Hidup adalah pilihan, dan kita akan diminta pertanggungjawaban atas setiap pilihan kita....
"Seseorang menyambutku dengan senyum yang ramah, sepertinya mahasiswa kedokteran, dengan gaya pakaian seorang ikhwan.
“Assalamu’alaikum..” sambutnya ramah.
Aneh, padahal ikhwal yang akrab di telingaku tentang seorang salafy itu, angkuh-angkuh.. tidak pandai berakhlaq tapi hoby mencela.
“Wa’alaikum salam” jawabku sejuk.
“Antum baru ke sini ya, tinggal di mana?” dia mulai berakrab-akrab denganku.
“Iya, saya tinggal di Manyar Sabrangan”.
Sebuah sambutan yang hangat, sedikit menepis animo yang selama ini kudapat tentang mereka dari para karkun (bahasa ordo untuk sebutan seorang tablighy). Namanya Bambang berasal dari Lombok, anak Mahasiswa Kedokteran Unair, sepertinya masih terhitung baru tapi aku tidak berminat menanyakan sudah masuk semester berapa dia.
“Mas, kajiannya jam berapa?” aku tidak mampu membendung rasa penasaranku tentang mereka.
“Sebenarnya, kajian diadakan setiap hari Rabu ba’da Ashar, tapi selama bulan Ramadhan ini setiap hari menjelang berbuka ada kajian. Jadi antum bisa ikuti sebentar lagi”
Kebetulan aku menemukan Musholla Grahabik ini saat sudah hampir mendekati waktu sholat Ashar, jadi sekalian saja aku berbuka di sini dan mengikuti kajian mereka untuk pertama kali.
-------------------------------------
Ba’da Ashar aku tetap tinggal di dalam musholla itu, menunggu menit ke menit hingga mendekati waktu berbuka. Sampai satu demi satu ikhwan yang saya yakin mereka adalah salafy berdatangan dan berkumpul lumayan banyak.
Seseorang dengan tubuh yang kurus, pendek, berjenggot panjang hingga leher, dengan wajah yang cakap dan terlihat tegas sehingga mengkaburkan sosok dirinya yang mungil, duduk di depan sebuah meja kecil yang nampak biasa dipakai untuk membaca Alqur’an. Ternyata dia adalah orang yang membawakan kajian selama bulan ramadhan ini.
Kajian sore itu mengulas tentang aqidah sufiyah, atau yang biasa orang kebanyakan menyebutnya “ajaran tarekat”. Sebuah ajaran yang memiliki pemahaman bahwa manusia memiliki empat tingkatan keimanan, yakni Syari’at, Tarekat, Hakikat, Ma’rifat. Aliran sufi meyakini bahwa kaum muslimin secara umum masih ada pada tingkat syari’at yang dengan tingkatan ini mereka hanya mengenal segala sesuatu sebatas dzohirnya saja, mengenal perintah sholat, puasa, zakat, haji, dzikir, dan perintah ibadah yang lainnya hanya sebatas pelaksanaan secara dzohir saja, tidak sampai pada pemaknaan batinnya.
Adapun tingkatan Tarekat adalah mereka yang telah memasuki alam batin, merasa mampu memaknai apa yang tidak biasa dimaknai oleh manusia pada umumnya (bahkan sekalipun dia seorang ‘alim ulama), melihat apa yang tidak biasa dilihat, dan bahkan tafsir mereka terhadap ayat-ayat Al-qur’an atau pemahaman mereka terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering kali berseberangan dengan apa yang dipahami oleh para salaful ummah, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta para ulama yang selalu mengambil pendapat dalam perkara agama dari ketiga generasi itu.
Para pengikut sufi tidak merasa perlu mencocokkan cara sholat mereka, cara puasa mereka, cara haji mereka, serta cara-cara mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla yang lain agar sesuai dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena menurut mereka apa yang ada dalam hati dan jiwa itulah yang mereka persembahkan kepada Rabbul ‘alamin, bukan dzohir perbuatan. Rasa cinta mereka yang tinggi dengan menghadirkan Allah dalam kekosongan jiwa mereka adalah sesuatu yang lebih tinggi dan tidak bisa terukur dengan hanya sekedar sholat dalam gerakan-gerakan yang terlalu diperselisihkan caranya.
Kenapa hatiku merasa tersindir ya..,
Selama di Jama’ah Tabligh aku mendapatkan ajaran tersebut meskipun tidak dengan cara yang jelas mengatas namakan sufi. Bahkan, sampai pada tingkat keyakinan bahwa Allah tidak lain merupakan Dzat yang ada di dalam hatiku. Ketika aku berdzikir, maka aku merasakan dan meyakini sedang memanggil Dia yang ada dalam sanubariku, aku diajarkan untuk mengosongkan hati dari segala sesuatu dan mengisinya dengan kebesaran Allah yang akhirnya membuat seorang hamba mampu meyakini dan merasakan bahwa Dia ada dalam tubuh dan jiwanya. Sampai pada akhirnya aku merasakan sebuah penyatuan dengan diriNYA.
Namun, baru setelah mengikuti kajian ini aku mengetahui bahwa keyakinan seperti disebut sebagai keyakinan “Wihdatul Wujud” atau dalam bahasa jawa “Manunggaling Kawula Gusti”.
Aku diajak menyelam jauh dari pemahaman yang “dangkal” menurut kaum sufi, hingga akhirnya aku tersadar dengan sebuah hadits yang baru kudengar setelah rutin mengikuti kajian bermanhaj Salafy ini.
"Sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya (tabiin) dan kemudian orang-orang yang sesudahnya (tabiut at-tabiin)"(diriwayatkan oleh AL-Bukhory).
Sebuah hadits yang menjadi landasan bagi ikhwan salafy untuk menyandarkan setiap amal ibadah, prinsip-prinsip dalam beragama, dan sisi pandang sebuah masalah kepada tiga generasi pertama kaum mulsimin yang telah ditazkiyah (direkomendasi) oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tapi kenapa harus memakai nama “salafy” ya…., apakah itu tidak menunjukkan sebuah pengelompokkan madzhab, padahal mereka sering kali mencela fenomena hizbiyah (kelompok-kelompok dalam gerakan islam)
Pertanyaan ini segera terjawab dari hasil diskusiku dengan beberapa ikhwan yang telah lama menisbahkan diri pada salafy, meski sebenarnya aku bertanya sekedar untuk mencari-cari sisi kelemahan mereka juga…..
Salaf sendiri artinya adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikut mereka (tabi'in) dengan baik dari penghuni tiga kurun yang dimuliakan dan yang setelah mereka, inilah yang disebut dengan salafy. Bernisbah kepadanya artinya bernisbah kepada apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan kepada jalan ahlul hadits. Dan ahlil hadits adalah para pengikut manhaj salafy yang berjalan di atasnya.
Maka salafy adalah sebuah aqidah dalam masalah nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Juga sebuah aqidah dalam masalah qadar, aqidah dalam masalah sahabat, dan seterusnya. Maka para salaf beriman kepada Allah dan dengan nama-narna-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang Allah sendiri sifatkan diri-Nya dengannya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Mereka (para salaf) beriman kepadaNya menurut bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah tanpa melakukan tahrif (merubah kata hingga merubah makna), tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), ta'thil (meniadakan sifat bagi Allah atau menyatakan Allah tidak memiliki sifat apapun) dan ta'wil (mengartikan dengan salah, seperti misal; tangan Allah diartikan kekuasaan Allah. Ini salah. TanganAllah diartikan juga dengan tangan Allah. Tapi tidak boleh menyerupakannya dengan tangan makhluk-red).
Mereka para salaf juga beriman kepada qadar baiknya dan buruknya. Dan tidak sempurna iman seseorang hingga dia beriman dengan qadar yang Allah taqdirkan atas para hamba-Nya. Allah berfirman: "Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadarnya" (Al Qamar: 49)
Adapun dalam masalah sahabat, maknanya adalah beriman bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam wajib kita ridho kepada mereka dan meyakini bahwa mereka adalah orang yang adil. Mereka adalah sebaik-baik umat dan sebaik-baik kurun. Dan meyakini bahwa mereka semua baik. ini berbeda dengan keyakinan syi'ah dan khawarij yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak menghormati mereka.
Adapun dalam salafy tidak ada tokoh selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pemimpin kelompok ini dan panutan mereka. Dan juga para sahabat adalah panutan mereka. Dasar hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Telah terpecah orang-orang yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan dan terpecah orang nashara menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka, wahai Rasulullah? Beliau berkata: Mereka adalah orang yang berdiri diatas apa yang aku dan para sahabatku berdiri diatasnya." (HR Abu Daud dan dishahihkan syaikh Al Albani dalam shohih Sunan Abu Daud 3/115)
Dan juga beliau besabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu yang menerangkan tentang khuthbah beliau yang padanya beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah, maka beliau berkata: "Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dari Habsyi." Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba' kepada sunnahnya dan sunnah para khalifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: "Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setiap kebid'han adalah sesat." (HR Turmudzi dan dishohihkan syaikh Al Albani datam shohih sunan Turmudzi no.2830).
Keterangan ini demikian mengikis habis stigma buruk yang telah aku dapatkan sebelumnya…
----------------------------------------
Kurang lebih enam bulan hatiku terkungkung dalam dilema, antara rasa cintaku pada sebuah jama’ah yang pertama kali memupuk semangatku dalam bertaqarrub (mendekatkan diri)kepada Allah, dengan kewajibanku untuk mengambil sesuatu yang hati dan akalku telah bersepakat mengatakan bahwa itu haq (benar). Hingga akhir-akhir malam Allah mengaruniakan kekuatan padaku untuk bangun dan menghadap kepadaNYA. Bermunajat dengan sepenuh hati meminta petunjuk dan kekuatan hati, dengan doa yang diajarkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
”Allahumma arinal haqqo haqqo warzuqnattiba ‘ah, wa arinal bathila bathila warzuqnaj tinabah” (Ya Allah, tunjukkanlah pada kami yang haq itu sebagai sesuatu yang haq dan karuniakan kepada kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu sebagai sesuatu yang batil dan karuniakan kepada kami untuk menjauhinya)
Sampai pada masa yang kunantikan, kemantapan itupun hadir dalam asaku. Mantap untuk meninggalkan sebuah kelompok yang menawarkan sekian banyak penyimpangan aqidah, meskipun ada sedikit kebaikan pada mereka. Mantap untuk membenci keterikatan hati yang ada pada mereka meski aku masih mencintai kebersamaan bersama mereka…
------------------------------------------
Tahun 2003, pertengahan April, aku menerima tawaran Yusuf untuk merantau ke Makassar. Dia lebih dulu menyeberangi laut jawa awal tahun 2001 untuk menunaikan amanah orang tuanya agar bisa menyelesaikan studi di fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Setelah hampir dua tahun kita tidak pernah lagi berjumpa tiba-tiba saja dia mengirimkan suaranya melalui pesawat telepon milik tetangga sebelah rumahku.
Dalam obrolan singkat itu, dia menawarkan padaku untuk dating ke Makassar setelah tahu bahwa aku masih belum memiliki pekerjaan tetap. Rencananya dia akan menunjukkan padaku sebuah peluang bisnis kecil-kecilan di kampusnya, lumayan katanya untuk penghasilan, bahkan mungkin aku bisa saja kuliah katanya. Hmm, “kuliah” sebuah kata yang sejuk kudengar. Harapan jauh yang masih nampak sebagai fatamorgana di depan. Keinginan itu selalu berusaha kukubur menyadari keadaan orang tuaku yang tidak akan mampu membiayai anaknya hingga jenjang pendidikan setinggi itu.
Aku tidak berpikir panjang lagi, terlebih Ibu tidak merasa berat melepasku meski Bapak terkesan agak keberatan. “Lama-lama juga nanti pasti dapat kerja..” begitu ucap beliau untuk menahanku pergi. Namun, tekadku untuk menantang hidup sudah bulat. Restu seorang Ibu adalah bekal teramat cukup bagiku saat itu ditambah dengan semangat merubah nasib. Semoga saja ini adalah ikhtiar yang akan mengantarkanku pada perubahan yang baik. Bukankah Allah azza wa jalla yang telah memerintahkan hal ini..?
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11)
Bersambung.......
dikirim Syabab 26 minggu 3 hari yang laluTag:








