudah menunggu kalian.”ujar salahseorang dari penjaga.

Ketika mereka masuk,Lonant dan Stradivarius bisa melihat puluhan pemberontak berkumpul sembari mengobrol satu sama lain.Ruang bawahtanah yang cukup luas itu memiliki pecahayaan yang bagus,itu karena belasan lampu petromak digantungkan di setiap sudut ruangan dengan jarak yang tak jauh dari lampu satu dengan lampu yang lain.

Tumpukan kotak amunisi,baik dari kotak yang terbuat dari seng murahan,sampai kotak kayu hasil rampasan perang dari berbagai jenis senjata dan kaliber,terlihat menggunung di pojok ruangan bersama tumpukan senjata-senjata dari berbagai jenis buatan Kekaisaran Galbadia.

“Komandan.”sapa Lonant kepada Nikolai yang sedang sibuk berbicara dengan keempat bawahannya,mereka sedang menyusun strategi untuk menyerbu kota kecil Primea-Murkovii malam ini.Nikolai pun seketika menghentikan pembicaraannya langsung menyambut Stradivarius yang ada di depan matanya—dengan tatapan dinginnya memandangi Nikolai.”Selamat datang,Tuan Stradivarius!”

“Kapan kita berangkat?”tanya Stradivarius tak tanggung-tanggung.Nikolai terdiam dan tersenyum ramah,”Kita harus menyusun strategi untuk menyelamatkan kawanmu terlebih dahulu.”ujar Nikolai.”Siapa dia?”tanya salahseorang bawahan Nikolai dengan tatapan kesal dan tersinggung.

“Dia adalah utusan dari sekutu yang tadi siang aku bicarakan.”Keempat orang bawahannya langsung memandangi Stradivarius—dari ujung rambut hingga ujung kaki—dengan tatapan tidak suka.”Baiklah,bagaimana kalau kita lanjutkan kembali penyusunan strateginya?”tanya Nikolai kepada keempat bawahannya itu.Mereka memalingkan pandangannya,dan kembali berkonsentrasi pada penyusunan strategi untuk malam ini.

“Limabelas menit?..Apa itu cukup?”tanya Nikolai ragu.Stradivarius menangguk mantap.”Sangat cukup.”jawab Stradivarius.Nikolai mengingat-ingat kembali usulan yang diberikan Stradivarius ketika penyusunan strategi penyerbuan dua jam yang lalu,sembari terus melangkahkan kakinya menuju Primea-Murkovii.

Stradivarius akan bergerak menyusup terlebih dahulu ke jantung kota,menyabotase titik-titik vital milik pasukan Galbadia yang ada disana,sedangkan para pemberontak sudah harus bersiap-siap pada posisi mereka masing-masing.Ketika titik-titik vital berhasil diledakkan,barulah para pemberontak merangsek masuk dan menyerbu musuh hingga limabelas menit.

Selama limabelas menit itulah,Stradivarius—sendirian—akan menyusup ke tempat dimana Rubah bersembunyi dan membawanya pergi dari tempat itu.Dan ketika waktu limabelas menit sudah lewat,maka para pemberontak baru bisa bergegas mundur dari kota Primea-Murkovii.

“Kalau diingat-ingat dengan usulan strategi anda tadi,Tuan Stradivarius...”ujar Nikolai kepada Stradivarius yang terus berjalan tanpa henti,dengan keduatangannya menggenggam erat senapan M4RIS-nya itu,”Berarti ini adalah pertemuan terakhir kita?”tanya Nikolai.Stradivarius memalingkan wajahnya ke Nikolai yang berjalan beriringan dengannya.

Stradivarius paham dengan pertanyaan Nikolai,di pertempuran nanti,mereka akan mempunyai urusan masing-masing.”Ya.”jawab Stradivarius singkat.Nikolai menghela napas panjang,”Sayang sekali,padahal saya ingin berbincang-bincang lebih lama dengan anda.”ujarnya kecewa.Namun Stradivarius tak menggubrisnya,ia terus berjalan,tak perduli dengan apa yang dikecewakan Nikolai.

Sedangkan di barisan belakang,Lonant sedang membicarakan Stradivarius.”Sepertinya aku mulai mempercayai kemampuan orang itu.”selorohnya.”Maksudmu?”tanya Visier tak paham.”Tadi sore,aku membangunkannya,namun belum sempat menyuruhnya bangun,ia sudah dalam keadaaan segar-bugar dan menodongkan pistolnya!”jawab Lonant sembari memanggul senapan G3-nya itu.

“Maksudmu,dia menodongkan pistolnya kepadamu?”tanya Johaan.Lonant menggelengkan kepala,”Bukan begitu..Aku pikir itu adalah kewaspadaannya saja.”jawab Lonant.Lonant mengerutkan dahinya,”Aku bisa melihat dengan mata-kepalaku sendiri,ketika aku membuka pintu kamarnya,aku bisa melihat dengan cepat ia membuka matanya,mencabut dan menodongkan pistol berperedamnya ke arahku.”lanjutnya.

Semua rekan-rekannya ikut mengerutkan dahinya masing-masing,membayangkan bagaimana kejadian itu tergambar.”Secepat itu,kah?”Visier bertanya.Lonant bisa melihat wajah ragu rekannya itu,Lonant tersenyum penuh semangat dan juga ketakutan,”Yeah,seharusnya kalian harus mencobanya biar tahu!”jawab Lonant.

”Yang tidak bisa kubayangkan adalah,bagaimana ia bisa mengendalikan dirinya dalam keadaan secepat itu?”tanya Johaan.”Maksudmu?”tanya Lonant.Visier mengangguk setuju,pikiran Johan sama dengan pikirannya,”Ya.Mungkin kau ada kemungkinan langsung tertembak olehnya..Namun dengan keadaan secepat itu ia bisa mengendalikan telunjuknya ketika yang datang adalah kau.”ujar Visier menimpali.”Ya,seperti yang aku bilang!..Aku mulai mempercayai kemampuan orang itu..”ujar Lonant sembari memandangi Stradivarius yang berjalan memunggunginya itu.

Arloji yang melingkari pergelangan tangan kanan Nikolai sudah menunjukkan pukul 0130,”Jam berapa?”tanya Visier yang masih sibuk mengawasi kota kecil seluas 20 hektar itu dengan teropong malamnya,teropong malam hasil rampasan seorang perwira yang minggu lalu jadi korban menyergapan Nikolai dan anakbuahnya.”Setengah dua pagi.”jawab Nikolai datar.

Nikolai memandangi para pemberontak yang—masuk dalam timnya—bersembunyi di semak-semak,mereka terlihat gelisah,tak sabar untuk segera beraksi.Mata Lonant pun terdengar mengeluh tak sabar untuk bisa langsung beraksi.Nikolai mengelus-elus dagunya yang belah itu.”Dia lama sekali,Komandan..”gerutu Lonant.

“Kerjaan seorang pasukan elit memang begitu.”jawab Nikolai tersenyum.”Bagaimana dengan tim-tim yang lain?”tanya Nikolai lagi.”Mereka sudah siap daritadi,tinggal menunggu tanda dari orang itu.”jawab Visier sembari meremas-remas laras depan senapan G3-nya.

“Bersabarlah,kawan..Bersabarlah.”bisik Nikolai sembari melihat lima orang tentara Galbadia sedang menjaga pintu masuk selatan kota kecil itu,mereka masih belum menyadari kalau desa yang mereka duduki itu sudah dikepung oleh para pemberontak.

Dengan hati-hati,Stradivarius mendekati pekarangan belakang sebuah motel tua.Motel tua itu adalah salahsatu dari empat tempat yang dijadikan barak tentara,cukup nyaman untuk menampung para penjajah ini tanpa harus pusing mengirimkan surat permintaan pengiriman peralatan barak portable yang merepotkan untuk dibawa dan memakan waktu ketika didirikan.

Dengan langkah senyap seperti langkah seekor harimau yang sedang membayang-bayangi mangsanya,ia mendekati pekarangan itu dengan memakai NVG.Dengan hati-hati ia kembali berjalan maju sembari memperhatikan sekitarnya yang bewarna kehijauan itu.Akhirnya ia menemukan sebuah jendela kamar pekarangan belakang yang terbuka,sebelum melaksanakan rencananya,ia harus mengintip isi kamar tersebut.Ternyata ada empat orang tentara Galbadia yang sedang bersantai menikmati malam dengan bermain gitar dan sebotol besar minuman keras sembari bernyanyi sumbang layaknya seorang mabuk yang bernyanyi.

Dari remangnya pekarangan belakang,ia mengawasi keempat tentara itu dengan teliti dan hati-hati.Ia melihat tiga orang tentara Galbadia bermuka merah padam seperti udang rebus,dengan suara sumbang dan napas minuman keras mereka bernyanyi-nyanyi tak peduli dengan tetangga mereka di kamar sebelah.Namun ketika ia melihat si pemetik gitar,ternyata dia masih terlihat segar-bugar.

Stradivarius mengurungkan niat untuk menggunakan kamar itu untuk dijadikan tempat disembunyikannya bom keempat.Ia kembali mengendap-endap menyusuri tiap kamar sembari menggenggam erat senapan M4RIS berperedamnya itu.Akhirnya kamar kosong yang ia harapkan ternyata ada juga.Namun seperti biasa,ia harus tetap patuh pada apa yang dilatih selama bertahun-tahun—tetap teliti dan waspada terhadap sekitar.

Ia memperhatikan kamar kosong yang gelap itu,ketika sibuk memastikan isi kamar itu,tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari tempat tidur yang tak jauh dari jendela—dimana Stradivarius mengintip.Ia pun langsung berbalik ke arah tembok sampai sesuatu yang bergerak itu diam kembali.Ketika ia melihat kembali,ternyata seorang tentara sedang tidur sembari mendengkur.

Dengan perlahan-lahan ia membuka jendela kamar tentara itu.Sukses!Stradivarius dengan hati-hati masuk ke dalam kamar itu.Ia mendahului jempol kaki kanannya terlebih dahulu,dan menjejakkannya dengan sangat hati-hati.Setelah seluruh badannya berada di dalam kamar itu,ia langsung menurunkan ransel MOLLE bawaannya itu dengan hati-hati.

SREET!Bunyi derit resleting tas ransel yang ia buka,ia langsung merogoh isi kantong ranselnya.Sebuah bahan peledak C4 dengan ukuran sedang dan dikantongi langsung ia sembunyikan di tempat yang tak akan terpikirkan untuk dijamah oleh manusia.Ia menyelipkan sekantong C4 ke dalam kolong ranjang yang tertutup oleh seprai.

Setelah selesai,ia langsung bergegas keluar dari kamar itu.SRET!!Tiba-tiba terdengar suara kain tersingkap.Si tentara lelah itu terbangun dari tidurnya,dengan mata yang masih merah menyala dan berupa kusut ia memandangi seisi kamar.Lalu,ia memandangi jendela kamarnya yang terbuka.”Pantas saja dingin!!”gerutunya.DRAK!Bunyi jendela kamar yang ditutup dengan paksa,ia tak menyadari kalau Stradivarius sedang meringkuk dibawah bibir jendela kamarnya dengan menyiapkan pistol M1911A3-nya itu.

Stradivarius menghela napas lega,dan kembali masuk ke kegelapan malam untuk melaksanakan rencana selanjutnya.

Namun penyusupan yang dilakukan tak mulus selamanya.Ketika salahsatu dari tim lain bersembunyi dari patroli garnisun yang berjalan ke arah mereka,seorang dari anakbuahnya tak sengaja menginjak semak-semak persembunyian mereka.”Siapa itu?!”tanya komandan patroli itu sembari mengokang senapan G3 mereka.

Suara baku tembak pun pecah di tengah senyapnya malam di Primea-Murkovii.”Ada apa?!..”tanya Visier sembari berpaling ke arah asal tembakan tersebut.Nikolai bisa melihat kepanikan para pasukan musuh ketika mendnegar suara letusan tembakan itu,mereka berteriak-teriak seperti orang gila sembari mengokang senapan mereka,seorang lagi bergegas memutar sirene portable sekuat tenaga.

“Tak ada jalan lain lagi!..Tembak!!”perintah Nikolai sembari melepaskan tembakan ke arah para penjaga yang berada seratus meter di depannya.

Bunyi sirene terdengar keras disusul dengan suara letusan tembakan bersahut-sahutan.Stradivarius bisa merasakan kalau rencana yang ia susun itu gagal total.Para penjaga tempat dimana Rubah dipenjara dan disiksa—yang ia pantau—juga terlihat kebingungan sembari menggenggam erat senapan mereka masing-masing.

“—Stradivarius!Rencana kalian ketahuan,segera selamatkan”Rubah”Secepatnya!—“lapor Komandan Piccard dari layar LCD—yang tersambung pada kamera satelit mata-mata milik militer Midgard—puluhan pasukan Galbadia berhamburan di jalanan Primea-Murkovii.

”Baik!”Stradivarius langsung berlari menyebrangi jalanan,keberadaannya masih belum diketahui oleh para penjaga pintu depan penjara.Lalu,ia berjalan menuju pintu belakang rumah yang dijadikan penjara itu,dan mengambil detonator C4 yang berhasil ia susupkan ke dalam barak garnisun itu.TEK!Dengan mantapnya ia memencet tombol detonator itu.

BLARRRRRRR!!Motel berlantai tiga itu hancur berkeping-keping,suara dan cahayanya makin mengacaukan kondisi di Primea-Murkovii.Banyak pasukan Galbadia yang tewas seketika dalam ledakan C4 milik Stradivarius itu.Setidaknya jumlah ancaman berhasil diminimalisir.Para penjaga pintu depan penjara yang jatuh terpental—karena ledakan dahsyat C4 itu—langsung bergegas bangkit dari jatuhnya dan bersiaga dengan senapan G3 mereka masing-masing.

Langit gelap Kota Primea-Murkovii dihiasi oleh empat kembang api,kembang api yang terbuat dari reruntuhan motel dan bagian manusia—yang hancur berkeping-keping—yang terbakar di udara.Stradivarius yang berlindung dari ledakan C4 itu langsung bergegas memecahkan pintu jendela yang ada di sampingnya,dan dengan cepat ia menyusup ke dalam kamar itu.

Mendengar suara ledakan yang memekakkan telinga dan melihat kilat cahaya yang membumbung tinggi,Nikolai langsung berteriak lantang ke seluruh pemberontak yang mengepung kota kecil itu,”Serbuuuuuuuu!!!....”

Kondisi di dalam penjara itu begitu sempit,ia pun memutuskan untuk mengganti pegangannya.Ia menyelempangkan M4 SOPMOD-nya,dan meraih pistol M1911A3 sebagai pegangannya di dalam penjara itu.Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar itu,ia bisa mendengar suara ribut-ribut pasukan Galbadia.

Suara rentetan senapan mesin MG36 mulai menyalak,”Pemberontak!..Pemberontak!..”teriak seorang komandan yang sedang kebingungan di lorong ruangan.DEP!Satu peluru kaliber 45 ACP sukses menembus kepalanya.Bagian otak dan cipratan darahnya menempel di dinding ruangan.Dengan hati-hati ia berjalan menuju gudang bawah tanah,dimana”Rubah”dipenjara di dalamnya.

Sedangkan di luar sana,sang komandan SS terlihat panik,salah seorang dari bawahannya menyerahkan senapan G36C—senapan standar pasukan SS Kerajaan Galbadia—kepada sang komandan.”Apa yang terjadi,Sersan??”tanya sang komandan sembari bergegas memasang rompi anti-pelurunya.

”Para pemberontak menyerbu kota,Komandan!”jawab anakbuahnya.”Bagaimana bisa??”tanya komandan SS itu kesal.Sang sersan menggelengkan kepalanya,”Kami tidak tahu,sepertinya mereka sudah merencanakannya jauh-jauh hari.”jawabnya polos.

”Kalau begitu buat tiga tim,tim pertama pertahankan pos komunikasi dan minta bantuan,kau yang memimpin.Tim kedua dan ketiga ikut aku ke penjara,agen MCA itu harus dihabisi sebelum pemberontak menemukannya!”komando sang komandan berpangkat kapten itu.”Siap!”jawab sang sersan sembari bergegas meninggalkan sang komandan di dalam kamarnya yang mewah.

Akhirnya ia sampai di gudang bawah tanah dimana”Rubah”dipenjara.Ia mencuri dengar dua orang tentara Galbadia yang bertugas menjaga tempat dimana “Rubah”dipenjarakan.Stradivarius mengintip dari sudut tembok yang membatasi tangga dan gudang bawah tanah itu.

Ternyata ada enam tentara Galbadia yang berkumpul di gudang bawah tanah itu,syukurlah,ia disiplin dengan apa yang dilatih—pastikan sebelum bertindak—Ia tetap mengawasi enam penjaga itu,mengawasi sekitar mereka,apakah masih ada dari mereka yang luput dari pengawasannya,dan apakah ada “Rubah” berada di dekat mereka.

Setelah merasa aman,ia mengambil granat fragmentasi yang menggantung di dada kirinya,dengan cepat ia melemparkan granat itu dan bergegas berlindung dibalik tembok.GLUTUK!Bunyi granat fragmentasi yang menggelinding tepat dibawah kaki keenam tentara Galbadia itu.BUUMMM!!

Keenam tentara Galbadia itu tewas seketika,asap pun mengepul di dalam gudang bawah tanah itu.Setelah granat yang ia lempar meledak,Stradivarius langsung bergegas menuju tempat dimana “Rubah” dipenjara sembari tetap dalam posisi membidikkan pistol M1911A3-nya.

Dari pekatnya asap ledakan,ia melihat seorang sedang diikat kaki dan tangannya dengan posisi telungkup.”Edward Kristenson??”tanya Stradivarius.”Rubah”yang tertelungkup itu terkejut ketika mendengar seseorang memanggil nama aslinya,hanya Junon yang tahu nama aslinya.”Ya!”jawabnya mantap.

Dengan cepat Stradivarius memotong tali tambang yang dipakai untuk mengikat pergelangan tangan dan kakinya.”Rubah”bernapas lega ketika sang penyelamat datang,”Kalian memang tak pernah meninggalkan rekan sendirian..”ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Stradivarius terdiam ketika melihat kondisi Rubah,pakaian compang-camping seperti tunawisma,seluruh tubuhnya terdapat bilur-bilur memar bekas hantaman benda tumpul,dan juga luka-luka bekas sayatan cambuk.Dan yang paling mengenaskan adalah keduamata Rubah yang tetutup rapat.Kdua kelopak matanya terdapat gosong dan membengkak karena infeksi.”Kejam sekali...”gumam Stradivarius.

Rubah hanya tersenyum singkat ketika mendengar keprihatinan Stradivarius.Ia langsung memapah”Rubah”keluar dari tempat itu.”Kita harus segera pergi dari sini,sebelum keadaan semakin kacau!”

Tak jauh dari penjara,komandan SS dengan anakbuahnya bergegas menuju penjara dengan senjata lengkap.Menurut instingnya,penyerangan itu ada sangkut-pautnya dengan agen intelijen yang ia dapatkan.Tepat atau tidak tepat dugaannya,ia harus segera menghabisinya.

“Bagaimana dengan yang lain?..Kau bersama dengan yang lain,kan?”tanya “Rubah” penasaran.”Tidak,hanya aku sendiri yang ditugaskan untuk membawamu keluar dari sini!”jawab Stradivarius mantap.Rubah hanya bisa terdiam dan membiarkan tubuhnya dipapah oleh malaikat penyelamatnya itu.

Akhirnya mereka sampai di lantai pertama tanpa ada halangan,namun kelegaan itu tak selamanya bersama mereka.Terdengar suara langkah yang berjalan menuju ke arah mereka.

KRAK!Pintu dari ujung lorong terbuka,telihat seorang pasukan elit SS yang lengah,dengan cerobohnya masuk ke dalam rumah.DEP!DEP!Dua tembakan senyap menghabisi pasukan SS yang lengah itu.Kematiannya dibalas dengan belasan peluru tajam yang beterbangan menembus tembok rumah.

Peluru-peluru kaliber 5,56 milimeter itu berseliweran dimana-mana,dengan mudahnya butiran peluru tajam itu menembus penjara yang merupakan GEDUNG bertembokkan triplek murah itu.Stradivarius dan “Rubah” meringkuk di lantai untuk menghindari galaknya peluru musuh,tak lupa ia juga memeluk sang tugas utama agar tidak ada satu peluru pun yang menghampirinya.

Stradivarius tak bisa melewati jalur yang sama,setelah keadaan aman,mereka segera bangun dari ringkukannya,Stardivarius pun membawa “Rubah” ke jalur yang berbeda.Setelah puas menjeboli tembok rumah yang tipis itu,para pasukan SS merangsek masuk ke dalam.

Sang komandan memandangi dua mayat yang tergeletak di lorong rumah,semuanya mati dengan tembakan tepat di kepala.”Kejar yang menembak itu!”komando sang komandan kepada para pasukan elitnya.”Bagaimana dengan tahanan di gudang,Pak?”tanya anakbuahnya.”Tak usah,ia berhasil lolos bersama orang yang menembak dia.Hati-hati,dia bukan orang sembarangan,sepertinya sekutu mencoba menyelamatkannya!”jawab sang komandan.

Mereka langsung bergegas mengejar Stradivarius dan Rubah.Sedangkan sang komandan terus mengutuk dirinya sendiri karena ia tak menyangka kalau kejadian yang ia prediksi akan terjadi ini,terjadi pada saat ia tak menyadarinya.

Rubah bisa merasakan kalau penyelamatnya kesulitan memapahnya.”Kau sepertinya repot membawaku,prajurit.”ujar Rubah.Stradivarius terdiam ketika mendengarnya.”Bagaimana kalau kau menggendongku?”tawar Rubah.Ia mengangguk mantap,”Usul bagus.”jawab Stradivarius.

Rubah langsung meraih punggung Stradivarius,setelah “misi utama”nya berhasil hinggap di punggungnya yang kokoh itu,ia langsung bergegas masuk ke dalam rimbunnya hutan yang tak jauh dari Kota Primea-Murkovii.

Sedangkan di kota,para pemberontak sedang habis-habisan melawan para tentara Galbadia.Korban-korban dari keduabelahpihak banyak yang berjatuhan,namun karena pasukan Galbadia kalah persiapan—apalagi puluhan rekan-rekan mereka yang berada di barak habis terkena ledakan C4—mereka langsung berusaha lari dari kota.

BLARRR!!Sebuah rumah berhasil dirontokkan oleh seorang pemberontak dengan menggunakan roket jinjing RPG-7 rampasan.Seorang letnan terlihat kebingungan ketika melihat pemberontak makin merajalela tak bisa mereka kendalikan.”Mundur!!”perintahnya,dengan senang hati para prajuritnya yang mulai kewalahan—dan kehabisan amunisi—menuruti perintah sang komandan.

Para pemberontak bersorak-sorai melihat para penjajah yang sudah menginjak-injak tanah air mereka itu,lari kocar-kacir.Terbuai kemenangan dan terhasut dendam berkepanjangan,para pemberontak terus mengejar para pasukan Galbadia yang tak berdaya itu.

“Kita menang!!Komandan,kita menang!!”pekik Lonant yang teler karena candu kemenangan.Semua pemberontak melepaskan tembakan ke udara sembari bernyanyi-nyanyi untuk merayakan kemenangan.Namun,Nikolai terlihat gelisah,apalagi arlojinya sudah menunjukkan sudah waktunya untuk mundur dari kota yang membara.

“Kita mundur!”ujar Nikolai.Lonant,Visier,dan Johan terkejut ketika mendengar sang komandan menyuruh mereka untuk mundur.”Apa?Mundur?!”tanya Visier tak percaya.”Komandan!Lihatlah!Ini yang selama ini kita harapkan!Mendapatkan kembali kota ini!”ujar Lonant.

Namun Nikolai tak peduli dengan perkataan para anakbuahnya,”Kita kembali,bantuan musuh pasti akan datang!Segera!”ujar Nikolai dengan suara lebih keras dari ketiga anakbuahnya yang setia—dan sedang dibuai kemenangan—itu.Lonant yang tak terima dengan perintah sang komandan,ia beraninya menarik kerah sang komandan.

”Kenapa kita harus menuruti perintah orang-orang sekutu sih??”tanya Lonant dengan kasar.Nikolai langsung berusaha melepas tangan kanan Lonant yang menarik kerah seragam loreng-lorengnya itu dengan sekuat tenaga.Lonant yang tak siap dengan perlawanan sang komandan,oleng seketika dan dimanfaatkan oleh Nikolai dengan membantingnya ke tanah.

“Ini bukan masalah menurut atau tidak,ini kenyataan!!Kita tak akan bisa mempertahankan kota kecil ini dengan jumlah sebesar ini,sedangkan musuh memandang kota kecil ini adalah kota yang strategis,mereka akan merebutnya dengan kekuatan yang lebih besar lagi!”

“Ini kesalahan,Komandan...”gumam Lonant yang berusaha bangkit dari jatuhnya.

“Ini kegilaan!..Segera perintahkan untuk mundur dari kota ini!”

Belum sempat untuk bersiap-siap untuk mundur dari kota,tiba-tiba terdengar suara desisan-desisan keras dari udara.”Artileri!!”BUM!BUM!BUM!Ledakan artileri bersahut-sahutan,Primea-Murkovii benar-benar tanpa ampun dihujani artileri—entah darimana asalnya itu—tanpa jeda.

Gedung dan rumah yang ada hancur seketika ketika diterjang peluru artileri,para pemberontak yang bernasib sial harus kehilangan nyawanya karena terkena ledakan telak maupun karena pecahan amunisi artileri.Semua pemberontak berhamburan mencari selamat dari kejatuhan artileri yang berjatuhan asal itu.

RRRRRRRR!!Bunyi rantai baja tank-tank Leopard II bersahut-sahutan,panser dan kendaraan lapis baja yang membawa puluhan pasukan infantri mekanis bersenjata lengkap,menyusul di belakang monster darat itu.Mesin-mesin yang paling ditakuti oleh angkatan darat sekutu ini berasal dari Kompi C dari Divisi Lapis Baja ke-88 melesat cepat melintasi hutan dimana Stradivarius dan Rubah bersembunyi dan istirahat sejenak.

”Daritadi aku mendengar suara baku tembak,apa yang terjadi?”tanya Rubah kepada Stradivarius yang memandangi iring-iringan kendaraan lapis baja tentara Galbadia bergerak cepat menuju Primea-Murkovii.Langit gelap pun menjadi terang kembali karena serangan-serangan artileri.

“Aku dibantu kelompok pemberontak dari Desa Murkovii menyelamatkanmu.Tapi kalau melihat pasukan kavaleri dengan bantuan tank leopard dan panser sebanyak itu,para pemberontak berada dalam masalah..”jawab Stradivarius.Walau sudah tak punya mata lagi,wajahnya menunjukkan kalau ia memahami situasi yang terjadi.
“Hmmm,kalau boleh menebak..Kau bekerjasama dengan kelompok Komandan Nikolai,bukan?”tebak Rubah sembari meringis lebar.Stradivarius terdiam ketika mendengar tebakan Rubah.”Ya.”jawab Stradivarius singkat.

“Dulu dia adalah salahsatu dari anggota pasukan komando Republik Turkjiyan,ketika peperangan pecah dan Galbadia menduduki wilayah Turkjiyan,ia kembali ke kampungnya yang kita kenal dengan nama Desa Murkovii,memimpin perlawanan rakyat desa terhadap para pasukan pendudukan disini.”ujar Rubah.

“Dulu,ia adalah orang yang idealis,dia tidak mau berpihak kepada siapapun,baik dengan Galbadia maupun Sekutu,ia berjuang dengan caranya sendiri,bergerilya dan memenuhi kebutuhan logistik dengan cara menyerbu iring-iringan logistik maupun gudang amunisi.

“Namun,sepertinya keadaan mulai berubah disini...Heheheh..”

Rubah tertawa terkekeh-kekeh,namun Stradivarius tidak terlalu memikirkan biografi singkat Nikolai.Ia malah sibuk membuka isi ranselnya,mengambil peralatan P3K dan MRE—makanan siap santap prajurit untuk di medan perang yang lama.”Sebelum kita berangkat ke Titik Penjemputan,luka-lukamu harus kubereskan terlebih dahulu.”ujar Stradivarius sembari menguntai kain perban.

Dengan hati-hati Stradivarius menaburkan bubuk antiseptik ke keduamata Rubah yang mulai terkena infeksi.Rubah berdesis karena perihnya bubuk antiseptik yang menempel di luka-luka di sekitar matanya itu.Lalu Stradivarius menempelkan dua buah kain kassa,dan menutupnya dengan kain perban.

“Terima kasih,kawan..”ujar Rubah.

“Sepertinya tentara musuh tak memberimu makan.”ujar Stradivarius sembari membuka sebungkus MRE.
“Bukan tidak pernah,tapi kalau mereka ingat.”jawab Rubah sembari tersenyum lebar.Rubah bisa mencium harumnya aroma lasagna dari hidungnya yang patah itu,Stradivarius menempelkan sesendok plastik yang berisi makanan instant untuk tentara itu.Dengan cepatnya ia langsung melahap isi dari sendok itu.

”Sudah lama aku tidak makan makanan seenak ini..”gumam Rubah sembari mengunyah lasagna sintetis itu.Stradivarius tak lupa menempelkan ujung selang camelbak-nya—yang berisi air—untuk disedot oleh Rubah.

“—Stradivarius,disini Komando.—“panggil Komandan Piccard.”Disini Strdivarius.”jawabnya.”—Bagaimana dengan “Rubah”?—“tanya Komandan Piccard.” “Rubah” berhasil diselamatkan,kondisinya memprihatinkan.Pemberian makan-minum dan P3K untuknya sudah dilakukan.”jawab Stradivarius.

Komandan Piccard bernapas lega sekejap ketika mendengar misi utama berhasil ia laksanakan.Namun kelegaannya berkunjung sejenak,ia kembali khawatir ketika ia melihat beberapa pasukan SS sedang mengejar mereka berdua dalam jarak lima kilometer dari posisi Stradivarius dan Rubah beristirahat sejenak.

”—Stradivarius,dari arah jam tujuhmu,ada duapuluh pasukan musuh sedang bergerak mengejarmu dalam jarak lima kilometer dari posisi kalian berdua.—“

“Diterima,Komando.Kami segera bergegas.”jawab Stradivarius.Rubah menghentikan makannya,ia penasaran dengan apa yang dikatakan oleh markas Stradivarius.”Ada apa?”tanya Rubah.

”Kita harus segera bergerak,mereka mengejar kita tak jauh dari sini.”jawab Stradivarius sembari menggenggam kembali senjatanya.Ia langsung bergegas menggendong Rubah dan meninggalkan tempat dimana mereka bersembunyi.

Walau dalam tayangan infra-merah,Komandan Piccard bisa melihat dengan jelas Stradivarius dan Rubah—dengan cahaya berkelip-kelip di layar ruang komando—langsung bergegas pergi meninggalkan tempat dimana mereka berada.Dan tak jauh,duapuluh pasukan elit SS bersenjatakan G36C itu sedang bergerak perlahan namun cepat,menyapu pepohonan di sekitar mereka.

”Bagaimana dengan jemputan?”tanya Komandan Piccard.”Jemputan mereka sudah berangkat lima belas menit yang lalu.”jawab Anne.”Bagus...Sesuai dengan jadwal...”gumam Komandan Piccard puas.

Sedangkan lima kilometer di belakang,para pasukan SS masih sibuk mengawasi sekitar mereka dengan NVG mereka.Dengan hati-hati mereka menyusuri apa yang ada di depan mereka,sembari jari telunjuk mereka menyentuh pelatuk senjata mereka itu.Seorang prajurit SS menemukan sesuatu,ia memberi isyarat untuk menghentikan pencarian.”Ada apa?”tanya sang komandan.

Prajurit SS itu meraih dan memberikan bungkusan MRE yang ditinggalkan oleh buruan mereka.Sang komandan memperhatikan dan mencium isi bungkusan itu.Masih segar dan nikmat baunya.”Mereka baru saja diam disini.Kejar mereka!”komandonya sembari membuang bungkusan ransum kosong itu.

“Ngomong-ngomong.Siapa yang mengirimmu kesini?”tanya Rubah.”Maaf,itu bukan wewenangku untuk menjawabnya.”tolak Stradivarius.Memang sudah dari sononya,kalau mereka dari satuan khusus akan menjawab hal seperti itu—bukan wewenangnya untuk mengatakan darimana mereka berasal,mereka hanya diberi tugas untuk melaksanakan tugas yang mereka emban—

“Aku ragu...Apa iya kau Cuma sendirian dalam misi ini?..”tanya Rubah ragu.Namun Stradivarius tak menjawabnya,ia lalu menghentikan langkahnya.”Disinilah jemputan akan datang...”gumamnya sembari memandangi hamparan rerumputan yang bersinar indah karena pantulan cahaya bulan.

WRRRRRRRRR!!!...Bunyi deru mesin helikopter UH-60L Blackhawk bercat hitam-hitam.Sang co-pilot terus memperhatikan kondisi kendaraan kesayangannya itu lewat instrumen-instrumen elektronik super-canggih yang ada di sekitar tempat duduknya.Sedangkan sang pilot dengan lincahnya membawa sang helikopter terbang rendah menyusuri sungai yang ada di bawahnya.

”—Kepada Induk Ayam,di sini Komando.Kapan kalian sampai di titik penjemputan?—“tanya Komandan Piccard.”Di sini Induk Ayam.Sesuai dengan jadwal yang ditentukan,ETA tigapuluh menit lagi..”jawab sang pilot.”—Induk Ayam,lebih cepat lebih baik!—“desak Komandan Piccard.”Roger.”

Beberapa saat kemudian,sebuah helikopter AH-1 menyalip Induk Ayam.”—Kau terlambat,kawan.—“ujar Induk Ayam kepada pilot Cobra.”—Maafkan kami,sedikit masalah teknis tadi.—“jawab pilot Cobra.

”—Bapak Ayam,disini Komando.Kami mendapatkan pantauan satelit ada kira-kira duapuluh pasukan musuh sedang mengejar paket.Bersenjata dan sangat berbahaya!—“lapor Komandan Piccard.

“Disini Bapak Ayam..Diterima,Komando.Duapuluh pasukan musuh,bersenjata dan sangat berbahaya.”jawab pilot AH-1 Cobra dengan kode sandi Bapak Ayam.Dengan senjata kanon 30 milimeter yang menjadi senjata bawaannya,duapuluh tentara SS yang hanya bersenjatakan senapan serbu G36C bukan masalah serius buat Bapak Ayam untuk melindungi Induk Ayam menjemput”anak ayam”nya.

“—Disini Komando.Stradivarius!Mereka akan datang,ETA,lima belas menit lagi jemputan akan datang.Buat perimeter sampai jemputan datang!—“komando Komandan Piccard.”Diterima,Komando.”jawab Stradivarius sembari menyandarkan “Rubah” di pepohonan berdiameter besar.
”Jangan kemana-mana,tetap di tempatmu berada!..”ujar Stradivarius.Ia lalu pergi meninggalkan Rubah beberapa meter dari tempat Rubah bersembunyi.CREK!Senapan M4RIS SOPMOD-nya ia kokang,NVG-nya pun ia pasang,Stradivarius pun siap menunggu kedatangan para pemburunya.

Tim pemburu dengan hati-hati keluar dari rimbunnya hutan,dari layar NVG Stradivarius,tiga pasukan SS dengan waspada bergerak perlahan keluar dari kegelapan hutan menuju padang rumput yang dimana akan menjadi lokasi penjemputan.

Disusul lima orang SS menyusul dari belakang,disusul lima lagi,dan seterusnya sampai seluruh pemburu Stradivarius dan Rubah terlihat jelas di penglihatan malamnya.Mereka seperti malaikat kematian yang keluar dari gelapnya dunia lain,mencari korban yang ingin ia cabut nyawanya.

Dengan NVG yang mereka pakai,mereka menyisiri pandangan di depan mereka,dengan sangat teliti.Stradivarius membidik seorang prajurit SS yang mengawasi posisinya dengan Holosight-nya.Jari telunjuknya sudah menyentuh picu,tinggal ditekannya untuk menghabisi musuhnya yang berjarak seratus meter itu.

Prajurit SS itu terus mengawasi posisi Stradivarius,namun Stradivarius tetap berusaha mengendalikan ketegangannya,dan tetap menunggu musuhnya bereaksi dahulu.Kesabarannya pun berbuah manis,musuhnya tak menyadari keberadaannya.

”Aman!..”jawab prajurit SS itu setelah yakin tak ada penampakan musuh di hutan di depan mereka.Sang komandan dan beberapa pasukan SS di belakang mulai menyusul mereka.Kesempatan emas untuk Stradivarius,sang komandan berada dalam posisi terbuka,ia bebas menjadi sasaran tembaknya.

“Apa kau yakin,prajurit?”tanya sang komandan ragu.Anakbuahnya mengangguk mantap.”Yakin,komandan!”jawabnya mantap.Awalnya ia kurang mempercayai sang prajurit,namun sang komandan akhirnya menuruti apa yang dikatakan olehnya.Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara deru helikopter.

”Helikopter?..Apa ada yang memanggil bantuan helikopter?”tanya sang komandan bingung.”Tidak,komandan!”jawab seorang dari anakbuahnya.”Itu helikopter musuh!Bersiap-siaplah!”

DEP!Peluru tajam kaliber 5,56 milimeter menembus leher sang komandan.Rompi anti-peluru yang tebal melindungi bagian vital di tubuhnya tak berdaya melindungi leher sang komandan.Semua pasukan SS terkesiap ketika melihat sang komandan terpental dengan darah muncrat dari lehernya.

”MUSUH!!!..”pekik seorang prajurit SS.Mereka pun melepaskan tembakan balasan ke arah asal tembakan senyap itu.DRRRRRRRT!!DRRRRRRT!!Bunyi rentetan senapan serbu G36C bersahut-sahutan,puluhan peluru tajam beterbangan melintasi tempatnya berlindung.Stradivarius hanya bisa meringkuk,melindungi seluruh tubuhnya dari peluru-peluru nyasar itu.DAT!DAT!DAT!Bunyi pepohonan yang terkoyak peluru musuh.

Sedangkan Rubah hanya bisa meringkuk dan berdoa,TAS!TAS!TAS!Bunyi rerumputan yang dipotong ujung peluru kaliber 5,56 milimeter yang muntah dari dalam laras senapan G36C milik pasukan elit SS.Stradivarius berlari kencang menghindari tembakan brutal musuh.”Itu dia!Tembakk!!”Mereka kembali menembaki Stradivarius.DRRRRT!!DRRRRT!!

Dengan cepat Stradivarius mengincar seorang SS yang sedang sibuk mengisi amunisi.TRRRP!Rentetan tembakan senyap mengoyak wajah pasukan SS yang sedang sibuk mengisi amunisi G36C-nya yang habis.

BUUM!!Stradivarius terpental keras ketika sebuah peluru granat meledak beberapa meter darinya.Peluru granat itu berasal dari pelontar granat yang ditembakkan seorang SS,150 meter darinya.

Ia pun segera bangkit dari sungkurannya itu.”Heaah!!”Ia dikejutkan oleh seorang tentara SS yang tiba-tiba menyerangnya.Secepat kilat ia mencabut pistol M1911A3-nya.DEP!DEP!DEP!Tiga peluru kaliber 45 ACP sudah cukup untuk menghabisi tentara nekat itu.

“Harusnya ada dua orang!..Cari yang satu lagi,itu adalah misi utama dia!”perintah seorang pasukan SS yang berpangkat satu tingkat dibawah sang komandan,kepada yang lainnya.Lima pasukan SS langsung bergerak menuju rerimbunan hutan,mencari Rubah yang tak berdaya juga tak bersenjata itu.Stradivarius yang mencuri dengar itu,langsung bergerak menyusul Rubah.”Sial!..”umpat Stradivarius.

DRRRRRRRRT!!DRRRRRRRT!!Seorang SS dengan bersenjatakan MG36,terus menembakinya yang sedang berlari untuk menyelamatkan Rubah.Namun tembakan-tembakannya dihalangi oleh pepohonan yang dilintasi oleh Stradivarius.Operator MG36 itu sangat kesal,belasan peluru yang ia muntahkan dari laras MG36-nya tak bisa membungkam lincahnya Stradivarius.

Komandan Piccard yang mendengar suara baku tembak itu hanya bisa memandangi layar raksasa di depannya dengan wajah pucat.Ia bisa melihat pasukan SS itu mulai mendekati rerimbunan hutan,lima orang SS bergerak mendekati posisi Rubah bersembunyi.

”Ayo,Strad!..Ayo!..ANNE,DIMANA JEMPUTAN SIALAN ITU?!!”tanya Komandan Piccard kesal.”Li..Lima menit lagi,Pak!..”jawab Anne gagap,ia juga hanyut dalam baku tembak itu.Komandan Piccard yang awalnya terlihat tenang itu,seketika berubah menjadi sosok emosional ketika melihat anakbuahnya sedang dalam keadaan di ujung tanduk.

Rubah bisa mendengar suara langkah para pasukan SS yang sedang sibuk mencarinya itu dalam ringkukannya itu.Jantungnya mulai berdegub kencang ketika ia bisa mendengar langkah pasukan SS yang mendekati tempat persembunyiannya.Rubah berusaha untuk mengatur napasnya,melawan rasa takutnya yang semakin menjadi.

“Dimana yang lainnya?!”tanya seorang SS kepada rekannya yang terdengar begitu jelas di telinga Rubah.”Dia buta,dia pasti Cuma bisa bersembunyi!”jawab rekannya mantap.”Terus cari!”ujar seorang perwira menimpali.

Sial,kalau dibiarkan,mereka akan mendapatkannya!Ujar Stradivarius dalam hati,dari layar NVG-nya,ia bisa melihat lima orang SS itu sudah tepat di depan pohon dimana Rubah bersembunyi dibaliknya.Stradivarius merelakan posisinya yang terbuka,ia langsung menembaki kelima pasukan SS itu.

TAR!!Sebutir peluru menyobek pahanya,tubuhnya jadi berat sebelah,namun ia tetap berusaha untuk tegak berdiri.Dengan langkah terpincang-pincang,ia berlari menghampiri Rubah.

“Dimana dia?Dimana??”tanya seorang operator MG36 tak sabaran.Ia bukan main kesalnya,ketika ia melihat tembakannya berhasil mengenai paha Stradivarius,tiba-tiba si muka es itu menghilang dari bidikannya,dengan alat bantu NVG pun tak mampu membantunya.

WRRRRRRRRR!!Bunyi deru mesin helikopter yang melintasi hutan,pasukan SS yang ada langsung memecah konsentrasi mereka untuk melihat sang helikopter itu.”Helikopter siapa??”tanya seorang SS kebingungan.”Entahlah!”jawab rekannya panik.

Bapak Ayam melintasi tempat penjemputan,berputar-putar mengawasi daratan dengan alat bantu infra merah.Ia bisa melihat kerumunan manusia dengan warna pencitraan hitam legam berlarian di luar dan di dalam hutan,ia pun bisa Stradivarius—dengan pencitraan hitam legam kelap-kelip—sedang dikepung oleh musuh.

“Stradivarius,disini Bapak Ayam!”panggilnya dari dalam kokpit.

“Disini Stradivarius!”jawab Stradivarius sembari menekan tombol PTT yang menggantung di dada kanannya dengan suara memburu.”—Bagaimana kondisi dibawah sana?—“tanya Bapak Ayam.”Kami dikepung,jarak antara musuh dengan posisi kami sangat dekat,limapuluh meter!Mohon bantuannya!”jawab Stradivarius dengan suara berbisik.

“—Roger,Stradivarius.Segera mencari tempat berlindung yang aman,kami akan melakukan sterilisasi,konfirmasi apabila sudah siap!—“ujar Bapak Ayam.”Roger,Bapak Ayam.Stradivarius selesai.—“jawab Stradivarius.

Stradivarius menarik napas panjang,dan kembali merayap menyusuri semak-semak menuju tempat persembunyian Rubah selagi para pasukan SS terpecah konsentrasinya didatangi Bapak Ayam yang terus mengitari mereka.

“Helikopter kita,kah??”tanya seorang penembak MG36 sembari mengawasi kelap-kelip lampu helikopter misterius yang ada di atas kepala mereka.Seorang sersan melakukan inisiatif,”Kalian berdua!..”tunjuk sang sersan kepada dua pasukan SS yang mengoperasikan MG36.

“Awasi helikopter itu,yang lain,jangan lengah!Tetap cari dua orang itu sampai dapat!!”perintah sang sersan.Mereka kembali bergerak menyisir hutan,mencari Stradivarius dan Rubah yang sempat menghilang karena diganggu helikopter misterius itu.

“Hah!!”Rubah terlompat ketika merasakan bahunya disentuh oleh seseorang.“Tenang,ini aku!”ujar Stradivarius yang berhasil merayap menuju tempat Rubah bersembunyi.”Bapak Ayam,disini Stradivarius,kau bebas menembak!”lapor Stradivarius.

”—Roger,Stradivarius—“jawab Pilot AH-1 Cobra itu sembari membuka pengaman sistem persenjataan helikopter tempur ringan kebanggaannya itu..Ia langsung membanting kemudinya,dan menukik tajam menembaki para pemburu itu.RRRRRRRRRRT!!

Kanon 20 milimeter itu menyalak tanpa ampun dengan deru suara mesin layaknya mesin jahit.Pasukan SS yang kalah kekuatan itu tewas bergelimpangan berkalang darah,sedangkan yang lainnya lari mencari selamat sembari melepaskan tembakan ke arah helikopter tempur Cobra itu.

Kilatan-kilatan mesiu yang meledak di ujung multilaras kanon Cobra yang menghujani pasukan musuh terlihat seperti kembang api di malam hari.Pepohonan pun rontok tak berdaya diterjang peluru-peluru tajam yang digunakan untuk membungkan kendaraan lapis baja dan tank itu.

Sedangkan Stradivarius meniban “misi utama”nya itu untuk melindungi pecahan peluru nyasar sembari dihujani tanah dan pecahan kayu.Sedangkan Rubah hanya bisa meringkuk mendengar suara desingan peluru yang tak habis-habisnya dan suara-suara tanah dibajak terdengar di telinganya.

Dari dalam kokpit,pilot Cobra—dengan alat bantu lihat inframerah yang menempel di helm-nya—dengan santainya memainkan joystick-nya dan terus memencet tombol menembak layaknya membantai manusia di video game.Ia tak akan melepas tombol menembak Cobra-nya sampai tak ada musuh yang berada di titik penjemputan.

Beberapa detik kemudian,jemputan akhirnya datang.Deru baling-baling helikopter UH-60 semakin menambah keributan di malam itu.

”—Stradivarius,disini Induk Ayam!Maaf kalau kami sedikit lama.—“lapor sang pilot.Stradivarius bernapas lega ketika mendengar jemputan sudah datang,ia langsung memapah Rubah menuju Induk Ayam.”Jemputan kita sudah datang!Ayo!”ujar Stradivarius mantap.

Dengan kamera infra-merah,sang pilot AH-1 bisa melihat para pasukan SS lari kocar-kacir sembari melepaskan tembakan asal ke arahnya karena kalah kuat,ia pun mengawasi kelap-kelip yang sedang bergerak lamban mendekati Induk Ayam yang sudah menyentuh tanah dalam keadaan rotor tetap berputar kencang.

”—Di sini Bapak Ayam,musuh mundur,wilayah sudah steril dari ancaman.—“lapor sang pilot kepada Komandan Piccard.Komandan Piccard bernapas lega ketika mendengar laporan dari Bapak Ayam,”Tetap lindungi paket sampai mereka sampai di wilayah bersahabat!”jawab Komandan Piccard lega.

“Selamat datang kembali,Kawan!”sambut awak helikopter sembari membantu menaikkan Rubah yang buta itu.”Hey,dimana yang lainnya?”tanya awak itu heran.”Kami Cuma berdua.”jawab Stradivarius datar.Ia tak banyak tanya lagi,langsung memberikan isyarat kepada sang pilot untuk bergegas terbang meninggalkan kawasan Turkjiyan.

Setelah berada di udara,Induk Ayam langsung menukik tajam meninggalkan titik penjemputan dengan kecepatan penuh,”—Disini Induk Ayam.Paket berharga sudah berada di pelukan kami.Kami ulangi, Paket berharga sudah berada di pelukan kami.—“lapor sang pilot Blackhawk kepada Komando dan Bapak Ayam.Setelah satu kali berputar,Bapak Ayam menyusul di belakang pasangannya.

Anne tersenyum lega ketika melihat Komandan Piccard terlihat lega dan”plong”ketika mendengar misi perdananya akhirnya sukses walau ada sedikit masalah terjadi.Komandan Piccard teringat sesuatu tentang Anne,”Oh ya,Anne!”

“Ya,Pak?”jawab Anne.Komandan Piccard tersenyum malu-malu,”Maaf kalau tadi aku membentakmu..Itu Cuma karena rasa panikku saja..Ngomong-ngomong,kerja yang bagus,prajurit!”ujar Komandan Piccard.Anne tersenyum ramah kepada sang komandan,”Sama-sama,Pak.”jawab Anne.

Stradivarius menyelonjorkan kakinya yang terluka,menyandarkan kepalanya ke dinding kabin helikopter menikmati sejuknya angin pagi di wilayah musuh.Ia pun memandangi Rubah yang sedang diganti perbannya oleh awak medis.

“Entah apa yang harus aku katakan kepada anak-istriku kelak ketika melihat keadaanku seperti ini..”gumam Rubah.Stradivarius tak menjawabnya,ia hanya memandangi tubuh Rubah yang sedang dibersihkan lukanya.Dengan balutan perban yang banyak,ia lebih cocok menjadi seorang mumi ketimbang seorang agen intelijen MCA.

”Kau terluka,kawan.”ujar seorang awak sembari memandangi pahanya yang terluka itu.Stradivarius memandangi paha beserta celana multicam-nya yang robek itu.”Hanya luka biasa.”jawab Stradivarius singkat.

“Ngomong-ngomong,bagaimana kabarnya para pemberontak yang membantu kita,ya?”tanya Rubah.”Entahlah.”jawab Stradivarius singkat.Rubah menghela napas panjang,”Semoga mereka semua selamat.”seloroh Rubah.

Stradivarius terus memandangi dataran yang ada di bawahnya.Mulai menunjukkan warna yang sebenarnya ketika matahari di ufuk timur mulai keluar dari cakrawala.Terlalu indah untuk dilewatkan dalam perjalanan dengan ketinggian 1500 kaki,pemandangan yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia lihat.

Your rating: None Average: 5.9 (8 votes)
dikirim AkangYamato 27 minggu 1 hari yang lalu
Tag: