Surat

Terdengar suara ketukan di pintu. Aku beranjak dari tempatku berbaring di atas karpet tipis di lantai kamar kontrakan kami. Tak banyak benda di kamar ini setelah hampir satu tahun pernikahan kami, tapi tetap saja rasanya dari hari ke hari semakin sempit. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.

Suara ketukan terdengar lagi.

“Iya, sebentar.” Kepalaku sedikit pusing ketika bangkit. Anemiaku tak bisa diajak kompromi akhir-akhir ini, sayangnya aku tidak punya cukup uang untuk membeli obat, apalagi suplemen. Kuraih jilbab yang tergantung di balik pintu, dan kupakai sebelum membuka kunci di pintu.

Suamiku berdiri dengan wajah letih ketika pintu kubuka. Ia mengucap salam dengan lirih, melepas sepatu dan kaus kaki, lalu masuk ke dalam kamar. Kujawab salamnya, berusaha tersenyum sebaik mungkin, tapi ia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Aku membungkuk untuk memungut sepatu dan kaus kakinya, lalu kutaruh dengan rapi di rak sepatu di luar kamar. Di luar sudah sepi. Tak terdengar suara jangkrik sama sekali; Jakarta tidak ramah lagi pada mereka, dan mereka telah hengkang sejak lama sekali.

“Capek, Kang?” tanyaku seraya menutup pintu. Menguncinya sekalian. Toh sudah larut malam, dan tak seorang pun dari kami yang akan pergi keluar lagi. Jilbab kulepas lagi, dan kugantung ke tempatnya tadi: gantungan di balik pintu.

Kang Abid, yang duduk berselonjor di lantai, tersenyum lemah padaku. “Biasalah, Ni,” ucapnya pelan.

Aku duduk menyertainya, menarik dengan hati-hati sebuah meja kecil yang sedari tadi bersender rapat ke dinding. Beberapa mangkuk di atasnya, yang ditutup piring terbalik, ikut bergetar ketika meja itu bergeser.

“Makan dulu, Kang. Nasinya masih baru,” ucapku sambil membuka semua hidangan yang kumasak tadi sore. Hampir sesederhana seperti biasanya: tumis wortel dan kentang dengan sambal. Yang luar biasa adalah sarden, yang tumben-tumbennya muncul menyertai makan malam kami. “Sekarang akhir bulan, dan masih ada sisa uang sedikit. Cukup untuk membeli sekaleng sarden,” tambahku kemudian, mengangsurkan sepiring nasi pada suamiku.

Suamiku tersenyum. “Kamu masih bisa berhemat dengan uang yang kuberikan?” katanya. Diterimanya potongan sarden terbesar yang kusendokkan untuknya.

“Alhamdulillah, masih bisa, Kang,” jawabku. “Ada sedikit tabungan, bisa digunakan kalau kita mau pulang kampung.”

Kang Abid memandangiku. Senyumnya pudar perlahan. Lalu, ia mulai makan, lahap. Ah, suamiku kelaparan rupanya. Kuperhatikan ia, dan ia menatapku, seperti teringat sesuatu.

“Kamu... sudah makan, belum?”

Aku tersenyum, menggeleng. “Aku tunggu Akang pulang.”

Kang Abid berhenti mengunyah. Ia menghela nafas sebelum berkata, “Ni, sudah berapa kali kubilang, jangan menunggu aku. Makan duluan saja.”

“Aku lebih suka makan berdua Akang,” jawabku, berharap senyumku dapat menghilangkan kegusarannya.

“Tapi aku selalu pulang terlalu malam. Sekarang saja sudah jam sebelas, dan kamu masih juga menunggu?”

“Tidak,” jawabku, mengambil piring. “Sekarang aku makan, deh.”

Bukan sekali dua Kang Abid melarangku untuk menunggunya pulang tapi kemudian berkali-kali kulanggar larangan itu. Makan bersama Kang Abid membuatku tenang, dan itu sukar kujelaskan padanya. Waktu menjadi kemewahan bagiku, karena kami jarang bertemu. Sebelum pukul enam Kang Abid sudah pergi bekerja dan pulang selalu larut malam, karena setelah bekerja di proyek sebagai mandor ia pergi ke pasar, mengerjakan apa pun yang bisa dilakukannya di sana. Aku tahu ia bekerja keras demi kami berdua. Jadi tak pada tempatnya kalau aku protes selalu ditinggal olehnya.

Kami hidup sangat sederhana. Uang yang diperoleh Kang Abid hanya cukup untuk menyewa sebuah kamar plus kamar mandi kecil di daerah Jakarta Utara. Pintu satu lagi, yang terletak di sebelah pintu ke kamar mandi, menuju halaman mungil tempat aku memasak. Bagian itu diberi dinding dan sebagian dinaungi atap, keduanya terbuat dari triplek, sengaja dipasang oleh Kang Abid. Lumayan, kamar kami jadi lebih lapang tanpa disesaki kompor dan tetek bengek peralatan masak lainnya.

Ini masih mending. Kalau berjalan sepuluh meter menyusuri gang di depan rumah, tak satu pun rumah di situ yang berdinding beton. Kardus, papan dan seng belaka sejauh mata memandang. Sangat beruntung aku bisa tinggal di kamar petak ini, yang walaupun sempit tetapi berdinding tembok dan beratap genteng.

Aku tidak menyesal menikah dengan Kang Abid. Tidak sedikit pun.

“Ni,” suara Kang Abid memecah lamunanku. “Kamu kenapa?”

Aku mengangkat kepala. Kang Abid sudah menghabiskan isi piringnya, dan sekarang sedang memandangku dengan wajah khawatir. Kujawab, “Memangnya kenapa, Kang?”

“Biasanya kamu banyak bicara. Malam ini tidak. Ada apa?”

Suamiku selalu tahu kalau aku sedang banyak pikiran. Jangan tanya kenapa. Aku juga tidak tahu jawabannya. Dan, ia benar. Ada sesuatu yang akan kusampaikan, setelah sekian lama kusimpan sendirian.

Kuambil piring kosong dari tangannya, kutaruh agak jauh dari tempat kami duduk berdua. Lalu, sambil tersenyum aku berkata, “Kang, aku hamil.”

Di luar dugaanku, Kang Abid malah terperangah.

“Kamu... hamil?” ulangnya.

Aku mengangguk. “Iya, Kang, anak pertama kita. Aku membeli alat tes kehamilan dua minggu lalu, dan ternyata hasilnya positif, jadi aku pergi ke Puskesmas. Mantri bilang, umur janinku dua bulan.”

Wajah Kang Abid berubah, kalut. Ia menunduk. Aku kebingungan melihatnya sedemikian rupa, tapi tak berani bertanya padanya. Gelisah aku menunggu suamiku menengadahkan wajah, menanti ucapan darinya. Dan ketika itu terjadi, kata-katanya membuatku terkejut.

“Ni, bukannya aku tidak senang kau mengandung anak pertama kita. Tapi aku belum siap jadi ayah.”

“Apa?” tanyaku lirih. “Maksud Akang apa?”

Menghela nafas, Kang Abid menebarkan pandangannya ke sekeliling kami. “Lihat tempat ini. Memberi tempat tinggal yang layak untukmu saja aku tidak mampu. Apalagi kalau harus menanggung anak!”

“Akang...?” Aku tak percaya dengan pendengaranku sendiri: Kang Abid menolak anak kami? Aku tercenung. Dan lagi, alasan yang ia katakan tidak dapat kuterima. “Bukankah Akang sendiri yang bilang kalau Allah akan memberi rejeki kalau kita berusaha? Kalau kita berusaha cukup keras, pasti akan ada rejeki untuk anak kita, Kang!”

“Kita harus realistis, Ni. Lihat saja kondisi kita sekarang, tidak berubah sejak kita menikah! Kita hidup pas-pasan! Dan rasanya aku sudah cukup hati-hati supaya kau tidak hamil sebelum aku mapan!”

Kalimat ini menusukku sangat dalam. Aku tahu pasti apa maksud Kang Abid. Sakit, sakit rasanya.

Kami terdiam, lama. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kang Abid, tapi aku sendiri sibuk dengan pikiranku sendiri: Kang Abid tidak percaya kalau janin yang kukandung adalah darah dagingnya. Pasti ini alasannya.

“Aku mau mandi. Habis itu, sholat. Kamu tidur duluan saja,” Kang Abid bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, tanpa menoleh lagi. Aku membereskan sisa makan malam kami dalam kebisuan.

Sejak saat itu, hubungan kami tidak pernah sama lagi. Esok paginya Kang Abid berpesan dengan tegas, agar aku tidak menunggunya untuk makan malam bersama. Kuiyakan saja, hanya untuk mencegah kami ribut di awal hari. Aku tetap menunggunya.

Hari demi hari berlalu dengan pesan pagi yang sama. Kami lebih banyak diam, tak saling bicara beberapa lama. Sampai suatu hari, Kang Abid tidak pulang sama sekali. Tiga hari penuh ia menghilang, dan pulang di malam keempat dengan tubuh sangat letih, langsung tertidur bahkan tanpa menyentuh makanan yang kubuat. Ketika kutanya keesokan paginya, ia hanya menggeleng. Ia hanya memberiku uang, lalu pergi. Dan malamnya, ia menghilang lagi. Begitu terus.

“Aku cari uang!” jawabnya kasar setiap kali kudesak, dan lebih banyak ia diam karena terlalu letih. Tapi tak ada keterangan lain apa pun yang menyertai jawaban itu, dan ini membuatku sedih. Kang Abid sudah berubah.

Dan ketika akhirnya Kang Abid benar-benar tidak pulang, dan aku tak tahan lagi. Perutku semakin lama semakin besar. Yang kudengar selama ini, perempuan hamil akan mendapat perhatian lebih, terutama dari suaminya. Tapi yang kuperoleh jauh dari itu. Suamiku malah tidak peduli sama sekali! Kuusap-usap perutku dengan hati tercabik. Orang miskin, mau hamil saja susah bukan kepalang. Yang terburuk, aku malah dikira selingkuh. Aku terisak di lantai.

Bagaimana nasib anakku kelak, dengan ayah yang tidak percaya kalau ia darah darah daging kami berdua? Malang sekali nasibmu, nak....

Bayangan di kepalaku semakin membelit, membuatku berpikir betapa ngerinya kalau anakku kelak lahir. Ia akan hidup bagai dengan ayah tiri, ayah yang sejak ia di dalam kandungan pun sudah tidak menginginkannya. Aku tidak pernah melihat Kang Abid berbuat kasar, tapi sekarang pun ia telah berubah, dan tidak menutup kemungkinan Kang Abid sampai hati untuk memukul. Kami akan hidup dalam neraka, itu pasti. Atau... aku akan diceraikan Kang Abid. Tidak, aku tidak mau! Aku telah dibuang keluargaku karena nekat menikah dengan Kang Abid, yang status sosial keluarganya lebih rendah. Tak mungkin mereka akan menerimaku kembali! Aku tidak boleh sampai diceraikan!

Tak ada masa depan yang indah bagi calon anakku.

Bagaimana kalau ia tidak pernah lahir?

Aku tercenung. Masih ada pilihan ketiga bagiku. Bagi kami. Kejam, memang. Tapi mungkin pilihan ini lebih baik.
Kuhapus air mataku, lalu kuambil semua persediaan uang yang ada padaku saat ini. Dalam lima belas menit aku telah siap, mengunci pintu dan berlalu dari kamar kontrakan kami, yang bersebelahan dengan kamar lain yang penghuninya pergi sebulan lalu, meninggalkan kotak surat dari seng bobrok yang bertengger di atas pagar, terlihat kesepian dan menyedihkan. Mengingatkanku pada diriku sendiri.

Tujuanku adalah rumah Mbok Ijah, dukun beranak setempat. Wanita tua yang telah lama menganggur—karena pekerjaannya tergusur keberadaan Puskesmas—itu bangkit dengan gembira dari dipan kayu bobroknya di beranda rumah, mengajakku masuk dengan ramahnya. Aku hanya punya satu pertanyaan untuknya.

“Ada obat untuk aborsi?”

* * *

Aku telah memutuskan untuk bekerja sebagai tukang cuci pakaian sebuah kost, tak jauh dari tempat tinggalku. Terpaksa, karena Kang Abid tidak pulang juga. Memang setelah kunjunganku ke rumah Mbok Ijah ia sempat pulang semalam, tapi kemudian ia menghilang lagi dan tak kembali. Aku butuh uang.

Setelah capek menangis aku bertekad untuk mencoba hidup mandiri, tanpa sokongan Kang Abid maupun keluargaku. Pekerjaanku sekarang tidak menghasilkan banyak uang, tapi paling tidak aku bisa membayar uang kontrakan dan makan seadanya. Tetanggaku banyak yang memberi belas kasihan, tapi hanya sebatas itu saja, karena mereka sama-sama kesulitan membiayai hidup, tak mungkin membantuku lebih lagi. Cukuplah bagiku perhatian mereka. Paling tidak wanita dengan status tak jelas sepertiku—ditinggal tapi tidak dicerai—masih punya tempat di sini.

Yang memberatkan, badanku sepertinya tidak pernah enak akhir-akhir ini. Mungkin terlalu lelah, tapi toh tidak setiap hari aku bekerja. Bukan tidak ingin memeriksakan diri ke Puskesmas, aku hanya tidak punya uang lebih. Jadi kubiarkan saja badanku dengan harapan akan membaik dengan sendirinya.

Tetapi badanku ternyata tidak membaik. Hari ini, aku pulang dengan terhuyung-huyung, memaksakan diri berjalan di antara gang-gang kumuh menuju kamar kontrakan. Susah payah, aku tertatih dan akhirnya sampai di pagar kontrakan sebelah. Badanku limbung. Aku meraih kotak surat bobrok itu dan berpegangan padanya beberapa saat lamanya. Beberapa benda terdorong dari dalamnya karena tersenggol oleh jariku, dan jatuh bertebaran di halaman kontrakan, tapi bukan hal itu yang menarik perhatianku.
Seseorang berdiri di depan pintu kontrakanku. Aku pasti sedang berhalusinasi. Memalukan. Setelah sekian lama aku masih belum juga melupakannya! Kepalaku langsung terasa berputar cepat sekali. Gelap dan terang silih berganti saling mengejar dalam benakku, dan akhirnya gelap yang menang.

Dan aku roboh ke tanah.

Hal berikutnya yang kulihat adalah Kang Abid, suamiku yang telah lama menghilang, menatapku dengan wajah khawatir. Aku melirik ke sekitarku; semua benda di sekelilingku kukenali dengan baik, ini adalah kamar kontrakan kami. Aku sedang berbaring di atas kasur.
Kutatap lagi Kang Abid, yang lantas membelai rambutku. Ternyata Kang Abid benar-benar pulang! Aku tidak sedang bermimpi.

“Akang, ke mana saja selama ini?” pertanyaan pertamaku meluncur begitu saja, seakan telah tersimpan di ujung lidahku dan siap ditembakkan di kesempatan pertama.

Kang Abid menatapku dengan heran. “Ke mana?” tanyanya.

“Memangnya kamu tidak baca suratku?”

“Surat? Surat apa?” giliranku yang terheran-heran. Tak ada sepucuk surat pun yang pernah datang ke tempatku, aku yakin benar! Satu-satunya alat komunikasi yang kumiliki adalah sebuah radio transistor tua, karena televisi kecil kami telah kujual sebulan setelah Kang Abid menghilang.

Jangan-jangan....

Lalu aku teringat sesuatu. Aku bangkit, bertumpu pada kedua siku. “Kang, kotak surat di sebelah! Coba lihat dulu ke sana!”

Kang Abid terdiam sesaat, tapi kemudian ia pergi juga. Tak lama ia kembali dengan beberapa amplop di tangan, wajahnya sedih. Ia menghampiriku, duduk di lantai, menyerahkan amplop-amplop itu padaku. Surat dari Kang Abid. Semuanya. Untukku.

Kubuka surat pertama, yang paling lusuh. Isinya permintaan maaf Kang Abid karena tidak sempat pulang untuk mengabariku. Ia tiba-tiba mendapat pekerjaan baru di Sumatera, menggantikan temannya yang mendadak sakit. Gajinya di sana lebih besar dari pekerjaannya semula. Karena itulah ia pergi, dan mewakilkan maafnya pada surat ini.

Surat kedua sangat tebal. Isinya disertai sejumlah uang; gaji pertama Kang Abid hasil jerih payahnya di Sumatera. Suratnya sendiri amat singkat, hanya doa semoga aku tetap sehat dan baik-baik saja.

Dua surat berikutnya hampir sama. Selembar kertas berisi tulisan tangan Kang Abid dan beberapa lembar kertas seratus ribuan. Setiap kali surat baru kubuka, lembaran-lembaran uang berwarna merah itu jatuh ke pangkuanku.
Aku menangis hebat dengan surat terakhir di tanganku, yang langsung basah kuyup dalam sekejap.

“Ni..., “ Kang Abid memelukku, erat, kurasakan isakannya di puncak kepalaku. Kami berdua berpelukan, seakan hendak menghapus semua penderitaan karena kesalahpahaman ini.

Surat yang salah alamat.

Kang Abid sama sekali tidak meninggalkanku begitu saja, justru sebaliknya, ia pergi untuk memperjuangkan hidup kami. Takdir telah membuat fakta terputar. Tapi sekarang, semua telah jelas. Kecuali satu hal.

Kang Abid melepaskan pelukannya. “Kontrakku di Sumatera diperpanjang, Ni. Aku datang untuk menjemputmu. Kita sudah punya rumah kontrakan di sana. Cukup untuk kita berdua, dan anak kita.”

Tangisku pecah lagi. Kang Abid ternyata mengakui anak kami! Ia tidak berpikir kalau aku curang pada hubungan kami sejak awal, tapi... kenapa baru sekarang ia mengakuinya? Aku hanya bisa menundukkan kepala.

“Sekarang, aku sudah cukup mapan untuk menjadi seorang ayah,” kata Kang Abid lagi. “Jadi, bagaimana kabar anak kita?”

“Kang....”

Kang Abid tersenyum, menepis lembut tanganku, lalu meletakkan tangannya di perutku. Mencari-cari selama beberapa saat, lalu tersenyum puas ketika mendapatkan yang dicarinya. Anakku—anak kami—bergerak-gerak dengan lincahnya, seakan tahu ayahnya sudah pulang.

Dan aku sangat bersyukur tidak jadi membunuhnya empat bulan yang lalu.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer reign_beau
reign_beau at Surat (10 years 41 weeks ago)
100

cerita non fiksi yang merakyat sekali. saya suka alurnya. ditunggu cerpen berikutnya yaa

Writer avian dewanto
avian dewanto at Surat (11 years 11 weeks ago)
100

sebuh setting sosial yang as. ngat lho setting bukan cuma "kamar yang semakin sempit." keadaan psikologis seorang ibu yang menatap masa depan anak yang akan dilahirkan, sungguh menjadi alasan utama kebanyakan ibu melakukan aborsi.

karena cintanya pula, seorang ibu bunuh diri bersama empat anaknya. ingat sebuah cerita di malang beberapa waktu lalu.

nah, cerita ini meski fiksi sungguh membumi. mengungkap sebuah kesederhaan dengan gaya yang lugas.

keren deh

Writer elbintang
elbintang at Surat (11 years 11 weeks ago)
90

widew, pegimane nggak betah di mari kalo tulisan2 keren kek ini, ada saja hadir :-)

Bravo, master!

mungkin printilan kecil saja yg mengganggu, mbak D. walo tidak tersentuh tekhnologi, kampung Jakarta penuh dengan polusi gosip dan "urusanmu-urusanku". *jadi inget lagu jablay* :D

--------------------
cheers!

Writer mocca_chi
mocca_chi at Surat (11 years 11 weeks ago)
90

hii.... no coment.
lancar abis...
bagus diann

Writer Ovi
Ovi at Surat (11 years 11 weeks ago)
100

ck pantesss.
sebagai nominator khatulistiwa lit award.
canggih canggih canggih.

Writer Super x
Super x at Surat (11 years 11 weeks ago)
100

windry dah mulai ber-act kayak Paula DJ... wkwkwk...
Soal komen = sama dengan Windry dah. Standing Applause untukmu... 100%

BTW... bersediakah dirimu jadi penantang, Dian?

Writer andrea
andrea at Surat (11 years 12 weeks ago)
80

Wow!, ini salah satu repro Gift of the Magi yang terbaik yang pernah gue liat setelah Raincoat-nya Ajay Devgan.

Gue suka kalimat terakhir. Saklar yang sangat ringkas--dan gue cenderung lebih suka menekan 'off'. :D

Writer Villam
Villam at Surat (11 years 12 weeks ago)
90

udah bagus...
tinggal interaksi dg lingkungan sekitar/tetangganya (yang mestinya padat) yang kurang tergambar, padahal mungkin untuk kehidupan di masyarakat seperti itu, mereka bisa berpengaruh pada keputusan2 yang diambil oleh Ni. ada omongan2 tetangga, ada simpati juga mestinya, ada teguran pada tukang pos yang 'salah' kirim surat, ada pertanyaan 'kemana suaminya, neng?' dan lain-lain.
oke. ditunggu cerpen yang satu lagi. hehehe...

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Surat (11 years 12 weeks ago)
90

Sungguh menyentuh.

Tetapi ada beberapa comment, pertama pada kalimat: Sarden yang tumben-tumbenan muncul menyertai makan malam kami... Karena ternyata sarden itu di beli dengan sisa uang berhemat.

Kedua, deskripsi karakter Kang Abid sebagai lelaki yang "lemah" sekaligus "pekerja keras" sangat tergarap dengan baik.

Ketiga, akhir yang sangat dramatis. Karena ternyata si Ni, tidak meyadari ada kotak surat di rumah kontrakannya.

Deskripsi kemiskinan dan perjuangan yang sangat hebat. Salut.

Writer miss worm
miss worm at Surat (11 years 12 weeks ago)
100

saya kaget, ada tulisan seperti ini di k.com
sepertinya, saya harus membalas standing applause-mu. bravo!

nb: saran saja, olah judul di atas pun... agar lebih provokatif :D