BULAN kian meninggi dan angin kunjung bertiup. Terkadang membelai kumpulan dedaunan pada ranting-ranting pohon berbenalu, menerbangkan debu-debu mikroskopik, juga mempengaruhi kelembaban udara. Menambahkan hawa dingin ke tiap lapisannya. Empat lampu berada di tiap sudut taman dengan menyorotkan cahaya kuning terang berdiri bak tugu selamat datang. Mengundang kehadiran ngengat, beberapa ekor nyamuk, dan kupu-kupu bercorak belang mengelilingi neonnya, seakan sedang berpesta melahap sorotan cahaya. Menjadikannya sebagai menu utama pada malam itu.
Di tengah-tengah—dekat sebuah pohon pinus raksasa, sepasang insan tengah melepaskan kerinduan seakan telah berpisah dalam waktu yang cukup lama. Mereka duduk di sebuah bangku taman dengan pencahayaan seadanya.
Pandangan mereka lebih lama makin berkait erat, seakan-akan tak mau lepas. Mereka selalu punya alasan untuk bercakap-cakap sambil saling menatap. Dari balik tumbuhan semak, terlihat turunan Adam dan Hawa itu berciuman. Bibir mereka saling merapat sesaat. Keduanya tengah larut akan sensasi hubungan yang sebenarnya. Lembut. Terasa lembut sekali jika dilakukan dengan keikhlasan. Tanpa paksaan.
Dalam hitungan detik, bibir mereka telah menjauh namun sensasi klasik tadi belum mau pergi dari kedua indera pengecap itu.
Muka sang wanita memunculkan semburat, bagai langit sore yang kebetulan saat itu tak tertutup awan. Rambutnya panjang bergelombang dengan warna hitam yang berkilau sangat menawan. Wajahnya teduh bagai pohon penghalau terik mentari dan bibirnya yang mungil seakan menjadi pelengkap semua keindahan fisik yang dibuat dengan tingkat kesenian bernilai tinggi. Ia mengecap bibirnya sekali. Emm... terasa manis.
“Kenapa kau mencium aku?” Bisik Julie dengan suara bergetar. Pandangannya tajam menembus kalbu lelaki di hadapannya yang malah ikut tersipu.
“Karena aku ingin menciummu,” kata Crish dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan segala perasaannya. Ya, malam ini akan mengakhiri semuanya. Whatever will be, will be. Que sera sera!
“Tetapi aku tidak ingin...” ucapan Julie terputus, masih bergetar walau agak samar.
Crish tersenyum lembut. Wajahnya yang oval dan penuh pesona tak kuasa untuk diacuhkan. “Tidak ingin dicium?” tanyanya pelan sambil melawan pandangan Julie dengan sekuat hati.
Julie lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Air mukanya tiba-tiba mengeruh, seperti sungai besar yang penuh lumpur akibat hujan berkepanjangan.
Crish diam, menguatkan hati, merasa tidak punya pilihan lain. “Aku mencintaimu, Julie. Aku sayang padamu,” jelas Crish. “Kita sudah berpacaran hampir empat tahun lamanya. Kau sudah mengenalku luar-dalam dan begitu pula aku telah mengetahui baik dan jelek sifatmu.”
Julie tetap memandang tanpa gentar. Siluet senyuman muncul di bibirnya. Matanya seolah-olah bertanya, apa yang sebenarnya akan dikatakan Crish.
“Se... sebenarnya, aku mengajakmu ke sini karena ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan,” ucap Crish panjang.
“Apa?”
Crish terdiam, mengumpulkan kembali keberaniannya. Ia merogoh sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya, kemudian memberikannya kepada permaisurinya itu.
“Terimalah, Julie. Tanda bahwa aku benar-benar serius menjalani empat tahun hubungan kita yang sangat mengesankan.”
“Apa ini?” tanya Julie saat ia menerimanya.
“Kotak hadiah. Bukalah. Kau pasti akan suka.”
Julie membukanya perlahan dan matanya langsung terbelalak. Di dalam kotak, ada cincin zambrud tujuh karat, dikelilingi berlian tiga karat, dipasang pada platina.
Julie menatapnya dengan rasa tak percaya.
“I... ini terlalu mewah sebagai hadiah. Ini...” katanya masih terkejut.
“Aku akan memberimu bulan bila kau memintanya. Julie, aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh.”
Julie memeluk pria di depannya itu erat-erat, tenggelam dalam rasa bahagia yang belum pernah dirasakannya. Lalu ia juga mengatakan sesuatu. “Aku juga mencintaimu, Sayang.”
Wajah Crish berseri-seri. “Kalau begitu, maukah kau menikah denganku? Kita...”
“Tidak!” potong Julie. Bunyinya seperti cambukan hebat di telinga Crish.
Crish memandangnya kaget. “Kenapa?”
“Aku tidak bisa.”
“Julie, apakah kau tak percaya bahwa aku mencintaimu?”
Sembari menunduk, Julie berkata, “Tentu... tentu saja aku percaya. Sangat percaya.”
“Kau mencintaiku?” Crish memastikan.
“Ya.”
Crish lalu bertanya dengan wajah heran. “Jika kau memang mencintaiku, lalu mengapa kau tidak mau menikah denganku?”
Julie terdiam sesaat.
“Tentu saja aku mau sekali, tapi... tapi aku tidak...” suara wanita itu tercekat.
“Kenapa?”
Crish menatapnya bingung. Julie tahu, begitu ia menceritakan rahasia ini kepada Crish tentang pengalaman traumatis yang pernah terjadi padanya, Crish pasti tidak akan mau bertemu lagi dengannya. Oleh karena itu, rahasia ini terus disimpannya dari Crish selama empat tahun lamanya. Namun hari ini—malam ini, ia akan menceritakan semuanya. Toh, kesetiaan akan teruji di sini.
“Aku... aku takkan pernah bisa menjadi istri sesungguhnya bagimu,” katanya. Tak terasa lelehan air mata mengalir di permukaan pipinya.
“Apa maksudmu?”
Ini hal paling sulit yang harus Julie katakan.
“Crish, kita tak akan pernah bisa berhubungan seks. Saat aku berusia sembilan tahun, aku diperkosa oleh... Ayah tiriku sendiri.” Isakan Julie makin terdengar, memilukan. Julie menatap pepohonan yang tidak memedulikan dirinya, menceritakan kisahnya yang getir kepada laki-laki pertama yang dicintainya.
“Aku tidak tertarik pada seks. Aku bahkan jijik jika memikirkannya. Seks membuatku takut. Aku... aku hanya separuh wanita. Aku orang aneh.” Julie terengah, berusaha untuk menghentikan tangisnya.
Crish menyentuhnya. “Aku sangat menyesal, Julie. Pasti kejadian itu sangat mengerikan dan membuatmu ketakutan.”
Wanita itu diam tak menanggapi.
“Seks memang penting sekali dalam sebuah perkawinan,” gumam Crish.
Julie mengangguk, menggigit bibirnya. Sepertinya, ia telah tahu apa yang akan dikatakan Crish selanjutnya.
Crish lalu bersuara, “Tetapi, perkawinan tidak hanya meliputi hal itu. Perkawinan berarti menghabiskan sisa hidupmu bersama seseorang yang kau cintai. Memiliki seseorang yang bisa kau ajak bicara, tempat berbagi suka dan duka serta berbagi kasih sayang bersamanya.”
Julie mendengarkan, terpukau, namun takut mempercayai apa yang didengarnya.
“Seks pada akhirnya akan hilang, Julie. Tapi cinta sejati tidak. Aku mencintaimu karena hati dan jiwamu. Tulus. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bahkan jika kau mau, aku bisa hidup tanpa seks.”
Julie mencoba berbicara dengan tenang. “Tidak, Crish. Aku tidak bisa membiarkanmu...”
“Kenapa?”
“Karena kelak kau akan menyesalinya. Kau akan jatuh cinta pada orang lain yang bisa memberikanmu apa yang tidak bisa kuberikan, dan kau pasti akan meninggalkan aku. Dan setelahnya aku akan patah hati,” Julie berkata sedih.
Crish mengulurkan tangannya, lalu meraih Julie dan memeluknya lagi. “Kau tahu mengapa aku tak akan pernah bisa meninggalkanmu?”
Julie menggeleng dari balik pelukan. Bimbang saat ini melanda dirinya bagai ombak yang membawanya ke sana-kemari.
“Itu karena kau adalah bagian terbaik dari diriku. Separuh dari jiwa dan jasadku yang dulu hilang dan sekarang telah kutemukan lagi. Kita akan segera menikah,” ujar Crish bersemangat.
Julie seketika melepaskan pelukan. Ia menatap jauh ke dalam mata Crish. “Apakah kau menyadari keputusanmu, Crish?”
Crish tersenyum dan berkata, “Menurutku kau harus mengatakannya dengan cara lain.”
Julie tertawa lalu kembali memeluknya, “Oh, Sayang. Kau yakin bahwa kau...”
Wajah Crish berseri-seri. Senang sekali. “Aku sangat yakin. Apa jawabanmu?”
Air mata kembali mengalir di pipi Julie. “Ya. Aku mau. Aku akan menjadi pendamping hidupmu, Crish.”
Crish lalu menyelipkan cincin zambrud itu ke jari manis Julie dan mereka berpegangan lama sekali. Kedua pancaran mata mereka menunjukkan bahwa adanya semangat hidup baru dengan ikatan yang lebih erat. Ikatan yang akan terus terjalin hingga sepanjang masa. Tak akan pernah terputus. Tak ‘kan terpisahkan. Senandung malam membawa mereka berdua ke dalam sebuah kisah percintaan yang sebenarnya. Mereka telah menemukan arti dari sebuah hubungan yang tulus, tanpa ada batasan. Dengan kejujuran yang selalu diidam-idamkan.
dikirim abc 14 minggu 4 hari yang laluTag:







