Awan pekat, pohon acacia yang meranggas dan itik buruk rupa itu saya!!!

25
points

Memerlukan bab tersendiri untuk menceritakan siapa kamu dan menggambarkan bagaimana kamu menyisakan rasa sakit yang tak terperi di dalam hati saya. Betapapun demikian, saya tetap menyayangimu utuh...seperti segumpalan awan pekat yang segera menumpahkan hujan pada bumi.
Hujan itu seperti muntah, mengguyur dan membuatmu tak pernah kering kasih sayang.
Lalu air laut itu menguap---meruah tertangkap ruang hati saya yang segera menggelayuti kepekatan kasih sayang itu lagi, untuk kemudian saya muntahkan lagi kasih sayang itu ke sekujur jiwamu.
Begitu setiap saat, setiap waktu...di setiap nafas yang bergulir ...tak ada habisnya. Hingga saat ini.

Beratus-ratus hari---diri ini berproses bak sebuah pohon acacia rindang yang lama kelamaan menjadi seonggok tumbuhan yang meranggas, kering dan kehilangan pesonanya.

Ketika saya mengayuh sampan raksasa ini sendirian, kamu hanya tertidur di perut sampan. Wajah naif saat tak sadarkan diri itu sekilas nampak lucu—lugu seperti bayi yang sedang tertidur sambil dininabobokan.
Hingga kamu tidak tahu, berapa kali lautan ini diaduk badai dan saya melindungimu sedaya upaya dengan merapatkan sampan ini ke tepian.
Berapa kali sekawanan burung cantik bermigrasi melintasi perairan ini? Kamu bahkan tidak tahu itu!!!
Kamu tidak tahu, indahnya langit disaat lembayung melukisi langit biru yang mulai temaram. Kamu hanya tertidur selepas menenggak pil-pil berwarna-warni yang membuat otot-otot di sekitar matamu melemah dan hanya ingin tertidur. [Aaaarrrrrgggghhhh....kamu telah kehilangan banyak moment dalam hidup ini!!!]
Saya tahu, dengan tidur itu, kamu bisa bermimpi...bermimpi indah yang tidak dapat kamu realisasikan di kehidupan nyata. Hingga kamu lebih memilih untuk bermimpi, merajut mimpi itu sampai menjuntai ke tanah, tanah tempat dirimu dikubur nantinya! Kamu bermimpi untuk kematianmu sendiri disaat semua orang mengajukan proposal pada Tuhan untuk diberikan hidup yang lebih lama dan usia yang panjang.
Kamu seharusnya mengajari saya bagaimana cara mensyukuri anugerah Tuhan, tetapi sulit rasanya....karena kamu sendiri tidak tahu bagaimana melantunkan ucapan syukur itu pada Tuhanmu.

Kamu telah meniduri angsa-angsa cantik yang belum kamu tahu darimana mereka berasal dan kamu tidak tahu bulu-bulu indah yang mereka miliki itu sebenarnya terbuat dari tahi dan debu. Jika kamu tahu, kamu akan merasa mual karena jijik. Sementara saya, kamu membuat saya seperti itik buruk rupa yang tak berkawan, tersesat dan...bermuram durja. Sendirian.
Kamu selalu tertipu angsa-angsa dari neraka itu daripada menikmati dekapan itik buruk rupa yang memiliki cinta terbaik untukmu.

Gerak-gerikmu menunjukkan kelasmu sendiri. Sering membohongi seseorang yang selalu menantimu dalam balutan rindu dan kasih sayang. Tapi kamu lupa, kebohonganmu tak selamanya dapat kamu pelihara, karena saya adalah salah satu pemilik semesta---seperti juga kamu, dan semesta mencatat sejarah kita. Catatan semesta itu dapat saya baca sewaktu-waktu...dan saya akan segera tahu bahwa kamu telah menyia-nyiakan saya!!!
Kenapa harus berbohong jika kamu tahu saya akan sepakat dengan apa yang telah kamu pilih? Kenapa harus berbohong jika kamu tahu saya akan mendukungmu melakukan sesuatu?
Sangat disayangkan ketika kebohongan itu kamu lakukan bukan untuk hal-hal yang membuatku murka saja, tapi kamu juga berbohong untuk hal-hal di mana kamu tidak perlu berbohong. Sayang sekali kamu menabung dusta yang akan memperberat pertanggungjawabanmu sendiri ketika amal baik dan buruk berada dalam timbangan di mahsyar nanti, hanya untuk mendustai orang-orang terkasihmu.

Hidup bukanlah hitam dan putih, ada wilayah abu-abu yang tidak pernah kamu pijak. Ini artinya, saya tidak meminta kamu untuk menjadi terang seperti malaikat, atau suram seperti iblis....saya hanya memintamu berani menyandang peran dirimu sebagai laki-laki, yang boleh menerima berbagai tawaran duniawi yang membuai, tetapi sekaligus fasih dengan tanggung jawab...pada dirimu sendiri, pada orang-orang yang menyayangimu, dan pada akhir dari hidupmu. Itu saja! Adakah kesalahan dari harapan saya ini??? Saya hanya meminta kamu untuk tidak sombong dan takabur!
Karena beberapa kali kamu seperti tidak membutuhkan mikroorganisme di sekelilingmu, dan padahal kamu hidup dengan mereka. Sekarang saya ingin bertanya, apakah kamu juga sudah tidak memerlukan lagi oksigen untuk membuatmu hidup? Sementara oksigen itu adalah satu-satunya aset yang kamu punya untuk tetap bernafas...dan ketika kamu bernafas artinya kamu masih hidup...dan ketika kamu hidup...saat itulah kamu memanfaatkan peluangmu untuk menenggak pil-pil euforia, meniduri angsa-angsa cantik dan mengingkari kebahagiaan yang diberikan orang-orang yang menyayangimu. Masihkah kamu akan memilih sombong sebagai nama depanmu?

Ahhh....kini saya mengerti, ketika saya mengharapkan sesuatu---benda maupun peristiwa ke dalam hidup saya disaat justru hidup tak memberi saya banyak pilihan, saya terlebih dahulu harus memanen ikhlas dalam hati saya...hingga sesuatu yang diluar harapanpun tersulap menjadi sebuah anugerah dan tersyukuri.

Tapi saya terlanjur menjadi seonggok acacia yang meranggas, kering dan kehilangan pesonanya, yang tak lagi mampu disembuhkan bahkan oleh seorang tabib istana yang mahsyur sekalipun.

Salahkah jika saya menutup mata dan telinga dan tidak ambil peduli lagi dengan semua yang kamu lakukan? Karena saya hanya berkapasitas sebagai manusia biasa sepertimu yang ingin mengecap kebahagiaan.
Maaf jika kini saya menolak segala macam permasalahan yang disebabkan keadaan saya yang terlalu mencintai kamu...Belenggu itu telah saya hancurkan, penderitaan itu telah saya tamatkan, karena beratus-ratus hari lamanya kamu menganggap saya seolah ‘tak terlihat’ olehmu...dan rasanya sungguh haru sekaligus menyakitkan ketika kamu menyadari bahwa sayalah satu-satunya yang kamu punya disaat kamu tak tahu lagi harus berbuat apa dan pergi kemana.
Si awan pekat, acacia meranggas, sekaligus itik buruk rupa inilah yang menjadi tempatmu kembali.
Maaf---saya pernah menolak untuk mendekapmu ketika kamu dalam kelelahan dan penyesalan yang mendalam. Kini saya telah belajar mencintai diri saya sendiri dan telah membuat perjanjian dalam hidup untuk tidak mencintai seseorang yang memiliki tombol on-off untuk memati-hidupkan sesuka hati rasa sayang dan pedulinya kepada saya. Kamu terlalu arogan dan sombong. Adakah kamu tahu apa yang saya punyai untukmu ini tak lekang oleh waktu dan tak termakan usia? Sungguh sampai hati kamu mengatakan cinta yang kamu miliki untuk saya besar kecilnya tak dapat kamu duga dan dapat datang dan pergi sesukanya. Perlu kamu tahu, cinta itu seperti tanaman yang menggantung di pot-pot atap rumahmu yang akan mati jika tak dipupuk dan dipelihara. Jadi kalau cinta yang kamu punya itu timbul tenggelam, sadarilah bahwa kamu tidak memupuknya dengan kasih sayang. Paham???

Namun, saya adalah awan pekat, acacia yang meranggas dan itik buruk rupa terkaya sejagat raya...karena telah memaknai dirimu yang menyakiti saya sebagai guru terbaik sepanjang hidup saya.
Saya telah terjebak dalam pemikiran bijak yang diakibatkan ajaranmu itu. Satu paket Terima kasih dan Maaf adalah persembahan terbaik saya untukmu, yang telah mengajarkan saya tentang makna mencintai dan dicintai...

* do you think i care ‘bout you? Maybe yes...or maybe sometimes yes, sometimes no! Sorry...

Your rating: None Average: 6.3 (4 votes)
dikirim boemikhatulistiwa 26 minggu 3 hari yang lalu
Tag: