Lexus Mind...
"Aku berbaring di kasur kusam yang tergeletak begitu saja dalam kamarku. Terdengar ketukan di pintu dan suara seorang lelaki yang mabuk dari luar kamar. Pastilah itu Henry, pria dari kamar sebelah. Aku lebih suka berpura-pura tak ada orang saat ini.
Aku menghembuskan napas. Aku tak percaya semuanya bisa menjadi rumit seperti ini. Aury positif hamil? Aku masih tak bisa mempercayai semua ini.
Aku memukul tembok dengan keras. Apa yang harus kulakukan sekarang? Menikahi Aury? Aku belum memiliki penghasilan. Dari mana aku dapat membiayai Aury dan anakku kelak? Atau mengaborsi anak itu? Tidak. Hati nuraniku tak kuasa untuk menyuruh Aury melakukan itu.
Brengsek! Aku kembali memukul tembok. Tanganku berubah menjadi merah.
Bodoh! Mengapa aku harus bingung? Aku sudah jelas mencintainya. Aku paling mengerti apa yang dia harapkan. Pertanggungjawaban. Aku hanya perlu meminta kedua orangtuaku datang dan kami akan melamarnya. Selesai. Hanya begitu saja.
Memangnya semudah itu? Sialan. Tentu saja tidak.
Pertama, kedua orang tuaku akan marah besar mendengarnya. Mereka selama ini bangga padaku karena telah mencetak berbagai prestasi. Bagaimana jadinya jika mereka mengetahui anak kebanggaan mereka ini tiba-tiba menghamili seorang gadis di luar pernikahan? Ini sungguh memalukan.
Kedua, orang tua Aury pun akan marah padaku. Anak semata wayang mereka dihamili oleh seorang pria yang bahkan belum bisa memberikan sepeser pun biaya. Apakah mereka akan mempercayakan Aury padaku? Aku tak bisa terlalu berharap.
Aku menghembuskan napas. Kuletakkan botol ‘Jack Daniel’ yang masih terisi setengah dan mengambil telepon genggamku. Tak ada gunanya aku berpikir sendiri. Biar bagaimanapun juga, aku harus memberitahukan ini pada kedua orang tuaku nantinya.
“Halo? Ini Lexus.”
‘Ada apa menelepon? Apakah ada sesuatu yang penting?’
“Begini, Ayah masih ingat pada Aury? Sebenarnya aku ingin memberitahukan kalau… eh… aku telah menghamilinya.”
Hening. Aku menghembuskan napas.
“Aku berniat menikahinya secepat mungkin.”
‘Jangan.’
“Apa? Tapi Yah, aku mencintainya.”
‘Dengarkan ayahmu. Kau jangan seenaknya mengatakan hal tersebut pada Aury. Percayalah, itu bukan ide bagus.’
***
Mengikuti apa yang ayah perintahkan padaku, aku sudah tak menghubungi Aury selama empat hari. Terkadang aku rindu suara lembutnya. Namun, semua harus kucegah untuk beberapa saat. Aku yakin jika semua ini selesai, semuanya akan senang.
Aku sedang berada di toko perhiasan dalam sebuah mall bersama Vinnie. Vinnie seorang gadis yang cukup manis juga, dan aku cukup menyukainya. Sebagai sahabatku, tentunya.
“Vinnie, bagaimana menurutmu?”
“Aku sangat menyukainya tahu. Motif bunga di cincin ini sangat manis. Semanis aku, bukan?”
Aku tertawa.
“Yang sangat menarik perhatianku, sekalipun manis tetap terlihat cocok bila digunakan oleh lelaki. Itu pasti karena motif dedaunan yang mengitari cincin ini. Jangan lupa ukir namanya, Vinnie. Sudah cepat dibeli saja.”
“Kau ini selalu terburu-buru. Memang…”
Aku tak sempat menyelesaikan kata-kataku karena saat aku melirik, ada Aury tepat di sebelahku. Sial. Mengapa aku bertemu dengannya sekarang? Setelah perjuanganku menghindarinya selama ini. Wajahnya nampak sangat tegang.
“Pria hina. Sementara aku cemas tak tahu harus bagaimana, kau ada di sini tertawa-tawa dan bermain dengan wanita lain. Kau bahkan memilihkan cincin sepasang untuknya. Aku tak mengira kau setega ini, Lexus.”
Astaga. Ia salah paham dengan kejadian ini.
“Bukan begitu Aury.”
Dengan cepat, tangannya bergerak memukul pipiku dengan sangat keras. Aury langsung berbalik dan pergi dengan terburu-buru. Sekilas, dapat kulihat air mata jatuh di pipinya.
dikirim Olivierly 26 minggu 3 hari yang laluTag:









