wakakakakkakakakakaka
makin ancur aja
mohon komentar dari para senior
"Chapter 11: Code Name; 'Will'
Zona Tempur Space Station Celestial
Pertempuran telah pecah kembali. Kali ini Aconite mengeluarkan semua pasukan mereka. Bala-bantuan yang baru tiba tidak banyak membantu.“Tyrano Skuad, tetap pada formasi. Kita serang kapal induk mereka!”
“Siap!”
Tyrano Skuadron membentuk formasi v lalu maju menyerang. Dian di bagian depan formasi memipin penyerangan. Begitu gambar musuh muncul di radarnya, tanpa menunggu waktu lama dia melepaskan empat buah rudal. Langsung saja beberapa Aconite Destroyer berubah menjadi sampah luar angkasa.
“Kapten Sayang, habis ini kita kencan yah.” Kata Kasmir tiba-tiba.
“Eh!!?” muka Dian memerah.
“Ha…ha…ha… mukamu aneh sekali.”
“Sialan!”
“Jadi bagaimana, Kapten Sayang?”
“Kalau kamu bisa menghancurkan sebuah kapal induk Aconite, aku bersedia.”
“Ha…ha…ha… Oke Kapten Sayang.”
Kasmir mengendalikan MFU-nya keluar formasi dan menerjang musuh sendirian. Dikerahkannya semua kemampuannya untuk memenangkan hadiah itu.
“Kapten Sayang, lihat manuver yang baru saja kuciptakan.”
Kasmir membanting tongkat kemudi MFU-nya. MFU-nya berputar-putar seperti tornado. Lalu dia menekan tombol merah untuk menembakkan rudal. Rudal yang dia tembakkan ikut berputar-putar dan menghancurkan beberapa Aconite Destroyer.
“Gimana? Hebat bukan?”
“Lumayan…” Kata Eko cuek.
“Lumayan…? Butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembangkan manuver itu! Memangnya kamu punya manuver yang lebih bagus?” Katanya dengan kesal.
“Sudahlah. Buat apa gaya-gayaan. Yang penting tingkat efektifitas tembakan.” Akmal menambahkan.
“Akmal! Kamu itu dipihak siapa sih?”
“Bukan keduanya. “
“Ah!!! Dasar orang-orang yang tidak mengerti seni.”
“Kalian! Ayo konsentrasi!!!” bentak Dian.
“Maaf Kapten Sayang.”
“Dan berhenti memanggilku seperti itu!”
“Baiklah sayang. Tapi jangan lupa dengan janjimu ya. Ha…ha…ha…”
***
Ruang Kendali Aquatids
“Komandan, ada kontak dari Kolonel Adam.”
“Apa?! Sambungkan!”
Gambar Adam yang masih mengenakan armor muncul di layar. Mukanya terlihat tegang.
“Laksamana, kalian semua harus pergi dari tempat itu!”
“Apa maksudmu?”
“Cepat! Perintahkan semua pasukan bala-bantuan untuk mundur.”
Tiba-tiba layar terlihat kacau. Semua peralatan komunikasi mulai kacau.
“Laksa..na, me…ka b..niat me…..kan ….”
Gambar Adam terlihat terputus-putus lalu menghilang sama sekali.
“Ada apa ini!?” Tanya Laksamana Adiguna berang.
“Sepertinya komunikasi jarak jauh kita dikacaukan oleh musuh, Komandan.”
“Sial! Bagaimana kontak dengan Skuadron kita?”
“Hubungan jarak dekat masih bisa dilakukan.”
“Bagus. Kontak Tyrano Leader!”
Tak lama kemudian gambar Dian muncul di layar.
“Segera kembali ke Aquatids!”
“Ada apa komandan?”
“Aku juga mengharapkan jawaban dari pertanyaan itu. Segera mundur!”
“Siap!”
***
Dock 2
Adam meloncat turun Dari MAU-nya. Diikuti oleh Aura dan Flux. Bergegas mereka menuju Ruang kendali Aquatids.
“Laksamana, cepat! Kita harus pergi dari sini?” kata Adam begitu tiba di ruang kendali Aquatids.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Mereka berniat menggunakan Helios Cannon (Beam cannon yang menggunakan reaksi fusi berantai dan ketelitian serangan yang tinggi. Besar tembakannya memang terlihat mirip dengan Shyncro Cannon tapi tenaganya ratusan kali lipat).”
“Apa maksudmu? Apa itu Helios Cannon.”
“Senjata terhebat mereka.”
“Senjata yang telah menghancurkan planetku.” Tambah Aura.
“Lalu?”
“Mereka berniat menggunakan senjata itu untuk menghancurkan Celestial.”
“Jika kita pergi, bagaimana jika Celestial jatuh ke Terran.”
“Tidak masalah, Terran telah mempersiapkan diri untuk itu. Mereka telah memasang barrier di tempat yang mungkin menjadi lokasi jatuhnya Celestial.”
Laksamana Adiguna berpikir sejenak. Menimbang-nimbang semua kemungkinan yang bisa terjadi. Tak lama kemudian, dia tiba pada sebuah keputusan. Sebuah keputusan yang akan menyelamatkan mereka, atau malah menghancurkan mereka.
***
Zona Tempur Space Station Celestial
“Kapten Dian, segera kembali ke Aquatids!”
“Siap Komandan. Tyrano Skuad, mundur.”
“Lho, ada apa kapten? Kenapa kita mundur.” Tanya Eko.
“Ini perintah dari Komandan.”
Tyrano Skuadron satu-persatu berbalik menuju Aquatids.
“Ada apa sebenarnya.” Pikir Dian dalam hati.
Tiba-tiba MFU Sersan Akmal meledak. Sebuah rudal baru saja menghantam bagian belakang formasi Tyrano Skuadron.
“Apa yang terjadi?”
“Entahlah kapten. MFU Akmal tertembak.” Jawab Syarif.
“Tapi aku tidak mendeteksi kedatangan serangan itu di radar.”
“Tyrano Leader ke Aquatids. Komandan, ada pesawat aneh yang menyerang kami. Pesawat itu sama sekali tidak terdeksi di radar.” Lapor Dian.
“Apa!!?” Gambar Adam muncul di layar komunikasi. “Tidak mungkin dia ada di sini.”
“Memangnya siapa dia?” Tanya Eko penasaran.
“Prajurit terkuat Aconite. JLIC-16, Code Name : ‘Will’.”
“Will?”
“Pesawatnya memang tidak bisa tampak di radar. Kalian hanya bisa melihatnya secara langsung.”
“Sial!” Dian memukul Layar komunikasi dengan emosi.
“Kapten, izinkan aku menghadapinya.” Syarif tiba-tiba memisahkan diri dari formasi. “Kalian segera kembali ke Aquatids.”
“Apa maksudmu Syarif?” Eko mengontak Syarif. “Bagaimana kamu bisa mengalahkan pesawat yang tidak terlihat?”
“Dia tidak perlu dikalahkan bukan. Yang penting kalian punya cukup waktu untuk tiba di Aquatids.” Syarif memutuskan kontak dengan Eko dan Tyrano Skuadron. “Baiklah, kita lihat seberapa hebat ‘Will’ ini?”
***
Zona Tempur Space Station Celestial-tempat Pertempuran Syarif vs ‘Will’
Syarif mengendalikan MFU-nya dengan lincah. Mencoba mencari-cari musuh. Dia sadar kalau tanpa mengandalkan radar kemampuannya berkurang jauh. Tapi Bagaimanapun, Tyrano Skuadron tidak akan bisa tiba dengan selamat jika tidak ada yang menghadapi pesawat aneh itu.
Tiba-tiba dia mendengarkan suara di alat komunikasinya. Syarif terkejut, bukankah dia telah memutuskan kontak dengan Aquatids dan Tyrano Skuadron.
“Kupuji keberanianmu.”
“Siapa ini?”
“Prajurit Aconite yang akan menjadi malaikat maut bagimu.”
“Ho…. Jadi kamu ‘Will’.”
“Terserah kamu ingin memanggilku apa.”
“Tapi sepertinya, kali ini kamu yang akan menjadi sampah luar angkasa.”
“Bodoh juga ada batasnya.”
Kontak dari ‘Will’ terputus bersamaan dengan tembakan misil yang mengarah tepat ke kokpit Syarif.
Syarif menarik tuas kemudi dengan kuat. MFU-nya menukik ke atas pada saat yang tepat. Terlambat sedikit saja, dia pasti sudah tidak ada di dunia.
“Lumayan juga untuk seorang prajurit Aconite.”
Syarif menekan beberapa tombol di panel senjata. Bersiap menembakkan rudal.
Dia menggerakkan pesawatnya membentuk angka delapan sambil menembakkan empat buah rudal.
Tapi rupanya Will bukanlah prajurit yang bisa dianggap remeh. Dengan sekali elakan, dia menghindari tembakan Syarif dan pada saat bersamaan menembakkan Beam Cannon.
Syarif membalas tembakan Beam Cannon itu dengan Shyncro Cannon. Tembakan itu bertemu dan menghasilkan ledakan cahaya.
Tiba-tiba, dari arah ledakan muncul sebuah pesawat hitam dengan tiga buah roket pendorong. ‘Will’! Pesawat itu menembakkan Beam Cannon.
Syarif tidak sempat menghindar. Beam Cannon itu menghantam pesawatnya dengan telak.
***
Ruang Kendali Aquatids
“Tidak mungkin…”
Eko berteriak keras begitu melihat MFU Syarif dihancurkan. Dengan penuh amarah Eko meraih helmnya dan berlari keluar ruang kendali.
“Hei, mau ke mana kamu?”
“Mau kemana!? Sudah jelas kan, akan kuhancurkan Aconite brengsek itu!!!”
“Tidak, kita tetap di sini sampai ada perintah selanjutnya dari Komandan.”
“Apa katamu! Dia baru saja menghancurkan sahabatku. Akan kurobek-robek pesawatnya kecil-kecil.”
“Aku mengerti perasaanmu. Tapi, dia hanya akan menghancurkanmu jika kamu pergi dalam keadaan marah.” Adam menambahkan.
“Cih, penghianat sepertimu tahu apa.”
“Aku tidak tahu. Tapi Aura bisa membaca pikiranmu.” Adam berbalik dan menyenangkan Aura yang terlihat ketakutan.
“Eko, Syarif gugur demi memastikan kalian tiba di Aquatids dengan selamat. Jangan sia-siakan pengorbanannya dengan maju membabi-buta.” Kata Laksamana Adiguna menenangkan Eko.
“Benar apa yang dikatakan Komandan.” Tambah Kasmir.
“Ugh...” Eko membanting helmnya. “Baiklah. Tapi aku akan tetap menghancurkan pesawat bodoh itu.”
***
dikirim addang13 18 minggu 6 hari yang laluTag:













