Kisah Riak - 4 -

76
points
"

Kegelapan malam ada apakah?
Tiada yang kulihat selain jalan menuju rongga kosong
Kisah suram semakin kelamkah?
Jiwaku ingin berlari lagi mencari sunyi
Namun tatapan anak kecil ini
Memaknai masa di mana cinta adalah pilihan
Dan aku harus memilih
Ntuk mencintainya
Sebagai gantimu
Sampai jemu
Terlelap
Senyap
.........
.......

"

Di hadapanku, Rian menahan tangisnya. Wajahnya menekuk, bibirnya menggelepar. Aku memilih untuk menghindar menatapinya karena sungguh, aku sangat menyesali penderitaannya ini. Bukanlah sesal karena merasa tak pantas ia menangis. Aku menyesal karena tak bisa memenuhi permintaannya... lagi.
"Mengapa ayah tak cari saja ibu baru buat kami?"
Hhhh...

Hal ini membawa benakku kembali ke masa sepuluh tahun silam, di saat kelahirannya. Namun tunggu! Lebih jauh lagi...

Saat itu usiaku dua puluh dua tahun. Memiliki kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan sekarang. Pemuda bergaya hidup bebas, pengamen jalanan. Tiada perempatan lampu merah yang tak pernah aku jajaki, tiada bus kota dan angkot yang tak pernah aku sergap. Siapa yang tak kenal Rudi Angkoso di arena jalanan, pengamen yang menciptakan lagu sendiri.

Keluarga sudah kutinggalkan sejak dua tahun sebelumnya. Bapakku selingkuh dengan mahasiswi ingusan, emakku membalas dengan pimpinan kantornya, seluruh saudaraku menjelma bebas tak terkendali. Tak mau hidup dengan kegilaan mereka semua, aku lebih gila, menyeberangi lautan, tak membiarkan berjejak.

Kebebasan membuatku berkenalan dengan puluhan dosa. Daun ganja barang biasa, minuman keras menjelma ringan, wanita jalanan, santapan penutup hari. Ternikmat dari segalanya adalah bernyanyi, mengungkapkan kecintaan kepada kepahitan. Manusia hina yang berjuang menghapus lembar pahit hidup. Namun, lembaran-lembaran itu tak pernah sungguh-sungguh mampu ku hilangkan. Malah semakin pahit.

Tersering pandanganku kosong berarak ke arah langit. Biasanya hal ini terjadi jika banyak insan bersikap derma hari itu. Banyak uang maka banyak barang yang bisa ku salah-gunakan. Namun kosong tak sebenarnya kosong, ada isak-isak sesal di sana. Kekeringan, kehancuran, kebencian. Benci atas takdir tak bersikap adil, hancur karena takdir yang kupilih sendiri.

Segalanya berubah semenjak kutemukan sesuatu yang begitu indah di dalam sebuah bus kota. Gaya duduknya yang kikuk, semua mata lelaki melirik. Duduk seolah dalam kelas kepribadian, punggung tegak, kaki rapat, tangan di atas paha. Aku adalah lelaki yang hanya berani sembunyi-sembunyi memandangnya di sela-sela nyanyian.

Perkenalan terjadi ketika ku merogoh recehan dari saku penumpang.
"Ga salahkah ini?" tanyaku merasa sangat heran.
"Oh! Ya... ya! Hanya itu. Kurangkah?"
Kurang? Sepuluh ribu dari satu kantong tentu lebih dari cukup. Aku mencegahnya ketika lembar merah lain hendak mendarat ke dalam topiku.
"Suaramu sangat mendebarkan hati," ucapnya anggun membuat hatiku terangkat terbang.
"Maaf. Saya akan lebih memilih mendapatkan nomormu daripada tambahan lembar uang," aku coba memberanikan diri. Dia menatapku, aku menjelma badut yang demam panggung.

Untung saja hari ini aku sendirian. Haryo, rekan ngamen yang membawa ku lari dari kota-ku, terlalu banyak melinting tadi malam. Jika saja dia ada di sini, niscaya diriku tak akan selamat dari ribuan ejekan di tempat kongkow kami. Rudi Angkoso, badut of the day.

"Aku akan memberinya jika kau bisa memberiku ide, tempat pelarian terhebat," jawabnya, membuatku heran.
"Aku bisa, asal kau siap dengan resikonya."
"Aku siap!" jawabnya. Tak terdengar suara yang begitu tegas, hanya datar. Namun aku sangat mengenal sorotan mata itu, yang pernah ku lihat pada diriku sendiri dua tahun sebelumnya. Tajam, penuh dendam.

Semenjak saat itulah, perlahan, seluruh lagu tercipta hanya untuknya. Hingga akhirnya setelah berminggu-minggu bersama, tiada lagi bus yang kunaiki, tiada lagi angkot yang kusergap, tiada lagi lampu merah.

"Apakah kini sudah dapat kutanyakan mengapa kau berlari, Tiara?"
Jawaban yang kudengar terbayang sangat akrab di telingaku. Selingkuh, kegilaan, kepahitan, neraka!!!
Dan malam harinya...
"Aku sangat mencintaimu, Tiara."
Dan dia tak bicara sepatah kata pun, hanya tangis.
"Aku akan bertanggung-jawab!"
Tangisannya malah semakin keras.
"Aku sungguh-sungguh, sayang!!!"
Aku tak pernah menyangka, air mata seorang perempuan bak mata air yang tiada habisnya. Aku sangat menyesal, menodainya atas nama cinta. Aku sangat ingat tempat itu, Hotel G'Rain, bintang lima, kamar 610, yang sangat mudah dibayar Tiara hanya dengan menggesekkan kartu ajaib.

Setelah berbagai kesengsaraan hidup terlewati, keputusan untuk mengusir diri... Bayi itu pun terlahirkan prematur... autis.

"Apakah nama yang akan kau sematkan padanya, ayah?"
Label itu, ayah. Sesuatu yang membuat hatiku teriris. Di saat yang sama ada kehangatan yang mengalir di buluh nadi.
"Riak," ucapku.
"Rian Akbar," sambungku membelai rambut Tiara.

"Rian, raja kecil. Akbar, besar, seperti cinta kita berdua. Riak, tenang dan mendamaikan," kuajak Tiara meresapi riak.
"Nama yang sangat bermakna," ucap Tiara. "Sekarang, bisakah aku beristirahat?"
Ia sangat lelah dan hampir tak terselamatkan. Di ruang sempit ini, di tempat pelarian kami.
"Jangan tinggalkan aku, Tiara," bisikku. Kugendong Rian, yang tadi malam tak memiliki cukup tenaga untuk terlahir dengan tangisan.

"Ayah!! Kok ga dijawab?"
Lamunanku terpotong jeritannya.
"Apa, sayang?"
"Maukah ayah mencarikan ibu baru buat kami? Paling tidak untuk Rani sajalah, kasihan adik tak pernah merasakan punya ibu."
Kuelus kepalanya.
"Tidak bisa."
"Tapi, mengapa?" protesnya, kutarik nafas panjang.

"Rian... Suatu saat nanti engkau akan mengerti apa itu cinta."
Mata kami berdua beradu pandang. Ada kekalutan di matanya, ada kepedihan di mataku, ada kenangan indah dan pahit di pikiran kami berdua... tentang Tiara, yang telah meninggalkan kami di sini.

*** bersambung...

Your rating: None Average: 6.9 (11 votes)
dikirim RIAK 19 minggu 6 hari yang lalu
Tag: