“Ibu, kenapa Ibu ninggalin Nay gitu aja… kenapa Ibu jahat sama Nay? Kenapa Ibu tega? Ibu nggak sayang sama Nay! Ibu jahat! Ibu jahat…!” raungku sambil memukul-mukul gundukan tanah yang masih basah di hadapanku.
“Sst, sudahlah Nak. Ibumu sudah tenang di atas sana. Kamu jangan nangis ya. Ibumu pasti nggak suka kalau ngeliat kamu nangis gitu. Nanti kalau ibumu ikut nangis juga gimana? Kamu nggak mau kan kalau ibu kamu ikut nangis…?”
Aku memeluk wanita setengah baya di hadapanku sekuat tenaga. Aku tak dapat menghentikan tangisku. Seakan-akan seluruh air mataku harus aku tumpahkan dahulu agar aku dapat bernapas lagi. Aku tak peduli betapa banyaknya orang yang berkerumun di sekitar kami.
“Tapi… Bu..de, ibu… ja…hat karena udah ninggalin Nay sendirian…” ucapku terbata-bata di sela-sela tangisku.
Bude tersenyum sambil membelai kepalaku dengan lembutnya.
“Nayla, nggak ada ibu yang jahat yang tega ninggalin anaknya sendiri di dunia ini. Ibu kamu harus pergi. Itu memang bukan keinginannya. Tapi ibumu harus pulang ke tempat asalnya. Suatu saat nanti, semua orang juga akan pulang ke tempatnya masing-masing. Memang bukan di sini, tapi jauuuh di atas sana. Nanti bude juga akan pulang, pak de juga, kamu juga iya Nay.”
“Jadi nanti Nay bisa ketemu ibu lagi?”
“Tentu saja bisa. Kamu tahu nggak, semua orang baik yang meninggal di dunia ini nanti akan terbang jauh ke atas sana. Lalu mereka akan menjadi bintang yang berkedip-kedip setiap malamnya. Nanti malam Nay bisa lihat. Akan ada banyaak sekali bintang di langit. Dan Nay akan temukan bahwa salah satu diantaranya adalah ibu Nay,” ucapan bude itu membuatku sedikit tenang. Walau mataku masih basah dan hidungku masih sangat berair, namun rasanya aku telah mendapat sedikit energi.
“Sekarang kita pulang yuk…!”
****
Malam ini, aku mengenang kembali kejadian empat tahun lalu itu. Saat ibu pergi meninggalkanku dengan tiba-tiba, rasanya aku tak memiliki kekuatan untuk bertahan lagi. Ibu dipanggil menghadap Sang Maha Kuasa tepat saat ulang tahunku yang ke-12. Aku benar-benar syok saat itu. Tak ada lagi yang kumiliki di dunia ini. Selama ini aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Walaupun ibu berjuang sendirian untuk membiayai kehidupan kami, ia tak pernah mengeluh. Itu adalah hal yang paling membuatku bangga terhadap ibu. Aku sangat menyayanginya, sampai-sampai rasanya aku tak mampu hidup tanpa dirinya.
Ayah telah meninggalkanku saat aku berumur 9 tahun. Kini telah 7 tahun berlalu sejak saat itu dan aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Dulu sewaktu aku masih kecil, ibu selalu mengatakan hal yang sama setiap kali aku bertanya tentang ayah. Kata ibu, ayah sedang pergi untuk berjuang. Hanya itu. Tak pernah ada penjelasan yang lebih panjang dari ibu sehingga aku tak dapat mengerti apa arti dari perkataan itu. Bahkan sebelum aku sempat menanyainya kembali.
Hanya satu yang kupahami saat itu, ayahku adalah seorang pejuang. Pemahaman sederhana dari seorang anak kecil yang sering membuatku senang. Jika sudah begitu, kemudian aku akan berlari-lari sambil membawa sebuah cerutu milik ayahku. Aku akan berlari-lari mengitari halaman rumah sambil berteriak-teriak “Ayahku seorang pejuang! Ayahku sedang berjuang!”. Aku masih ingat sekali bagaimana kejadian itu, aku bahkan masih ingat bagaimana aku meneriakkannya.
Namun sekarang aku telah bertambah dewasa. Sedikit demi sedikit aku mulai paham bagaimana situasi yang sebenarnya. Keberanianku mulai muncul karena didorong oleh rasa penasaranku yang semakin tinggi.
Aku harus menemukan ayahku. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Walaupun kami belum pernah bertemu sebelumnya, aku yakin bahwa aku akan dapat menemukannya.
“Ibu, Nay tau di antara jutaan bintang di atas sana itu ibu pasti sedang memperhatikan Nay. Nay akan mencari ayah, Bu. Doakan Nay ya, semoga Nay bisa bertemu dengan ayah lagi. Doakan semoga Nay bisa mendapat kehidupan yang lebih baik nantinya. Nay sayaaaang sekali sama Ibu. Semoga Ibu tenang di atas sana ya…”
Kemudian kutundukkan kepalaku untuk mendoakan ibu. Semoga ibu mendapat tempat yang baik di atas sana. Amin.
***
Sekali lagi aku mengecek alamat di tangan kananku. Jalan Merpati IV, tukang tambal ban Pak Atmo belok kanan. Aku telah melewati Jalan Merpati, dan sekarang aku sedang berdiri di depan kios tambal ban ‘Pak Atmo’. Tapi di mana belokan ke kanan itu? Aku tak bisa bertanya pada siapapun. Jalanan di situ amat sepi. Bahkan, kios Pak Atmo pun sepertinya sudah lama tidak beroperasi. Bermenit-menit lamanya aku mondar-mandir di tempat itu. Rasanya aku sudah mulai putus asa.
Akupun memutuskan untuk segera pulang. Tubuhku terasa sangat lelah.
Aku mendapatkan alamat ini dari seorang teman lama ayah yang kebetulan bertemu denganku beberapa saat lalu. Dia tidak memberi penjelasan apapun mengenai alamat ini. Hanya satu kalimat yang ia ucapkan saat itu,”Kamu harus kuat ya, Nak!”. Mulanya aku tak tahu apa maksud perkataan itu, namun tak lama lagi aku akan segera menemukan jawabannya.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada setumpuk ban yang berada tepat di samping kios Pak Atmo. Tumpukan ban itu menutupi hampir separuh gang kecil yang sempat terlewat oleh mataku. Tak salah lagi, pasti itu jalannya.
Akupun segera bergegas menyusuri jalanan itu. Jalan itu lebarnya mungkin hanya 1 meter dan di sekelilingnya terdapat tembok tinggi yang menjulang. Walau tertatih-tatih, akhirnya aku tiba pada sebuah pemandangan yang sempat membuatku terpaku sesaat.
Di hadapanku, tampak sebuah bangunan tua yang cukup besar. Halamannya yang tidak terlalu luas dipenuhi dengan berbagai macam tanaman bunga. Di salah satu sudut halaman terdapat suatu lahan parkir kendaraan bermotor. Dan yang paling membuatku syok adalah tulisan besar yang tergantung di gerbang masuk tempat itu. ‘Rumah Sakit Jiwa Harapan Kita’.
Hatiku mencelos melihat kenyataan ini. Tak pernah kubayangkan sedikitpun bahwa di tempat seperti inilah ayahku tinggal. Jadi selama ini ayah ada di rumah sakit jiwa? Jadi selama ini ayah… ahh, aku benar-benar tak kuat menerima kenyataan ini. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri. Siapa tahu ayah memang bekerja di sini. Sebagai pembantu, atau cleaning service mungkin.
Jika Tuhan masih mentakdirkan kami untuk bertemu, mungkin ayah sedang berada beberapa meter jauhnya dari tempatku berdiri saat ini. Sekali lagi aku menguatkan diriku sendiri. Perlahan-lahan kulangkahkan kakiku memasuki tempat itu. Tidak ada seorang pun di dalam pos satpam yang berada tepat di samping pintu masuk sehingga aku segera melangkahkan kakiku menuju bagian informasi.
“Permisi Bu, saya mau tanya apa di sini ada pegawai yang bernama bapak Yusuf Subrata?”
Seorang perempuan berkacamata yang sedang serius menatap layar komputer di hadapannya terlihat agak terganggu dengan kedatanganku.
“Maaf, Mbak. Mau cari siapa?” tanyanya dengan wajah kurang antusias.
“Saya mau bertanya apa ada pegawai yang bernama bapak Yusuf Subrata di tempat ini,” ulangku hati-hati agar tidak terlihat sedikit kesal.
“Yusuf…? Sepertinya… tidak ada pegawai yang bernama Yusuf. Tapi tunggu sebentar ya, Mbak. Saya cek dulu…”
Wanita itu kembali menatap monitor komputer dihadapannya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya ia bicara juga.
“Saya sudah melihat beberapa daftar pegawai. Termasuk bagian keamanan, cleaning service, dan lain-lain. Tapi nama itu tidak ada.”
Deg
Rasa takut itu muncul lagi. Jangan-jangan memang benar bahwa ayah bukanlah seorang pegawai di tempat ini. Kalau begitu berarti ayah…
Sekali lagi aku harus menguatkan diriku. Aku harus ikhlas menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
“Maaf, Bu. Kalau begitu saya bisa minta tolong untuk mengecek nama itu di bagian… bagian nama pasien…,” ujarku ragu-ragu.
“Baik. Tunggu sebentar ya…!”
Wanita itu kembali menatap monitor komputer di hadapannya. Tak lama berselang, yang kutakutkan akhirnya terjadi juga.
“Ya, Yusuf Subrata… pasien yang masuk tahun 2000 dan sekarang berada di Ruang Anggrek IV. Apakah Mbak ingin menemuinya?”
bersambung---
dikirim anky 26 minggu 5 hari yang laluTag:








