Kisah Riak- 3 -

106
points

"Ibu sekarang di manakah?"
"Sekarang dirinya telah menjadi bidadari."
"Bersayap dong?"
"Iya. Dengan cahaya yang meliputi tubuhnya."
"Bercahaya seperti bulankah, Ayah?"
"Iya, bidadari bulan," pandangan mata ayah menatap ke atas langit. Di situ terlihat kerinduan akan kelembutan kasih. Terkadang ia tersenyum tipis lalu sirna...

Tapi bulan tak bersayap. Hanya ditutupi gaun cahaya putih, yang membuat hati yang melihatnya menjadi tenang, damai. Tapi bulan tak akan terbang menuju ke sini. Hanya saja aku berharap mampu hadir ke atas sana dan memeluk dirinya dengan rasa sayang yang ku miliki.

Malam itu seperti biasa, aku dan ayah duduk di atas kursi rotan di depan rumah petak semi permanen sewaan. Bulan sedang penuh dengan langit yang cerah, tiada awan yang menutupi keindahannya.
"Semoga adikmu, Rani, tak cerewet lagi malam ini, Rian."
"Iya. Sepertinya obat yang kita beli manjur, Yah," jawabku setelah mengintip ke dalam rumah, melirik ke arah ayunan di mana Rani, adikku, sedang tertidur lelap walau dengan suara nafas yang berat.
Ayah hanya tersenyum berharap.

Bagi kami, Rani, adalah titisan ibunda. Wajahnya sangat mirip ibu. Namun bukan hanya wajah, penderitaannya semenjak hadir ke dunia ini pun seperti yang kami lihat berbulan-bulan pada ibu, sebelum akhirnya dia pergi.
Lebih lama waktunya dihabiskan dengan tangisan dan jeritan kesakitan daripada senyum dan tawa.

"Aku ingin menjadi abang terbaik baginya," ucapku kepada Rembulan yang hari itu datang bersama pembantunya membawakan kado kelahiran buat Rani.
"Aku percaya," ucap Rembulan dan tersenyum.
"Bulan cantik hari ini," aku memperhatikan dirinya yang dibalut gaun anak-anak berwarna putih bersih. Selama ini kami hanya saling berjumpa di saat dirinya sedang bermain-main. Maka wajar kalau aku terpana melihat kedatangannya hari ini seperti itu.
Dan dia hanya tersenyum, tersipu, sambil menyuruhku membuka kado darinya.

Kado itu berupa boneka, tokoh dari kartun the Sailor Moon. Bukan dengan kostum seragam sekolahan anak Jepang tapi dengan kostum gaun putih panjang yang anggun. Di dahi boneka itu terdapat sebuah tanda berbentuk bulan sabit.
"Lihat Rani, lihat! Boneka ini persis seperti dirimu!" jeritku kepada adikku seraya membentuk sebuah gambaran bulan sabit di keningnya. Entah apakah dia mengerti atau tidak, dia selalu tersenyum setiap kulakukan itu.

Aku mencoba menepati janjiku untuk menjadi abang terbaik. Setiap pulang sekolah langsung kujemput Rani dari rumah Bu Bidan yang sangat berbaik-hati menampung Rani jika ayah terpaksa pergi mengantarkan hasil kerajinannya. Aku merelakan waktu bermainku demi dia. Mengganti pakaian, memandikan, dan membersihkan sisa pipisnya. Hanya satu yang kuakui tak mampu kulakukan, ketika ia buang air besar.
"Bundaaaa!" aku pun segera berlari tergopoh menuju rumah Bu Bidan yang berjarak dua puluh meter sambil menggendong adikku. Tak jarang bajuku terkena tinjanya sebelum sempat sampai ke rumah Bu Bidan tepat waktu.

Pernah suatu hari Bu Bidan harus pergi ke kampung demi acara pernikahan anaknya, sementara ayah kembali harus mengantar hasil anyaman ke kota. Rani berteriak, merasa tak nyaman ketika aku tak dapat membersihkan tinjanya dengan lancar. Butuh waktu setengah jam sampai aku benar-benar bisa. Kucoba menahan tangisku yang saat itu merasakan frustasi yang mendalam. Mengapa ayah tak cari saja ibu baru buat kami?
"Suatu hari nanti kau akan mengerti apa itu cinta," jawabnya ketika hal itu aku coba pintakan.

Dirinya tumbuh semakin besar. Sikapku semakin mencoba bergaya seperti ibu, tenang, mendamaikan. Ada banyak hal yang berubah, ada hal yang tetap sama. Rembulan masih sering berkunjung, terkadang aku mau menggendong Rani menuju rumahnya yang berjarak dua ratus meter dari rumahku. Boneka the Sailor Moon sudah mulai rusak, namun itu tak membuat kebiasaanku mengukir bulan sabit di keningnya berhenti.

Rani masih sering kambuh sakitnya. Terkadang muntah disertai bercak darah dan panas tinggi hingga susah tidur. Aku lelah menjaganya namun aku tahu ada yang lebih lelah lagi, ayah. Bekerja membanting-tulang, tiap malam selalu memintaku lekas tidur agar tidak bangun kesiangan untuk sekolah.
"Kalau malam biar ayah yang mengurus Rani," ucapnya selalu.
"Tidurlah dengan nyenyak, Rian," dan tangan berurat itu tak pernah lepas membelai tidurku.

Hingga akhirnya segala kelelahan itu berakhir. Rani meninggal di usianya yang kedua tahun, sembilan bulan, dan sepuluh hari. Aku selalu bisa menahan tangisku seberapapun menderitanya Rani hidup. Namun kini dia telah tiada, tangisanku pun pecah.

Tiada lagi kening yang dapat kuukir sabit Tiada lagi tubuh yang kusayangi itu Peri kupu-kupu telah membawanya terbang Aku kembali kehilangan keindahan cahaya malam Malam ini segalanya kelam Ditemani lilin berapi kepedihan

"Masih ada aku," ucap Rembulan memeluk tubuh dua belas tahunku.
"Kau?"
"Aku akan menjadi Rembulan-mu," tawarnya.
Aku hanya bisa menjerit, meraung, dan menangis.

Semenjak itulah aku menjelma selayak riak danau yang tenang, tiada lagi tangis. Aliran air dari keangkuhan gunung telah kuhentikan, alur sungai ketidak-pastian laut sudah kututupi. Aku mendiamkan diriku dalam hingar-bingar kesunyian, sambil menatap rembulan indah yang menjadi teman pengisi hari.

Aku mau kau jadi Rembulan-ku...

"Kau mau menjadi apa?" tanyanya di saat hampir kelulusan sekolah dasar.
"Aku mau jadi seorang penyair."
"Wah, keren!" jeritnya takjub.
"Aku ingin menciptakan jutaan puisi untuk Rembulan-ku," ucapku di dalam hati.

*** bersambung...

Your rating: None Average: 7.6 (14 votes)
dikirim RIAK 26 minggu 5 hari yang lalu
Tag: