Ode of The Air - C

"

Untuk semua saran yang di berikan, sekali lagi saya ucapkan terima kasih Smile

"

Rintik hujan berjatuhan dari retakan langit
Matahari terlelap dalam buaian awan
Aliran sang waktu berhenti
Kenyataan dan Khayalan hanyut dalam deraian badai

***

Hujan turn makin deras. Sesekali terdengar suara petir bersahutan.

Andrea menemukan dirinya terbaring berselimut di samping sebuah api unggun kecil di dalam sebuah gua. Dengan tatapan kosong ia memandang ke sekelilingnya. Di dinding gua, bayang-bayang samar menari-nari mengikuti nyala api. Tak jauh dari tempatnya berbaring ia melihat pakaiannya tergeletak di atas lantai gua.

Kesadarannya kembali. Wajahnya seketika memerah. Dengan segera ia kembali merapatkan selimutnya.

Angin berhembus mempermainkan nyala sang api. Suara rintik hujan terdengar bagai nyanyian syahdu yang melenakan. Udara yang hangat di dalam gua, selimut yang nyaman, beberapa saat kemudian Andrea menemukan dirinya hampir kembali tertidur.

Lalu tiba-tiba gelegar petir memecahkan keheningan.

Terdengar langkah kaki terburu.

Andrea menoleh ke arah pintu gua dan seketika ia terkesiap. Di sana Johan tengah berdiri terengah-engah. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Rambut merahnya terkulai. Dari kedua tangannya, tetes-tetes air hujan bercampur darah menitik perlahan.

***

Lorong itu gelap, bahkan di siang hari. Andrea berlari menyusurinya, melewati puluhan lukisan, wajah-wajah yang tak satupun ia kenali. Tiap langkahnya menggema. Berulang dan terus berulang, hingga suatu saat terdengar bagaikan suara gelak tawa. Andrea menutup telinganya dan terus berlari hingga akhirnya ia sampai ke ujung lorong tersebut.

Suara tawa itupun seketika berhenti. Andrea perlahan melepaskan tangannya dan mencoba menarik napas dalam-dalam. Kedua kakinya masih gemetar dan seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu.

Tak ada jawaban.

Andrea kembali mengetuk pintu, "Buka! buka!" serunya. Suara gelak tawa itu kembali, kali ini makin nyaring. Dan saat Andrea hampir menangis, pintu itu pun terbuka.

"Kaukah itu Rea?" terdengar suara lembut seorang wanita.

"Mama!" Wajah Andrea berubah cerah. Cepat-cepat ia menghapus air matanya, dan dengan riang ia memasuki ruangan tersebut.

***

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Johan sambil menyerahkan sepotong daging pada Andrea. Lalu sekali lagi Johan mengiris sepotong daging dari bagian tubuh seekor rusa yang tergeletak di sampingnya. Dengan sebuah tongkat pendek ia memanggang daging tersebut di atas nyala api.

"Terima kasih..." Andrea pelan-pelan mengunyah irisan daging yang diberikan Johan. "Bajuku..." Andrea menundukkan wajahnya, ia tak melanjutkan kalimatnya.

"Bajumu basah kuyup terkena hujan." jawab Johan acuh tak acuh, "Aku tak ingin demammu semakin parah."

"Begitukah..."

"Ya."

Keduanya diam. Di luar gua hujan turun makin deras.

Johan menambahkan kayu pada api unggun yang mulai mengecil. Nyala api sesaat meninggi menerangi seluruh gua. untuk sejenak wajah Andrea berubah cerah, dengan riang ia memandangi lukisan-lukisan samar pada dinding gua tersebut.

Malam makin larut. Kayu bakar terakhir berderak ketika Johan memasukkannya ke dalam api unggun.

"Hei, Johan..."

Johan menoleh pada Andrea yang kini tengah terbaring di dalam selimutnya. Entah kenapa ia tersipu saat memandang wajah Andrea saat itu. "Apa demammu naik lagi?"

Andrea menggelengkan kepalanya. "Tolong mainkan sebuah lagu..."

Johan tersenyum, "Baiklah. Tapi setelah itu kau harus kembali tidur, Rea."

Johan meraih tasnya lalu mengambil sebuah okarina yang terbuat dari sejenis kerang berwarna hitam. Andrea tertawa kecil.

"Ada apa?"

"He he he, Aku payah ya? seharusnya aku yang merawatmu... bukan sebaliknya..."

Wajah Johan sesaat memerah, ia pun mulai memainkan okarinanya.

Segalanya hening.

Deru hujan dan gemuruh petir tak lagi terdengar.

Satu-satunya suara yang terdengar adalah alunan merdu okarina yang dimainkan Johan.

...

Johan menarik napas lega saat melihat Andrea kembali tertidur, sambil menahan dingin ia melepaskan pakaiannya yang basah kuyup. Rambutnya yang merah mulai bercahaya. Dari punggungnya sepasang sayap kelabu tiba-tiba saja muncul dan dengan lembut melingkupi tubuhnya.

Rasa kantuk mulai menyerang Johan. Diiringi nyanyian sang hujan ia pun ikut terlelap.

***

Rintik hujan berjatuhan dari retakan langit
Matahari terlelap dalam buaian awan
Aliran sang waktu berhenti
Kenyataan dan Khayalan hanyut dalam deraian badai

58.3333
Average: 5.8 (6 votes)
dikirim 145 14 weeks 5 days yang lalu
Tag: