Anak Kampung

........
I’ll be there as soon as I can
But I’m busy mending broken
Pieces of the life I had before
Before you
...
Tepuk tangan terdengar. Seorang anak telah selesai menyanyikan lagunya di depan kelas. Pembawaan yang menakjubkan dari seorang siswa SD, karena lafal inggrisnya yang bagus.
“Bahasa Inggris yang bagus. Kamu layak mendapat seratus. Nomor berikutnya.”
Aku bangkit berdiri, mengumpulkan keberanian, dan melangkah maju. Di bawah tatapan mata teman-teman dan Ibu Guru, aku membuka mulut.
Angin mamari ku pasang
Pitujui tongtongana
Tusarua takkan lupa
Eaule na mangu rangi
Tutenaya, tutenaya parisina
…..
Semuanya sunyi ketika aku berhenti bernyanyi. Banyak anak bengong, yang lain tidur. Aku mendengar Ibu Guru mempersilahkanku kembali ke tempat duduk. Tidak kurang, tidak lebih. Padahal, kupikir suaraku cukup bagus.

/////
Bel berdering menandakan pelajaran musik selesai. Dan telinga kecilku mendapat sapaan yang telah kukenal
“Lagu apa tuh? Kayak bahasa dewa.”
“Angin Mamiri dari Ujung Pandang”
“Hahaha! Dasar anak kampung lu!”
Itulah aku. Anak kampung, tidak punya radio, dan tidak pernah mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggeris. Bukannya aku merendah. Tapi memang begitulah keadaanku.
“ Itu lagu daerah asalku. Aku suka sekali.”
“Hari gini?!”
Dan semua tertawa. Ejekan disambut celaan. Aku tidak mengerti. Apa yang salah dengan lagu daerahku? Dan aku ikut tertawa. Kupikir memang teman-temanku sedang senang, jadi aku akan ikut bersenang-senang dengan mereka.

/////
“Siapa yang cinta Indonesiaaaaa?!”
Pertanyaan itu keluar dari mulut sang guru seperti musik. Berirama dan lantang, sementara semua anak berteriak menjawab : ‘Saya, Buuuu’ dengan koor yang tak kalah keras.
Aku melihat dia ikut menjawab dengan bangga. Aneh, pikirku. Baru kemarin aku tertawa bersama dia dan teman-temannya
“Siapa yang peduli dengan negara brengsek kayak gini.”
“Iyah. Peduli setan. Entar toh kita ke luar negeri juga kan kuliahnya.”
Baru ketika ku pulang ke rumah aku mengerti apa maksudnya.
“Bu, brengsek maksudnya apa?”
“DARI MANA KAMU BELAJAR KATA ITU?! PERGAULANMU MULAI TIDAK BAIK YA!”
“Engga kok, Bu… Aku anak baik. Aku gak nakal di sekolah... Tadi ada teman yang ngomong, tapi aku gak ngerti…”
Ada jeda kosong yang tak ku mengerti. Tampaknya Ibu bimbang waktu itu. Wajahnya tertekuk, tanda dia sedang berpikir, menimbang-nimbang.
“Kamu jangan ngomong begitu lagi. Itu ejekan kasar yang tidak sopan.”
Ejekan? Bagaimana mungkin seseorang mengejek negara sendiri bisa dengan muka secerah itu berkata cinta negara? Apa aku yang tidak mengerti? Atau aku memang orang aneh, orang kmapung, yang tidak tahu apa-apa?

/////
Salah satu temanku berulang tahun. Katanya, semua teman sekelas diundang makan di restoran buffet mahal di mall dekat sekolahku. Hari Minggu ini, katanya. Dan aku datang dengan baju baruku. Dengan bangga aku menjinjing hadiah ulang tahun kecil yang akan kuberikan padanya, yang kubeli dengan uang tabunganku sebulan.
“Dateng juga lu?”
“Ya. Ini kado untuk kamu.”
“Oh. Oke Taro ajah di sono.”
“Oke.”
Aku berjalan ke tumpukan kado dan menaruh kado berhargaku. Warna abu-abu bungkus korannya terlihat mencolok di antara warna-warni dan kilap bungkus kotak-kotak besar lainnya. Tapi aku tak peduli. Tepatnya, aku tak sadar. Yang kutahu aku sudah memberikan kado dan itu membuatku bangga.
“Di mana aku duduk?”
“Di kursi itu. Jangan pindah-pindah yah. Soalnya udah gua tentuin tempat duduk masing-masing.”
Dan aku berjalan. Tersenyum. Berpikir aku akan bersenang-senang bersama teman-temanku hari ini. Berdoa bersama, makan bersama, bermain-main, dan tertawa. Tapi ketika aku telah duduk, aku sadar apa yang telah kududuki. Sebuah kursi di ujung meja. Jauh sekali jaraknya dari teman-temanku yang lain untuk mata kecilku ini. Aku masih bisa mendengar mereka tertawa, dan aku pun ikut tertawa bersama mereka. Mereka senang, aku pun mau senang.

/////
“Yah si miskin datang juga.”
“Iiih… bajunya belel banget.”
“Kadonya aja dibungkus koran gitu.”
“Kamu kok undang dia?”
“Nyokap udah terlanjur bilang semua diundang sih….”
“Ya udah suruh duduk di pojok sono aja.”
“Iyah. Jangan sampe dia deket-deket sama kita.”

/////
Makanannya enak. Jadi ini yang dimakan teman-temanku setiap hari di istana mereka. Baru kali ini aku makan sebanyak ini. Aku puas dan senang…. sampai aku melihat dia di pintu mall.
“Pak, sumbangannya?”
“Enggak. Ngabis-ngabisin uang ajah.”
“Ini buat yatim piatu, Pak.”
“Enggak.”
“…..”
“Ini, Kak. Aku mau nyumbang.”
“Oh. Makasih yah, Dik.”
“Seribu aja gak apa-apa kan ,Kak?”
“Enggak apa-apa kok. Makasih banyak yah.”
“Iya, Kak.”

/////
“Eh, lu yang kemaren ngasih ini pensil warna yah?”
“Iya. Benar. Aku kasih kamu itu kemarin. Bagus gak?”
“Gua gak perlu nih. Gua udah dibeliin sama nyokap gua. Satu set lengkap 50 warna. Keren banget. Jadi, nih gua balikin. Lu pake ajah.”
“Hah?”
Dan ia berlalu. Perbincangan singkat, tapi menimbulkan kesan yang sangat mendalam. Lebih dalam dari laut, lebih dalam dari jurang. Dan aku kembali berpikir dengan otak kecil dan luguku ini. Aku tak mengerti.

/////
Di dalam kamar gelap ini kududuk bersila. Merenungi pengalaman beberapa hari terakhir. Pengalaman seperti ini tidak jarang kualami. Tidak jarang kulihat terjadi kepada teman-teman lain yang minoritas.
Sama sepertiku, mereka tidak mengerti. Bukankah kita sama-sama manusia? Mengapa harus ada yang berkuasa dan dikuasai? Mengapa ada yang ditinggikan dan direndahkan? Aku bertanya kepada hitam, dan ia tak bisa menemukan jawabannya.
Maka kutulis catatan ini untuk mengingatkanku selalu bahwa di dunia ini tidak ada kebaikan yang mudah didapat.

Kata Kak Anwar
Aku binatang jalang
dari kumpulannya yang terbuang
Namun kini kubertanya
Siapakah engkau
yang sama-sama memiliki
dua telinga sepertiku
dua mata sepertiku
satu hidung dengan dua lubang
dan berjalan dengan dua kaki?

Mungkin otakku otak udang
dan kantongku kering kerontang
Tapi satu hal aku tahu pasti
Bahwa aku bukanlah awan
yang pergi ke mana angin menyuruhnya
Bahwa topeng bukanlah temanku
yang berusaha berbaik-baik di balik kelalimannya
Dan bahwa aku
adalah aku
meskipun rumah jagal adalah tempatku

WeHa
Mei 11, 2007
9:33 PM

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nanasa
Nanasa at Anak Kampung (4 years 25 weeks ago)
90

Tapi seperti kata teman2 yang lain, bahasanya terlalu tinggi untuk anak SD.
Kayaknya lebih bagus kalo diceritakan dengan view pihak ketiga :)

Writer kornelius.kevin.kristian
kornelius.kevin... at Anak Kampung (4 years 25 weeks ago)
80

bagus wh
=)
mengingatkan pada kenyataan yang dulu sangat dekat..

Writer noir
noir at Anak Kampung (4 years 25 weeks ago)
80

baru baca karena resensi :D
Cerita ini bagus dan penuh makna namun tak mengajari ^^

Writer bl09on
bl09on at Anak Kampung (4 years 42 weeks ago)
100

kayaknya bahasa dan pemikiranya jauh dari pemikiran anak SD

Writer KD
KD at Anak Kampung (4 years 43 weeks ago)
100

cerita wh3 yang lolos kumcer

Writer creativeway13th
creativeway13th at Anak Kampung (5 years 4 days ago)
80

kayaknya gue uda komen deh.. tulisan ini stylenya loe bgt.. misterius dan mengandung kritik.. keep writing yah..
welcome to kemudian..

Writer wehahaha
wehahaha at Anak Kampung (5 years 6 days ago)

Kata-kata dalam komen di bawah ("Siapa yang.....ini") ini adalah FAKTA gw denger. Cuman bedanya sih dari anak klas 1 SMP, yang kayaknya gak beda jauh...

Writer brown
brown at Anak Kampung (5 years 1 week ago)
70

aku bisa memahami pesan yg hendak disampaikan. tapi beberapa ungkapan yg keluar dari teman2 di kelas si tokoh utama dlm cerita ini terkesan agak memaksa (baca: berlebihan) buatku, apalagi untuk seorang anak SD;

“Siapa yang peduli dengan negara brengsek kayak gini.”
“Iyah. Peduli setan. Entar toh kita ke luar negeri juga kan kuliahnya.”

apakah anak2 SD di negeri ini mmg sudah sebobrok itu? atau cuma ada di negeri cerita-fiksi?

mungkin juga.... lebih bobrok dr yg ada di cerita ini.

Writer ima_29
ima_29 at Anak Kampung (5 years 1 week ago)
80

Keren Bro! Bener kata Nisa...sekarang aku jadi tau mana yang jadi binatang jalang!

Menyentuh sekaligus bikin hati ser-seran

Writer niska
niska at Anak Kampung (5 years 1 week ago)
80

cerpennya bagus..
sekarang aku ngerti siapa yang disebut 'binatang'.. :D

Writer v3ri
v3ri at Anak Kampung (5 years 1 week ago)
60

cerita mengalir lambat, tanpa konflik yang berarti

Writer miss worm
miss worm at Anak Kampung (5 years 1 week ago)
80

penuh pembelajaran bagi pembaca