Reuni biru : Polkadot

49
points
"

Semoga bisa menginspirasi orang-orang bertubuh gemuk,
sungguh gemuk itu bukan kutukan, hehe
yang penting sehat, betul tidak...???

"

Reuni Biru : ‘Polkadot’

Reuni
Tak kusangka hari itu akhirnya datang juga. Hari yang paling kutakuti, selain hari kiamat tentu. Siapa sih yang berinisiatif untuk ngadain reuni ini? Berani taruhan, orang itu sebenarnya pengen pamer kesuksesan dia sekarang pada kawan-kawan lama. Buatku reuni Cuma jadi ajang “Lihat aku sekarang!”. Selepas acara reuni, hanya akan meninggalkan perasaan iri, bangga, malu, bahkan kecewa.
Dan seolah hal di atas belum cukup membuatku menderita, reuni yang akan diadakan sepuluh hari lagi itu mewajibkan busana apa yang harus dipakai, atau bahasa kerennya ; ‘dresscode’. Dan mau tahu dresscodenya apa?
POLKADOT
Sempurna, bukan? Tak salah lagi, sepuluh hari lagi aku mati.

Oke, mungkin aku terlalu hiperbola. Lagian apa salahnya sih dengan polkadot? Well, aku beri tahu, ‘SALAH BESAR’. Sebesar berat badanku. Sebesar rasa maluku. Sebesar tawa mengejek di belakangku.
Waktu SMA dulu, berat badanku nyaris seperti Ruben Studard, pemenang American Idol itu. Dan sekarang, delapan tahun kemudian, berat badanku menyusut menjadi seperti Mike, juara Indonesian Idol 2. Sebuah prestasi yang mengagumkan, bukan?
Kini, seolah ingin membawaku ke masa lalu, reuni itu mengharuskanku memakai pakaian bermotif polkadot. Bisa kau bayangkan? Polkadot. Semua orang, bahkan orang yang paling buta fashion sekalipun tahu bahwa orang gendut dan bulat seperti aku, DILARANG KERAS MEMAKAI POLKADOT, karena itu akan membuat tubuhku terlihat membengkak menjadi dua kali lipatnya.
Polkadot. Titik. Bulat-bulat. Lingkaran kecil. Lingkaran besar.
Motif polkadot berhasil membawaku menggelinding ke masa lalu. Masa SMA yang penuh haru biru.

“Eh No, kamu asalnya dari Wonosobo, ya?” tanya seseorang yang langsung kuanggap musuh setelah dia mengeluarkan kalimat keduanya.
“Engga, bukan kok! Saya asli Bandung.Emang kenapa gituh?” tanyaku dengan lugu. Saat itu adalah hari pertamaku di SMA.
“Oh, kirain dari Wonosobo, soalnya Wonosobo kan hurufnya ‘O’ semua, sama kayak badan kamu, wakakakakak”, dan dia pun tertawa dengan ngakaknya seakan-akan dia adalah titisan Mr. Bean dengan lelucon paling lucu sedunia. Nama orang itu Darman, bertampang preman dengan tatapan jail menyebalkan, praktis jadi musuhku. Sedihnya, dia bukan satu-satunya.
Saking seringnya diejek, aku jadi agak ‘parno’ kalau ada orang yang melontarkan kalimat-kalimat bermakna ganda.
Misalnya, teman sebangkuku dulu pernah bilang “No, kamu anak orang kaya yah?”
Naluriku sebagai orang gemuk langsung nyolot. “Emang kenapa? Karena badanku kayak uang semilyar gitu? Nol semua?”
Temanku itu langsung sal-ting dan memutuskan untuk kabur. Padahal dia itu Cuma mau bilang tasku itu bagus, pasti mahal harganya. Dia bernama Esti, cewek yang akan membuat kita semakin yakin bahwa cantik dan pintar tak pernah berjalan seiring. Sejak saat itu, ia diam seribu bahasa padaku. Aku cukup yakin apa yang dipikirkannya tentangku, “Udah gendut, jelek, aneh lagi…”
Tentu saja di sekolah aku juga punya teman. Masalahnya, sejak aku secara tragis DILARANG KERAS duduk di bangku depan (tau kan alasannya?) dan dengan kasar dibuang ke barisan belakang, kumpulan orang-orang terbuang dan terbelakang, seperti itulah kira-kira teman-temanku. Biarpun begitu, aku tidak malu berteman dengan mereka, sayangnya… mereka yang malu berteman denganku.
Temi, Redo, dan Wawan adalah kawan seperjuanganku di barisan belakang. Semakin hari aku bisa merasakan bahwa mereka semakin sayang padaku. Buktinya mereka pernah berkata sebagai tanda solidaritas persaudaraan, mereka juga akan menggemukkan dirinya sepertiku.
Aku begitu terharu mendengarnya. Mereka begitu tulus menganggapku seperti saudara, meskipun pada akhirnya mereka berkata dengan nada sedih,
“Tapi sayang No, kamu kan tau,keluarga kami dari golongan pas-pasan, gak mungkin bisa ngasih kita makan banyak dan bergizi biar bisa gemuk seperti kamu. Kami…”
“Tenang aja, setiap hari selama di SMA ini, Ano bakalan mentraktir kalian makan siang yang enak dan bergizi…” jawabku mantap masih dengan terharu.
“Plus susu yah No…” kata Temi.
“Cuci mulutnya bua-buahan segar impor yah…” disambung Redo.
“Cemilan juga No, jangan lupa…!” diakhiri dengan tatapan penuh harap dari Wawan.
Aku semakin terharu, meskipun pada akhirnya pas kelulusan, badan mereka bertiga tak menunjukkan tanda-tanda kegemukan sama sekali. Bahkan perut mereka terlihat kotak-kotak, tidak bulat-bulat sepertiku.
Aku menangis. Bukan terharu.

Dering telepon membawaku kembali ke masa kini. Di tanganku masih tergenggam selembar amplop biru bertuliskan ‘Reuni – Membawa Harapan dan Impian Masa Muda’
Telepon terus berering, tapi motif polkadot yang menghiasi dengan cantiknya lembar undangan itu, kembali membawaku menggelinding ke masa dimana putih abu-abu berkuasa. Kata-kata yang tertulis di amplop ikut membayangi.
‘Reuni Biru – Membawa Harapan dan Impian Masa Muda’

Bu Entin adalah guru Bahasa Indonesiaku yang ironisnya tidak pernah mengunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai EYD. Tidak jarang pula ia ber-english ria.
Suatu ketika ia memberi tugas mengarang pada kami dengan tema ‘Mo jadi apa yah aku entar???’. Esoknya saat seluruh tugas dikumpulkan dan Bu Entin selesai mengkoreksi, Bu Entin memilih lima karangan terbaik.
“Oke yah anak-anak! Ibu gak nyangka dech, kalo kalian itu ternyata jago-jago nulis semua. Pokoknya T.O.P B.G.T Fabulous. Ada yang lucu, sedih, penuh semangat, biarpun masih ada juga sich beberapa yang basi gitu dech! Well, anyway, here are the big five…”
1.) Darman (Surprise! Surprise!) yang ternyata di balik tampang preman jailnya itu, bercita-cita menjadi seorang penata rambut. Alasannya karena ia terinspirasi oleh rambutnya Oprah Winfrey. Jiwa premannya tertantang untuk mengubah rambut Oprah menjadi tatanan sanggul ala ibu-ibu Jawa. Menurutnya, menjadi penata rambut sangat menguji adrenalin. (Bu Entin sampai terharu dan minta disanggul saat itu juga)
2.) Esti, ketua cheerleader yang doyan shopping itu ternyata memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia yaitu menjadi ibu presiden. (Garis bawahi, ibu presiden disini maksudnya istri presiden, bukan presiden wanita), alasannya karena menurut Esti, presiden adalah orang terkaya dan paling berkuasa. Ketika Bu Entin dengan bijaknya berkata bahwa cita-citanya itu terlalu materialistis, Esti tersenyum bahagia. Di telinganya materialistis itu sama artinya dengan realistis.
3.) Temi dan Redo, entah mereka contek-contekan atau gimana, yang jelas cita-cita mereka sama yaitu menjadi bapak rumah tangga dari istri seorang pengusaha ternama. Bagi mereka emansipasi itu sangat penting, dan mereka mendukung sepenuhnya wanita yang mau mencari uang untuk mensejahterakan kehidupan suaminya. Hidup emansipasi!!
4.) Wawan, dengan otak tebelakang yang terbuang, memutuskan ingin menjadi seperti Shakesphere. Wawan selalu mengagumi Shakesphere yg berhasil menemukan bola lampu (???). Bu Entin menganggap ini suatu kemajuan karena sebelumnya Wawan pernah bercita-cita menjadi… ehm,… diriku (???).
5.) Siapa lagi coba? Ano Ariano, alias diriku sendiri. Bu Entin menganggap dari sekian banyak cita-cita yang ada, cita-citakulah yang paling sulit dicapai. Padahal aku tidak berhrap yang muluk-muluk. Aku Cuma ingin jadi kurus dan bahagia.

Kring… Kring… Kring…
Sontak aku tersentak. Mimpi lenyap, aku beranjak, telepon kuangkat.
“Halo..” ucapku belum sepenuhnya tersadar dari mimpi.
“Woi No! Lama banget sih diangkatnya? Lagi sibuk gak? Hang out yuk! Ada café baru loh yang nyediain menu-menu kombinasi khas masakan Sunda-Itali…”
“Pasti nama cafenya ‘blasteran’” gumamku tak bersemangat.
“Apa No?”
“Engga…! Kayaknya aku gak bisa deh. Lagi banyak kerjaan nih, tugas kantor banyak yang belum selesai,”
“Payah lo No! Ini kan weekend. Lagian No, khusus weekend, café ini nyediain paket istimewa ‘all you can eat’, cuman 50.000 perak doing. Ayo dong No!”
Duh, sebenarnya aku amat sangat ingin sekali. Belum pernah aku makan masakan kombinasi Sunda-Itali. Apalagi ada paket ‘all you can eat’ yang bikin perutku langsung liar menari tari bali. Hihihi, jadi geli.
Mataku kembali tertuju pada lembar undangan reuni itu. ‘Membawa impian dan harapan masa muda’.
“No, kamu mau kan?”
“Ehm, aku… kayaknya engga deh. Lain kali aja yah?” Kututup telepon dan kumantapkan niat dalam hati.
AKU HARUS DIET…

Hari-hari berikutnya terasa begitu menyiksa. Setelah memutuskan untuk diet, aku menghubungi dokter pribadiku, dan apa yang dia katakan saat itu benar-benar membangkitkan semangatku.
“Tembok Cina tidak dibangun dalam sehari, gunung ada untuk didaki, setelah turun hujan pasti muncul pelangi, habis gelap terbitlah terang. Karena itu jangan putus asa, dokter tahu perjuanganmu untuk menjadi kurus itu amatlah berat dan penuh rintangan, tapi percalah dengan usaha dan doa yang sungguh-sungguh, tak ada yang tak mungkin. Percayalah…!!!”
Begitulah ucap dokterku yang setelah itu memberiku setoples penuh berisi obat dan vitamin. Belum lagi menu khusus diet yang harus kumakan dan jadwal olahraga yang padat. Rasanya aku tak sanggup lagi.

Hari kesembilan, besok reuni dan berat badanku tidak mengalami perubahan yang berarti. Yang terjadi justru, mukaku terlihat pucat membiru, tak sanggup mengikuti aturan diet ketat yang menyiksa itu. Sudah Cukup.
Aku takkan pergi ke reuni.

Entah kenapa, setelah aku memutuskan untuk tidak hadir di acara reuni esok hari, rasanya seperti ada batu besar yang diangkat dari tubuhku. Lega.
Kuputuskan untuk merayakan berakhirnya dietku dengan pergi ke café Blasteran yang dikatakan temanku dulu. Di sana aku memuaskan nafsu makanku dengan makan sepuasnya. Semua jenis makanan yang ada kusantap dengan lahap seperti orang kerasukan.
Setelah kenyang aku pergi jalan-jalan ke mall. Di sanalah aku melihatnya. Benda itu. Benda yang tadinya akan mengubah hidupku selamanya.
Sebuah kemeja berwarna biru laut dengan motif polkadot berupa lingkaran-lingkaran kecil yang manis. Aku tersenyum dalam hati. Selamat tinggal polkadot.
Meski begitu, mataku rasanya tak bisa lepas dari pakaian itu. Tanpa piker panjang aku langsung membelinya. Dan anehnya, setelah kucoba pakai, ternyata tak seburuk yang kukira. Malah aku sangat menyukainya. Ah, tapi toh aku tetap tidak akan pergi ke reuni.
“Wah keren tuh mas, “ kata pramuniaganya. “Motif polkadot sekarang lagi trend loh”
“Tapi apa gak keliatan aneh? Polkadot kan gak cocok buat…”
“Gak cocok buat orang gemuk gitu? Engga juga mas, buktinya mas terlihat gagah pake baju itu” kata pramuniaga tadi lagi.
Aku tersenyum dalam hati. Strategi dagang, menjilat pembeli.
“Lagian nih mas,” sambung pramuniaga itu lagi “Motif polkadot itu seperti kehidupan yang selalu berputar. Satu lingkaran penuh sama dengan satu siklus kehidupan. Sering kita selalu merasa berada di bawah lingkaran. Terkadang kita hanya terlalu keras pada diri kita sehingga melupakan hal-hal sepele yang membuat kita bahagia.”
Aku semakin tersenyum. Teori yang maksa. Meskipun aku menyadari ada benarnya juga. Sebetulnya aku telah meraih salah satui impian masa mudaku. Aku bahagia dengan keadaan diriku saat ini. Itu yang terpenting.
“Makasih yah mbak… Mbak bener, jadi gemuk itu pilihan, bukan kutukan. ” ucapku ketika akan pergi.
“Mas ini lucu yah? Kayak temenku waktu SMA dulu, pede banget sih dia bilang badannya mirip uang satu milyar, hehehe”
Aku berhenti dan menatap sepasang mata yang kukenal dulu. Tawa itu… Esti yang dulu bermimpi menjadi ibu presiden.
Apa sebenarnya arti dari mimpi itu? Yang dekat ke kenyataan? Mendadak reuni bagiku sudah tak penting lagi.
Dan tiba-tiba saja duniaku berhenti. Semua gelap. Aku terjatuh.

Aku terbangun esok harinya di ranjang rumah sakit dengan cahaya nanar di mataku, dan rasa mulas di perutku. Rupanya aku pingsan gara-gara kekenyangan pas makan di café blasteran gak jelas itu. Mataku langsung tertuju pada deretan orang-orang di sekitarku. Orang-orang dari masa laluku. Esti, Darman, Temi, Redo, dan Wawan.
Kulihat Darman merangkul Esti mesra, sambil tangan satunya menggendong seorang bayi. Temi, Redo, dan Darman memenuhi solidaritas persaudaraannya dengan berubah menjadi gemuk. Mereka semua terlihat begitu hidup dan bahagia.
Aku mencoba tersenyum, meskipun yang keluar lebih seperti menyeringai, “Hai…! Jadi… kita reuni…??? Aku sudah beli baju polkadot loh”

000 O 000
Demi mimpi yang tak terbeli
Demi harapan yang berjalan pelan
Demi persahabatan di ujung jalan
Suatu hari, lingkaran itu akan membawamu kembali

(buat para orang gemuk, ingat menjadi gemuk itu pilihan, bukan kutukan ^-^)

Your rating: None Average: 7 (7 votes)
dikirim arbi bianglala 27 minggu 2 jam yang lalu
Tag: