Napas Supri terdengar semakin berat. Tangannya mulai bergetar dan genggamannya mulai lemah. Darah terus mengalir dari lubang-lubang peluru di tubuhnya. Namun, di tengah desingan peluru senapan musuh, Karto tetap berlutut di samping sahabatnya.
“Tenang, Supri. Tenang. Jangan banyak bicara. Kita pasti dapat keluar dari sini dengan selamat,” kata Karto mencoba menenangkan. Tak sampai sepuluh meter dari mereka, sebuah granat meledak. Pasir dan batu beterbangan dan berjatuhan di atas pelindung kepala mereka.
bagian endingnya kok kurang yah bang wehahaha.. Maksudku, kurang deskripsi ledakan granatnya itu. Kurang menggambarkan bahwa terjadi ledakan besar yang membuat kendaraan baja itu melayang eberapa senti dari atas tanah dan hancur. Yak, kurang itu aja sih menurutku..
Sedkit menambahkan dari Bang Tedjo?? Mungkin dalam deskripsi, ada baiknya sedikit menambahkan anak-anak kalimat (agar kalimatnya gak terkesan minim deskripsi). Atau dengan istilah lainnya, kalimat majemuk.....
how is ging?, heiyah...lama tak sign in to this site, jadinya baru komen. saya suka tema, plot, dan pesan yang sudah kamu coba bangun, tapi saya merasa kok kamu agak pelit..deskripsi ya..
contoh pada kalimat "Napas supri...dst" cuman satu kalimat ajah untuk menggambarkan kondisi supri..sebanarnya kalo misal ditambah lain, saya kira hasilnya lebih dramatic loh..lalu konektor "namun"nya musti dipikir dulu
oleh pembaca..ya mungkin karena minim diskripsi itu...tapi saya saya setuju dengan komen sebelumnya..ini dedikasi yang luar biasa untuk tema sejarah, salut Bro...
membaca ceritamu ini, seperti menguak rerentet ketakberdayaan pelaku sejarah, dan memilih mati dengan secara luar biasa -mati gaya anjing- karena teman pasukan telah melupakan slogan kebanggaan.
luar biasa! apalagi jika saja cerita ini dikemas dengan lebih "serius", seperti pola penulisan, teknik penulisan, dan penggambaran karakter.
mati gaya anjing, mengkaing-kaing diantara lucutan peluru berdesing. MAti gaya anjing, mungkin bau pesing bahkan bisa jadi muter-muter kayak gasing. Tak ada arah, mati langkah dan pasrah.
mati gaya anjing,....tak peduli orang pada bergunjing, dan bilang aku sinting. Sudahlah...biarkan aku mati dan dikenang sebagai pahlawan...(supri)
Hehehe seharusnya adegan Karto meninggalkan Supri di medan pertempuran bisa lebih dibuat berderai-derai air mata (itu lhokayak di film-film perang).
Dari segi cerita walaupun ceritanya cukup singkat tetapi cukup tuntas.
Aku berkesimpulan ceritamu bukan tentang anjing. Tetapi tentang seseorang yang lebih memilih mati sebagai pahlawan daripada mati sebagai "anjing" yang tiada berguna, seperti para koruptor dan penjahat kriminal. Bukan kah begitu?
Kasian juga dia, akhirnya diapun mati seperti anjing, mautnya tetep dari kendaraan besi yang diciptakan oleh manusia. Karya yang satu ini sangat ringan untuk dibaca ... menyegarkan, apalagi barusan liat aksi demo anarkis di tv yang bikin males. SIP kawan !!!
jarang ada cerita seperti ini.
cerita yang lupa akan EYD, menjadikan cerita ini khas sekali untuk orang-orang seperti supri dan Karto.
tapi kenapa tiba-tiba di ending jadi turun yah???
saya tidak merasakan adanya klimaks disana.
wah, akhrny baca tulisan wehaha.. ^^
cerita yg unik, settingnya gag biasa, tokohnya juga. idenya bagus sekali..
tp, iya, kurang berderai air mata ini, bagian karto dn supri akn berpisah..
;)
ah, but nice..
bagian endingnya kok kurang yah bang wehahaha.. Maksudku, kurang deskripsi ledakan granatnya itu. Kurang menggambarkan bahwa terjadi ledakan besar yang membuat kendaraan baja itu melayang eberapa senti dari atas tanah dan hancur. Yak, kurang itu aja sih menurutku..
Maap yah Om kalo sok toyy.. ehehe.. ^o^
kalau ada waktu mampir2 ke cerpenku : Melodrama Sepasang Mata yaahh..
makasih banyak sebelumnya..
^_^
eheheh iyak, aku suka tema ceritanya!!
Sedkit menambahkan dari Bang Tedjo?? Mungkin dalam deskripsi, ada baiknya sedikit menambahkan anak-anak kalimat (agar kalimatnya gak terkesan minim deskripsi). Atau dengan istilah lainnya, kalimat majemuk.....
Kalau sempat mampir ke Secrets (1st Day) ya!!
keren banget weha. bagus sangat. bisa dibuat lebih "penuh" lagi ya, kayaknya?
dan yah, kalimat terakhirnya kuat banget. a very very very nice piece indeed. =D
how is ging?, heiyah...lama tak sign in to this site, jadinya baru komen. saya suka tema, plot, dan pesan yang sudah kamu coba bangun, tapi saya merasa kok kamu agak pelit..deskripsi ya..
contoh pada kalimat "Napas supri...dst" cuman satu kalimat ajah untuk menggambarkan kondisi supri..sebanarnya kalo misal ditambah lain, saya kira hasilnya lebih dramatic loh..lalu konektor "namun"nya musti dipikir dulu
oleh pembaca..ya mungkin karena minim diskripsi itu...tapi saya saya setuju dengan komen sebelumnya..ini dedikasi yang luar biasa untuk tema sejarah, salut Bro...
gruß
membaca ceritamu ini, seperti menguak rerentet ketakberdayaan pelaku sejarah, dan memilih mati dengan secara luar biasa -mati gaya anjing- karena teman pasukan telah melupakan slogan kebanggaan.
luar biasa! apalagi jika saja cerita ini dikemas dengan lebih "serius", seperti pola penulisan, teknik penulisan, dan penggambaran karakter.
jangan berhenti menulis kawan!
mati gaya anjing, mengkaing-kaing diantara lucutan peluru berdesing. MAti gaya anjing, mungkin bau pesing bahkan bisa jadi muter-muter kayak gasing. Tak ada arah, mati langkah dan pasrah.
mati gaya anjing,....tak peduli orang pada bergunjing, dan bilang aku sinting. Sudahlah...biarkan aku mati dan dikenang sebagai pahlawan...(supri)
Makasih smuanya atas komentar dan feedbacknya.
Sinichi : Iyap. Sudah kubaca cerita2 anjingnya. ^^
rip89 : salam kenal jg. Sudah kukomen kan? ^^
Arra: lupa akan EYD? Enggak tau d. Mnurutku itu EYD nya sudah lumayan. ^^
dhewy_re : besok anjing gila. ^^
Bambi : Betul!!! ^^
satriyopena : sering2 bereksperimen sajah ^^
dll dll : makasih smuanya!!! ^^
Ahahaha.. Antara kocak dan heroik ceritanya.. Good job yo!...
Jadi pengen bikin model flashback2 gini... :)
Keep up the good work!
Hehehe seharusnya adegan Karto meninggalkan Supri di medan pertempuran bisa lebih dibuat berderai-derai air mata (itu lhokayak di film-film perang).
Dari segi cerita walaupun ceritanya cukup singkat tetapi cukup tuntas.
Aku berkesimpulan ceritamu bukan tentang anjing. Tetapi tentang seseorang yang lebih memilih mati sebagai pahlawan daripada mati sebagai "anjing" yang tiada berguna, seperti para koruptor dan penjahat kriminal. Bukan kah begitu?
"Mungkin matimu seperti anjing, teman. Tapi anjing pahlawan."
-Karto-
best quote di cerita ini!!X)
======================
Pssst!..Check this out!!..
http://kemudian.com/node/135077
Kasian juga dia, akhirnya diapun mati seperti anjing, mautnya tetep dari kendaraan besi yang diciptakan oleh manusia. Karya yang satu ini sangat ringan untuk dibaca ... menyegarkan, apalagi barusan liat aksi demo anarkis di tv yang bikin males. SIP kawan !!!
YEA..CH.., enak bacanya bro, perang yang tidak menegangkan, ada tertawa dan ada makna
ya ampuunnn mbak wehahaha. kali ini nulis tentang anjing pahlawan besok anjing apa lagi???
jarang ada cerita seperti ini.
cerita yang lupa akan EYD, menjadikan cerita ini khas sekali untuk orang-orang seperti supri dan Karto.
tapi kenapa tiba-tiba di ending jadi turun yah???
saya tidak merasakan adanya klimaks disana.
wa wa wa
anjing tipe pejuang nie
bagus banget deh sumpah
lihat karya aku donk
and salam kenal kk
sekali-sekali 'anjing'pun perlu dihormati.
waaaahhhh....
saia debar-debar baca cerita heroik gini..
bagus...
anjing pahlawan.
btw, tahu Paijo RX kaga?