Maut: Ha, ha, ha. Manusia memang bodoh.
Tuhan: Pada saatnya nanti kau dan orang yang baru saja kaubujuk akan Kukirim ke tempat yang tepat.
"Ini adalah sebuah kisah pendek mengenai seseorang yang berduel maut dengan hati dan nuraninya.
Duel ini adalah duel tentang maut.
Hati: Takkan kubiarkan kau membunuh dirimu sendiri setelah membunuh sahabat sejatimu!
Nurani: Kau harus bertanggung jawab! Kematian bukanlah penyelesaian dari masalahmu!
Aku: Tapi...
Maut: Sudahlah, biar dia yang menentukan ajalnya. Bila dia ingin mati sekarang, aku sudah membawa sabit yang kuasah tadi pagi. Cukup untuk memotong leher anak ini.
Hati: Cukup, maut! Hentikan omomg kosongmu! Sebaiknya kau lari saja, Shin!
Nurani: Tidak bisa begitu! Shino harus menyerahkan dirinya ke kantor polisi!
Aku: Tapi aku tak mau!!!
Maut: Jadi mati saja!
Hati: Jangan.
Nurani: Jangan lakukan.
(Aku mengambil sebilah pisau yang sejak tadi kuselipkan di kantong celanaku. Sebuah pisau lipat yang berukirkan kata "FATE" pada gagangnya.)
Maut: Tak perlu kau lakukan itu. Aku sudah menyiapkan sabitku untuk perayaan kematianmu hari ini. Kau siap?
(Aku meletakkan pisau yang kugenggam.)
Aku: Aku siap.
Hati: Terserah kau, lah. Toh ini hidupmu.
Nurani: Aku tak ingin, tapi aku tak bisa melarangmu.
Maut: Baiklah.
Aku: Inikah diriku? Aku benar-benar seperti seorang pengecut.
Maut: Kenapa?
Aku: Karena aku tak sanggup membunuh diriku sendiri.
Maut: Oleh karena itulah aku ada untukmu.
Hati: Aku akan menyampaikan berita duka ini ke surga.
Nurani: Aku akan menyampaikan berita duka ini pada Tuhan.
Aku: Sayang sekali...
(Lima detik berlalu. Aku masih terpaku, dengan sebilah pisau yang menancap di leherku.)
Maut: This is "The Hero of The Day".
Hati: ...
Nurani: ...
(Rohku melayang-layang di udara sejenak, kemudian terbang secepat cahaya meninggalkan tubuhku yang berlumuran darah.)
Aku: Aku memang seorang pemberani.
dikirim ramza_nightmare 26 minggu 6 hari yang laluTag:








