Cerpen ini pernah menjadi juara 1 di Lomba Cerpen Puisi Warna Aksara "Bukan Bulan Biasa".
"Bila Mata Ayah Merah
Aku benci warna merah. Merah itu panas seperti bara api yang membara. Aku takut terbakar, karena itu aku benci warna merah.
Aku juga benci warna merah karena merah itu sakit. Sakit seperti darah yang menetes dari luka yang menganga.
Bagiku merah itu sekerabat dengan hitam. Sama-sama pekat. Sama-sama-sama jahat. Sama-sama gelap. Sama-sama terlahir dari rasa benci. Sama-sama mengalirkan rasa takut. Hanya saja warna merah lebih mengerikan, karena bagiku merah itu warna setan.
Aku benci setan, mungkin karena itulah aku benci warna merah.
Aku benci merah sebagaimana aku benci ayah.
Aku punya satu ibu dan satu ayah. Meskipun ibu pernah bilang padaku bahwa aku punya banyak ayah. Aku percaya. Bahkan aku sering bermimpi bahwa salah satu dari ayahku itu adalah seorang pangeran dari keluarga kerajaan yang kelak akan mewariskan seluruh istananya buatku.
Di lain waktu aku bermimpi ayahku adalah seorang konglomerat kaya. Atau mungkin seorang dokter ternama. Mungkin juga polisi. Rasanya, pada setiap pria yang kutemui, aku ingin sekali bertanya “Permisi, apakah Anda ayahku?”
Semakin lama aku semakin tak mempermasalahkan siapa ayahku yang lain. Aku mau siapapun jadi ayahlu. Siapapun selain ayahku yang sekarang. Aku benci ayahku yang sekarang. Dia yang mengaku sebagai ayahku, tapi tak pernah mengakui aku sebagai anaknya.
Aku benci ayah sebagaimana aku benci merah.
Aku benci merah sejak aku benci ayah. Atau aku benci ayah sejak aku benci merah. Atau aku benci keduanya bersamaan. Bila ayah sedah berubah merah, maka aku akan melihat banyak merah lainnya.
Ayah jarang ada di rumah. Biasanya ia tidak pulang hingga berhari-hari. Aku tenang. Tapi setelah ia pulang ia akan tinggal di rumah untuk berhari-hari pula. Aku berang.
Bila ayah diam di rumah, ayah selalu seperti kehausan. Ia minum banyak sekali. Minuman ayah warnanya merah. Setelah minum itu biasanya mata ayah berubah merah. Bila mata ayah merah, seluruh mukanya memerah. Aku dan ibu pun akan berakhir dengan warna merah.
Bila mata ayah merah, seluruh mukanya memerah. Bibirnya bergetar penuh amarah. Kata-kata kasar berhamburan seperti sampah. Dikatainya ibu sundal, senuk, lacur, laknat. Ibu hanya diam. Matanya memerah menahan tangis.
Bila mata ayah merah dan seluruh mukanya telah memerah, diambilnya sapu sepanjang galah. Dipukulinya ibu hingga berdarah-darah. Ditendang hingga tergolek pasrah. Semakin ibu meronta, semakin ayah membabi buta. Aku hanya diam di sudut. Mataku memerah menahan marah.
Bila mata ayah merah dan ibu sudah dibuatnya semerah darah, maka aku yang berikutnya. Diteriakkannya namaku ‘anak sundal’, dan aku harus segera menghampiri. Semakin lama aku menghampirinya, semakin merah mata ayah. Aku tidak mau melihatnya semakin merah.
Terakhir kali mata ayah bertambah merah karena aku terlambat menghampirinya, pipiku merah digampar tanpa jeda. Lenganku merah jadi sasaran besi tua. Pahaku merah disundut rokok ayah.
Aku tak mau semakin banyak bagian tubuhku yang memerah, karena itu saat ayah memanggilku, meski dengan nama ‘anak sundal’, aku akan sesegera mungkin menghampirinya.
Ibu hanya bisa menangis melihatku memerah darah. Ayah terus bersumpah serapah. Katanya aku anak haram jadah. Apa sungguh aku yang salah?
Mata ayah tak selalu merah. Saat ayah menang judi, biasanya ayah baik padaku. Dibelikannnya aku mainan dan baju yang bagus sekali. Ayah sering memujiku. Ayah bilang aku cantik dan suaraku bagus.
Bila mata ayah tidak sedang berwarna merah, diajarinya aku mengaji. Ayah bilang aku harus rajin shalat dan mengaji, biar aku tidak menjadi pelacur seperti ibu.
Hari ini hujan lagi. Sama seperti kemarin dan hari kemarinnya lagi. Bila hari hujan, ayah selalu diam di rumah. Bila ayah diam di rumah, aku selalu merasa gerah. Suasana hati ayah selalu berubah-ubah.
Bila ayah sedang malas, ia akan diam di kamar seharian. Ia memaksa ibu menemaninya. Tapi hari ini ibu tidak ada, ia pergi bekerja. Di rumah hanya ada aku dan ayah. Di luar hujan semakin deras.
“Sundal…! Kemari kau…” seru ayah.
Aku mendekat dan mendongak. Mata ayah tidak sedang merah.
“Ibumu belum pulang, buatkan ayah kopi!”
Ayah duduk di kursi, meraih koran.
“Kamu sudah semakin dewasa sekarang. Kemarilah, ayah ingin bicara denganmu sebagai sesama orang dewasa. Kamu tahu, ayah terkadang tak sering tak bisa mengendalikan diri. Ayah sadar ayah bukan ayah yang baik. Ibumu juga sama. Wanita sundal itu bukan wanita baik-baik.
Kami berubah menjadi orang yang tidak baik, karena nasib pun tidak bersikap baik pada kami. Hidup memperlakukan kami dengan tidak baik pula. Ayah tidak mau kamu tumbuh dan dewasa di lungkungan yang tidak baik.”
Ayah berhenti lama. Dihirupnya kopi yang kuhidangkan.
“Pergilah..!!! Selagi ibumu tak ada. Pasti ia akan sedih jika harus melihatmu pergi.”
Tiba-tiba ayah beranjak dari kursi. Ia masuk kamar, dan keluar lagi dengan membawa sebuah cincin.
“Ayah tidak punya uang. Ambillah cincin ini, kalau kau jual, pasti ada harganya meski tak seberapa. Bawa pakaian secukupnya. Pergilah…!!!”
Aku bergeming.
“Cepat pergi, sundal!!!”
Kulihat mata ayah. Merah.
Ku berlari ke kamar, memasukkan pakaian ke dalam tas, lalu kembali padea ayah. Ingin rasanya ku memeluk ayah. Tapi matanya merah. Aku takut bila mata ayah merah.
“Pergi sana! Cepat pergi…!!!”
Tanpa berkata, aku berlari menembus hujan. Meninggalkan mata merah ayah, tanpa pernah tahu bahwa bila mata ayah merah, mungkin saja berarti ayah sedang menahan tangis.
----- I I -----
Sudah dua hari aku pergi dari rumah, tanpa arah. Aku rindu pipi merah ibu. Aku rindu mata merah ayah. Aku ingin pulang.
Malam ketiga perjalananku, kembali aku berjalan di bawah hujan. Berlari mencari jalan pulang. Hujan deras, membuat malam gelap semakin tak berpelita.
Belum sampai kakiku menginjakkan halaman rumahku, kulihat banyak orang berkerumun di sana. Kulihat merah dimana-mana. Api merah menjalar membessar membakar seluruh rumah. Kudengar suara beberapa tetangga saling berbisik,
“Ngeri yah? Tega banget suaminya membunuh istrinya...”
“Wajar lah, kalau aku jadi suaminya juga, sudah kubunuh dari dulu perempuan jalang begitu. Senuk! Beraninya dia begituan sama lelaki lain di rumahnya saat suaminya pergi bekerja. Dasar pelacur, dia emang pantas dibakar seperti ini…”
“Tapi kok si suaminya ikut-ikutan mati?”
“Dia masih cinta kalii…”
“Kayak sinetron aja! Ngomong-ngomong anaknya kemana yah?”
“…”
Lagi-lagi aku tak mampu berkata. Kuputar langkah, menembus gelap Hujan dan langit gelap melatarbelakangi lidah merah api yang membakar malam.
“…”
“Eh, ssst… Itu kan anaknya…”
“Ngeri yah? Matanya merah…”
“… persis setan”
^bianglala^
dikirim arbi bianglala 26 minggu 6 hari yang laluTag:








