Hari ini aku melihat lelaki itu di pasar. Dia berdiri di tengah-tengah keramaian, menyebarkan selebaran kepada orang-orang yang berlalu lalang sepanjang tanah becek. Tujuh tahun berlalu membuat sosoknya hampir tidak bisa kukenali. Rambutnya kini putih tipis, tubuhnya berubah gemuk, dan pakaiannya necis: kemeja licin motif garis serta sepatu kulit mengkilat.
Ju, nama lelaki itu. Dia berdarah Jawa tapi lama tinggal di Kalimantan.
boleh dong dirimu komentarin karyaku, aku butuh banyak masukan dari yg ahli nih, hehehe :)
pliiisss... (pasang wajah memelas)
soalnya aku pengin bikin novel tp masih belum pe-de, :D
Mutiara dalam kubangan Lumpur, tulisan sekeren ini sayang judulnya kurang menjual..hanya orang-orang yang jeli yang mampu menikmati karyamu miss...Sajikanlah mutiaramu dalam nampan emas bertahta berlian.....
Thanks atas masukannya di tulisanku...nampaknya aku harus masuk kelas EYD lagi nih...padahal aku udah ngulang tiga kali ....
Hmm... An itu nama ibunya apa nama anaknya? atau dua-duanya? Tampaknya miss suka sekali dengan nama yang pendek-pendek; An, Ju (Nama An sama dengan yang di cerpen kucing itu?). Cara mengakhiri cerita begitu pahit, tapi itu sangat keren buat saya. Tapi saya rasa, mungkin judulnya bisa lebih keren lagi. Hmmm... apa ya?
Luar biasa ms worm. Aku sgt menyukai tulisan2mu.Ini sekalian komeny rapel,he2..Bolehkan aku belajar dr tlsan2mu...
Terus bkarya!
Eit2 iya lupa lam kenal ya miss :)
penggambaran kondisi trafiking yang mengena..
kebanyakan korban trafiking justru tertrafiking kembali...
lagi2 dalih ekonomi, dan sistem memang mengarahkan pada keputusan seperti An...
Bagus sekali Windry..
ini emang layak dikirim ke Kompas.
cerpen yang informatif.
dan memang informasi yang memang perlu diketahui masyarakat.
sedari awal -dengan menyatakan "Dia berdarah Jawa tapi lama tinggal di Kalimantan"- tampak jelas cerita ini akan menuju. apalagi si aku dapat menebak: "Lelakl itu masih melakukan bisnis yang sama."
dengan akhir yang realistis -menerima kenyataan penjualan anak sebagai jalan keluar- justru tak memberikan kejutan apa pun.
yang membuat cerita itu patut dibaca, penulisan rapih. penulis mau capek. itu saja.
ga expect banget endingnya bakal begitu, entahlah..karena saya merasa karakterisasinya dibangun untuk.."tidak lagi menyentuh" area itu..hanya karena "butuh uang" endingnya jadi tdk expected, entah mengapa saya merasa itu tidak serial jadinya..atau ada maksud lain? atau saya yang sok tahu ehehe..udahlah
lalu, ini windry..paragrap "Memang itulah dst..." kok saya merasa flood info ya..kelihatan tergesa sekali untuk social concernya..
hei..dirimu presisi sekali dalam meggunakan kata, ah sang guru!
finally, mungkin si redaktur kompas sudah perlu membaca cerpenmu Wind..
paragraf itu tidak flood info pun (menurut saya)... itu penggambaran proses rekrutmen trafficking dan (menurut saya lagi) itu perlu diketahui oleh pembaca. kondisi lingkungan seperti apakah yang membuat bisnis itu marak. kurasa lebih ke masalah porsi, nanti kuperhatikan lagi apakah perlu penambahan (nah loh malah ditambah :D).
masalah ending... saya sudah memberikan clue ke arah sana. perlu dipahami kesulitan keuangan bagi perempuan2 korban trafficking. pertama, mereka tidak perawan lagi. kedua, mungkin mereka tidak 'bisa' nikah karena tetidakperawanan itu (maka sebagian pura-pura nikah). ketiga, mereka sulit mencari pekerjaan baru. sebagian melacur secara mandiri (kalau kondisi desa mereka memungkinkan). the problem is... mereka yang memiliki anak hasil lacuran mereka di negeri orang. itu bukan masalah keuangan biasa, honey (menurut saya lagi loh ya). tapi marilah nanti saya perbanyak detil-detil ini.
oh btw... kompas? hehehe not that soon lah. masih panjang perjalanan saya. hayo, kamu duluan saja ;)
=============
avian dewanto...
terima kasih. wah, senang sekali saya mendapat komentar dari seorang penulis 'profesional'. tulisan saya memang rapi (tanpa 'h'). dan saya selalu siap capai ('-ai' dan bukan '-ek') setiap menulis sesuatu, padahal saya hanya amatiran yang tidak menghasilkan uang dengan tulisan ini :D (oops... sorry, just a joke).
oh btw juga... saya memang tidak bermain teka-teki silang ;)
wind, tadi aku komen tapi kok hilang yah? atau ga muncul.
cuma komentar kalo aku setuju sama perkataan mereka semua yang berkata bahwa kemajuanmu menulis sangat pesat :)
konflik yang dibangun, dari awal sampai akhir, sangat mengena dan menarik pembaca. hanya saja wind, aku kesal sekali pada An ketika sampai di akhir cerita. aku tahu ini hanya fiksi, dan itu artinya kamu sukses menciptakan karakter tiga dimensi yang hidup, tapi begitu melihat keputusan An, aku geram setengah mati.
Selamat datang kembali, i miss ur story. Dan dengan ceritamu ini kerinduanku bisa terpenuhi.
Terus terang cerita ini sangat apik, dari awal hingga ending aku digiring untuk membaca, merasakan dan menyimpulkan. Walaupun pada bagian akhir, ternyata sang Aku tidak membunuh Ju seperti niatnya di awal cerita, malah Ju melakukan Down Payment thd anak sang Aku. Di luar dugaan!
bahasanya mengalir sekali... gak bisa berhenti sblum tamat. nice.
pengin bisa bikin cerpen berkelas kya gini... ajarin dong... plis... :)
terima kasih banyak, Onik :)
Yuk, belajar bareng! ikutan terus program perkosakata, dijamin meningkatkan kemampuan kita!
boleh dong dirimu komentarin karyaku, aku butuh banyak masukan dari yg ahli nih, hehehe :)
pliiisss... (pasang wajah memelas)
soalnya aku pengin bikin novel tp masih belum pe-de, :D
Mutiara dalam kubangan Lumpur, tulisan sekeren ini sayang judulnya kurang menjual..hanya orang-orang yang jeli yang mampu menikmati karyamu miss...Sajikanlah mutiaramu dalam nampan emas bertahta berlian.....
Thanks atas masukannya di tulisanku...nampaknya aku harus masuk kelas EYD lagi nih...padahal aku udah ngulang tiga kali ....
saya malah belum lulus-lulus, bos :D
Keputusan akhir yang tragis...ak suka bgt cerita2 kamu...keep writing..
**shock dengan keputusan terakhir An..
keren ^^
Hmm... An itu nama ibunya apa nama anaknya? atau dua-duanya? Tampaknya miss suka sekali dengan nama yang pendek-pendek; An, Ju (Nama An sama dengan yang di cerpen kucing itu?). Cara mengakhiri cerita begitu pahit, tapi itu sangat keren buat saya. Tapi saya rasa, mungkin judulnya bisa lebih keren lagi. Hmmm... apa ya?
=D> -->> cuma bisa komen itu
Anjrit!!!!
Endingnya nginjek banget!!!!
Saya ndak berani komment ah, takut mimpi buruk
*ngemut jempol*
:S :S :S :S :S
terlalu sadis caramu mengakhiri cerita ini.
Luar biasa ms worm. Aku sgt menyukai tulisan2mu.Ini sekalian komeny rapel,he2..Bolehkan aku belajar dr tlsan2mu...
Terus bkarya!
Eit2 iya lupa lam kenal ya miss :)
saya kirain pemeran utama cowo, abs manggilnya den, hehehe..tp endingnya shocking euy. ciamikk.
hm ... penuh tikungan
amboi banget jez !
aku baru kali ini baca tulisan mb... dan aku suka..
penggambaran kondisi trafiking yang mengena..
kebanyakan korban trafiking justru tertrafiking kembali...
lagi2 dalih ekonomi, dan sistem memang mengarahkan pada keputusan seperti An...
Bagus sekali Windry..
ini emang layak dikirim ke Kompas.
cerpen yang informatif.
dan memang informasi yang memang perlu diketahui masyarakat.
Saya selalu terkesima dengan tulisan Mbak. Suggooii...!
Logika yang dibangun dan vonis akhir dalam cerita ini membuat desir di hati saya...
Wah Mbak Windri?? Mau comment apa ya? Sepertinya nilai sudah mewakili komentarku...
^o^
sedari awal -dengan menyatakan "Dia berdarah Jawa tapi lama tinggal di Kalimantan"- tampak jelas cerita ini akan menuju. apalagi si aku dapat menebak: "Lelakl itu masih melakukan bisnis yang sama."
dengan akhir yang realistis -menerima kenyataan penjualan anak sebagai jalan keluar- justru tak memberikan kejutan apa pun.
yang membuat cerita itu patut dibaca, penulisan rapih. penulis mau capek. itu saja.
ga expect banget endingnya bakal begitu, entahlah..karena saya merasa karakterisasinya dibangun untuk.."tidak lagi menyentuh" area itu..hanya karena "butuh uang" endingnya jadi tdk expected, entah mengapa saya merasa itu tidak serial jadinya..atau ada maksud lain? atau saya yang sok tahu ehehe..udahlah
lalu, ini windry..paragrap "Memang itulah dst..." kok saya merasa flood info ya..kelihatan tergesa sekali untuk social concernya..
hei..dirimu presisi sekali dalam meggunakan kata, ah sang guru!
finally, mungkin si redaktur kompas sudah perlu membaca cerpenmu Wind..
gruß
benerbener GILA, jeng windri ini... saya sampai terguncang-guncang membacanyah... luar biasa....
WAW!!!!!! kok tiba2 Ju nyasar ke tempatnya tante yak???? WAW!!!!!
tedjo...
paragraf itu tidak flood info pun (menurut saya)... itu penggambaran proses rekrutmen trafficking dan (menurut saya lagi) itu perlu diketahui oleh pembaca. kondisi lingkungan seperti apakah yang membuat bisnis itu marak. kurasa lebih ke masalah porsi, nanti kuperhatikan lagi apakah perlu penambahan (nah loh malah ditambah :D).
masalah ending... saya sudah memberikan clue ke arah sana. perlu dipahami kesulitan keuangan bagi perempuan2 korban trafficking. pertama, mereka tidak perawan lagi. kedua, mungkin mereka tidak 'bisa' nikah karena tetidakperawanan itu (maka sebagian pura-pura nikah). ketiga, mereka sulit mencari pekerjaan baru. sebagian melacur secara mandiri (kalau kondisi desa mereka memungkinkan). the problem is... mereka yang memiliki anak hasil lacuran mereka di negeri orang. itu bukan masalah keuangan biasa, honey (menurut saya lagi loh ya). tapi marilah nanti saya perbanyak detil-detil ini.
oh btw... kompas? hehehe not that soon lah. masih panjang perjalanan saya. hayo, kamu duluan saja ;)
=============
avian dewanto...
terima kasih. wah, senang sekali saya mendapat komentar dari seorang penulis 'profesional'. tulisan saya memang rapi (tanpa 'h'). dan saya selalu siap capai ('-ai' dan bukan '-ek') setiap menulis sesuatu, padahal saya hanya amatiran yang tidak menghasilkan uang dengan tulisan ini :D (oops... sorry, just a joke).
oh btw juga... saya memang tidak bermain teka-teki silang ;)
lo feminis sekarang?
ini hasil baca buku ato main2 ke jp?
whatever,miss. this is good.
wind, tadi aku komen tapi kok hilang yah? atau ga muncul.
cuma komentar kalo aku setuju sama perkataan mereka semua yang berkata bahwa kemajuanmu menulis sangat pesat :)
konflik yang dibangun, dari awal sampai akhir, sangat mengena dan menarik pembaca. hanya saja wind, aku kesal sekali pada An ketika sampai di akhir cerita. aku tahu ini hanya fiksi, dan itu artinya kamu sukses menciptakan karakter tiga dimensi yang hidup, tapi begitu melihat keputusan An, aku geram setengah mati.
:)
Gaya plot yang aku suka, alur mundur dan membawa benak seolah menembus waktu lalu kembali ke masa kini dengan sebuah kesimpulan. ^^ WD.
BTW, browsing pake mobile opera, niatnya kasih nilai 9... tapi terkadang yang muncul malah 5. ^^
miss worm, i'd like to give you the perfect number ten.
... and a standing applause.
Selamat datang kembali, i miss ur story. Dan dengan ceritamu ini kerinduanku bisa terpenuhi.
Terus terang cerita ini sangat apik, dari awal hingga ending aku digiring untuk membaca, merasakan dan menyimpulkan. Walaupun pada bagian akhir, ternyata sang Aku tidak membunuh Ju seperti niatnya di awal cerita, malah Ju melakukan Down Payment thd anak sang Aku. Di luar dugaan!
Good Luck.