Aury's Mind...
"Aku mencintainya.
Tak ada alasan yang tepat untuk mencintainya. Aku mau menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya tanpa memberikan satu pun pertanyaan. Tidak ada keraguan yang tersirat saat aku mengucapkan semuanya itu.
Itu dulu.
Pandanganku menerawang, menatap langit senja yang berwarna kemerahan. Aku menghembuskan napas. Tak seperti hari-hari yang berlalu tanpa satupun pertanyaan dan keraguan. Saat ini berbagai bentuk pertanyaan berkumpul dalam kepalaku. Berbagai jenis keraguan bersatu dalam benakku.
Mengapa kami harus bertemu?
Mengapa aku harus jatuh cinta padanya?
Mengapa aku mempercayainya?
Mengapa aku mau?
Mengapa semua ini harus terjadi pada saat aku akan memulai tahun pertamaku di perguruan tinggi?
Mengapa, mengapa, dan mengapa?
Aku kembali menghembuskan napas. Aku harus menemuinya sekarang. Satu-satunya jalan yang dapat kutempuh hanyalah memberitahukannya. Mungkin ia dapat mengambil keputusan lebih baik dan lebih tepat daripada diriku.
Aku segera mengambil telepon.
“Halo?”
‘Halo, Aury ya? Ada apa?’
“Bisakah kita bertemu sebentar, Lexus?”
‘Tentu.’
* * *
Dalam sebuah café bernuansa elegan yang selalu kudatangi, aku duduk diam. Di depanku kini ada Lexus yang dengan santainya meminum coffee latte kesukaannya. Aku menghembuskan napas. Aku harus mengatakannya sekarang juga. Namun, bagaimana tepatnya cara memulainya?
“Lexus.”
“Ya?”
Aku kembali terdiam. Ragu untuk mengucapkan kelanjutannya.
“Ada apa Aury? Sejak tadi kau terlihat tak bersemangat.”
“Kau masih ingat pertemuan kita beberapa minggu lalu?”
“Ya. Aku mengerti maksudmu. Ada apa dengan malam itu?”
“Aku merasa itu sebuah kesalahan, Lexus.”
Lexus terdiam sejenak. “Mengapa itu menjadi sebuah kesalahan? Kau menyayangiku?”
“Ya.”
“Aku pun menyayangimu. Karena kita saling menyayangi, kurasa itu tidak salah.”
“Namun…”
“Apalagi yang kau risaukan? Semua akan baik-baik saja.”
Lexus tersenyum hangat berusaha menenangkanku. Ia bisa berkata begitu karena tak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Aku menghembuskan napas dan menatap dalam Lexus. Berusaha untuk meyakinkan diri.
“Lexus. Aku… positif. Hamil. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak mengerti mengapa bisa begini. Ini di luar perkiraanku. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Lexus? Apakah sungguh, perbuatan kita itu bukan sebuah kesalahan?”
“Bisakah kau biarkan aku berpikir selama beberapa saat?”
Aku menghembuskan napas.
Mungkin memang tak seharusnya kami melakukan itu.
Mungkin memang tak semestinya aku memberitahukan padanya.
Ini hanya akan menjadi beban. Sebentar lagi Lexus harus menyusun skripsinya. Sekalipun ia lebih tua tiga tahun dariku, tanggungan anak dan istri pada masa krusial seperti ini hanya akan menyulitkannya. Belum lagi, ia tak memiliki penghasilan sendiri. Apa yang sebaiknya kulakukan?
dikirim Olivierly 26 minggu 3 hari yang laluTag:









