Kisah Riak - 2 -

100
points

Gadis kecil itu adalah tetangga baruku, Rembulan namanya, seumuran denganku, tujuh tahun. Bukan dia yang baru saja pindah tetapi aku. Rumah kontrakan ayah di Jalan Bidan tak bisa lagi dibayar per bulan, melainkan per tahun, sehingga kami pun harus mencari rumah kontrakan yang lain 'lagi' karena ayah tak sanggup mencari uang jutaan dalam sekali waktu.

"Bapak kamu kerja apa, Rian?" tanya Bulan di saat perkenalan.
"Pengrajin rotan," jawabku pendek dan berharap topik pembicaraan diganti saja. Berbicara mengenai orang-tua hanya akan memalukan dan menyakitkan diri sendiri.

Perkenalan itu terjadi di saat dia sedang bermain di halaman depan rumahnya dibatasi pagar besi kokoh nan indah. Aku di luar, dia di dalam.

"Pengrajin rotan itu yang seperti apa ya?" dia masih saja ingin tahu.
"Yaaa, yang membuat kerajinan rotan," jawabku.
"Aaah, jangan ngerjain Bulan dong. Kok kata-katanya dibolak-balik siiih. Kerajinan rotan itu apa?"

Sebenarnya aku malas menjawab pertanyaan itu. Di rumah lamaku, aku selalu diejek...
"Kalo otot terbuat dari rotan memang kayak gini jadinya!" ejekan seperti ini akan terucap jika aku tak bisa mengangkat sesuatu yang berat namun mampu dilakukan anak-anak yang lain. Tubuhku memang ringkih, kata mereka bukan karena cacingan tapi karena ada akar rotan di dalam perutku yang menghisap makanan yang kumakan. Tentu saja ejekan ini tak sepenuhnya berasal dari pikiran mereka. Orang-tua merekalah yang mendidik mereka hingga menjelma begitu pandai, mengerti bahwa akar adalah elemen penyerap makanan dalam tubuh tumbuhan.
"Jangan main kotor di kebun rotan Pak Urat! Nanti perutmu ditumbuhi akar dan jadi kurus kayak anaknya!!"

Pak Urat bukanlah nama ayahku yang sebenarnya. Rudi Angkoso, itulah dia. Urat-urat yang menonjol keluar di sekujur tangannyalah yang membuat dirinya dijuluki Pak Urat. Namun aku tahu, urat itu adalah hasil perjuangan kerja-keras dirinya menghidupi keluarga. Urat itu selalu kupandangi setiap sebelum tidur. Urat yang berasal dari tangan yang membelai lembut wajahku dengan rasa sayang, hingga ku terlelap damai.

"Ayah kenapa ga marah sama tetangga?!" protesku ketika mencoba mengadukan ejekan-ejekan dari anak-anak tetangga.
"Memarahi orang bodoh sama dengan bodoh!" jawabnya sambil terus mengerjakan sebuah kursi rotan.

"Tapi Rian malu, Yah!"
"Kenapa kau harus malu? Karena kau tidak ikutan bodoh seperti mereka?!"
Aku terdiam mencoba mengartikan jawaban darinya. Mengapa ayah mengatakan mereka bodoh? Aku tak meneruskan pertanyaanku karena ayah telah memegang palu dan kantong pakunya. Kalau sudah begini aku tak berani mengganggu. Pernah aku menangis keras di saat seperti ini, hasilnya jari ayah menjadi lembam terhantam palu. Setelah itu aku pun habis dimarahi olehnya.

Di teras rumah Rembulan kulihat kursi dan meja santai yang terbuat dari rotan.
"Seperti itu," jawabku kepadanya.
"Oooh, itu toh yang namanya kerajinan rotan," wajahnya terlihat bersemangat. Baru kali ini ada seseorang seumuranku yang begitu bersemangat membicarakan perihal rotan.
"Aku suka duduk di kursi rotan, lebih adem!" ungkapnya ceria.

"Yok, masuk ke dalam. Main sama aku," ajaknya setelah lama kucoba yakini bahwa keceriaan darinya adalah hal yang nyata.
"Maaf. Aku harus pulang, ayahku sedang menunggu aku mengantarkan ini," tolakku menunjukkan sebuah goni yang penuh berisi busa di atas kereta sorong yang terbuat pun dari rotan.
"Ya udah. Tapi, nanti main-main lagi ke sini ya."
Aku mengangguk.

Hampir setiap hari aku sempatkan melewati rumahnya. Setelah beberapa minggu aku jadi hafal kebiasaan Rembulan. Setelah pulang sekolah dia tak lekas pulang ke rumah melainkan kursus piano atau les bahasa inggris selama sejam, pulang ke rumah lekas tidur siang, tiap hari senin rabu jumat belajar mengaji, setelah itulah dia akan terlihat bermain di halaman rumahnya sampai dengan menjelang magrib.

"Kamu ga punya saudara lain, Bulan?"
"Ada kok."
"Mana? Tiap hari kuliat dirimu selalu bermain sendirian."
"Bang Sandris ikut sama papa."
"Loh! Papa kamu dimana?"
"Papa, Dubes di Australia."
"Dubes??"
"Duta Besar, hihihi..." tawanya membuat aku menjadi sedikit minder. Walaupun aku tak tahu apa itu duta besar dan apalagi Australia, aku hanya mampu berkata, "Oooh, gitu toh."

Kami terus bertemu namun aku tak pernah mau melangkah lebih dalam sebatas pagar. Kata ayah rumah yang sangat besar menyimpan kepedihan bagi orang seperti kami. Aku tak begitu mengerti kepedihan semacam apa yang dimaksudkannya, namun aku selalu percaya dengan ayah.

"Aku bakalan punya adek, Bulan."
"Waaah, senangnya," sambutnya mendengarkan kabar itu dariku.
"Aku sempat senang ketika ibuku pulang dari bidan dan memberitahu ayah bahwa dia mengandung. Tapi..."
"Loh! Kok pake tapi?" ia bingung.
"Muka ayah tiba-tiba masam," jawabku.
"Kenapa begitu?"
Aku kembali terdiam. Sering kali aku terdiam memikirkan segala hal yang terucapkan dariku. Aku sering berucap dari apa yang kulihat namun bukan dari apa yang kudengar. Namun biasanya perasaanku lebih sering benar.

Jawaban dari pertanyaan Rembulan baru bisa kujawab delapan bulan kemudian. Adekku yang akhirnya adalah seorang bayi perempuan lahir prematur. Kata ayah, sama seperti ketika aku dilahirkan. Dulu ibu mampu melahirkanku dengan selamat. Namun kali ini kami harus kehilangan ibu...

*** bersambung...

Your rating: None Average: 7.7 (13 votes)
dikirim RIAK 16 minggu 1 hari yang lalu
Tag: