Awan kelam menggantung. Aku melihatnya seolah langit sedang menanggung beban yang teramat berat. Gelap bahkan telah menyeruak. Masih musim hujankah? Bukankah saat ini akhir Mei?
Aku berjalan agak cepat. Jika tak cepat maka hujan pasti akan menjebak. Genderang tanda hujan bahkan telah ditabuhkan. Aku yakin sebentar lagi pasti hujan.
Dan benar saja. Deras membuat tubuhku kuyup kebasahan. Aku berlari menyeruak diantara hujan. Membelah jalan mencari tempat perlindungan atau sekedar kendaraan untuk membawaku pulang. Tapi tak ada, jadi aku diam saja dibawah naungan atap kios jalanan.
Beruntung!
Lewat di depanku delman. Aku naik dan merasa bersuka cita. Aku bisa pulang meskipun kedinginan.
Delman membawaku serta melewati Gunung Batu dan sampai di Cimindi. Dan di sinilah aku turun dengan riang sampai ketika aku membayar ongkos.
“dua ribu neng!” Kata Mang Delman dengan dahi agak tertekuk.
“Uhuk-uhuk” Aku batuk sebelum melancarkan protes. “Kok naik? biasanya seribu lima ratus?” Aku mencoba bertahan.
“BBM naik neng!” katanya menyerang.
“uhuk-uhuk” Aku merasa batukku makin parah setelah aku kehujanan “Delman kan nggak pake BBM!” Layaknya Edwin Van Der Sar yang menahan gempuran tendangan pinalti Anelka saat Final Piala Champion, aku kukuh bertahan, meskipun saat itu kakiku mulai gatal karena kebasahan.
“Rumput buat kudanya naik juga neng!”
“uhuk-uhuk” Aku hendak melancarkan protes, tapi batuk menerjang lebih gawat dari biasanya, apalagi sekarang dingin mulai menusuk sampai tulang. Daripada aku kena hipotermia, aku beri juga Mang Delman tambahan lima ratus.
Dan Mang delman pun kembali cerah ceria, tekuk di dahinya hilang tak berbekas berpindah pada dahiku yang kini tertekuk. Sebal.
Rating
Comments: 25
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
bener-bener cerpen..
namun permainan logikanya lumayan keren..
mmmmmmmm lucu aja
lucu.mengalir. dan pastinya pengalaman pribadi. tapi kenapa mesti terus uhuk-uhuk...?
batuknya udah sembuh kok...
ceritanya mengalir, membumi, dan butuh obat batuk tuh kyknya hahaha
Hehehe, BBM mang bisa ngerembet kemana2... Mestinya kamu bilang obat batuk juga naik mang... :)
Bagus idenya Ken, ini kejadian nyata pastinya ya??
aku jatuh cinta nih...
Kocak juga ^^
kusirnya minum BBM tuh ken. huehue..
selalu saja penulis yang menyebut dirinya Kenary memiliki empati yang kuat terhadap lingkungan. sebab memang itulah daya hidup para penulis: empati terhadap sesama (ingat! bukan sesama jenis lho)
dengan karakter ini, Kenary tentu memiliki pengamatan yang jeli atas kehidupan. sebuah bekal yang diperlukan jika hendak menggeluti dunia tulis-menulis.
bravo. hebat, mojang ti cimahi iyeu.
i like the way you tell bout this story... hahaha
lebih enak dipost di blog, MP-mu itu lho... ;)
selalu... selalu... berbau sedikit politik.
BBM naik, rumput pun naik.
*rok cewek2 pada naik gak yak?
hwahahahaha........ :D
piss
Kenapa tag-nya cinta ya? Bukannya seharusnya Humor? Btw ini lucu dan menyegarkan...bisa dibikin kumpuan catatan harian nih kalo dibikin terus....
walah-walah...semua bisa jadi cerita emang. Hanya saja kok sepertinya antar paragraf kehilangan korelasinya yah. padahal ada bagian-bagian yang lucu dan nyaris membuat saya tertawa
deskripsi yang bagus...
hehehe... bagus, bagus, enak dibaca & menghibur....
nice...
Salam,
Tapi menghibur kok. Pendukung MU ya? Kenalkan, dsini pendukung Liverpool. ^^ Stuju dengan jornabae, kalimat akhirnya mematikan. ^^
aLami beNeR...
^^
***tekuk di dahinya hilang tak berbekas berpindah pada dahiku yang kini tertekuk. Sebal.***
Selalu...km lahirkan kalimat dari sisi pikir yang hayati.
tancap trus neng!!!!
yaah, neng nambah lima ratus doank aja...
hehehe
menang euy.... vds 1
lho kok malah champions tho....
kembali ke cerpennya kenary...
waktu yang singkat itu masih terasa singkat deskripsinya,
kalimat2nya bagus ken.....
hmmmm....
Aku suka ama deskripsi kamu..
Terus berkarya ya,,,,
kok van der sar..??
jadi teringat malam final ketika ku sakit hati..
heuheu...
tapi buat isi cerita..??
kereen..!!