Ibu Di Mana, Yah?

54
points
"

Kembali bereksperimen. Idenya dateng gara2 akhir2 ini sering liat yang ketabrak.

"

“Ibu pergi, Nak,” jawab ayahku. Namun begitu, wajahnya terlihat sangat lelah. Ayah memang pekarja keras. Tetapi ketika ia dan ibu pulang, mereka selalu terlihat cerah bertemu anak-anak mereka.

“Ke mana, Yah?” tanyaku lagi. Namun ayah tidak juga menjawab. Ia menaruh makanan di sudut ruangan dan duduk memojokkan diri. Aneh, pikirku. Tidak pernah ayah tampak selelah itu.

“Ayah kenapa, Kak?” tanya adik perempuanku yang masih kecil.

“Tidak tahu. Coba kamu bawakan ayah minum. Kakak pergi sebentar,” jawabku. Kemudian aku keluar rumah. Langit hari itu mendung. Suhu udara sehari-hari mulai menurun. Musim dingin sebentar lagi tiba. Aku memutuskan untuk pergi ke tengah taman. Di situlah biasa ayah dan ibu pergi.

Taman itu sangat indah. Banyak orang, baik tua maupun muda, senang berjalan-jalan di sana pada sore hari. Di dekat bangku sana, seorang nenek tua sedang duduk. Sebungkus roti di pangkuannya. Tapi burung-burung tidak ada yang datang. Udara dingin telah memaksa bermigrasi.

“Mau ke mana, dik?” tanya seorang teman ayah dan ibu.
“Lagi cari Ibu, Tante. Apa Tante lihat Ibu?” jawabku padanya.
“Tidak. Tapi kalau saya lihat, akan say beritahu kamu.”

“Terima kasih, Tante,” jawabku. Kemudian aku melanjutkan pencarianku ke ujung barat taman. Di situlah ibu biasa berkumpul bersama teman-temannya. Namun setiba di sana, daerha itupun juga hampir kosong. Tentu saja. Hari sudah mulai gelap, siapa yang mau keluar di tengah cuaca mendung begini? Aku bahkan sudah merasakan satu-dua titik hujan.
Belum pernah ayah pulang tanpa ibu. Penasaran, kulanjutkan pencarianku ke bagian lain taman, bagian favorit Ibu yang pada musim panas, selalu ditaburi bunga berwarna-warni.

Kotak demi kotak bunga kujelajahi, namun ibu tidak ada di antara tangkai-tangkai bunga yang mulai layu itu. Sampai kemudian aku sampai ke pinggir jalan. Di jam sibuk ini, jalanan penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Aku selalu senang memperhatikan kendaraan menderu dengan cepat ke sana kemari. Tapi di tengah jalanan itu, tiba-tiba aku melihat sesuat yang membuatku kaget setengah mati.

Di sana, di tengah jalan, ibuku terbaring tak bergerak. Kacang-kacangan yang dibawanya bertebaran di sekitarnya. Sebagian hancur tergilas mobil. Tetapi mobil-mobil itu tidak ada yang berhenti. Mereka tetap melaju di sekitar ibuku. Sungguh sedih. Aku tidak dapat mendekati jasad ibuku – ya, aku tahu dia telah mati. Tubuhnya hancur rata dengan aspal hitam.

Selama beberapa waktu aku terdiam di pinggir jalan itu, tidak tahu apa yang akan kuperbuat. Tetapi kemudian sesuatu menyentak pikiranku dan aku berbalik. Musim dingin hampir tiba. Aku harus menggantikan ibuku bekerja mengumpulkan makanan agar kami sekeluarga dapat bertahan hidup. Kupungut kenari yang tersembunyi di balik daun dan mulai berjalan kembali ke arah rumah.

Dan di trotoar sana, seorang anak kecil berteriak ke ibunya, “Ibu, lihat. Ada tupai mati di tengah jalan.”

Your rating: None Average: 6.8 (8 votes)
dikirim wehahaha 26 minggu 6 hari yang lalu
Tag: