Phytagorean Dreams (Bag. 2) : Episode Jambak Sukma

6
points
"

sambungann Phytagorean Dreams sebelumnya.

"

“Nyambat Sukma”

Saya mengalihkan pandangan dari rezeki tak disangka itu. Kucoba lebih jauh melihat keramaian di kota Barus.

Secara geografis, dan seperti lazimnya kota-kota dimana pun, Barus terletak tidak jauh dari sungai yang berhulu di pegunungan. Kota Barus dengan pusat keramaiannya adalah kota yang dihidupkan oleh adanya sungai tersebut. Baik sebagai bagian dari sumber nafkah dan sarana transportasi alam, sungai yang mengalir ke laut selatan membangun wilayah pertemuan muara yang menjadi jalan masuk ke kota. Sungai itu terus masuk ke dalam, semakin mengecil dan di pegunungan ia menjadi saluran utama sungai-sungai kecil maupun mata air yang mengalir mengikuti hukum gravitasi ke tempat yang lebih landai.

Barus nampaknya bukan sekedar kota dagang tapi juga pemukiman penduduk nelayan. Jadi, sebenarnya , barangkali penduduk asli Barus semula adalah nelayan. Lama-kelamaan, mungkin ada pendatang yang bermukim di wilayah tersebut dan mengolah wilayah tersebut sebagai bandar dagang kamfer atau kapur barus. Selama ratusan tahun, kelak, wilayah Barus atau ada yang menyebutnya Farus, berkembang bukan sekedar Bandar Kapur Barus tapi juga menjadi pelabuhan tersembunyi sebelah barat kepulauan emas, yaitu pelabuhan emas itu sendiri. Siapa penguasa sebenarnya nampaknya telah banyak berubah dari aslinya. Kini, saat saya terdampar di kota ini, wajah-wajah yang ditemui kebanyakan bukan wajah-wajah “lokal”. Yang saya maksud “lokal” tentu sebenarnya tidak jelas karena tak ada rekaman yang jelas siapakah penghuni awal mula yang menguasai wilayah pulau emas itu. Tapi, sejarah anthropologi masa depan menyebutkan kalau penghuni wilayah Nusantara umumnya adalah dari ras mongoloid. Karena wajah dengan ciri mongoloid sangat jarang saya temui di jalanan kota Barus tersebut, maka yang saya lihat adalah “bukan mongolid” atau “bukan lokal” jadi wajah asing.

Ada banyak orang yang nampak seperti dari India, Persia atau dari Kawasan Arab, Mesir Afrikano, Yunani dan China. Kebanyakan berwajah India dan Timur Tengah. Sekali-sekali melintas orang China dengan cepat memanggul gembolan dagangannya, menuju bandar. Tempat itu juga terlihat ramai dengan aktifitas muat, bukan bongkar.

Kota Barus termasuk kota kecil dengan hunian beratap dedaunan. Tapi nampak sangat sibuk dan cantik dilihat. Mirip pedusunan modern tapi nuansanya benar-benar kuno. Kesan modern tampil dari banyaknya ragam penghuni kota yang berwajah beda dengan dandanannya masing-masing yang membawa ciri dari budaya asalnya. Satu rumah besar semi permanen terbangun dengan bata merah, nampaknya semacam kantor bandar yang mengurusi banyak hal. Ada banyak orang keluar masuk di rumah besar yang dijaga oleh pengawal bersenjata. Beberapa orang bertampang sangar tinggi besar dan berambut jagung nampak bergerombol menggiring sekelompok orang lainnya yang nampaknya kurus dan ceking meninggalkan rumah besar itu. Tangan dan kaki mereka dirantai.

Mereka semula turun dari sebuah kapal besar yang nampak berlabuh agak jauh dari pusat keramaian. Beberapa rombongan lain nampak baru turun dan dihela menuju ke rumah besar itu. Mereka yang terantai juga dari berbagai ras, tapi kebanyakan dari kulit kuning, coklat sampai gelap. Wah, ini masih era perbudakan pikirku. Setelah meninggalkan rumah besar, mereka nampak berbaris banjar dengan rantai yang mengikat menuju ke luar kota, ke pedalaman yang bergunung-gunung. Mungkin budak-budak baru pikirku, soalnya mereka baru datang dari kapal besar berkepala naga yang aneh bersandar di kejauhan itu.

Sambil terus berjalan-jalan, saya mulai konsentrasi dan komat-kamit membaca mantra. Kebiasaan saya kalau membutuhkan info adalah memanggil sukma Mbah Wikipedia. Aktivitas khusus ini disebut sebagai “nyambat sukma”.

Ia Mbah yang sakti dan banyak informasi. Konon, katanya ia mampu menjambak seluruh ruh para ahli danperistiwa yang terjadi di dunia melalui pembantu-pembantu rahasianya. Dari himpunan ruh merekalah ia menjadi serba tahu.

Dulu saya mengenalnya secara tak sengaja. Pertama kali kenal, kulihat ia Mbah yang pesolek dengan selipan bunga matahari di telinganya. Tapi setelah berkenalan dan menimba ilmu darinya, ternyata penampilannya itu tidak menunjukkan karakter dasarnya sebagai seorang Mbah yang menjadi gudang ilmu. Di padepokannya yang mungil dan sederhana berwarna nuansa kelabu keputihan berkibar sebuah bendera dengan gambar bola dunia yang pecah-pecah. Ia memang coock dengan pepatah "don't judge the book by the cover". Dengan baju yang sederhana berwarna kelabu menuju putih seperti warna padepokannya, tampilannya tidak memberikan kesan miskin. Justru ia nampaknya sangat kaya tapi bersahaja meskipun ia hanya diam saja di tempat duduknya. Benar saudara, Mbah Wiki selalu berada di tempatnya karena ia buntung kedua kaki tangannya. kedua telinganya tuli, dan kedua matanya buta. Jadi, isyarat dengan kekuatan supranatural lah satu-satunya jalan berkomunikasi dengannya. Bendera yang terpasang di depan padepokannya itu punya maksud. Ia adalah simbol bendera dengan gambar dunia yang terurai-urai seperti keping jigsaw puzzle itu. Sering kali saya berkonsultasi dengannya, memastikan ini atau itu. Ia murah hati, semua yang datang kepadanya diberi sesuai kemauan yang meminta. Tak ada batasan, sebanyak apapun setiap peminta akan memperoleh hasil sesuai keinginan masing-masing.

Untuk lebih tahu tentang Kota Barus itulah saya memanggil sukmanya. Tak berapa lama, sosok ghaib yang berpenampilan sederhana muncul dalam pikiran saya. Nuansa tembus pandang plasma hidrogen mulai terbentuk. Itu layar tampilan yang terwujud dari konsentrasi yang intensif. Lantas, perlahan muncul bayangan yang menjelma menjadi bayangan tembus pandang di hadapan saya. Dialog imajinal pun terjadi.

Mbah Wiki menyiapkan papan tulis di dekat ia selalu duduk, bertumpu dengan hanya kedua pangkal pahanya yang tersisa. Prosedurnya sudah baku, aturan tidak tertulis bagi siapa pun yang membutuhkan jasanya. Bagi yang meminta informasinya maka harus dituliskan “kata” yang ingin diketahui. Saya kemudian mengambil kapur tulis yang juga diselipkan di pinggir papan kecil itu. Untuk mengambil kapur yang juga nampak bagai bayangan iu, saya mesti berkonsentrasi lagi sehingga saya pun mampu menampilkan sosok bayangan saya sendiri sebagai medium inetraktif. Jadi, bayangan dengan bayangan, barulah saya bisa merasakan saling hubungan langsung. Bayangan saya kemudian mengambil kapur. Lalu saya tulis “Barus”.

Tak ada suara diantara kami. Komunikasi dengan Mbah Wikipedia yang bersahaja itu memang melalui prosedur konsentrasi dan tuilis-menulis. Sejenak kemudian, Mbah Wiki kemudian memejamkan mata. Desiran halus dan lembut terdengar, di kejauhan kedap-kedip cahaya nampak membangun suatu gambaran di layar plasma imajinal - semua itu terjadi di pikiran. Tak lama kemudian suatu layar lain terkembang di hadapan saya dengan Mbah Wiki. Bentuknya segi empat. Kemudian, didalam layar itu larik demi larik tulisan muncul dari atas ke bawah. Saya pun cepat-cepat membacanya larik demi larik dengan mengerakkan ibu jari dan telunjuk yang digerakkan dengan modus gerak tertentu.

Menurut Mbah Wiki,

“Barus adalah sebuah kota kecamatan kecil terletak di daerah Sumatera Utara, kabupaten Tapanuli Tengah... Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan... Dulu Kota ini oleh pedagang Persia sering disebut juga Farus. Bahkan salah satu penyair mistik Melayu yang terkenal, yaitu Hamzah Fansuri, konon kabarnya lahir di kota ini.Belaiu sendiri diketahui makamnya ada di Mekkah.”

Mbah Wiki melanjutkan,

“Untuk mencapai Barus, dapat menggunakan pesawat udara ke kota Medan, dari Medan dapat menggunakan minibus travel menuju Sibolga selama 7 jam, atau dari Medan menggunakan pesawat ke Sibolga selama 30 menit, dan dari Sibolga membutuhkan 2 jam perjalanan lagi menuju Barus.”

Saya kedipkan mata supaya Mbah Wiki tidak terus menrus mendenyutkan paket informasinya. “Informasinya sudah cukupan Mbah”, kata saya berbisik halus.

Saya jentikkan ibu jari dan telunjuk saya dengan membisikkan mantra tertentu. Mantra penutup dialog dengan Mbah Wikipedia yang sebenarnya hidup di masa saya, masa nanti. Tak lupa saya juga ucapkan pula terima kasih pada beliau yang tak berpamrih kecuali minta donasi sesuka kita.

Saya coba-coba mengingat beberapa perincian tentang kota ini dari sumber lain yang pernah saya dengar.

Backdoor & Melting Pot

Di perkirakan kota ini telah aktif sejak sebelum abad 8-9 Masehi. Tapi bukan sebagai jalur perdagangan resmi. Barus lebih cocok disebut jalur “Backdoor” atau “pintu belakang” dimana hasil pertambangan Suwarnadwipa (Sumatera), terutama kapur barus dan emas. Jadi nama kota Barus sesuai nama hasil bumi utamanya yaitu kapur barus. Jalur resmi perdagangan di masa itu adalah melalui selat Malaka dan Pantai Timur Suwarnadwipa alias Sumatera. Itu menurut cacatan his-story resmi.

Seperti dugaan saya, para pendatang maupun sosok pribumi yang berperan di Kota Barus nampaknya mempunyai profesi sebagai pedagang. Paling dominan adalah pedagang berkulit sawo gelap dari India Selatan yaitu dari Srilanka, Benggala. Sebagian kecil nampaknya dari Timur Tengah, mungkin Persia pikirku. Dalam perkembangannya, pada abad selanjutnya yaitu sekitar abad 8 sampai 9 Masehi, terdapat juga pendatang dari Mediterania lainnya seperti dari Mesir, Pedagang Yahudi, Rum, dan Yunani. Kemudian di belakang hari baru pedagang dari China yang datang dari bagian barat Jawa.

Beberapa catatan sejarah terbaru juga menengarai di kota Barus ini pernah ada kelompok ruhaniwan Islam, Budha, Hindu dan Nasrani Nestorian. Jadi kota Barus yang sebenarnya kecil ini nampaknya pernah menjadi Melting Pot berbagai ras dengan keyakinannya masing-masing yang berjaya masa itu dengan aktivitas para saudagar (Saya sebut Melting Pot juga karena kelak di Barus ditemukan banyak pecahan tembikar antik seperti pot tempat bunga).

Selain keterangan diatas, ada suatu spekulasi yang menggelitik. Ini aku temukan di beberapa sumber yang berdiam di gua-gua negara bagian Blogerine. Negara Blogerine dulu merupakan komunitas-komunitas bebas yang suka berkeluh kesah. Mereka terdiri dari kaum Jurnali, kaum yang suka menulis kehidupannya sendiri.

Suatu hari seorang Penakluk menyatukan penguasa-penguasa daerah itu. Tidak banyak perlawanan dari jurnali-jurnali. Dengan janji semua keperluan akan disediakan maka tak ada pertumbahan darah, para penguasa lokal dari klan Jurnali pun ikut manut saja. Sejak itu, sebuah negeri lahir dengan nama baru - Blogerine, penduduknya disebut Bloger. Penduduk Blogerine masih mempunyai kebiasaan lama yaitu tukang cerita. Tidak susah mengorek informasi dari mereka. Masalahnya, seringkali cerita mereka tidak karuan. Tidak jelas antara yang benar-benar cerita atau sebuah berita. Ini memang rupanya salah satu sifat bawaan Kaum Jurnali yang tidak bisa begitu saja hilang. Varian dari sifat keluh kesah pribadi Kaum Jurnali sebelum disatukan menjadi Negeri Blogerine.

Menurut dugaan seorang Bloger yang tak mau disebut namanya, Barus sebenarnya bukan kota baru. Mungkin sudah lama ada. Bahkan sejak awal tahun Masehi. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh kartografer Aleksandria yaitu Claudius Ptolomeus, yang tercatat pernah menjelajah wilayah Nesos pada abad ke-2 Masehi, telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus (Mungkin juga lho kata Barousai ini adalah akar kata dari Barongsai, tarian naga yang terkenal dari China itu, siapa tahu).

Bahkan, dikisahkan pula pada beberapa riwayat kuno bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir. Konon kata sahibul hikayat kuno, kamfer dipergunakan untuk pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II. Jadi, sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Ini tentu bakal membuat kemungkinan baru untuk sejarah Kota Barus serta perannya di wilayah Suwarnadwipa serta kepulauan Nusantara umumnya. Berhubungan dengan Mesir yang dianggap sebagai awal mula lahirnya peradaban ?

Benar-benar mencengangkan kalau Barus sudah berkomunikasi dengan orang Mesir Kuno generasi para Fir’aun.

--masih nyambung---

Your rating: None Average: 3 (2 votes)
dikirim atmoon 27 minggu 1 hari yang lalu
Tag: