CC West District, Harris, Pennsylvania, USA
Malam itu awan kelam menyelimuti langit di kota metropolitan Harris, sebuah kota berpenduduk tiga puluh lima juta termasuk empat belas juta penduduk daerah suburban yang terletak di pantai Atlantik Pennsylvania, USA, di antara Philadelphia dan New York. Angin yang berhembus kencang di langit kota penuh cahaya lampu yang terlihat kontras dengan kegelapan langit di atasnya itu membuat suasana kota itu seperti dalam cerita anak-anak. Dan, cerita anak-anak atau bukan, sesuatu akan terjadi di kota ini—sesuatu yang besar, yang dampaknya akan mengubah dunia dan peradaban manusia pada umumnya.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam ketika Brendan Nielsen, seorang pria setengah baya yang merupakan pengunjung sebuah bar di downtown Harris, keluar dari bar untuk mengambil air gratis dari keran di luar bar, saat ia merasa amat haus dan terlalu mabuk untuk berpikir bahwa menghabiskan beberapa sen untuk segelas air dari pelayan bar lebih merugikan daripada keluar dan menghadapi salju yang turun. Meskipun udara dingin menusuk kulit dan salju turun di luar bar itu, pria keras kepala itu tidak peduli; hal itu tidak menghentikannya untuk mencari keran di lapangan parkir yang diselimuti salju. Ia selalu melakukannya tiap kali ia merasa haus dan sedang mabuk, dan itu hanya satu kesempatan lain.
‘Pria itu gila,’ kata Pepin si pemilik bar kepada salah seorang pelanggannya, menatap punggung Nielsen ketika ia melewati pintu bar. ‘Udara sedingin ini, dan ia minum dari air keran di luar. Kurasa airnya tidak akan keluar, sudah beku.’
Nielsen tidak peduli. Pepin mungkin mengatakan itu hampir setiap hari sebagai bahan obrolan dengan pelanggannya. Serius atau tidak, itu tidak akan menghentikan Nielsen untuk melakukan kegiatannya. Seorang pria melakukan apa yang ingin ia lakukan, menurutnya, dan sekarang ia ingin minum.
Ia meraih keran, dan memutarnya. Udara dingin telah membekukan air dalam keran, seperti yang diduga Pepin. Tidak ada air yang keluar.
‘Dang!’ umpat Nielsen. Ia mengguncang-guncangkan keran itu, tapi tetap saja tidak ada air yang keluar. Pria itu telah begitu mabuk sehingga ia tidak ingat apa yang ia lakukan; kemarin malam, ia melakukan hal yang serupa dan tidak ada air yang keluar, dan hari ini juga.
Pepin menatapnya melalui pintu bar yang memutih karena salju. Seperti biasa, pikirnya. Menyuruhnya berhenti minum sama dengan mengusir seorang pelanggan dari barnya, dan itu sangat berbahaya untuk bisnisnya.
Ketika Pepin bermaksud memalingkan wajahnya dari pintu bar, mendadak terjadi sesuatu yang aneh. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa pikirannya kosong, seolah-olah otaknya tidak bekerja, padahal kesadarannya masih ada. Bar itu masih tetap dipenuhi oleh pengunjung, tapi ia tidak peduli dengan mereka. Suara mereka masih terdengar, tapi ia tidak mendengarnya. Ia tidak peduli dengan apapun. Ia seperti sedang melamun, hanya memandang seisi bar dengan tatapan kosong.
Begitu sadar, ia mendapati Nielsen telah berdiri di depannya, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat. ‘Pepin!’ sahut Nielsen tepat di depan wajahnya. ‘Coba lihat ke luar, kau tidak akan percaya.’
Seketika itu juga pikiran Pepin kembali muncul di kepalanya. Segala ingatan yang muncul terakhir kembali ke kepalanya, termasuk tentang Nielsen dan keran yang membeku. Hal yang pertama kali muncul di benaknya adalah, air dari keran tetap keluar, meskipun hari begitu dingin. Tapi mengapa wajah Nielsen begitu pucat?
‘Airnya keluar? Ya, aku percaya. Mengapa kau harus menyuruhku keluar di tengah udara sedingin ini?’
Nielsen menarik tangan Pepin. ‘Airnya memang keluar,’ jawabnya, ‘tapi ada yang aneh. Kau tidak akan percaya.’
Ia dan Pepin keluar ke lapangan parkir bar, di mana keran yang dimaksud Nielsen berada. Air di keran itu memang mengalir keluar, tapi kelihatannya seperti memancar ke atas. Mungkin keluar dari tutup keran karena lubang keluarnya tersumbat, pikir Pepin. Tidak ada yang aneh.
Tapi Nielsen membawanya lebih dekat lagi, dan hal yang aneh terlihat. Pepin mengusap matanya berulang kali, tidak percaya dengan penglihatannya. Air di keran mengalir ke atas, tapi tidak memancar seperti yang ia duga. Airnya mengalir ke atas, seperti keran yang dinyalakan, tetapi ke atas. Aliran airnya menjauhi permukaan tanah, menuju ke langit yang bersalju.
‘Lihat,’ kata Nielsen. ‘Ketika kerannya kutendang, mendadak muncul bunyi mendengung entah dari mana, dan kerannya mengeluarkan air—yang mengalir ke atas.’
Pepin menatapnya. ‘Mengapa kautendang kerannya?’
‘Airnya tidak keluar,’ jawab Nielsen. ‘Dan akhirnya benar-benar keluar, hanya saja ia mengalir ke atas.’
‘Aneh,’ ujar Pepin, menatap air keran yang mengalir ke langit. ‘Aku tidak minum apapun malam ini. Apa salju sering menimbulkan halusinasi?’
‘Apa halusinasi yang sama bisa dilihat dua orang yang berbeda?’ tanya Nielsen, menatap aliran air yang dilihat Pepin. ‘Kurasa aku harus berhenti minum hingga musim semi.’
Pepin melangkah maju, berusaha meraih aliran air yang keluar dari keran. ‘Benar-benar aneh,’ gumamnya.
‘Tunggu dulu,’ ujar Nielsen, memperingatkannya. ‘Jangan kau sentuh airnya, atau…’
Terlambat. Air yang keluar dari keran telah membasahi tangan Pepin, dan seperti alirannya, tetesan air dari tangannya juga menetes ke atas, ke langit. Pepin menatapnya dengan takjub.
‘Luar biasa,’ katanya. ‘Hey, aku merasa ada yang aneh… tubuhku menjadi ringan…’
Perlahan tapi pasti, Pepin merasa tubuhnya menjadi semakin ringan. Rambut dan pakaiannya mulai melambai tidak karuan, seperti berada di dalam air. Ia tahu ada yang aneh—setidaknya dengan gravitasi planet ini. Tapi entah kenapa, tiba-tiba terdengar suara mendengung yang amat kencang, entah dari mana, dan kepalanya kembali kosong. Ia bahkan tidak menyadari tubuhnya yang mulai terangkat dari tanah, mengambang, dan perlahan-lahan terjatuh…
Ke atas.
Nielsen, yang masih menginjak tanah, terpaku melihat temannya mengambang ke langit, semakin lama semakin cepat, hingga tidak terlihat lagi di balik awan. Ia juga bisa mendengar suara mendengung di kejauhan, tapi terror dari peristiwa yang dialami temannya mengalahkan rasa penasarannya terhadap suara mendengung itu. Dan mungkin karena hal yang sama, pikirannya tidak kosong, seperti pikiran temannya yang terbang itu.
Ia pun berteriak histeris.
Suara mendengung itu menjadi semakin kencang, dan mau tidak mau Nielsen memperhatikannya juga. Langit yang diselimuti awan dan salju sangat menghalangi jarak pandang Nielsen, tapi ia percaya dengan apa yang ia lihat: suara mendengung itu berasal dari sebuah helicopter yang terbang di atasnya. Ada helicopter yang terbang di atas mereka, ia baru sadar. Setidaknya itu terlihat seperti helicopter. Helikopter itu terlihat aneh, tapi Nielsen tidak tahu bagian mana yang aneh; ia hanya peduli dengan nasib temannya sekarang. Ada helicopter di sana, mungkin ia bisa menolong Pepin yang terjatuh, pikirnya.
Ia pun melambai-lambaikan tangannya, berusaha meminta pertolongan. ‘Sir! Tolong! Ada orang terjatuh! Ke atas! Tidak tahu kenapa—ia hanya jatuh ke atas! Ke sana! Ke arah air mengalir! Ke langit! Cepat, sebelum ia kembali terjatuh ke bumi! Cepat…’
Mata Nielsen melebar tidak percaya. Helikopter itu berlalu meninggalkannya dan Pepin begitu saja. Salju terus turun dan Nielsen jatuh berlutut di depan keran yang airnya masih mengalir ke atas, menatap langit tempat Pepin jatuh tadi dan helicopter yang semakin lama semakin jauh.
Sebelum ia sempat berteriak dan kembali ke bar untuk meminta pertolongan, suara mendengung tadi, yang berasal dari helicopter, menghilang bersamaan dengan helikopternya. Seketika itu juga, Nielsen baru tersadar: mabuknya sudah hilang, pikirannya kembali terang, dan pandangannya kembali jernih.
Air di keran juga kembali mengalir ke bawah, sebelum perlahan-lahan membeku oleh udara dingin.
Dengan takjub, Nielsen kembali ke dalam bar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin ia akan menghubungi polisi. Tapi sebelumnya, ia harus memberi tahu semua orang di bar dulu. Panggilannya pasti akan digubris—meskipun kedengarannya tidak masuk akal, tetapi semua pasti tahu kalau Pepin hilang, dan mereka akan mencarinya.
Betapa terkejutnya ia ketika ia masuk ke dalam bar, ia menemukan Pepin berada di dalam, memberi minuman kepada para pelanggannya. Pakaiannya bersih dari salju, ia kelihatan seperti tidak pernah keluar. Bahkan, ekspresinya tetap tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pepin yang ini menoleh kepadanya dan bertanya, seperti apa yang pasti ia tanyakan setiap kali ia mengambil air di luar dan kembali dengan tangan hampa:
‘Bagaimana? Apa airnya masih keluar? Hmm, kurasa tidak. Dari wajahmu kelihatan kalau airnya tidak keluar. Tapi kau terlihat sober kali ini, Brendan. Apa akhirnya kau menemukan akalmu kembali?’
Brendan Nielsen tidak tahu harus berkata apa. Ia, meskipun dengan enggan, kembali menjalani hidupnya seperti biasa, karena semua orang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, kurang dari dua puluh empat jam kemudian, Brendan Nielsen tercatat sebagai salah satu orang yang pertama kali melaporkan adanya anomaly di Harris—yang semula tidak digubris, tetapi setelah 148 kasus lainnya dilaporkan dalam dua puluh empat jam setelah Nielsen, menjadi sorotan pemerintah, ilmuwan, dan pers di seluruh Amerika.
Langit yang gelap seolah menyembunyikan sebuah helicopter yang melintas di atas gedung-gedung pencakar langit di kota itu dari pandangan penduduk kota. Keberadaan helicopter itu sendiri merupakan pemandangan yang biasa bagi mereka, sebenarnya, karena sekilas helicopter ini terlihat seperti puluhan helicopter lainnya yang biasa melintas di kota sebesar itu. Tapi helicopter yang satu ini berbeda. Helikopter ini mengangkut seseorang yang paling penting dan berpengaruh di dunia ketika itu—atau setidaknya itu pendapatnya terhadap dirinya sendiri. Orang ini terbang dengan helikopternya melintasi distrik komersial terpadat di dunia itu karena suatu alasan tertentu, suatu alasan amat pribadi yang menyangkut semua orang yang tinggal di kota yang ia lintasi itu, bahkan semua orang yang tinggal di dunia.
Pria itu duduk sendirian di kabin penumpang, melihat pemandangan CC West District pada malam hari yang tak pernah tidur diterangi cahaya lampu dari balik kacamata aviator berbingkai platina yang ia kenakan. Ia tidak menyalakan lampu apapun dalam helikopternya, dan pilot helicopter itu tidak terlihat jelas dari tempatnya di tengah kegelapan kabin penumpang dan langit di luar sana, tapi pria itu sama sekali tidak terganggu dengan keadaannya. Ia hanya memandang gedung-gedung di bawah sana sambil sesekali menggerak-gerakkan tangannya di udara, wajahnya menyunggingkan senyum misterius. Kelihatannya ia sedang memperkirakan sesuatu.
Orang di luar mungkin ada yang menyadari kalau helicopter itu hanya berputar-putar di tempat yang sama. Mungkin saja ia juga menyadari kalau helicopter itu selalu mengunjungi tempat yang sama dan melakukan hal yang sama pada waktu yang sama setiap malam. Mungkin juga, malah, ia akan menyadari keanehan tersebut dan melaporkannya pada polisi atau badan pemerintah lainnya sebagai suatu hal yang mencurigakan. Pria itu tahu segala kemungkinan itu, seperti ia tahu pasti bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak akan ada orang lain yang akan menyadarinya. Baik keberadaannya, helicopter itu, tempat yang sedang ia kunjungi, dan tujuannya yang misterius.
Mendadak orang itu mengangkat tangannya, sebuah sloki wine digenggamnya di ujung jari-jarinya. Tidak, isi sloki itu bukan wine, tapi air. Bukan air biasa, tapi air murni. Ia membuat gerakan seperti bersulang dengan sloki itu di udara, sebelum meminum habis isinya. Entah pria macam apa yang bersulang sendirian di tengah kegelapan malam dua ribu kaki di atas hangar-bingar daerah komersial terpadat dan tersibuk di dunia dengan air murni di dalam slokinya, tidak ada yang tahu, kecuali pria itu sendiri.
Dan tampaknya ia menggumamkan sesuatu.
‘Umat manusia… betapa cepat kalian tersesat. Betapa jauh kalian telah tersesat…’
Ia membantu dirinya menuang air murni kembali ke dalam slokinya, sebelum mengangkatnya ke udara sekali lagi dan bergumam,
‘Tenanglah, umatku, akan tiba saatnya kalian dicerahkan. Mercusuar Umat Manusia akan dibangun di tengah peradaban manusia, untuk menerangi jalan mereka dan membawa mereka kembali ke jalan yang benar…’
Ia meminum habis slokinya dan meletakkannya di sisinya. Duduk terpaku di kursinya, ia memandang ke bawah sana. Meskipun tersembunyi di balik kacamata hitam yang dikenakannya, ia dapat melihat melalui pantulan bayangannya di jendela helicopter; tatapannya kosong menerawang ke bawah sana.
‘…dan siklus ini akan terus berulang, tanpa pernah ada akhirnya…’
Kali ini ia tidak tersenyum. Ekspresinya sulit ditebak, dan entah apa yang tersembunyi di balik kacamata hitam aviator berbingkai platina yang ia kenakan itu.
‘…aku merindukan sebuah akhir. Akhir dari siklus tak berujung ini, awal dari sebuah kehidupan yang baru…’
Entah berapa lama ia terpaku di sana, sebelum ia tersadar dari lamunannya. Senyum misterius itu kembali menghiasi wajahnya ketika ia kembali menghadap depan dan berkata:
‘Ayo, saatnya kembali.’
Dan helicopter itu berputar, beranjak meninggalkan CC West District menuju ke barat laut kota Harris. Saat melintasi sungai Thiessen, sungai yang membagi dua kota itu barat dan timur, sebuah lampu sorot mengenainya, cukup terang untuk menerangi seluruh isi helicopter itu. Kalau saja ada orang yang berada cukup dekat untuk melihatnya, ia pasti akan berteriak.
Helikopter itu tidak memiliki pilot. Kokpitnya kosong. Sejak tadi, ia terbang dan berputar-putar tanpa ada pilot yang mengendalikannya.
Melewati sungai Thiessen, kegelapan kembali menyelimuti bagian dalam helicopter itu. Segelap malam di luar sana, hanya senyum misterius sang pria satu-satunya yang terlihat sekarang.
Sekitar dua ratus orang berpakaian formal berdiri mengelilingi sebuah podium di tengah sebuah ruangan luas yang melekuk ke bawah seperti sebuah amfiteater. Mereka semua mengenakan topeng. Sulit untuk menebak siapa saja yang berada di balik topeng itu, tetapi mereka adalah dua ratus orang yang paling berpengaruh di dunia. Mereka sedang menghadiri sebuah pertemuan yang amat rahasia, dan mereka sekarang sedang menantikan sesuatu. Di tengah ruangan, seorang pria yang juga bertopeng berdiri di depan podium, bersama dua orang ajudannya di belakangnya. Pria itu kelihatannya amat berpengaruh di pertemuan itu, karena semua orang menantikannya berbicara.
Kedua ajudannya membawakannya sebuah koper yang ia buka dan ia susun isinya di atas podium tempatnya berdiri. Benda di dalam koper itu adalah sebuah maket gedung, seperti gedung biasa, hanya bentuknya amat tipis dan tinggi sekali, dan warnanya hitam legam, terdiri dari lima bagian yang tadinya diletakkan terpisah di dalam koper. Ada yang aneh dengan warna hitam yang melapisi maket itu, karena maket itu sama sekali tidak memantulkan cahaya walau ruangan itu amat terang. Pria di depan podium itu tersenyum—topeng yang ia pakai tidak menutupi mulutnya—dan melihat maket itu sebentar, sebelum berpaling kepada salah satu ajudannya.
Ajudannya itu membawakannya sebuah linggis. Pria itu mengambil linggis itu, menimang-nimangnya sekilas sambil terus memandang maket di atas podium. Semua orang melihatnya dengan saksama, mengira-ngira apa yang akan dilakukan oleh pria itu selanjutnya. Pria itu lalu mengangkat linggis itu tinggi-tinggi, seolah-olah memamerkannya kepada semua orang, tersenyum, lalu tanpa diduga, tiba-tiba ia mengayunkannya ke maket itu.
CLANG! Terdengar suara yang sangat keras dan maket itu terlempar sekitar lima meter dari podium, diikuti oleh suara riuh rendah dari orang-orang yang menyaksikannya. Pria itu telah memukul maket itu dengan linggis seperti memukul sebuah bola golf. Masih tersenyum, ia mengembalikan linggis itu kepada ajudannya, lalu maju dan mengambil maket yang terjatuh di lantai itu. Ia mengangkat maket itu tinggi-tinggi, menunjukkannya kepada semua orang. Semua orang terkejut. Maket itu tidak rusak sama sekali—bahkan tergores pun tidak.
‘Luar biasa, kan?’ kata orang itu, melambai-lambaikan maket yang ia angkat tinggi-tinggi itu. ‘Aku memukulnya seperti memukul bola golf dengan Wood 9, tapi ia tidak rusak sama sekali.’
Ia kembali ke podium dan meletakkan maket itu kembali di sana, mengambil microphone-nya, berdeham, dan mulai bicara.
‘Atas nama Konspirasi,’ katanya, ‘izinkan aku berbicara. Aku tahu tidak banyak di antara kita yang mempunyai waktu luang malam ini, bahwa semua punya kesibukan masing-masing, tapi percayalah padaku, aku pun juga begitu. Karena itu, dalam pertemuan luar biasa kita kali ini, biarkanlah aku menyampaikan segalanya dengan cepat dan efisien. Aku tidak akan mengulangi data-data yang akan kusampaikan nanti dua kali, dan rekan-rekan kita dari Dokumentasi tidak mengizinkan kita membuat dokumenter dari pertemuan kali ini, jadi perhatikan segala ucapanku, kata demi kata, baik-baik. Semakin cepat kita menyelesaikan pertemuan ini, semakin kecil resikonya.
‘Ladies and gentlemen, yang Anda lihat ini adalah maket dari superstruktur yang akan kita bangun di kota ini, sebuah bagian yang amat vital dari rencana Konspirasi kita yang selanjutnya. Aku dari Dewan Finansial, dan pertemuan luar biasa Konspirasi kali ini diadakan untuk membahas masalah superstruktur ini. Superstruktur ini adalah langkah awal kita untuk mewujudkan tujuan Konspirasi kita, mendirikan pemerintahan satu dunia. Semua kegiatan Konspirasi yang berikutnya akan amat bergantung dari superstruktur ini, termasuk kekuatan militer efektif kita dan sumber energi tak terbatas yang kita impikan.’
‘Maket ini dibuat dari polimer hidrokarbon dengan logam,’ lanjutnya, ‘serta dicampurkan magnesium dan molibdenum. Sangat keras dan lentur. Logam pada maket ini—percaya atau tidak, hanya setebal kaleng Coca-cola yang biasa kita minum. Sebelum kupukul dengan Wood 9 tadi, ia sempat dilindas dengan truk seberat 30 ton, dan dibor oleh mesin bor berdiameter 9 meter dan bermata berlian, dan ia masih mengkilap seperti yang Anda lihat sekarang ini. Sementara superstruktur yang kita bicarakan ini memiliki tebal dinding terluar tiga meter, dari bahan yang sama.’
Ia mengeluarkan controller dari balik jasnya dan menekan tombolnya. Sebuah gambar proyeksi tiga dimensi mendadak muncul di hadapannya—gambar yang sama dengan maket gedung yang ia letakkan di atas podium tadi. ‘Superstruktur ini memiliki tinggi paling tidak 8 mil, atau sekitar 11.3 kilometer. Terbuat dari lima bagian yang masing-masing dapat bergerak sesuai arah angin. Akan tetapi inti struktur hanya terdiri dari satu bagian, dan inti ini tidak bergerak terhadap Bumi. Di inti inilah reaksi penghasil energi tak terbatas akan berlangsung.’
Ia memperbesar gambar superstruktur itu, memutarnya sehingga semua orang hanya bisa melihat tampak atasnya, dan membuat beberapa bagian dari dinding superstruktur itu tembus pandang, sehingga semua orang bisa melihat inti struktur yang dimaksud oleh pria itu. Meski sebagian orang yang hadir sudah bersumpah diam-diam dalam hatinya untuk tidak terlalu mempedulikan bentuk inti struktur itu, karena menganggapnya sebagai formalitas dan ketidaktahuan mereka tentang mesin, semua orang tercengang melihat gambar tiga dimensi inti tersebut. Meskipun hanya berupa gambar tiga dimensi, cahaya yang dipancarkan inti struktur itu menerangi setiap sudut aula dan membekas di mata mereka seperti melihat langsung matahari dengan mata telanjang.
Pria itu menekan tombol controller-nya lagi, dan di sebelah gambar struktur itu muncul gambar baru, yang merupakan perbesaran dari dinding struktur yang tidak tembus pandang. Gambar perbesaran dinding itu menunjukkan segmen-segmen dengan koordinasi yang aneh, tapi terlihat setiap segmen saling menunjang segmen lainnya. ‘Koordinasi dan joint antara inti struktur dengan bagian-bagian struktur yang lain membuat superstruktur ini bisa menahan gempa sampai 9 skala Richter,’ lanjutnya. ‘Titik leleh polimer penyusun struktur ini hampir empat ribu derajat Centigrade, jadi kalau ada orang gila yang menabrakkan pesawat ke sana, apinya tidak akan menyebabkan struktur meleleh.’
Sebagian orang tertawa, meskipun yang lainnya jelas tidak menganggap itu lucu. Pria itu berhenti sebentar, entah merasa terganggu oleh suara tawa yang tidak perlu atau justru senang karena leluconnya mengena, tapi sekejap kemudian ia menghela nafas tak peduli, dan melanjutkan presentasinya.
Ia menekan controllernya lagi, dan gambar perbesaran dinding menghilang. Gambar superstruktur yang tampak depan saja sekarang kembali berputar hingga posisinya sesuai dengan maket; menjulang tinggi vertikal seperti gedung biasa. ‘Struktur tak akan ambruk karena ledakan sekecil itu,’ lanjutnya. ‘Selain itu, struktur akan dilapisi oleh medan gaya berlapis yang mencegah serangan dari luar dan mencegah agar hasil reaksi penghasil energi tak terbatas kita tidak merembes ke luar dan mengacaukan segalanya.’ Gambar tiga dimensi struktur itu mendadak diselimuti oleh cahaya merah berlapis-lapis dengan intensitas yang berbeda-beda, menunjukkan kontur medan gaya yang melapisinya.
‘Pembangunan struktur ini,’ lanjutnya, ‘atas persetujuan Anda semua, akan dimulai bulan depan, Maret 2029. Inti dari struktur ini akan dibangun tepat di ruangan ini, di podium tempat saya berdiri ini. Aula Cravensbury ini, beserta semua bangunan di sekitarnya, akan dikosongkan dan dirobohkan untuk pembuatan struktur ini. Tahun depan mungkin kita sudah bisa mulai membangun. Dana pembangunan struktur ini, termasuk pembelian segala properti yang berdiri di dalam daerah konstruksi, pengalihan jalur subway, highway, dan pipa-pipa gas yang melewati daerah konstruksi, serta biaya perobohan gedung-gedung di dalam daerah konstruksi, sekitar US$ 25,560,000,000.00. Itu baru pembuatan strukturnya saja.
‘Biaya pembuatan akselerator partikel, reaktor, superkomputer, semua riset, serta sebuah reaktor fusi nuklir di daerah Overdome, adalah sekitar US$ 346,780,000,000.00. Kita akan menghabiskan sekitar seperempat dari kas total Konspirasi untuk pembuatan struktur ini. Angka ini memang mencengangkan, karena melebihi GNP pada beberapa negara, walau tidak sampai seperduapuluh GNP Amerika Serikat tahun lalu. Selain itu, Anggota Kehormatan yang baru bergabung dalam Dewan Benefaktor kita telah bersedia memberikan kucuran dana tak terbatas untuk kas Konspirasi. Anggota Kehormatan, amat disayangkan tak dapat hadir di antara kita sekarang, telah menyumbangkan tidak kurang dari satu trilyun dollar ke dalam kas kita sebagai permulaan. Anggota Kehormatan juga telah membujuk puluhan anggota konspirasi lama yang berada dalam derajat satu untuk menyeberang ke Konspirasi, memperluas jaringan kita. Dewan Benefaktor telah berusaha meyakinkan Pusat Konspirasi untuk memberikan hak-hak khusus kepada sang Anggota Kehormatan, dan aku berada di depan semua itu. Saya harap Anda semua setuju.’
‘Pembangunan ini akan memakan waktu sekitar tiga puluh tahun dengan menggunakan teknologi sekarang ini, tapi Dewan Riset Konspirasi sedang berupaya mengembangkan teknologi yang lebih canggih untuk mempercepat proses pembuatan superstruktur ini. Diperkirakan sekitar dua puluh tahun lagi superstruktur kita ini akan selesai, dan rencana kita berikutnya bisa berjalan. Tahun 2060, Pemerintahan Satu Dunia sudah bisa terbentuk.’
‘Yang tersulit dari pembentukan struktur ini hanyalah, teknologi untuk menciptakan reaktor penghasil energi tak terbatas ini harus melibatkan Dewan Spiritual, dewan yang baru dibentuk setelah rencana pembuatan superstruktur ini dibuat. Teknologi reaktor ini melibatkan sesuatu yang belum pernah ditemukan manusia dan benar-benar di luar kemampuan inteligensia manusia biasa, tapi mereka ada. Berapapun uang yang kita miliki, kita tidak akan dapat membuatnya tanpa bantuan Dewan Spiritual. Dewan Riset telah bersedia untuk menyelidiki teknologi ini begitu superstruktur ini telah selesai dibangun, sehingga setelah itu, Dewan Spiritual tidak perlu lagi melakukan tugasnya. Kedengarannya memang aneh dan tidak masuk akal, tapi begitulah kenyataannya. Konspirasi lama juga telah banyak menggunakan sihir dan jampi-jampi dalam kegiatan mereka, dan itu terbukti berperan sangat besar sepanjang sejarah mereka.’
Pria itu menghela nafasnya, membongkar kembali maket itu, dan memasukkannya kembali ke dalam koper. ‘Kurasa hanya itu saja, ladies and gentlemen, dan sekarang ini Konspirasi belum bisa melakukan apa-apa sampai superstruktur ini selesai. Meskipun begitu, kegiatan-kegiatan tetap Konspirasi yang dilakukan oleh dewan-dewan seperti Dewan Finansial, Dewan Riset, Dewan Publik dan Propaganda Publik, serta Dewan Internasional tetap berjalan seperti biasa, dan pertemuan tahunan Konspirasi tetap dilakukan. Akan tetapi, sebelum kita semua meninggalkan ruangan dan kembali ke kesibukan kita masing-masing, ada dua hal yang harus saya sampaikan.’
Ia menyerahkan kopernya kepada asistennya yang satu lagi, dan kembali menghadap mereka semua. ‘Pertama, tentang nama superstruktur kita ini. Superstruktur kita ini akan berfungsi sebagai markas besar Konspirasi yang baru, dan semua kegiatan finansial, propaganda publik, serta militer kita nanti akan berjalan di sana. Setelah pemerintahan satu dunia berdiri pun, pusat pemerintahan kita akan berada di sana. Superstruktur ini adalah benteng kita, benteng Konspirasi. Karena itu, atas usul dari Pusat Konspirasi, superstruktur ini kita namakan the Dark Citadel.’
Terdengar gemuruh tanda setuju, disertai gumaman dari beberapa orang. Pria itu mengacuhkannya, menarik nafas panjang, dan memasukkan tangannya ke balik jasnya.
‘Dan kedua, aku baru saja memperoleh informasi dari Dewan Intelijen, bahwa ada seorang mata-mata dari konspirasi lama yang menyusup dalam ruangan ini dan berbaur bersama kita.’
Tanpa diduga oleh semua orang, pria itu mengeluarkan benda seperti remote control dari balik jasnya dan mengarahkannya kepada salah satu pria bertopeng yang berdiri di sayap kanan ruangan. Terdengar suara ZAP! yang keras dan kilatan cahaya berwarna biru, dan pria bertopeng itu ambruk ke lantai.
‘Donald Kruger, senator dari Partai Republik,’ desis pria di depan podium itu, ‘anggota Derajat Satu konspirasi lama. Coba buka topengnya untuk memastikan.’
Seorang wanita yang berdiri di dekat Kruger membungkuk dan membuka topengnya. Terdengar gemuruh dari arah kerumunan, ketika wajah seorang pria pirang berkumis dan berjanggut terlihat saat topengnya dibuka. Pria itu terbaring tak sadarkan diri, meskipun ia masih bernafas dan nadinya masih berdenyut lemah.
‘Memang Kruger,’ kata pria di depan podium itu. ‘Data dari Dewan Intelijen sangat akurat, dan mereka telah membuktikan adanya kecenderungan konspirasi lama untuk menghentikan aksi kita ini. Dewan Intelijen juga mengabarkan bahwa lima orang sniper dan sepuluh orang pembunuh yang membawa gas syaraf telah dikirimkan oleh konspirasi lama untuk menghabisi kita semua, tetapi mereka sudah berhasil disingkirkan. Dewan Intelijen kita menguasai FBI, CIA, dan jaringan intelijensi internasional lebih dalam dari konspirasi lama, dan kalau ada benturan kepentingan soal intelijen, kita memperoleh informasi lebih cepat dari konspirasi lama. Coba cek ke balik jasnya, ada masker gas yang ia sembunyikan di sana.’
‘Akan kita apakan dia?’ tanya seorang pria yang berdiri di dekat Kruger. ‘Apa kita singkirkan saja?’
‘Tidak,’ kata pria di depan podium. ‘Seorang Derajat Satu konspirasi lama akan sangat berguna untuk kita. Gelombang pelumpuh urat syaraf ini akan membuatnya pingsan selama kurang lebih enam jam. Selama itu, kurasa tim medis kita akan menanamkan chip neurophone di bawah kulitnya, agar kita bisa mengontrol gerak-geriknya. Dia bisa kita gunakan untuk memata-matai konspirasi lama.’
‘Dan jika dia ketahuan?’ salah seorang diantara kerumunan angkat bicara. ‘Dia bisa membocorkan rahasia kita!’
‘Dia tidak akan pernah berhubungan langsung dengan kita,’ jawab pria di depan podium. ‘Salah seorang anggota Dewan Intelijen kita akan mengontrol gerak-geriknya seperti kita mengontrol mainan remote control. Lagipula subdermal neurophone yang akan ditanamkan di belakang kepalanya juga berisi nitrogliserida yang akan meledak begitu impuls sarafnya berhenti atau kita sendiri yang memerintahkannya, menghanguskan semua isi chip sekaligus kepalanya. Semua ini sudah diperhitungkan oleh Dewan Intelijen, jadi ia kita biarkan masuk ke dalam ruangan.’
‘Jangan khawatir,’ tambahnya dengan seringai yang menakutkan, ‘semua memori tentang kita dan ruangan ini akan dihapus oleh orang-orang Dokumentasi—dengan cara kita, yang terbukti sangat efektif, meskipun ada sedikit efek samping pada kesehatan otaknya.’
Ia menghela nafas panjang, menggosok-gosokkan kedua tangannya, dan membukanya lebar-lebar, seperti hendak menyambut seseorang.
‘Jadi, Ladies and Gentlemen,’ lanjutnya, ‘pertemuan luar biasa kita kali ini kunyatakan selesai. Selamat kembali ke aktivitas kalian masing-masing. Pertemuan berikutnya akan diberitahukan melalui cara yang biasa. Selamat malam.’
Ia meninggalkan podium dan menuju ke ruangan kecil di belakang ruang pertemuan itu, sementara kerumunan orang yang mengelilinginya bubar dan pergi melalui pintu utama. ‘Bawa dia,’ katanya kepada salah satu asistennya, menunjuk Kruger yang terbaring lemah di lantai, ‘ke ruang bedah. Di sana tim medis kita sudah menunggu seperti biasa.’
‘Baik, Sir,’ asistennya pergi meninggalkan pria itu. Pria itu masuk ke dalam ruangan kecil di belakang ruangan pertemuan itu, di mana sebuah mobil sedan hitam yang sangat mewah diparkir. Ia berpaling kepada asistennya yang masih mengikutinya. ‘Ayo kita pergi,’ katanya.
Asistennya menggeleng. ‘Maaf, Sir, ada salah seorang anggota Dewan Pengurus Harian yang ingin menemui Anda.’
Pria itu menghela nafasnya dan berbalik. ‘Ada apa lagi ini? Bukankah sudah kubilang tadi kalau aku tidak punya waktu luang malam ini?’ gerutunya, berbalik menuju ke ruang pertemuan. Akan tetapi, sebelum ia meraih pintu ruang pertemuan, pintu itu mendadak sudah terbuka dan seorang pria bertopeng masuk ke dalam ruangan, menghampiri pria itu.
‘Kau dari Dewan Finansial?’ tanyanya. ‘Bagus sekali, kau bisa menjawab pertanyaanku. Dan pembicaraan kami kali ini bersifat pribadi, Asisten,’ katanya, berpaling kepada asisten pria dari Dewan Finansial itu, ‘jadi kuharap kau keluar dulu selama aku berbicara dengan bosmu.’
Asisten itu mengangguk, dan keluar dari ruangan kecil itu sambil membawa koper berisi maket superstruktur tadi. Pria dari Dewan Pengurus Harian itu terus memandangnya sampai asisten itu keluar dari ruangan, dan pintunya ditutup kembali.
‘Baiklah, gentleman,’ kata pria dari Dewan Pengurus Harian itu. ‘Buka topengmu, dan aku akan membuka topengku.’
Pria dari Dewan Finansial memandangnya dengan curiga. ‘Bagaimana aku tahu kau akan membuka topengmu?’
Pria dari Dewan Pengurus Harian itu langsung membuka topengnya. ‘Panggil aku Hank,’ katanya. ‘Dan kalau kau tidak mau membuka topengmu juga, aku yang akan membukanya.’
Pria dari Dewan Finansial itu menatap Hank selama beberapa saat dengan tatapan penuh arti. Pria ini sepertinya berumur tiga puluhan, pikirnya. Tiga puluh awal atau dua puluh akhir. Masih sangat muda untuk menduduki posisinya dalam Konspirasi. Ia menatap setiap inci dari wajah pria yang mulai tidak sabar itu, mengingat baik-baik wajahnya, sebelum akhirnya menurut dan membuka topengnya. ‘Panggil aku Lucas,’ katanya, memasukkan topengnya ke balik jasnya. ‘Ada apa sehingga kau harus berbicara empat mata denganku?’
‘Ini tentang Anggota Kehormatan dalam Dewan Benefaktor,’ kata Hank serius. ‘Dewan Benefaktor sedang mengusahakan agar Konspirasi memberikan hak-hak khusus kepada Anggota Kehormatan itu. Apakah yang kaumaksud Anggota Kehormatan itu adalah… dia?’
‘Dia?’ Lucas tertawa terbahak-bahak. ‘Ya, itu memang dia. Kalau tidak, siapa lagi yang dapat memberikan dana sebesar satu trilyun dollar ke dalam kas kita? Dia memang pantas mendapatkan hak-hak itu, dia telah membuat Konspirasi kita melangkah maju lebih cepat dari jadwal.’
‘Tidakkah kau rasa pemberian hak-hak khusus itu agak berlebihan?’ kata Hank. ‘Terlalu berlebihan, malah. Ini akan membahayakan posisi Pusat Konspirasi. Kau yang memimpin usaha pemberian hak-hak itu. Apakah kau bermaksud untuk menggulingkan Pusat Konspirasi?’
‘Apa?’ Alis Lucas terangkat mendengarnya. ‘Menggulingkan Pusat Konspirasi? Apa kau gila? Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya, padahal aku sudah berada di derajat satu. Bagaimana kau tahu kalau pemberian hak-hak khusus itu membahayakan posisi Pusat Konspirasi? Kau bahkan tidak tahu apa saja hak-hak khusus itu.’
‘Tentu saja aku tahu,’ geram Hank. ‘Jangan lupa, aku dari Dewan Pengurus Harian, aku memperoleh akses lebih banyak atas seluruh jaringan informasi Konspirasi daripada seorang anggota Dewan Finansial seperti kau. Lagipula kau adalah anggota Dewan Finansial, mengapa kau begitu tertarik dengan urusan Dewan Benefaktor? Aku anggota Dewan Pengurus Harian, wajar saja aku perlu mengetahui urusan semua dewan dalam Konspirasi. Sementara kau—apa hubunganmu dengan Anggota Kehormatan? Atau kau justru ingin masuk ke Dewan Benefaktor, agar kau bisa mendapat keuntungan dari hasil Konspirasi dan tidak lagi menjadi pengatur biaya Konspirasi?’
Ia menatap Lucas dalam-dalam. Lucas menghindari tatapannya dan membela dirinya.
‘Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin membujuk Anggota Kehormatan agar mau terus-menerus membiayai kegiatan Konspirasi. Kalau ia diberi hak-hak istimewa, bukankah dia akan dengan senang hati membiayai kegiatan-kegiatan kita yang selanjutnya? Dan dia adalah anggota Dewan Benefaktor, jadi aku harus berurusan dengan Dewan Benefaktor untuk berurusan dengannya. Bukankah itu adalah tugas seorang anggota Dewan Finansial?’
Hank menatap Lucas lagi, lebih dalam dari sebelumnya, dan kali ini Lucas tidak menghindar. Hank berusaha mencari tanda-tanda kebohongan dari setiap inci dari mata Lucas, tapi kali ini ia tidak menemukannya—atau justru karena Lucas telah begitu terbiasa berbohong sehingga sulit membedakan kapan ia jujur dan kapan ia tidak.
Ia menghela nafas. ‘Terserah kau mau bilang apa,’ katanya, ‘tapi kuperingatkan kau, jangan pernah berurusan dengan Pusat Konspirasi. Jangan pernah berpikir tentang perpecahan, kita sudah punya konspirasi lama sebagai musuh besar tanpa ditambah musuh dari dalam. Kau menunjukkan tanda-tanda menebarkan perpecahan dalam Konspirasi, dan aku hanya melakukan tugasku untuk membenahi tatanan Konspirasi—termasuk mencegah perpecahan. Sekali lagi, aku ingatkan kau.’
‘Terserah,’ Lucas membela dirinya. ‘Aku tidak pernah berpikir tentang memecah belah Konspirasi dari dalam, kaulah yang memikirkannya.’
Hank menghela nafasnya lagi sebelum ia memakai topengnya kembali dan meninggalkan Lucas, selama itu matanya terus menatap Lucas dengan curiga. Lucas menunggu sampai ia keluar dari ruangan, dan tersenyum sinis.
‘Hank,’ katanya, ‘kau terlalu polos. Orang yang polos tidak pantas bergerak dalam konspirasi apapun. Aku tidak bermaksud untuk menggulingkan siapa-siapa. Aku tidak bermaksud mengkhianati Konspirasi dengan memberikan hak-hak istimewa kepada Anggota Kehormatan. Aku hanya ingin mengambil keuntungan dari posisiku, itu saja. Konspirasi adalah bisnis. Bukankah semua orang berbisnis untuk meraih keuntungan? Aku tidak begitu peduli dengan keuntungan yang akan kuperoleh setelah tujuan Konspirasi berhasil dicapai tiga puluh tahun lagi, aku hanya melihat keuntungan jangka pendek yang bisa kuperoleh. Buat apa menunggu keuntungan besar tiga puluh tahun kalau kau bisa memperoleh keuntungan kecil dalam satu atau dua hari, terus-menerus selama tiga puluh tahun?’
Asisten Lucas kembali masuk ke dalam ruangan, bersama dengan asistennya yang membawa Kruger tadi.
‘Bagus sekali, kalian telah kembali,’ kata Lucas gembira. ‘Masuklah ke dalam mobil, kita akan menemui Anggota Kehormatan kita. Lihat saja nanti apakah ia akan tertarik mendengar ceritaku atau tidak.’
Mereka masuk ke dalam mobil, dan salah satu asisten Lucas yang menyetir menekan tombol berwarna merah di bawah setir. Mendadak pintu garasi turun menutupi pintu yang menghubungkan ruangan kecil itu dengan ruang pertemuan, lalu ruangan kecil itu mulai berputar. Setelah ruangan kecil itu berhenti berputar, pintu garasi itu terbuka lagi, dan jalan raya terhampar di depan mereka.
Asisten Lucas yang menyetir menyalakan mobil, menurunkan rem tangannya, dan mengganti gigi mobilnya ke gigi enam. Ia menginjak gas dalam-dalam dan mobil itu pun meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke jalan raya, sementara pintu garasi itu secara otomatis tertutup lagi begitu mereka sudah agak jauh, dan ruangan kecil itu berputar lagi. Sedan hitam itu berbaur bersama lalu lintas yang padat, dan masih dengan kecepatan tinggi, menyalip semuanya dan menghilang di balik keramaian kota.
I
Glenroy, Harris, Pennsylvania, USA
Mimpi itu lagi—lagi-lagi aku tidak bisa mengingatnya. Apa yang sedang ia lakukan sekarang, ya? Sepertinya ia sedang senang sekali.
Nicolette Wynter, 17, terbangun dari tidurnya ketika weker di sebelahnya berbunyi dengan nyaring. Ia meraihnya dan menatapnya dengan kesal. Lagi-lagi wekernya berbunyi ketika ia nyaris saja mengingat sesuatu dalam mimpinya!
Sebenarnya Nickie—begitu biasanya ia dipanggil—tidak punya masalah dalam tidurnya. Hanya saja, ada satu hal yang selalu membuatnya penasaran—setiap kali ia tidur dan bermimpi, ia tidak pernah bisa mengingat apapun tentang mimpinya barusan. Padahal, ia bermimpi hampir setiap kali ia tidur.
Sudah sejak lama Nickie mengalaminya, mungkin sejak ia bisa mengingat. Mungkin saja sudah sejak lama lagi, bahkan sejak ia lahir mungkin ia sudah mulai bermimpi. Dan semuanya sama—ia tidak pernah bisa mengingat apa-apa tentang mimpinya.
Tapi karena itu juga, mimpi tidak pernah mengganggu kehidupan Nickie di dunia nyata. Hari-harinya berjalan dengan normal seperti layaknya seorang gadis Amerika baik-baik berusia 17 tahun. Ia punya banyak teman, mungkin karena semua orang suka dengannya. Tapi ia belum punya cowok. Entah kenapa, Nickie juga kurang menyadarinya, tapi ia kurang begitu dekat dengan cowok manapun di sekolahnya. Sudah cukup banyak masalahnya tanpa harus ditambah dengan adanya cowok dalam kehidupannya.
‘Nickie?’ terdengar suara sepupunya yang baru bangun tidur. Clara Wynter terbangun mendengar suara weker Nickie yang, karena sibuknya melamun, lupa dimatikannya.
Aku tahu, ada seseorang di dunia ini yang sedang mendengarkanku. Aku tahu kau di situ. Aku sering bermimpi tentangmu. Kau menjalani kehidupanku saat kau tidur, dan aku saat aku tidur. Aku tahu, kau melihat semua yang aku lihat. Kau menyaksikan semua yang kusaksikan. Kau adalah aku dan aku adalah kau dalam kehidupan yang berbeda. Kurasa ini adalah takdir kita berdua.
Aku tidak tahu penjelasan logis apa yang bisa menerangkan sesuatu yang terjadi di antara kita. Aku sudah mencoba mencarinya, tapi tidak menemukannya. Aku tidak mengira, hubungan kita ini akan membantuku di saat-saat seperti ini…
Aku khawatir sesuatu akan menimpaku, dan semua orang yang tahu tentangku. Aku khawatir, jika itu terjadi, semua yang berhubungan denganku, semua memori terhadapku akan dihilangkan. Aku seolah tidak pernah ada di dunia ini. Tapi kau tahu tentangku. Kau berhubungan denganku, dan tidak ada seorangpun yang tahu. Jika semua memori tentangku dihilangkan, kau masih ada untuk membuktikan bahwa aku pernah ada. Aku mohon, jika sesuatu terjadi padaku, lanjutkan apa yang pernah kuperbuat. Jangan sampai semua yang sudah kulakukan sia-sia saja.
Jika sesuatu terjadi padaku, gunakan memoriku yang ada padamu sebagai petunjuk. Tapi hati-hatilah, sebab jika mereka bisa datang padaku saat ini, siapa tahu mereka bisa datang padamu di masa depan…
Nicolette Wynter tersentak terbangun dari tidurnya. Cermin di hadapannya memantulkan keadaannya dengan sangat jelas; mata terbelalak, kedua tangan di sisi wajahnya, keringat membasahi tubuhnya, dan mulutnya terbuka lebar. Ia dapat mendengar suara orang menjerit keras-keras; di tengah kegelapan malam yang menyelimutinya, ia hanya dapat melihat wajahnya sendiri terpantul di cermin.
‘Nickie! Nickie, demi Tuhan, kumohon sadarlah!’
Perlahan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan
‘Peta kekuatan dunia akan berubah,’ ujar pria di tengah lingkaran. ‘Dalam lima puluh tahun ke depan, sebuah persatuan solid antara negara-negara Eropa yang makin lama makin bertentangan dengan kepentingan kita akan membawa kekuatan dunia kembali ke timur. Ditambah dengan revolusi ekonomi Cina dan negara-negara Dunia Ketiga, tidak ada lagi dominasi Amerika dalam PBB.
‘Tapi kita masih punya waktu untuk berbenah,’ lanjutnya. ‘Sebuah negara dapat hidup dan menjadi kuat dalam lima puluh tahun. Sebuah tata dunia baru dapat terbentuk dalam lima puluh tahun. Kita akan membuat fondasi ekonomi kita untuk masa lima puluh tahun ke depan. Biar saja kita terlihat melemah atau kehilangan pengaruh di mata internasional—lima puluh tahun lagi, tidak akan ada lagi Amerika.’
Semua orang di ruangan itu menatap sang pria. Semua setuju dengan perubahan peta kekuatan dunia di masa depan, tapi perkataan sang pria berarti aksi mereka akan dilakukan dalam lima puluh tahun setelah ini, dan ini memberikan tanda tanya bagi sebagian orang di sana.
‘Bapa,’ kata salah seorang yang duduk di lingkaran terdalam, ‘apakah ini berarti kita baru akan bergerak lima puluh tahun ke depan? Padahal dalam agenda kita, tahun 2030...’
Sang pria di tengah lingkaran menunjuk ke atas, dengan pandangan lurus ke depan menatap si interuptor dengan tajam. Seluruh orang di ruangan itu terdiam. Mereka mengerti maksud perbuatan sang pria.
‘Perkembangan di atas telah berubah’, ujarnya tenang. ‘Banyak yang telah berubah... beberapa yang mungkin tidak akan kalian mengerti, seumur hidup kalian. Tapi yang pasti, Armageddon tetap akan berlangsung sepuluh tahun setelah rencana kita berjalan.’
Ia membenarkan letak kacamatanya, yang berbayang hitam dan berbingkai emas Rolex.
‘Dengan kata lain, Tuhan telah menunda kiamat selama dua puluh tahun, sampai ia lahir’.
Orang-orang itu saling berpandangan satu sama lain. Mereka sangat percaya kalau ramalan itu sama sekali tidak ada: ramalan tentang nasib dunia sebenarnya hanyalah propaganda yang disebarkan oleh kelompok mereka sendiri ke seluruh dunia sekaligus suatu proyek rahasia yang dibebankan ke penerus mereka. Kata-kata pria yang disebut Bapa itu barusan seolah mengatakan kalau ramalan itu benar-benar berasal dari Tuhan sendiri, suatu entitas asing di mata mereka yang sebagian besar dari mereka sama sekali tidak percaya akan keberadaannya. Tapi kalau kata-kata itu keluar dari mulut sang Bapa sendiri...
‘Mungkin selama ini komunitas kita seolah sudah meniadakan keberadaan Tuhan,’ lanjut sang Bapa, ‘tapi Tuhan tetap ada, dan kepercayaan itu tetap akan ada dalam diriku, meskipun semua orang di dunia telah melupakan-Nya. Atheisme itu hanya propaganda kita untuk orang-orang bodoh, apakah kalian termasuk salah satu diantara mereka?’
Orang-orang dalam ruangan itu terdiam, meskipun mereka semua berbisik-bisik satu sama lain dengan sunyi, membicarakan pendapat mereka masing-masing terhadap perkataan sang Bapa barusan. Terlalu banyak propaganda. Organisasi mereka telah menyebarkan terlalu banyak propaganda di dunia, sehingga bahkan mereka sendiri tidak tahu mana yang merupakan propaganda mereka, mana yang bukan. Yang tahu pasti memang hanya sang Bapa sendiri...
...tapi yang jelas, propaganda atau bukan, absennya kepercayaan mereka atas Tuhan dikarenakan ego mereka sendiri yang silau akan kekuatan yang mereka miliki sekarang. Mereka hanya pion, sang Bapa tahu persis itu, dan sekarang saatnya bagi para petinggi untuk bertindak tanpa melibatkan pion. Agenda lima puluh tahun ke depan terlalu penting untuk diganggu orang-orang yang bahkan tidak tahu di mana posisi mereka dalam Konspirasi Besar...
Seorang pria muda yang duduk di lingkaran tengah dalam ruangan itu mengawasi gerak-gerik sang Bapa, mengamati setiap gerakannya. Bukan karena sang Bapa tidak mengetahuinya, ia membiarkan pria muda itu melakukannya karena ia tahu apa yang bisa dilakukan pria muda itu dalam Konspirasi Besar ini. Bagaimanapun, ia telah hidup cukup lama untuk mendalami sifat manusia, dan bagaimana cara menghadapi mereka.
‘Dalam lima puluh tahun lagi,’ pria yang sebelumnya berbicara kini berkata lagi, memecah keheningan, ‘bagaimana langkah kita, Bapa?’
Seorang pria lain yang juga duduk di lingkaran terdepan berdiri. Usianya baru sekitar 30-an akhir. Ia bangkit dan berbicara, ‘Menurutku, kita harus memanfaatkan kesempatan yang baru akan muncul lima puluh tahun lagi, seperti lima puluh tahun yang lalu kita memanfaatkan booming teknologi informasi.’
Sang Bapa mengalihkan pandangannya kepada pria yang, mengetahui dirinya sedang dalam pusat perhatian, kini menarik dagunya sedikit ke belakang dengan bangga. Oportunis, pikir beliau, oportunis yang picik. Mungkin karena itu ia dapat duduk di lingkaran terdepan dalam usia semuda itu.
Tapi bagus juga ada jiwa muda dalam Derajat Satu, pikirnya lagi, karena mereka biasanya memberikan pikiran baru yang cemerlang—seperti pemikirannya yang ia utarakan kali ini.
‘Dan apa menurutmu kesempatan yang baru akan muncul lima puluh tahun lagi itu, Lucas?’
‘Menurut Teori Puncak Hubbert,’ ujar Lucas, ‘produksi minyak bumi akan terus naik hingga mencapai puncaknya pada tahun 2030, dan kelangkaan akan membuat produksinya terus menurun sampai pada titik stagnan, di mana sumber energi pengganti telah meng-cover kebutuhan energi dari minyak bumi dan minyak bumi tidak lagi menjadi sumber energi utama.’
‘Jadi ini tentang kelangkaan energi,’ potong sang Bapa. ‘Beritahu aku, Lucas, apa yang kaupikirkan tentang kelangkaan energi tiga puluh tahun ke depan?’
Seorang derajat satu yang lebih senior dari sang oportunis, orang yang pertama kali berbicara dengan sang Bapa, berdiri. Sikapnya menentang perkataan Lucas.
‘Bapa, saya mohon...’ ia menghentikan kata-katanya sesaat, dan ketika ia melihat sang Bapa menganggukkan kepalanya, ia melanjutkannya lagi.
‘Lucas, kurasa kita semua sudah tahu kalau teori kelangkaan energi itu sudah masuk agenda kita untuk tiga puluh tahun ke depan. Dan sekarang sang Bapa memerintahkan untuk memundurkan Armageddon hingga dua puluh tahun. Apa yang mau kausampaikan dengan mengungkit-ungkit ini lagi setelah sang Bapa mengubah jadwalnya?’
Oportunis licik, pikir pria itu. Takkan kubiarkan kau menjilat sepatu sang Bapa. Derajat satu bukan tempat untuk orang-orang seperti kau.
‘Lagipula, Bapa,’ lanjut pria itu, ‘pemanfaatan kelangkaan energi adalah agenda awal Konspirasi sejak Bapa memutuskan tahun 2030 sebagai langkah awal kita. Pembangunan dan industri telah kita dorong sehingga konsumsi minyak global akan menarik titik puncak Hubbert hingga tahun 2030.’
‘Itu bisa diatur,’ kata sang Bapa. ‘Perang akan menurunkan permintaan dunia akan minyak, sehingga harga akan turun dan titik puncak Hubbert akan bergeser ke kanan. Terutama kalau perang itu terjadi di Timur Tengah. Benjamin, kau pastikan terjadi kemelut di Timur Tengah selama satu dekade ke depan.’
Seorang bankir setengah baya, iblis ekonomi dunia, berdiri dan menunduk di hadapan sang Bapa dengan penuh hormat. ‘Baik, Bapa. Akan saya buat seperti itu.’
Beberapa orang dari lingkaran terluar Derajat Satu di ruangan itu berbisik-bisik. Menurut sebagian dari mereka, pria yang dipanggil Benjamin itu membawahi beberapa petinggi militer Amerika, termasuk Menteri Pertahanan sendiri, dalam Derajat Tiga-nya.
Sang Bapa sekarang berpaling kembali kepada Lucas. ‘Nah, Lucas, aku ingin mendengar pendapatmu akan hal ini.’
Semua orang di lingkaran terdepan kini menatap Lucas, berharap pria muda itu akan terpukul atau kecewa mendengar keputusan Sang Bapa, yang langsung melangkahi apa yang akan ia sampaikan. Tapi begitu terkejutnya mereka ketika melihat wajah Lucas yang bersinar oleh antusiasme, matanya melebar menatap Sang Bapa penuh kekaguman.
‘Luar biasa, Bapa,’ ujar Lucas. ‘Anda memang luar biasa. Anda bisa membaca pikiran saya.’
Sang Bapa tersenyum misterius. ‘Pikiran manusia tidak dapat dibaca, Lucas. Pikiran manusia hanya bisa ditebak. Dan dalam kasus ini, aku telah dapat menebak pikiran semua orang di ruangan ini, tidak terkecuali kau. Sekarang, coba sampaikan apa yang ingin kau sampaikan tadi kepada semua orang di ruangan ini, dan aku tentunya.’
Lucas balas menatap semua orang di ruangan itu dengan mata berapi-api. Rasakan kalian semua, pikirnya. Sang Bapa berpihak kepadaku.
‘Ladies and gentlemen,’ ujarnya lantang, ‘selama ini kita telah menjadwalkan Rencana 2030 dalam tiga tahap. Pertama, ketergantungan ekonomi. Kita akan membuat seluruh dunia tergantung dengan kita secara ekonomi. Kedua, kendali atas generasi muda global. Kita akan mengendalikan generasi muda mereka secara keseluruhan agar tunduk pada kita. Ketiga, tentunya, dan yang paling penting, konfrontasi militer. Karena tidak ada negara di dunia yang mau begitu saja menerima Rencana 2030.’
Semua orang menatap Lucas dengan tajam. Mereka, semua yang berada di ruangan itu, tentu saja sudah tahu Rencana 2030 dan tiga tahap itu. Seseorang bahkan berkata dengan cukup lantang, ‘Lalu?’
‘Rencana kita akan berubah total dalam 20 tahun ke depan. Peta kekuatan dunia, seperti kata sang Bapa tadi, sudah berubah. Untuk itu, kita harus mengubah strategi kita: Rencana 2050. Untuk menciptakan ketergantungan ekonomi, kita harus menciptakan ketergantungan dunia terhadap elemen paling vital dalam peradaban kita beberapa dekade ke depan: energi. Dengan asumsi tahun 2050 sudah jauh melampaui titik puncak Hubble, seluruh dunia tentu sudah memiliki sumber energi masing-masing. Untuk itu, kita harus menemukan sumber energi baru.’
Pria yang dari tadi menentang Lucas sekarang berdiri dan menatapnya dengan tatapan mencemooh.
‘Apa kau lupa, Lucas, bukankah Badan Riset Konspirasi telah menemukannya jauh sebelum ini, tenaga fusi nuklir yang aman dan terkendali?’
‘Karena situasi telah berubah, Zebulon, kita akan meluncurkan fusi nuklir sepuluh tahun setelah titik puncak Hubble pada 2030. Diperkirakan krisis energi akan melanda dunia dalam beberapa bulan setelah titik puncak, dan sepuluh tahun krisis energi dapat mengontrol jumlah populasi manusia menjadi seperti yang kita harapkan pada 2050.’
‘Bagaimana kau menjelaskan sumber energi baru yang kau katakan barusan? Apakah kau mengacu kepada sumber energi yang lain lagi?’
‘Katakan, Zebulon,’ Lucas balas bertanya, ‘apa yang telah diusahakan Konspirasi untuk mendukung Rencana 2030? Teknologi apa yang telah ditemukan dalam rangka mendukung Rencana 2030 Konspirasi?’
‘Penurunan kadar karbon dioksida global,’ jawab Zebulon dingin, ‘fasilitas krionik untuk menurunkan suhu dunia, konversi besar-besaran karbon monoksida menjadi karbon dan ozon, pemanfaatan medan anti gravitasi, dan superkonduktor suhu netral. Konverter materi-data, dan translokasi materi jarak jauh.’
‘Kau yakin energi yang dihasilkan oleh teknologi yang kita hasilkan sekarang cukup untuk mendukung semua itu?’
Zebulon menatap pria muda di hadapannya dengan tajam. Apa yang diinginkan pria ini? pikirnya. Tapi kita lihat saja sampai sejauh mana permainanmu.
‘Kita sudah menghitung segalanya. Semua yang telah kita lakukan telah diperhitungkan dengan sangat matang, jika tidak, tidak mungkin Konspirasi dapat bertahan selama 4000 tahun.’
Lucas balas menatap Zebulon dengan penuh percaya diri, senyum kemenangan tersungging di mulutnya.
‘Itu semua teknologi untuk mengkondisikan Rencana 2030. Bagaimana dengan Rencana 2030 itu sendiri?’
‘Itu...’ Zebulon menghentikan kata-katanya. ‘Kita bisa mulai dari perang psikis, mengadu domba umat manusia di dunia.’
‘Bukankan itu tidak sesuai dengan tujuan utama Rencana 2030?’
Tiba-tiba sang Bapa kembali berdiri. Semua orang dalam ruangan itu yang tadinya berbisik-bisik kembali terdiam. Sang Bapa menatap semua orang yang duduk mengelilinginya, termasuk Zebulon dan Lucas yang masih berdiri, dan berkata:
‘Kau benar, Lucas. Zebulon, bagaimana persiapan kita untuk Rencana 2030?’
‘Sejujurnya, Bapa, Dewan Riset sendiri masih berusaha untuk mewujudkan teknologi perang untuk Rencana 2030. Kita bisa menggunakan tentara Amerika untuk mewujudkan rencana kita...’
‘Rencana telah diundur hingga 2050, Zebulon, dan pada saat itu, tidak akan ada lagi Amerika.’
‘Kita butuh sumber energi baru yang bisa mewujudkan teknologi sehebat itu, Bapa,’ ujar Lucas. ‘Kita butuh sesuatu yang bisa kita jadikan tentara—dan bukan manusia. Sumber daya manusia akan menjadi tak ternilai harganya setelah 2050. Dan kita butuh sesuatu yang bisa kita peralat tanpa bisa melawan balik.’
Sang Bapa beranjak dari tempatnya tanpa diduga-duga. ‘Kau memang pintar, Lucas. Kita memang butuh sesuatu—dan itu bukan riset konvensional. Kita sudah tiba pada tahap di mana rencana kita telah berkembang ke titik yang tak terduga. Aku tidak tahu apa kita akan pernah menggunakan ini, tapi sekarang aku yakin untuk menggunakannya.’
‘Ehezkiel, Ebenezer, Benjamin, Zebulon, Lionel,’ panggil sang Bapa, ‘adakan rapat konspirasi seperti biasa. Pastikan aku mendapat nama-nama mereka yang tidak hadir dalam rapat kali ini, dan pastikan gerak-gerik mereka semua diawasi. Mulai sekarang, semua orang yang hadir di sini tergabung dalam Konspirasi Baru—Konspirasi Abad 21. Kita akan bergerak sendiri, tanpa sepengetahuan Konspirasi Lama.’
Sang Bapa kembali ‘Joachim, Adenauer, persiapkan rencana Alpha Omega.’
Nicolette Wynter, 18 tahun, terbangun dari tidurnya oleh cahaya yang masuk dari sela-sela jendela kamar tidurnya. Satu hari lagi tanpa mimpi, pikirnya dalam hati. Satu hari lagi akan berlalu seperti biasa. Ia menghela napasnya, dan bangkit dari tempat tidurnya.
Clara, sepupunya, tidur sekamar dengannya di tempat tidur yang berbeda, hanya beberapa kaki dari tempatnya. Nicolette menatap tempat tidur sepupunya yang kosong dan sudah rapi. Clara juga sudah terbiasa dengan ini, pikirnya. Ia sudah tahu kalau aku tidak bermimpi lagi.
Ia memegangi kepalanya yang sebenarnya tidak sakit, berusaha mengingat kembali urutan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Sampai sekitar dua minggu yang lalu, Nicolette selalu bermimpi dalam tidurnya—mimpi misterius yang terus-menerus ia alami sejak pertama kali ia bisa mengingat. Dalam mimpinya, ia adalah orang lain—seorang gadis kecil, yang memiliki kehidupannya sendiri, tinggal di suatu tempat entah dimana dan kapan. Gadis itu tumbuh dan berkembang seperti layaknya seorang gadis yang hidup dan memiliki kehidupan tersendiri, dan tumbuh kembangnya gadis itu semuanya terjadi dalam mimpinya.
Hampir setiap kali ia bermimpi, ia tidak pernah bisa mengingat apa yang ia lihat dalam mimpinya. Ia hanya bisa merasakan gejolak perasaan yang kuat yang dirasakan oleh gadis kecil yang ia perankan, yang masih tersisa ketika ia terbangun. Meskipun membuatnya amat penasaran, ketidakmampuannya untuk mengingat kembali mimpinya itu membuat kehidupan Nicolette di dunia nyata tidak terganggu.
Namun, ada sekali atau dua kali dalam kehidupannya di mana ia dapat mengingat setiap detik dari apa yang dilihatnya dalam mimpinya, dan itu selalu diikuti oleh gelombang emosi yang kuat—suatu luapan perasaan yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa artinya. Hal ini terjadi ketika ia berumur tujuh tahun, di mana ia melihat dirinya dibawa ke dalam sebuah gua yang gelap dan bertemu dengan anak-anak seusianya di dalamnya; dan sekitar dua minggu yang lalu, di mana ia tidak dapat melihat apa-apa, merasakan apa-apa, tetapi kepalanya dipenuhi oleh pikiran-pikiran liar. Pikiran-pikiran liar ini seakan memberinya inspirasi akan sesuatu yang tengah menimpa gadis kecil dalam mimpinya, dan sesuatu yang luar biasa yang akan terjadi di masa depan.
Dan, setelah itu, ia berhenti bermimpi, untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun.
Waktu tampaknya telah mencuci bersih ingatan Nicolette tentang pikiran-pikiran liar yang menginspirasinya itu, dan hanya satu hal yang ia ingat sekarang: sesuatu telah menimpa gadis kecil dalam mimpinya itu, dan sekarang gadis itu tidak pernah muncul dalam tidurnya lagi.
Ia dan Clara, satu-satunya orang yang mengetahui dan berbagi rahasianya, telah membuat banyak spekulasi tentang apa yang menimpa sang gadis kecil, meskipun semua spekulasi itu hanya membuat segalanya semakin kabur dan keberadaan gadis kecil itu semakin misterius. Setelah dua minggu, mereka berhenti memikirkan perginya sang gadis kecil dan memulai kembali kehidupan mereka seolah-olah tidak terjadi apa-apa, meskipun bagi Nicolette terasa sangat berat untuk melupakan gadis kecil itu.
‘Memang sulit untuk melupakannya,’ suara Clara membuat Nickie, begitu gadis itu dipanggil, terbuyar dari lamunannya. ‘Aku baru saja selesai mandi. Sudah jam tujuh—kamu tentunya tidak mau terlambat.’
Nickie tersentak kaget mendengarnya. Kehidupan kami benar-benar berbeda tanpa keberadaan sang gadis, pikirnya. Rasanya benar-benar... biasa. Hambar. Seperti orang lain pada umumnya, tanpa sesuatu yang special.
Ia bangkit dari tempat tidur tempatnya duduk, membuka jendela yang membangunkannya dari tidurnya tadi, dan menatap dunia luar. Udara dingin membuatnya memalingkan wajah sesaat dari jendela, tapi ia tetap membiarkannya terbuka. Dunia juga semakin membosankan, pikirnya. Sepuluh tahun lalu, langit di kotanya masih berwarna biru. Kini, setelah daerah suburban yang ia tempati menjadi wilayah kota, lingkungan tempat tinggalnya menjadi semakin padat, dan langit mulai kehilangan warnanya sebagai akibat polusi udara. Meski udara sudah amat dingin dan salju menutupi kota sebagai akibat bulan Desember, tetapi langit di atas kota masih tetap berwarna abu-abu kekuningan, dan salju yang turun menaikkan keasaman tanah meski sangat sedikit. Mungkin ia merasakan perasaan bosan yang dirasakan oleh delapan setengah milyar penduduk dunia saat itu, pikirnya. Entah apa yang bisa membuat seseorang betah tinggal di dunia yang seperti ini—dunia yang sedang menua dan mati.
Tanpa disadarinya, Clara juga sedang melakukan hal yang sama dengannya, menatap langit dengan pandangan menerawang dan perasaan bosan yang terlihat jelas di wajahnya. Sepertinya memang benar, pikirnya. Bukan hanya Clara. Apa yang kurasakan juga dirasakan oleh seluruh penduduk dunia yang hidup di zamanku.
Mendadak Clara menepuk bahunya. ‘Ayo,’ katanya perlahan, meletakkan handuk di bahu Nickie dan menutup jendela. ‘Hari esok masih terbentang untuk kita. Kalau kita melakukan sesuatu, setidaknya kita bisa mengetahui apakah masa depan itu benar-benar ada atau tidak.’
‘Kau benar,’ bisik Nickie. Ia beranjak dari tempatnya berdiri, sekali lagi menatap langit yang berwarna abu-abu kekuningan sesaat sebelum menghilang ke kamar mandi.
Nicolette dan Clara Wynter hanya dua dari delapan setengah milyar penduduk dunia yang hidup di tahun 2049, dan mereka semua sadar bahwa, kecuali sesuatu dilakukan, umat manusia sedang berada di ambang kepunahan.
‘Minyak bumi sebagai sumber energi utama umat manusia diperkirakan akan mengalami puncak produksinya pada tahun 2030, dan kecuali telah ditemukan sumber energi penggantinya setelah itu, peradaban umat manusia terancam mengalami kemunduran.’ Ian James Blakeley, guru geografi di Appleton High School, tempat Nicolette dan Clara bersekolah, memajukan poin-nya. ‘Ada yang tahu resolusi apa ini dan kapan dibuatnya?’
Nickie mengangkat tangannya. ‘Resolusi yang dibuat oleh konferensi OPEC dengan negara-negara pengimpor minyak pada tahun 1999, yang mengetengahkan teori puncak Hubbert.’
‘Tepat sekali,’ ujar sang guru, pandangannya tidak lepas dari mata Nickie sampai ia menanyakan pertanyaan selanjutnya. ‘Sekarang, apa kebijakan dalam dan luar negeri yang dilakukan oleh negara kita yang serba benar, sesaat setelah konferensi berakhir?’
Seorang murid berkulit gelap yang duduk cukup jauh dari Blakeley berbicara sebelum mengangkat tangannya. ‘Tapi, Sir—‘
Nickie kembali mengangkat tangannya. ‘Propulsi ekonomi dalam negeri melalui sektor industri dan peningkatan permintaan minyak mentah untuk konsumsi dalam negeri, sekaligus untuk mempertahankan harga minyak internasional.’
Mata Blakeley menatap Nickie dalam-dalam lagi, dan semua murid yang hadir di kelas itu bersumpah mereka dapat melihat kilatan di matanya. ‘Tepat sekali!’ katanya dengan penuh ekspresi. ‘Apakah ada yang dapat kalian lihat dari kedua kenyataan ini? Kenyataan yang sungguh kontradiktif ini?’
‘Sir,’ ujar murid berkulit gelap yang tadi gagal mengungkapkan keluhannya, ‘kurasa Anda telah terlalu jauh mencampurkan pendapat pribadi Anda ke dalam materi pelajaran—‘
‘—dan kurasa Anda tahu persis, Mr. Turner, kalau Amerika menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, termasuk hak untuk berpendapat,’ potong Blakeley.
‘Anda ingin tahu pendapat saya, Sir, terhadap mata kuliah Anda?’ balas Turner sengit. ‘Menurut saya, pelajaran geografi dalam kurikulum high school adalah sesuatu yang menggelikan. Belum lagi ketidakprofesionalan Anda dalam mengajar, dan sesuatu di mata Anda ketika Anda menatap Wynter barusan terlihat seperti nafsu pribadi.’
‘Sudah cukup, Turner,’ ujar Blakeley dingin, setelah mengatasi gelombang mulut murid-murid yang menganga mendengar reaksi Turner barusan. ‘Aku tidak mau melihatmu di kelasku lagi sampai kau membuat surat permintaan maaf resmi yang ditanda tangani kepala sekolah dan kedua orangtuamu.’
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Turner langsung berdiri dan membawa tasnya menuju ke luar kelas. Ketika ia melewati meja Nickie, ia berhenti sebentar dan berkata dengan keras,
‘Kelihatannya kau berpihak pada gurumu tercinta itu. Katakan, apa kau sudah pernah tidur dengannya?’
Mulut Nickie menganga lebar mendengarnya. Clara, yang sekelas dengan Nickie dan duduk tiga kolom di sebelahnya spontan berdiri dan menunjuk Turner dengan murka.
‘Kalau aku mendengar kata-kata itu lagi keluar dari mulutmu,’ sahutnya keras, ‘aku akan memotong lidahmu dan memakannya bersama sepupuku.’
Blakeley kembali berdiri, wajahnya lebih merah dari kepiting rebus. ‘Cukup, Miss Wynter,’ ujarnya dingin, ‘aku mengerti perasaanmu. Tapi kalau Mr. Turner tidak dapat menjaga perilakunya sendiri, aku takut tidak akan ada pertemuan berikutnya bagi Mr. Turner, meskipun ayahnya membawa selusin pengacara terbaik di Harris sekalipun.’
Turner meninggalkan ruangan dengan tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan kelas itu ribut oleh sikapnya barusan. Meskipun Blakeley telah berusaha menenangkan kelas, ia tak dapat menghentikan anak-anak yang mempermasalahkan sikap Turner barusan, dan perkataannya terhadap Nicolette.
‘Aku tidak begitu mengenal Brian Turner,’ ujar Nickie kepada Jane Maxwell, sahabatnya yang duduk di sebelahnya, ‘tapi kurasa ia tidak mungkin bersikap seperti ini di dalam kelas. Sebelumnya ia hanya diam saja walau dimarahi oleh guru sekalipun, dan ia tidak pernah diketahui membuat keributan.’
‘Mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya meledak seperti itu,’ bisik Jane kepadanya. ‘Si Turner itu selalu diganggu oleh jocks di sekolah kita, dan dendam yang ia simpan bertahun-tahun bisa saja meledak pada hari ini. Kita hanya bisa berharap ini hal terjauh yang ia lakukan, atau kita sedang tidak ada di sekolah ketika ia mengulang tragedi Columbine.’
Tragedi Columbine yang terjadi pada tahun 1999 dan sejumlah tragedi serupa yang terjadi di berbagai tempat di Amerika Serikat telah dimasukkan di pelajaran sejarah kurikulum standar junior high di Amerika. Bagi sebagian orang, tragedi ini merupakan titik balik perjuangan orang-orang yang diganggu terhadap para pengganggunya, dan secara drastis menurunkan persentase praktek ganggu-mengganggu di sekolah-sekolah menengah.
‘Aku tidak tahu,’ ujar Nickie. ‘Semua orang berubah akhir-akhir ini. Bahkan Mr. Blakeley sendiri, aku dapat merasakan tatapannya terhadapku kini sangat berbeda dengan sebelumnya. Kau tahu, apa yang dikatakan Turner itu ada benarnya.’
Jane menatap Nickie dengan mata terbelalak. ‘Kau benar-benar sudah tidur dengannya?’
‘Maksudku bukan itu,’ kata Nickie, agak kesal mendengarnya. ‘Tentang pandangan bernafsu Mr. Blakeley ketika melihatku. Apa yang terjadi, sih, akhir-akhir ini? Kenapa dunia terasa semakin menyesatkan?’
‘Aku tidak tahu,’ bisik Jane, yang segera dilanjutkannya dengan ‘Ssssh!’ keras, ketika Ian James Blakeley berhasil menenangkan kembali murid-murid di kelas itu. ‘Setidaknya, bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa.’
‘Oke,’ lanjut Blakeley, setelah order berhasil ditegakkan kembali di kelas itu, ‘sampai di mana kita? Ah, benar. Apa yang terjadi pada tahun 2030, ketika ramalan Hubbert diperkirakan akan menjadi kenyataan?’
Nicolette kembali mengangkat tangannya. ‘Pada kenyataannya, seluruh negara di dunia menarik permintaan mereka atas minyak bumi, menyebabkan harga minyak turun drastis. Ketika itu, muncul kebijakan pasar terbuka dari pasar Amerika Serikat, yang menjual barang-barang hasil industri ke seluruh dunia yang mengalami penurunan hasil industri. Akibatnya, nilai dolar menguat terhadap hampir semua mata uang di seluruh dunia.’
‘Tepat sekali,’ ujar Blakeley, kali ini matanya tidak menatap Nickie. ‘Ada yang tahu apa yang terjadi setelahnya, dan apa pengaruhnya terhadap dunia?’
Nickie baru akan mengangkat tangannya ketika Clara mendahuluinya. Ia mengedipkan sebelah matanya kepada Nickie sambil tersenyum.
‘Yeah,’ kata Jane, tersenyum juga. ‘Jangan sampai Blakeley menganggap isi kelas ini hanya kau saja.’
‘Yang terjadi setelahnya adalah tragedi ekonomi,’ jawab Clara. ‘Dikenal dengan Krisis Energi, harga minyak bumi yang sangat rendah didukung oleh menguatnya nilai dolar secara signifikan mendorong pemerintah Amerika untuk membeli cadangan minyak dunia sebanyak delapan puluh persen dari keseluruhan.’
‘Tepat sekali,’ ujar Blakeley. ‘Lalu, setelahnya?’
‘Pemerintah Amerika menggunakan semuanya untuk menyelamatkan industri kita,’ lanjut Clara. ‘Tapi, hal ini menyebabkan krisis multidimensional di berbagai negara di dunia—terutama di negara yang siap maju seperti Cina. Perlu diketahui perkembangan negara Cina pada waktu itu sampai pada tahap di mana kebijakan ekonomi Amerika tidak dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi mereka secara signifikan.’
‘Tragis,’ kata Blakeley, ‘tragis sekali. Krisis Energi dimulai pada bulan April 2032, di mana ekonomi Cina dan India hancur berantakan dan mereka kembali ke masa kekacauan pra-demokrasi. Dan seperti yang telah diperhitungkan, ekonomi Amerika Serikat menguat drastis—meskipun oleh spekulasi berbagai pengamat ekonomi di dunia, geliat ini hanyalah nyala lilin sebelum padam. Ini yang membuat negara-negara pengekspor minyak menimbun cadangan minyak mereka dan berdalih mengurangi produksi, membuat kekacauan ekonomi global semakin parah.’
‘Dan negara kita yang tak terkalahkan membuat satu pukulan telak yang menghancurkan semua negara pengekspor minyak tersebut dengan membuat cadangan minyak yang mereka timbun menjadi seolah tak berharga,’ lanjut Blakeley, ada sarkasme dalam kata-katanya. ‘Ada yang bisa menjelaskan bagaimana?’
Clara dan Nickie saling berpandangan, dan dengan satu anggukan dari Nickie, Clara kembali mengangkat tangannya.
‘Ya, Miss Wynter—‘
‘Para ilmuwan kita mengumumkan penemuan medan magnet yang dapat mengisolasi panas dari reaksi fusi untuk skala besar, tepat pada saat peradaban manusia menuju titik baliknya. Industri nasional, dengan kekuatan ekonomi yang dikomentari para pengamat sebagai “nyala lilin sebelum padam” tadi membiayai produksi massal reaktor fusi nuklir untuk skala global. Kini Amerika Serikat, melalui sektor swasta, mensuplai 40% dari kebutuhan energi dunia. Hal yang ironis, mengingat demi kestabilan dan kemerataan, seluruh konsumsi energi dalam negeri dipegang oleh negara.’
‘Sekali lagi, tepat sekali,’ komentar Blakeley puas. ‘Penemuan para ilmuwan itu memungkinkan manusia untuk memproduksi energi secara besar-besaran dan menjawab tantangan konsumsi energi global—tepat pada waktunya. Suatu kebetulan yang terlalu intriguing untuk disebut kebetulan. Tapi terlepas dari kenyataan tersebut, hal ini mendorong Revolusi Industri Kedua, yang lebih dikenal sebagai Revolusi Energi. Banyak orang, terutama dari pihak pengusaha, yang optimis bahwa revolusi ini akan mendorong mereka kepada Second Renaissance—tapi spekulasi mereka ternyata dibantah oleh waktu. Ada yang bisa menjelaskan mengapa Revolusi Energi gagal menimbulkan Second Renaissance?’
Tepat pada saat kedua Wynter akan saling berpandangan lagi, Penny Alison, seorang gadis dengan rambut merah dikepang dua dan berkacamata mengangkat tangannya dengan cepat.
‘Oh, Alison, environmentalist kita,’ bisik Jane kepada Nickie, ‘si vegetarian.’
Satu anggukan dari Blakeley cukup untuk membuatnya berdiri dan berbicara dengan keras, suaranya yang cempreng membuat bulu kuduk Nickie berdiri juga. ‘Bukankah sudah sangat jelas bagi kita,’ ujarnya, suaranya terdengar nyaring ke seluruh penjuru kelas, ‘bahwa sejak Revolusi Industri—pertama, kita telah menuai dampak perusakan lingkungan dan pencemaran global? Setelah lebih dari satu setengah abad, akhirnya sejumlah ilmuwan mulai menyadari dampak dari booming industri kita, seperti pemanasan global, menipisnya lapisan ozon, naiknya kadar karbon dioksida dalam udara. Gerakan naturalis dan environmentalis baru dimulai sekitar tahun 1960-an, dan terbukti gagal menghentikan manusia untuk mencemari lingkungan dengan kegiatannya.’
‘Poin yang bagus dari sudut pandang yang bagus,’ Blakeley mengusap-usap dagunya dengan telunjuk dan jempolnya. ‘Sekarang, coba jelaskan hubungannya dengan kegagalan Revolusi Energi dalam menimbulkan lonjakan peradaban manusia.’
‘Blakeley juga punya poin,’ bisik Jane kepada Nickie lagi, ‘bahwa pidato Alison kepanjangan dan berbelit-belit.’ Ia tertawa cekikikan.
‘Meskipun bebas radiasi,’ kata Alison, nampak kesal karena poin-poin yang hendak disampaikannya terpotong, ‘reaksi fusi meningkatkan suhu rata-rata air laut hingga 0.3 derajat (Fahrenheit) per tahun, dan peningkatan aktivitas industri yang tak terbendung menyebabkan pencemaran di kota-kota.’
‘Seperti smog,’ tambah Nickie. ‘Sepuluh tahun lalu, sebelum daerah Appleton dan sekitarnya masih termasuk daerah suburban, langit di atas rumahku masih berwarna biru.’
‘Wynter benar,’ lanjut Alison, meski kesal karena lagi-lagi dipotong, ‘pencemaran yang ditimbulkan oleh dampak Revolusi Energi telah mengubah—menurut sebagian besar ilmuwan, secara permanen—bentuk Bumi. Iklim di beberapa tempat di dunia berubah. Spesies tertentu punah. Hutan tropis di daerah khatulistiwa terkena dampaknya terlebih dahulu, di mana vegetasinya berkurang hingga lebih dari sepertiga dari sepuluh tahun yang lalu, dan beberapa pulau dengan ketinggian di bawah enam kaki tenggelam oleh air laut.’
‘Itu kata-kata yang kutunggu,’ ujar Blakeley, menuliskan sesuatu di komputernya, yang diproyeksikan ke layar. ‘Sekarang, coba kalian bagi kelas menjadi dua kelompok, untuk diskusi...’
‘Tidak akan ada waktu,’ bisik Jane kepada Nickie. Ia menunjukkan jam tangannya kepada Nickie. ‘Kelas akan bubar dalam lima menit.’
‘Dan ia baru memasukkan materi geografi dalam seperempat jam terakhir sebelum kelas dibubarkan,’ bisik Clara kepada keduanya. ‘Benar-benar menggelikan.’
‘Kurasa ada benarnya juga memasukkan latar belakang sejarah, bagaimana ini terjadi, mengapa itu terjadi,’ komentar Nickie netral. ‘Setidaknya kelasnya jadi lebih hidup, kan?’
Kelas geografi Mr. Blakeley memang menyenangkan, pikir Nickie. Meskipun Mr. Blakeley memang sedikit eksentrik, tapi aku masih tidak habis pikir mengapa Turner sampai bersikap seperti tadi.
Jane menatap Nickie yang menatap langit-langit kelas, pandangannya menerawang. ‘Hey, apa yang kaupikirkan?’ tanyanya, menepuk bahu Nickie perlahan. ‘Diskusinya dibatalkan, ditunda minggu depan. Gantinya, kita disuruh membuat essay.’
‘Aku sedikit mengantuk,’ jawab Nickie. ‘Mungkin nanti, sepulang sekolah, aku akan tidur sebentar.’
‘Tidur saja,’ kata Clara. ‘Siapa tahu, dalam tidurmu...’
Nickie mengangguk. Clara mengerti ia tidak mau mimpinya tentang sang gadis kecil diketahui oleh orang lain selain mereka berdua.
‘Kenapa?’ tanya Jane, penasaran. Karena tidak mendapat respons dari mereka berdua, ia melanjutkan, ‘Kau ingin bertemu dengan si Blakeley itu, ya, dalam mimpimu?’
Nickie memukul Jane dengan tasnya. Tepat pada saat itu, bel berdering...
Delapan jam telah berlalu, dan segalanya berjalan seperti biasa, pikir Nickie. Kehidupan ini memang menyenangkan, tapi terlalu biasa. Tidak ada sesuatu yang spektakuler, pengalaman yang bersifat spiritual, seperti gadis kecil dalam mimpiku. Sepertinya mimpi semua orang sudah hilang, ditelan kesibukan mereka...
Nickie sadar, ia masih memikirkan gadis kecil di dalam mimpinya.
‘Aku tahu. Aku tahu, entah di bagian mana di dunia ini, ada seseorang yang dapat mendengar apa yang kupikirkan. Aku sudah menyadarinya sejak dulu. Aku tahu inilah kesempatanku yang terakhir. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menghentikan mereka.’
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Nicolette. Ia tidak ingat pernah mendengar kata-kata itu dalam mimpinya yang terakhir bersama sang gadis cilik, dua minggu yang lalu, tapi entah kenapa kata-kata itu membekas di otaknya. Ia tahu, kata-kata itu yang mengisyaratkan telah terjadi sesuatu terhadap sang gadis, meskipun ia tidak tahu dari mana asalnya kata-kata itu. Mungkin saja kata-kata itu hanya merupakan insting-nya, sesuatu yang terbersit begitu saja ketika pikirannya sedang kosong. Dan setelah lebih dari dua minggu tidak ada kabar apapun, ia mulai mencemaskan nasib sang gadis kecil.
‘Nickie? Hey, Nickie. Katakan sesuatu!’
Jane menepuk-nepuk pipi Nickie, menyadarkannya dari lamunannya. ‘Aku sudah memanggil-manggilmu dari tadi, tapi kau hanya diam saja. Jadi selama ini, sejak keluar dari sekolah tadi, segala yang kukatakan padamu tidak didengarkan sama sekali?’
‘Ia ada masalah, Jane,’ kata Clara, ‘masalah pribadi yang cukup meresahkan. Dan tidak ada hubungannya denganmu, jadi ia tidak mau cerita.’
Jane baru saja membuka mulut, bermaksud untuk membalas perkataan Clara barusan, tetapi Nickie menenangkan mereka.
‘Tenang, Jane. Ngomong-ngomong, apa saja sih yang kamu katakan padaku barusan?’
‘Tentang Turner tadi,’ jawab Jane, menggerakkan kepalanya untuk meluruskan rambutnya. ‘Sikapnya yang mendadak seperti itu... seperti bukan dia.’
Nickie menatapnya heran. ‘Kenapa sekarang mengkhawatirkannya? Bukankah tadi kamu tidak begitu peduli dengannya?’
Jane memeriksa sekelilingnya, memastikan tidak ada yang mendengarkan mereka.
‘Aku hanya mencoba menghubungkannya dengan komunitas terselubung yang baru-baru ini muncul di sekolah kita,’ ia merendahkan suaranya. ‘Akhir-akhir ini, anak-anak yang diganggu melawan para pengganggunya mati-matian dan mengubah penampilan mereka. Mereka juga tidak segan-segan menyakiti dan melukai orang-orang yang dulu mengganggu mereka. Mereka seperti membuat organisasi persaudaraan sendiri, dan kalau satu di antara mereka diganggu, semua akan membalas pengganggunya.’
‘Kedengarannya mengerikan,’ kata Clara. ‘Kelihatannya semua anak yang diganggu menyimpan dendam yang tak dapat dihapuskan sampai para pengganggunya merasakan penderitaan yang sama dengan yang mereka rasakan.’
‘Entahlah,’ kata Jane. ‘Yang mengkhawatirkan, dendam mereka diatur secara terorganisir... semoga tragedi Columbine tidak pernah terulang di sekolah kita.’
‘Jangan bicarakan tentang itu lagi,’ ujar Nickie khawatir. Bulu kuduknya berdiri. ‘Tidak mungkin hal seperti itu benar-benar ada. Turner tadi hanya mengalami emosi sesaat saja.’
‘Benar,’ simbat Clara. ‘Tidak yang membuktikan hal itu. Lagipula motif utama dalam tragedi Columbine adalah meniru video game Doom, bukan balas dendam karena diganggu.’
Jane menghela napasnya. ‘Yeah, tapi semua orang membicarakannya... entahlah. Di dunia yang kacau ini, hal apapun bisa terjadi...’
Jane, Nickie, dan Clara sedang berjalan menuju gerbang sekolah ketika Emily Brent, gadis tercantik di sekolah yang merupakan teman baik Nickie dari kelas sebelah menampakkan diri.
‘Bagaimana kalau kita mampir sebentar di mading sekolah, melihat-lihat pengumuman, berita, dan informasi?’ saran Emily, ketika melihat ketiga gadis itu. Emily adalah anggota klub jurnal sekolah, dan ia selalu memastikan segala informasi yang diterimanya up-to-date dengan melihat mading sekolah tiap hari.
‘Ide bagus,’ kata Nickie. Ia senang melihat Emily muncul; Emily adalah temannya yang paling dekat, dan ia belum melihat Emily hari itu sampai ia menampakkan diri sekarang.
‘Ngomong-ngomong, aku dengar tadi katanya Turner di kelasmu membuat masalah, ya?’ tanya Emily, ketika keempat gadis itu berjalan menuju mading sekolah. ‘Di kelasku, Cleve Derkins mengamuk dan memukuli tiga orang anggota klub football, dan mematahkan kaki satu di antaranya.’
‘Tunggu dulu,’ Jane terkesiap. ‘Cleve Derkins itu dulunya diganggu juga, kan?’
‘Ya, dan masih sampai sekarang,’ kata Emily. ‘Ketiga jock yang dipukulinya itu tadinya mengganggunya. Kami semua takut melihat matanya ketika memukuli para jock yang mengganggunya itu... matanya itu seperti mata seorang pembunuh. Dan ia seperti mempunyai tenaga dan keberanian entah dari mana, meskipun ketiga jock itu sudah berusaha memeganginya. Ia baru bisa dihentikan ketika semua orang memohonnya untuk berhenti, dan ia masih menunjukkan sikap bermusuhan kepada ketiga jock yang tadi mengganggunya.’
Clara membuat gerakan seperti menendang udara kosong. ‘Biar tahu rasa, jocks tak tahu malu itu,’ katanya bersemangat. ‘Salah sendiri suka mengganggu orang.’
‘Lalu?’ tanya Jane. ‘Apa yang dikatakan Jonathan Burns dan Daniel Taylor terhadap hal ini?’
Emily mengangkat bahunya. ‘Entahlah,’ katanya. ‘Aku tidak berani membayangkannya.’
Jonathan Burns dan Daniel Taylor adalah bos dan wakil bos para jock di Appleton. Dikenal sebagai orang yang tidak naik kelas bertahun-tahun, Burns, 30 tahun dan Taylor, 24 tahun tetap bersekolah di Appleton meskipun amat jarang terlihat di dalam kelas. Mereka selalu berada di lapangan football dan memimpin latihan tim football Appleton Annihilators, membuat Appleton Annihilators selalu menjadi juara pertandingan football high school tingkat nasional setiap tahunnya. Itu juga menjadi satu-satunya alasan mengapa dewan guru Appleton High School mempertahankan status keduanya sebagai murid sekolah itu, untuk mempekerjakan dua orang pelatih football terbaik di Amerika tanpa harus menggaji mereka.
Keempat gadis itu tiba di pusat aktivitas sekolah, tempat mading sekolah dipasang. Tempat itu selalu jauh lebih ramai daripada tempat lain di sekolah, kecuali ketika kelas sudah dimulai. Ketika Nickie dan teman-temannya mendatangi tempat pemasangan mading, ada dua orang yang masih memasang artikel di mading tersebut.
‘Coba kulihat,’ kata Emily, menghampiri artikel yang baru dipasang itu. ‘Hmm, Commoners mengadakan rapat di lapangan football pukul lima sore. Kalau tidak salah, jock barusan memasang jadwal latihan football hari ini yang masih berlangsung sampai pukul enam sore. Mungkin akan ada pertengkaran kecil karena bentrok jadwal ini. Astaga, jock itu memasang peta Amerika juga di bawah timetable mereka. Besar sekali, aku harus menegur mereka atas inefisiensi tempat! Lalu ada perekrutan event organizer sekolah untuk Festival Kebudayaan Tahunan Appleton setelah libur Natal berakhir...’
‘Tunggu dulu,’ Nickie mendadak menyadari sesuatu. ‘Memo apa yang ditempelkan di situ?’
Ia menunjuk secarik kertas memo kecil yang dipasang di pojok kanan atas mading. Kertas itu ada bekas dibakar dengan sengaja di sekelilingnya, dan dipasang di papan gabus dengan lima buah thumb tacks yang jelas terlalu berlebihan untuk kertas sekecil itu. Kalau saja bukan karena thumb tacks yang terlalu banyak, mungkin tidak akan ada yang menyadari kalau memo itu dipasang di sana.
‘94021321,’ Nickie membaca satu-satunya tulisan yang tertera di sana. Tulisan itu ditulis oleh pulpen yang nyaris tidak nyata, yang menimbulkan kesan penulisnya berusaha agar memo itu tidak diperhatikan orang. ‘Dan lima buah thumb tacks hanya untuk secarik kertas kecil... apa maksudnya?’
‘Mungkin tempat memasang thumb tacks yang tidak terpakai,’ tebak Jane. ‘Dan mungkin 94021321 itu nomor telepon yang ingin diingat oleh si pemasang. Kelihatannya memo itu hanya ditujukan untuk si pemasang sendiri, bukan untuk dilihat semua orang. Mungkin salah satu dari klub jurnal sekolah yang memasangnya.’
‘Entah,’ kata Emily. ‘Tapi aku juga anggota klub jurnal sekolah, dan aku tidak tahu apa-apa soal memo itu.’
Salah seorang dari dua pemasang artikel tadi, seorang gadis seumuran mereka dengan rambut pirang melewati bahu yang dikepang masih ada di depan artikel yang dipasangnya, memandangnya dengan seksama untuk mencari sesuatu yang mungkin masih perlu disempurnakan. Nickie langsung mengenalinya sebagai Heather Doherty, ketua klub renang putri, dan salah satu teman baiknya di luar kelas.
‘Heather,’ panggil Emily, ‘apa kau tahu siapa yang memasang memo itu?’
Ia menunjuk memo yang diributkan itu. Heather menghampirinya, memeriksa memo itu sesaat, lalu memalingkan mukanya kembali, menatap Emily.
‘Astaga, aku tidak memperhatikan memo itu di sana! Kalau saja kau tidak memberitahuku, aku mungkin tidak akan pernah tahu ada memo di situ. Aku tidak tahu siapa yang memasangnya di sana, Sayang, bukannya kau yang anggota jurnal sekolah?’
Cara Heather memanggil Emily dengan sebutan ‘Sayang’ itu sebenarnya dimaksudkan untuk terdengar menyebalkan, meskipun bagi mereka yang belum kenal Heather menganggap sebutan itu secara tidak lazim intim.
Emily memasang tampang cemberut. ‘Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya, kan?’ ujarnya ketus.
‘Astaga, Sayang, aku benar-benar tidak tahu,’ Heather membela diri. ‘Jangan marah begitu...’
‘Hentikan, kalian berdua,’ Jane menegur mereka dengan suara direndahkan, ‘kalau ada cowok yang mendengar, kalian pasti dikira lesbian.’
‘Tapi aku menyukai Emily...’ Heather menggodanya lagi, tapi begitu melihat wajah Emily, ia segera menghentikannya. ‘Astaga, ke mana selera humor kalian?’ tanyanya sebal.
‘Menguap ke langit, begitu melihatmu,’ ujar Emily dingin. ‘Apa yang kau tempel di sana?’
‘Pengumuman,’ jawab Heather, memutar-mutar bola matanya dengan jenaka, ‘tentang aktivitas klub renang yang selanjutnya. Klub renang bangga memiliki Nickie di antara mereka, ya kan, Sayang?’
Ia tersenyum kepada Nickie, yang membalas senyumannya sambil tersipu malu. Nickie aktif berenang, dan keaktifannya dalam klub renang seringkali membawa sekolah mereka ke kejuaraan tingkat negara bagian dan nasional. Di rumah, Nickie menyimpan sederet trophy dari prestasinya di bidang renang, yang dengan bangga dipajang oleh ibunya di ruang tamu.
‘Tidak dapat Emily, kau mengincar Nickie sekarang,’ kata Jane, yang tertawa sendiri karena kata-katanya barusan, sebelum dihentikan oleh pukulan Emily dengan tas.
Meskipun Emily cewek paling cantik di sekolah, Nickie adalah cewek paling cantik di Amerika, menurut sebagian besar orang yang dikenalnya. Rambutnya yang coklat lurus, matanya yang biru, dan kulitnya yang putih mulus terlihat bersinar lembut di mata semua orang yang melihatnya, sementara bibirnya yang merona pink dan selalu terlihat basah nampak lembut seperti bibir bayi. Bertubuh atletis karena aktivitasnya berenang, Nicolette yang memiliki tinggi lima kaki sebelas inci ini terlihat sempurna di mata semua orang, selain mencolok karena tingginya.
Sementara, Clara bertubuh lebih pendek dan berambut pirang, meskipun ia berbagi kulit mulus bersinar, mata biru, dan bibir pink sepupunya. Ia juga aktif dalam renang dan tenis, meskipun tubuhnya tidak sepadat Nickie. Ia amat cantik jika berjalan sendiri, dan berjalan dengan Nickie dan Emily membuat ia terlihat bahkan lebih cantik.
Jane hampir setinggi Nickie, tapi tubuhnya yang kurus dan rambutnya yang amat lurus dan pirang memanjang membuatnya terlihat lebih tinggi. Penampilannya terkesan sombong, seperti gadis bangsawan di cerita-cerita dongeng, tetapi sikapnya blak-blakan dan apa adanya. Sikapnya yang blak-blakan itu hampir sama dengan Heather, meskipun persamaan itu justru membuat keduanya sering bertengkar karena hal-hal kecil. Jane aktif bermain tenis, dan ia cukup handal dalam bermain, yang menempatkan dirinya bersama dengan ketua klub tenis dalam setiap pertandingan ganda.
Nickie, Clara, Jane, Emily, dan Heather adalah anggota geng itu, dengan Emily sebagai pemimpin tidak resminya (yang sering diserobot oleh Heather). Kelimanya, meskipun tidak semuanya berada di kelas yang sama, memiliki usia yang relatif sama, melakukan segala sesuatu bersama, dan tidak bisa terpisahkan. Mereka, kecuali Nickie yang pemalu, sering bertengkar satu sama lain, meskipun semua pertengkaran itu justru membuat mereka semakin akrab.
Dan sekarang pun, kelimanya sedang berjalan meninggalkan sekolah, sambil membahas memo misterius di mading sekolah tadi. Heather sedang bertengkar dengan Emily, yang menyalahkannya karena tidak tahu apa-apa tentang pemasang memo itu.
‘Kau tidak pernah memperhatikan apa yang terjadi di sekitarmu,’ cela Emily. ‘Mungkin telingamu sudah kemasukan terlalu banyak air ketika berenang, sehingga suara sekeras apapun tidak akan menyembuhkan ke-ignorant-anmu.’
‘Kau yang ignorant,’ balas Heather. ‘Aku kan bukan anggota jurnal sekolah, jadi aku tidak tahu soal tempel-menempel mading. Setidaknya aku melihat mading tiap hari, agar berita yang kuterima selalu up-to-date. Daripada kau, anggota jurnal sekolah, tapi tidak tahu soal bagian kerjamu sendiri, dan harus bertanya kepada ketua klub renang tentang siapa yang menempelkan informasi di mading yang merupakan urusanmu.’
‘Sudahlah, lupakan saja,’ Nickie mencoba melerai keduanya. ‘Toh itu cuma memo biasa yang sedikit aneh. Jangan memperpanjang masalah.’
‘Tidak bisa begitu,’ bantah Emily keras kepala. ‘Aku tidak bisa membiarkan seseorang memasang memo begitu saja di mading tanpa memberitahuku. Tapi aku tetap tidak bisa melepasnya begitu saja—bisa jadi seseorang benar-benar membutuhkannya dan menyingkirkannya bisa membawa masalah.’
Mereka melewati sekumpulan anak yang memakai T-shirt berwarna biru di balik jaket tebal, memakai celana jeans hitam dan sepatu sneakers berwarna putih. Mereka sedang membagikan pamflet Festival Kebudayaan Tahunan kepada semua orang. Nicolette mengenali pakaian yang mereka pakai sebagai seragam Commoners, sejenis afiliasi tak resmi di Appleton bagi mereka yang bukan merupakan jocks atau geeks. Tidak semua anak yang bukan jocks ataupun geeks merupakan Commoners, tentunya, tapi itu memberi murid-murid Appleton semacam wadah untuk mengekspresikan diri dan berorganisasi. Ada sekitar tiga ratus orang Commoner di sekolah mereka, dan jumlah itu selalu bertambah, karena Commoners selalu mencari anggota baru dan menjanjikan keuntungan-keuntungan tersendiri untuk para anggota Commoners.
Ketika melihat Nickie dan teman-teman, para Commoner itu menoleh dan mengisyaratkan mereka untuk mendekat, melambai-lambaikan pamflet yang mereka pegang.
‘Oh, kedua Wynter, Brent, dan teman-teman,’ kata salah satu di antara mereka, membuat Jane dan Heather merasa didiskriminasi.
‘Ada apa?’ tanya Heather ketus. Ia tidak senang dibedakan dari teman-temannya, dan kelihatannya anak-anak ini tidak mengenal dirinya sebagai ketua klub renang.
‘Kami sedang mencari EO untuk acara Festival Kebudayaan Tahunan,’ jawab salah satu di antara mereka. Matanya tidak melihat Heather, ia melihat Emily. Entah karena ia mengenal Emily sebagai anggota jurnal sekolah, atau karena ia terpana oleh kecantikan Emily, tapi itu sudah cukup bagi Heather untuk menganggapnya sebagai penghinaan. ‘Selain itu, kami juga mencari anggota baru untuk menjadi Commoners. Orang seperti kalian pasti cepat memperoleh kedudukan di sana.’
‘Dengar, ya...’ Heather membuka mulutnya, siap untuk memulai perang, tetapi Nickie menghentikannya.
‘Sssh!’ bisiknya. ‘Sudahlah, tidak ada gunanya mempermasalahkan hal kecil begitu.’
‘Kami sudah tahu tentang itu,’ kata Emily. ‘Aku tahu segala sesuatu yang terpasang di mading sekolah.’
‘Jadi, apa kalian tertarik untuk menjadi EO?’ Ia bertanya lagi, matanya menatap Emily lekat-lekat, bersinar penuh harap. ‘Dan kami tahu kalau kalian belum tergabung dalam Commoners, bagaimana kalau kalian bergabung pada rapat jam 5 sore nanti? Soalnya...’
‘Soalnya apa?’ Emily membalas tatapan si cowok dengan tatapan yang meruntuhkan harapannya. ‘Kami tidak tergabung dengan Commoners, ya, kami sudah cukup sibuk dengan kesibukan kami masing-masing. Salah satu dari kami malah ketua klub renang, kalian tahu.’
Heather tersenyum-senyum sendiri. Meski ia dan Emily sering bertengkar, tetapi kalau ada yang menghina satu di antara mereka, yang lain pasti membelanya mati-matian.
‘Soalnya anak-anak yang mendadak berperilaku aneh itu tidak memiliki afiliasi, dan tidak tergabung dalam Commoners,’ jawab si cowok dengan rasa percaya diri yang turun, matanya menatap lutut Emily sekarang. ‘Kalian tentu tidak mau menjadi bagian dari mereka. Commoners menawarkan pengembangan diri, dan banyak di antara anggotanya yang sudah memiliki lebih dari satu afiliasi...’
‘Kuberi tahu ya,’ kata Emily dingin, ‘sebelum kalian menceramahi kami untuk bergabung dengan kalian, sebaiknya kalian urusi dulu jadwal kalian. Mengadakan rapat jam 5 sore di lapangan football, kalian tahu tidak kalau jocks masih ada latihan sampai jam 6 sore? Kalau sampai jadwalnya bentrok...’
‘Hmm?’ Salah satu cowok yang ikut dengan mereka, yang dari tadi diam saja, bereaksi. ‘Jam 6 sore? Jocks brengsek, mereka tidak bilang ketika kita konfirmasi jadwal tiga hari yang lalu. Kau yakin? Fedca harus diberitahu.’
Fedca Lawrence adalah bos para Commoner, orang di balik semua kegiatan mereka. Afiliasi itu sendiri, dan pengkotak-kotakan murid high school itu sebagai jocks, Commoners, geeks, dan non-afiliasi, semuanya merupakan ide Fedca dan baru dimulai dua setengah tahun yang lalu, ketika Fedca baru masuk high school itu. Pandangannya dan pendapatnya secara misterius sangat populer, dan banyak yang bergabung ketika ia mendirikan komunitas Commoners untuk memberi identitas kepada mereka yang bukan jock maupun geek. Para Commoner itu saling melindungi satu sama lain dan amat kompak, dan kegiatan mereka merupakan kegiatan sekolah. Cara mereka melakukan segala sesuatu mirip dengan para Mafia, hanya saja mereka tidak melakukan sesuatu yang ilegal.
‘Ada di mading,’ kata Jane. ‘Tadi ada seorang jock yang memasangnya.’
‘Scarface Joe dan Dynamite Dan pasti tidak suka,’ kata cowok yang menyebut nama Fedca barusan, menyebut nama panggilan Jonathan Burns dan Daniel Taylor; ‘kalau jadwal bentrok ini dibiarkan saja. Tapi kalau kita mengalah dan memundurkan waktu rapat hingga pukul enam, itu akan merusak reputasi kita di mata para jock.’
Cowok itu setinggi Nickie, berambut pirang gondrong, bermata biru, memasang earphone, dan memakai jaket berwarna biru tua dari bahan jeans serta knitcap. Tubuhnya tegap, meski tidak kekar. Tipikal remaja kulit putih standar Amerika yang tidak ikut football SMA, hanya saja yang satu ini lebih tampan dari rata-rata. Nickie mengenalnya sebagai Josh McKinnon, teman dekat Fedca Lawrence, yang juga memegang peran penting dalam Commoners dan anggota klub tenis seperti Jane.
‘Lagipula, nanti sore kelihatannya akan turun salju lagi,’ kata Josh lagi. ‘Mungkin rapatnya bakal ditunda besok. Kemungkinannya 70 persen—aku dengar dari ramalan cuaca di radio barusan. Heran, mau apa sih jocks itu, latihan di tengah musim dingin seperti ini? Kalau benar turun salju, aku harus mengapuri halaman rumah—ada banyak sekali tanaman di rumahku yang tidak boleh mati di musim dingin, terutama oleh pH tanah yang turun.’
Polusi di dunia sudah sampai pada tahap penurunan pH air hujan global menjadi 6.57. Meski tidak terlalu asam, tetapi hujan yang turun berkali-kali dapat merusak kesuburan tanah, menyebabkan karat pada logam, dan membuat iritasi pada kulit. Hal ini juga berlaku dengan salju, malah salju tebal yang menyelimuti daratan pada bulan-bulan seperti ini membuat segalanya jauh lebih parah. Kenyataan yang mengkhawatirkan ini sudah merupakan hal yang biasa di tahun 2049, meski Nickie tahu kalau semua orang sudah lelah dengan kenyataan ini dan pasrah terhadap kerusakan lingkungan di dunia. Semangat Josh yang masih optimis di tengah-tengah kepasrahan semua orang itu sudah langka, bahkan di mata anak muda sekalipun, kecuali mungkin Penny Alison.
‘Fedca bilang rapat ditunda hingga besok pagi di Prentice Hall,’ kata Josh lagi, melepas earphone telepon selulernya yang baru saja ia gunakan untuk menghubungi Fedca. ‘Ia juga mendengar ramalan cuaca nanti sore. Biarkan saja para jock itu latihan sampai mampus, kurasa Scarface sengaja membuat jadwal mendadak ini untuk melatih fisik anak-anak baru.’ Ia memberi isyarat pada para Commoner lainnya. ‘Ayo, cukup untuk hari ini,’ katanya. ‘Kita bubar saja.’
‘Yeah,’ kata cowok yang melirik Emily tadi. ‘Aku sudah cukup kedinginan di sini.’
Mereka beramai-ramai pergi meninggalkan Nickie dan teman-teman. Josh menjadi yang terakhir untuk beranjak, dan ketika ia membalikkan punggungnya, Emily menyadari sesuatu dan memanggilnya.
‘Josh,’ sahut Emily, ‘apa nomor telepon yang kau pasang di memo kecil di mading sekolah itu nomor CP untuk acara festival kebudayaan tahunan?’
Josh mengernyitkan dahinya. ‘Apa maksudmu?’ tanyanya heran. ‘Nomor CP untuk festival kebudayaan tahunan kami cantumkan di poster yang sama dengan poster pengumumannya sendiri. Untuk apa kami menuliskannya di memo lagi?’
‘Jadi nomor siapa di memo itu?’ tanya Emily lagi, kali ini dengan penuh selidik. ‘Tentunya seseorang tidak akan memasangnya di sana tanpa sebab.’
Josh menatapnya dengan sebal. ‘Kenapa bertanya padaku? Bukannya kau yang anggota jurnal sekolah, seharusnya kau yang tahu hal-hal begituan?’ Ia berlagak melirik jam tangannya. ‘Jangan sibukkan aku dengan hal-hal yang tak penting. Aku cukup sibuk sebagai seorang Commoner.’
Ia pun berlalu menyusul para Commoner lainnya yang sudah jauh di depannya, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Emily menatapnya dengan murka; Nickie tahu ia tidak pernah diacuhkan orang dan ia kurang terbiasa dengan sikap Josh barusan.
‘Karena aku anggota jurnal sekolah, maka aku mau mencari tahu,’ ujarnya kesal. ‘Heran, kenapa sih semua cowok seperti itu?’
Jane menatap punggung Josh, yang berjalan menjauhi mereka.
‘Yah, tidak semua cowok begitu, kok…’ gumamnya.
‘Apa?’ Emily menatap Jane terkejut, tapi sepertinya ia tidak mendengar perkataan Jane barusan. ‘Kamu bilang apa tadi?’
‘Tidak apa-apa,’ kata Jane, menggelengkan kepalanya. ‘Ayo kita pulang, tidak ada gunanya mengurus masalah memo itu. Lagipula, suhunya sudah semakin dingin…’
Nickie menatap Jane, tersenyum.
Tiga hari kemudian, Nicolette mulai merasa terbiasa dengan tidurnya yang pulas tanpa mimpi. Suatu dorongan alami membangunkannya pagi itu setengah jam lebih cepat dari waktu yang dipasang di alarm clock-nya. Hari itu masih sangat pagi—pukul setengah tujuh kurang dan salju turun di luar, membuat udara menjadi terasa dingin dan siapapun yang berada di tempat tidur pada udara sedingin itu pasti berpikiran untuk meneruskan tidurnya. Bagaimanapun, itu adalah hari Sabtu dan alarm clock-nya belum berbunyi, jadi Nickie memutuskan untuk melanjutkan tidurnya sekitar setengah jam lagi.
Di sebelah tempat tidurnya, Nickie dapat melihat bahwa Clara juga memikirkan hal yang sama. Melihatnya bangun sepagi ini di hari Sabtu, meskipun ia hanya setengah bangun, adalah sesuatu yang agak langka. Mungkin sesuatu membuatnya terbangun, pikir Nickie. Ketika pandangan matanya dengan Clara bertemu, mereka bertukar senyum mengantuk sebelum membelakangi satu sama lain.
‘Bagaimana kabar si gadis kecil?’ tanya Clara, membuka pembicaraan mereka hari itu.
Nickie menghela napasnya. ‘Null,’ jawabnya. ‘Aku takut aku mulai terbiasa dengan tidur tanpa mimpi… meskipun memang terasa hambar.’
‘Bagaimana kalau kita tanyakan ini pada psikiater?’ usul Clara. ‘Maksudku,’ tambahnya cepat-cepat, takut menunggu reaksi Nickie terhadap kata-katanya, ‘bukankah lebih baik kalau kita konsultasikan masalahmu kepada seorang ahli? Dia mungkin mengerti bagaimana gadis kecil itu bisa muncul dalam mimpimu, dan mengapa ia tiba-tiba hilang begitu saja.’
Nickie membalikkan badannya kembali, menghadap Clara. Ia menatap sepupunya itu dengan pandangan tidak setuju.
‘Oh, baiklah,’ kata Clara. ‘Aku mengerti. Kita coba pecahkan masalah ini sendiri—oh, ayolah, Nickie, kalau kita tidak dapat memecahkannya sendiri, kumohon, kita harus menghubungi psikiater. Kalau kita tidak dapat memecahkannya sendiri,’ tambahnya.
‘Entahlah, Clara,’ jawab Nickie. ‘Aku tidak mau melibatkan orang lain… kamu tahu aku tidak pernah menceritakan segala sesuatu tentang gadis kecil ini pada orang lain.’
Ia membalikkan badannya kembali membelakangi Clara, menatap jendela yang memutih karena salju di luar. Sejak dulu, ia tidak pernah menceritakan mimpinya kepada siapapun, bahkan ibunya sekalipun, kecuali Clara. Menurutnya, hal ini bukan sesuatu yang bisa diceritakan kepada siapapun—ia tahu, cepat atau lambat, menceritakannya kepada sembarang orang akan mengganggu kehidupannya yang normal, bahkan setelah rentetan mimpi yang dilihatnya itu berhenti.
‘Bagaimana kalau kita mulai dari catatan pribadimu dulu?’ saran Clara. Ia dan Nickie selalu mencatat sesuatu yang bisa diingat dari mimpi Nickie setiap harinya dalam beberapa buku diary, sejak mereka berumur delapan tahun. Meskipun Nickie tidak pernah bisa mengingat apapun, mereka selalu mencatat apa yang dirasakan Nickie ketika ia bangun—Nickie selalu merasakan rentetan emosi yang berbeda-beda ketika ia bangun, dan ia percaya kalau itu dipengaruhi oleh emosi gadis kecil dalam mimpinya.
‘Tentu saja,’ kata Nickie. ‘Aku sudah melihat-lihat kembali diaryku tahun ini, tapi mungkin dari catatan-catatan yang sudah lama, kita bisa menemukan sesuatu.’
‘Lalu, hari ini kita cari buku yang berkaitan dengan ini di perpustakaan umum,’ lanjut Clara. ‘Kamu kan tidak mau berurusan dengan ahli, jadi kita harus mencari solusinya di buku-buku… atau mungkin di Internet.’
‘Entahlah… aku tidak tahu,’ jawab Nickie. ‘Oh, Clara, bagaimana kalau kita bicarakan ini nanti saja? Aku mau tidur lagi, sebentar saja.’
‘Kasihan bibi Elle,’ kata Clara, menyebut nama ibu Nicolette. ‘Ia harus menerima tamu pagi-pagi sekali di hari sedingin ini.’
‘Tamu apa?’ tanya Nickie mengantuk, ia sebenarnya tidak mau terlalu mempedulikan hal ini kalau saja hal ini tidak berkaitan dengan ibunya. ‘Dan kenapa mereka merencanakan untuk berkunjung sepagi ini?’
‘Mom bilang mereka adalah detektif dari Harris Metropolitan Police Department,’ jawab Clara, mengacu kepada Sharon Wynter, kakak perempuan Elle yang berusia dua tahun di atasnya yang merupakan ibu Clara. ‘Mereka menyelidiki anomaly yang terjadi di Harris akhir-akhir ini.’
Nickie ingat bahwa, dalam dua bulan terakhir, sejumlah kejadian misterius terjadi di berbagai tempat di Harris. Kejadian-kejadian itu, yang oleh pihak yang berwajib disebut anomaly, berkisar dari hal-hal aneh yang tampak sepele, seperti mengalirnya air keran ke langit, melawan gravitasi, sampai munculnya kembali seseorang yang pernah meninggal dunia.
Anomali-anomali ini merupakan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan bukan sesuatu yang biasa terjadi, terutama di kota seperti Harris. Munculnya anomaly ini telah menjadi berita yang menghebohkan di seluruh penjuru Amerika, bahkan di seluruh dunia, dan sebab-sebab munculnya anomaly yang tidak jelas telah menimbulkan perdebatan sengit di seluruh dunia. Berbagai ilmuwan datang dari seluruh penjuru Amerika menuju Harris untuk meneliti anomaly-anomali tersebut, meskipun tidak ada dari mereka yang cukup beruntung untuk menyaksikannya secara langsung.
‘Aneh,’ kata Nickie, membalikkan tubuhnya kembali untuk menghadap Clara, ‘bukankah di sekitar sini tidak pernah terjadi anomaly? Mengapa mereka menyelidiki kemari?’
‘Mungkin karena itu mereka menyelidiki kemari,’ jawab Clara, membalikkan tubuhnya sehingga mereka berdua kembali saling berhadapan, ‘mengapa di tempat kita tidak terjadi anomaly.’
Kedua gadis itu tertawa berbarengan.
‘Tapi mungkin juga,’ ujar Nickie, menimang-nimang dagunya. ‘Oh, kasihan Mom, di pagi sedingin ini…’
Ia memeluk bantalnya erat-erat, bermaksud untuk kembali tidur dan menikmati pagi yang tenang, ketika mendadak pintu kamar mereka terbuka dan Danielle Wynter masuk.
Berusia 38 tahun dengan tinggi lima kaki delapan inci, rambut coklat keemasan dan mata biru yang identik dengan kedua Wynter, Danielle Wynter, atau Elle—ia tidak suka orang memanggilnya Dani—adalah salah satu alasan mengapa Nicolette bisa begitu cantik. Terlihat seperti gadis kuliahan berusia 20an awal, banyak yang tidak mengira ibu Nicolette itu memiliki seorang putri berusia 18 tahun. Elle adalah orangtua tunggal atas Nickie dan selisih usia mereka yang hanya 20 tahun membuat banyak orang menduga ia dulu seorang promiscuous, meskipun sejak Nickie bisa mengingat hingga sekarang ia tidak pernah punya pacar, bahkan sekedar one night stand. Nickie tidak suka orang-orang meng-address ibunya dengan sebutan promiscuous, ia percaya ibunya suci seperti malaikat. Beberapa orang bahkan mengira Elle adalah seorang lesbian, meskipun Nickie merasa sepertinya prasangka ini dikarenakan Elle tinggal bersama Sharon, adiknya.
‘Girls,’ panggilnya, menghampiri Nicolette yang sedang memeluk erat bantalnya dan menggelitiki dagunya, ‘maafkan aku membangunkan kalian sepagi ini, tapi aku ingin minta tolong.’
Nickie dapat mendengar Clara setengah menggerutu. Ia melirik alarm clock di cell phone-nya, masih seperempat jam lagi sebelum alarm clock-nya berbunyi.
Dengan manja, ia berpindah dari bantal ke tangan ibunya yang sedang meraihnya, lalu memeluknya erat-erat. ‘Mom,’ katanya manja, ‘aku masih mau tidur.’
Elle tersenyum melihat tingkah putrinya itu. ‘Sebentar saja, Sayang,’ katanya, ‘aku ingin kalian berdua membantu bibimu Sharon menyiapkan segala sesuatu selagi aku menerima tamu.’
Nickie dan Clara saling berpandangan sesaat, tanpa disadari Elle.
‘
Three days after, Nicolette woke up from her usual dreamless sleep. A natural, instinctive awakening half an hour before the time set in her alarm clock. It was half past six and was snowing outside, she could see the white powder pouring outside the window. The temperature was quite chilly, and it was Saturday anyway, so Nickie decided to take another half hour of nap.
Beside her bed, Nickie could see that Clara was thinking exactly the same. Seeing her awake, though half awake, this early on a Saturday was something pretty rare. They shared a sleepy smile before turned up against each other.
‘Poor auntie Elle,’ Clara said, mentioning Nicolette’s mother. ‘She has to welcome some guests early on this morning, at such cold morning.’
‘What guests?’ Nickie replied sleepily, she didn’t want to care much about it anyway if it wasn’t something about her mother. ‘And why were they planning to visit us this early?’
‘Mom said that they’re detectives from Harris Metropolitan Police Department,’ answered Clara, referring to Sharon Wynter, Elle’s sister and also Clara’s mother. ‘They’re investigating the anomalies occurring around here. Kinda strange, though, our neighbourhood seems to be unaffected with anomalies when there’s such things occurring all over the city.’
Nicolette remembered that, over past two months of late, a lot of anomalies occurred all over Harris. These anomalies were things that couldn’t be explained scientifically, but they did happen, despite
Tag:








