jangan di baca belom selesai maaf ya

47
points

Aku yang leleh selepas pergi bersama sahabat-sahabatku, mencoba merenggangan seluruh otot badanku untuk memulai Karya Tulis Akhir (KTA) sekolah. Tangan kiriku memegang kening kepalaku memikirkan kata apa yang harus aku ketik untuk memulai.

"Mas....makan dulu, dari tadi kamu pulang belom makan".

Betul juga apa yang diucapkan Ibuku, lebih baik aku makan dulu mungkin inspirasiku bisa keluar setelah ku isi perutku. Seketika aku menoleh jam dinding di dalam kamarku, terkejut aku, saat ini sudah menunjukan pukul 8 malam, sudah 3 jam berlalu dari aku sampai. Aku mencari bajuku, biasalah aku selalu telanjang dada bila ada di dalam kamar, dengan gaya spontan aku keluar dari kamarku melalui beberapa anak tangga, memenuhi pangilan Ibuku tercinta.

"Iya bu.....i am coming, asik semur daging...mmmm baunya enak banget, wah ada telur dadar sambal juga, yes...yes...yes" aku keriangan melihat menu makan malam yang memang kesukaanku dari kecil, langsung aku mengambil piring mengisi nasi, memang sudah kebiasaanku kalo ada semur daging harus aku yang pertama merasakannya.

"Iya...Ibu masakin buat mas Danu terus, masakin Iwan dong" adik bontotku yang nampak cemburu denganku, dia memanjakan tubuhnya di punggung Ibuku.

Walau aku bukan lagi anak bontot, setelah lahirnya adik perempuanku saat aku usia 8 tahun dan adik laki-lakiku saat usiaku 10 tahun, tetapi Ibuku masih tetap memberikan perhatian padaku sama seperti aku kecil dulu.

Selepas makan, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan tugas sekolah, Masih terlalu awal lagi untuk aku tidur, para sahabatku pun belum juga sampai, mereka yang janji datang pukul 9 malam untuk membantuku, tapi sampai sekarang sudah lewat 30 menit belum juga aku menghirup riang tawa mereka. Dengan didukung fasilitas yang cukup lengkap, aku bisa dengan nyaman mengerjakan tugasku.

"Gphenk....bengong aja loe" Kampleng dengan perlahan masuk memegang pundakku mengejutkanku.

"Tahu loe, ga bae bengong malam-malam" dengan gaya bahasa betawinya Koneng pun ikut bersama Kamplenk berpakaian rapih.

"Woi.....sial loe kagetin gw aja loe, dasar Indonesia ga bisa on time kalo buat janji" lompat aku dibuatnya aku pun kesal karena mereka datang lambat.

Kampleng yang mencari posisi yang pas untuk merebahkan tubuhnya, memberian penjelasan keterlambatan mereka,

"Maaf Phenk, kita dah sampe dari tadi, tapi kita ngobrol sama bokap loe, si Bulluk masih di teras sama bokap loe".

"Assallammuallaikum, ngomongin gw ya, dosa loe ngomongin orang" Bulluk pun datang meramaikan suasana kamarku.

"Oh ya si Gmugs gi ke rumah Cho-cho, biasa Cho-cho minta dijemput" Bulluk menjelaskan keterlambatan Gmugs dan Cho-cho yang membuat aku tak heran, karena mereka sudah sering kali begitu.

----------------------------------------------------------
Di tempat lain Gmugs dan Cho-cho.....
----------------------------------------------------------
"Mugs gimana kalo kita ga usah ke rumah Gpenk" Cho-cho mencoba merayu Gmugs.

"Gila loe Cho, ga enak loe ma Gphenk, die kan udah buatin KTA kita" wajah Gmugs yang bingung harus bagaimana.

"Udah tenang aja, Gpenk ga mungkin marah, dari dulu gw ga pernah liat Gpenk marah ma kita-kita" senyum rayuan Cho-cho yang terus menggoda Gmugs.

"Sebenernya gw juga males, gw ga ngerti computer mo ngapain juga gw kesana" Gmugs yang sudah terbius oleh dongeng-dongeng Cho-cho.

"Nah tu loe tai... ya dah gimana kalo kita main PS3 gimana? mau ga" senyum kemenangan Cho-cho semakin melebar

"Bener juga loe, kebetulan di deket sini ada rental baru Cho, yang jaga cwnya cakep, ayolah nanti penuh lagi" Gmugs dengan semangat menyambut tawaran Cho-cho, langsung putar arah motor tigernya.

"Akhirnya loe kena juga, hehehehehe" Cho-cho berbisik dalam hati tertawa di atas kemenangannya.
----------------------------------------------------------
Di rumah Gphenk
----------------------------------------------------------

"O.K lah, ga ada masalah dengan mereka, sekarang kita bahas KTA aja" Gphenk.

"ya sudah gimana nih, loe dah sampe mana Phenk?" tanya Koneng yg hampiri komputerku.

"Tinggal bab penutup dan penulisan daftar pustaka aja, yang gw bingung sekarang judulnya belom ada" aku yg asik hisap rokok hanya menggerakan kursor computer.

"Tenang aja si Phenk, dah minggir loe biar kita baca" perlahan Bulluk mendorongku dari kursi belajarku yang beroda.

Mereka tengah membaca KTA di layar monitor 14" komputerku, sementara aku yang rilex memanjangkan kakiku diatas lantai kamarku. Aku bakar sebatang rokok lagi untuk menemani dunia khayalanku.

"O.K Phenk setelah gw baca semua, bagaimana kalo judulnya *Fungsi Dari Department Housekeeping* setuju ga?" Bulluk yang coba memberitahu judul dari pemikiran dia.

"Mmmmm *Fungsi?? tapi Luks kalo *Fungsi terlalu singkat, kurang kena dari apa yang ada di dalamnya" Koneng yang tidak sependapat dengan Bulluk.

"Bener juga tuh Luks, di sini menjelaskan semua dari alat-alat yang di gunakan sampai nama-nama chemical yang dipakai di department housekeeping" Kampleng yang tidak kalah memberikan pendapatnya.

"Udah cepet deh, jangan pada lama debatnya gw dah pusing dengernya" Gphenk

"Gimana ya....mmmmm, pengertian, tanggung jawab atau pengorganisasian? yang mana nih?" Bulluk

Mereka yang terus berdebat untuk mendapatkan judul dari KTA mereka, sementara malam semakin menunjukan sejuknya, kamarku yang tadinya nyaman, sekarang sudah lain, semak berbau rokok yang kuat, asap rokok yang mengepul di udara membuat sesak pikiran mereka, sampai di akhir keputusan kami memberi judul *Peranan dan Tanggung Jawab Housekeping Department*.

"huh...akhirnya beres juga, eh bocah 2 kemana nih? hah....gila dah jam 11 malem belom nongol juga tu anak" aku yang geram karena ketidak hadiran mereka.

"biasa lah tu, gw tau die orang di mana sekarang" ucap Kampleng yang tersenyum melihatku marah.

"ya dah sih mau diapain lagi, mang dah tabiatnya begitu" ucap Bulluk menenangkan keadaan, yang masih asik di depan monitor bermain soliter.

"yok samperin emosi gw jadinya, gw pengen liat aja bener ga dia di tempat itu" bergegasku mengambil jaket pergi keluar dengan vega hitam.

"Koneng bangun-bangun loe....kita mau keluar, dah cepet jangan banyak tanya" dengan nada yang mengejutkan aku bangunkan Koneng yang terlelap di kamarku.

Dengan sepeda motor masing-masing, suara bising itu memecahkan keheningan malam di lingkungan rumahku tapi tidak menjadikan masalah apalagi marah, mungkin karena mereka segan karena bapak lurah di desaku.

Sesampainya kami di tempat itu, dari luar memang kami tak melihat mereka, tapi aku hapal betul mereka punya sandal.

"Nah ni sandalnya, ada die di dalem" ucapku menunjukan sandal jepit loreng kepunyaan Cho-cho.

"Huuuaa...aahh...loe akin Phenk ni sendalnya, mangnya die doang yang punya sendal begini" dengan keadaan mengantuk Koneng coba menghambat langkahku.

"gw yakin 100% ni sendal Cho-cho, cuma bokap die yang Jendral di daerah sini, nah loe ga liat bintang di sendal itu, tu sekalian loe biar yakin tu...di pojok tiger orange di plat nombernya ada bacaan Gmugs. masih kurang yakin? gw masuk sekarang"
emosiku menjadi setelah terlihat motor Gmugs yang di letak sembunyi dari pandangan mata.

"Phenk....Phenk....loe di luar aja, tenang jangan....ini tempat rental PS bukan jalanan.....o.k biar gw ma Bulluk yang ke dalem" Kamplenk yang menarik tanganku, manahan langkah kakiku,

"Dah loe tenang ye.....jangan emosi terus, loe kan tau perangai die begitu." Koneng bersamaku menahanku untuk masu ke dalam.

"Sial tu anak selalu aja buat gw kesel terus.....dah lah gw mo balik aja. bodo amat die mo buat apa....." Gpenk yg marah meninggalkan tempat itu.

"Woi Phenk nanti aja. aduh susah juga ni anak. huuuh sono pegi lah marah aja bisanya" Koneng pun tak bisa buat apa-apa, melihat Gpenk yang pergi segeralah Koneng masuk ke dalam tempat itu.

"Lah....kok Gpeng mana??" Bulluk tertanya-tanya.

"Gpenk dah balik. ni lah gara-garanya, uuuuh (tangan Koneng tempeleng kepala Gmugs)"

"Iye...iye...maaf deh...ni Cho-cho yang ngajakin gw, ya gw sih mau aja. loe tau dong gw...." dengan gaya tak bersalahnya Gmugs masih asik dengan game PS 3.

"yee...salahin gw, loe juga maukan?? ya dah jangan salahin gw" Cho-cho pun membela diri

"aahh....cape gw dengar loe berdua ngomong, ayo Luks Koneng kita balik aja dah malem nih" Kampleng yang takmau dengar terus meninggalkan Gmugs dan Cho-cho, mereka pun tetap asik dengan perasaan tidak bersalah........

---bersambung---
----------------------------------------------------------

--2 (dua) hari kemudian--

Dipagi hari, di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) siswa tingkatan 3 (tiga) memenuhi kursi-kursi di taman sekolah kami, dengan adanya pohon yang rindang sudah menyegarkan udara dipagi hari. Satu hari ini yang ada hanya siswa tingkat 3 karena siswa tingkat 1 dan 2 diliburkan untuk menenangan suasana ujian sidang terakhir sekolah.

Semua yang siswa yang hadir nampak rapih, dengan dasi hitam di leher, kemeja putih lengan panjang, di lengkapi warna biru gelap jas almamater sekolah, ditambah lagi sepatu pantofel sudah seperti orang mau pergi bekerja. Itu semua sudah menjadi keseharian kami, dengan seragam seperti itu memang sudah membuat kami semakin bergaya diantara sekolah-sekolah lain di sekitar sekolah kami. Pagi ini memang sungguh menegangkan, banyak yang nampak strees, menangis, padahal sidang belum dimulai lagi.

Dengan memegang hasil KTA mereka masing-masing, berbincang, menghafalu, membaca, melamun, banyakyang aku lihat di pagi itu, dan ternampak bukan seperti kawan-kawan sekolahku. Mereka sudah lain dengan dipenuhi perasaan gundah, banyak yang mereka lakukan untuk menghilangkan perasaan itu, ada yang menghafal dengan cara mengeraskan suara sehingga membuat salah satu ruang kelas terisi dengan berbagai macam suara.

"Huh....kemana lagi nih kok belom ada yang dateng?" aku mencari sahabat-sahabatku yang belum kurun datang di sekolah.

"Abang, aduh bang gw pusing nih, bang gimana dong gw belom hafal juga apa yang gw buat"
teman perempuanku menghampiriku, ternampak wajah yang penuh gelisah.

"kenapa lagi loe, dah rilex aja ya, gw juga lagi pusing"

Your rating: None Average: 5.9 (8 votes)
dikirim danu yudhatama 26 minggu 6 hari yang lalu
Tag: