Rida

14
points

“Assalamualaikum, Bungaku, setahun sudah kepergianmu ke Amerika. Kurang 2 tahun lagi katamu. Kudoakan semoga tetap lancar dan tercapai maksudmu.

Kedatanganmu selama seminggu liburan tiga bulan lalu benar-benar membuat kami amat bahagia, si Putri kamu lihat sendiri begitu manja sama kamu pada akhirnya meskipun di awal-awal dia agak susah ‘mengenali’ ibunya sendiri, hehe, don’t worry about it (bener nggak bahasa inggrisku ini?)…Semoga dia mewarisi kecerdasan otak ibunya yang sebentar lagi bergelar Master ya..Big Grin Tahun depan dia akan aku daftarkan di Playgroup Al-Azhar seperti saranmu.

Kemarin tanggal 11 adalah hari ulang tahun pernikahan kita, keberapa ya? Aduh sebentar biar aku ingat-ingat.. mm ke-5 ya? Makasih atas hadiah ‘kaki’-nya itu emang enak sekali kupakai. Dari bahan serat karbon katamu? Apaan sih itu? Hehe.. ntar deh kapan-kapan aku coba tanya-tanya dan cari di internet. Yang jelas enteng banget nggak kayak kaki yang lama yang suka bikin lecet dan pegel itu, kalau yang baru ini malah bisa kubuat lari-lari sekarang. Aku malah sempat ikut acara lomba jalan sehat 5km dua minggu kemarin di alun-alun kota, itu lho dalam rangka ulang tahun-nya partai katanya. Adikmu si Nawal tuh yang tiba-tiba ndaftarin aku. Hehe, asyik juga acaranya, si Putri aku ajak, dia ikut jalan pada awalnya lalu baru dapat 1km dia sudah capek minta naik sepedanya, hehe. Si Nawal juga ikut, dia gendong putri ketika lewat jalan-jalan yang agak susah dilewati seperti jembatan penyeberangan dan naik turun panggung, eit kita dapat door prize loh, alhamdulillah dapat dispenser sama payung. Nawal apa ndak cerita sama kamu?

Apa kamu masih belum mau kasih tahu berapa itu harganya? O iya katanya hadiah nggak boleh ditanyakan harganya ya? Tapi apakah kamu ndak lebih perlu untuk biaya kebutuhan kuliahmu disana? Apa baru dapat bonus gede hasil kerja sampinganmu itu? Emang nerjemahin berapa buku tuh bisa dapat bonus? Hehe.. maaf, pokoknya kamu ati-ati jangan sampai dapat hasil yang ndak halal ya, dan prioritaskan saja buat kebutuhanmu disana.

Usaha toko kita disini alhamdulillah lancar-lancar saja. Aku baru saja menambah satu rak baru untuk bagian mainan anak-anak, soalnya sekarang ini musim layang-layang jadi aku kulakan layang-layang, benang dan beberapa mainan lain. Alhamdulillah laris manis. Mudah-mudahan rencana bongkar toko ini bisa segera terlaksana, insyaallah nanti ketika kamu pulang toko sudah aku renovasi, biar lebih longgar katamu. Tapi teras rumah akan jadi lebih sempit lho, ndak papa kan? Doakan saja, aku dibantu sama Vandi, teman SMA dulu. Dia jago arsitek sekarang, bisa sedikit ngatur ruangan kita yang terbatas ini. Jadi ruko ya ? hehe.. ya tapi bukan ruko seperti bangunan baru sekarang.. ini juga namanya ruko alias rumah jadi toko, bukan rumah plus toko .. hehe.

Bungaku, sebagai suami yang sekarang mempunyai keterbatasan fisik, aku sangat bersyukur mempunyai istri sepertimu. Cantik (eh banyak yang bilang lho), cerdas dan tetap sabar dalam keadaan ini. Bersyukur juga punya keluarga besar yang berjiwa besar seperti keluargamu. Dan yang terpenting adalah sabar dalam cobaan ini, kita masih sama-sama patuh terhadap segala ketentuan yang Allah telah aturkan untuk kita. Sepertinya dunia seperti terbalik ya? Kamu yang pergi jauh dan aku jadi yang dirumah sekarang ngurusi Putri, tapi pasti Allah punya rahasia dibalik ini semua. Keinginanmu untuk tidak melanjutkan kuliah karena kecelakaanku itu memang mati-matian aku tentang, kamu harus menyelesaikan studimu, agar kamu bisa lebih berguna untuk perjuangan agama. Kecelakaan ini insyaallah justru ternyata jadi jalan kita kembali menemukan kedekatan kita yang hampir hilang, betul kan? Orang jawa bilang, masih untung cuma satu kaki, masih ada kaki satunya lagi.. hehe, apapun kalau kata orang jawa itu masih saja untung. Lihatlah masih banyak orang lain yang bernasib lebih berat dari kita.

Bungaku, terimakasih… kesabaranmu, kesungguhanmu dan kelembutanmu telah membuka mata hatiku. Betapa dunia yang selama ini kukejar mati-matian dan tak peduli akan keabsahannya benar-benar telah melenakan diriku. Bila kuingat segala tindakanku dulu sering aku merasa begitu malu dan ehm… sedikit menangis. Hal-hal yang seringkali menyakitkan hatimu, pulang malam, mabuk, berpesta foya-foya, dengan sabar kamu terima dan dengan tekun kamu nasehati aku. Alhamdulillah meski kamu bilang semua itu adalah karena pertolongan Allah akhirnya aku bisa sadar, tapi buatku, kamulah pertolongan itu.

Semakin lama aku semakin membanggakanmu (juga si Nawal), betapa bodohnya aku tidak melihat sebuah permata didekatku selama ini. Di sela-sela kesibukanmu mengurusi rumah tangga kamu dengan gigihnya tetap belajar, tak pedulikan kata-kata pesimisku yang kadang-kadang menganggap kamu tidak mampu ternyata kamu jawab dengan bukti, tanpa kata-kata emosi darimu.

Ups, hari ini aku, ehm.. bukan aku kok tapi si Putri, agak rewel, mungkin dia lagi kangen ibunya ? hehe don’t worry… aku akan ajak dia jalan-jalan ke saudara-saudara. Emm siapa lagi ya? Saudaramu masih siapa lagi Bungaku? Di email terakhir kemarin kamu bilang ‘tidak bisa pulang liburan depan untuk ngirit ongkos, kan sayang 1500 dolar cuma buat pulang bentar…mending aku kirim buat kamu saja…’ emm .. coba deh ntar aku usahakan biar kamu bisa pulang, sepertinya mending pulang aja… si Putri itu lho..

Bungaku, katamu beasiswa yang kamu terima ini bebas ikatan kerja. Berarti nanti setelah lulus bisa langsung pulang seterusnya kan? Mudah-mudahan tidak ada perubahan kebijakan dari yayasan itu ya?

Bungaku, sekali lagi terimakasih.. bila keluargaku masih ada yang mengkirim-kirim entah itu SMS, email atau apapun yang ‘kurang enak’, biarkan saja. Aku yang paling tahu tentang kamu dari pada mereka, ntar biar aku coba terus jelaskan kepada mereka keadaan yang sesungguhnya. Kamu tenang saja, anggap saja siaran radio Jepang, hehe.

Beberapa hari lalu ibu sempat mampir ke rumah sama adikku si Pur, dia bilang bapak masih juga belum bisa mengerti tentang pilihan hidupku ini. Ndak apa-apa, kan resiko ini sudah aku siapkan sejak aku memutuskan seperti ini. Insyaallah mereka akan segera diberi hidayah oleh Allah, amin, assalamualaikum”

Your husband.

Epilog:
Heru, bernama asli Heru Herlambang Sardjono, adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Bapaknya seorang keturunan ningrat, seorang pengusaha kayu dan bahan-bahan kebutuhan pokok yang kaya raya. Mereka bertempat tinggal di komplek perumahan elit di kota Malang Jawa Timur. Sejak kecil Heru hidup dalam gelimang harta dan minim ajaran agama. Dia menjadi anak yang nakal sampai dia besar, kuliahnya tidak pernah selesai. Waktunya habis mengurusi hobinya offroad bersama teman-temannya. Karena pergaulan yang tidak terkontrol Heru beberapa kali terjaring operasi narkoba dan miras, namun karena uang dan koneksi dia selalu lolos dari hukum.

Kakak perempuannya dinikahi oleh seorang perwira polisi yang juga suka mabuk-mabukan, terkadang malah kakak iparnya mengajak Heru untuk berpesta bersama beberapa temannya sambil mabuk. Adiknya, Purnama, masih SMA. Sifatnya tidak bengal seperti Heru, tapi sepertinya dia mempunyai kecenderungan suka kepada sesama jenis. Sifat dan perilakunya feminin seperti perempuan. Ibunya adalah seorang yang kurang ‘cerdas’ tapi dia juga keturunan ningrat. Sepertinya bapaknya menikahi ibunya hanya untuk melengkapi status sosial, karena dia tahu bapaknya masih ‘doyan’ perempuan lain yang lebih muda dan seksi. Heru sempat beberapa kali memergoki bapaknya menggandeng perempuan cantik yang diakui sebagai staf perusahaan atau rekan kerja. Heru tidak begitu peduli. Dia sudah sibuk dengan keasyikannya sendiri dengan teman-temannya.

Sejak SMA dia sudah sering membantu mengurusi bagian distribusi barang oleh bapaknya, namun ketika 3 tahun kuliah dia baru tahu bahwa barang dagangan bapaknya adalah didapat dari ilegal, terkadang selundupan atau hasil kongkalikong dengan beberapa mafia penimbun barang atau pejabat yang mengadakan proyek fiktif atau markup harga.

Heru kuliah di UPN Jogjakarta. Waktu kuliah dia bertemu dengan Rida, bernama lengkap Safrida Kesumaningsih, seorang mahasiswi jurusan teknik pertanian. Keluarganya juga masih keluarga ningrat tapi hidup pas-pasan. Safrida kos di dekat kampus karena dia berasal dari sebuah desa di luar kota Semarang. Wajahnya manis dan putih, cenderung pucat. Rida termasuk kategori kuper meskipun tidak terlalu. Hidupnya tidak terlalu bervariasi, dia lebih enjoy dengan buku dan beberapa sahabat wanitanya. Hari-harinya fokus kepada pelajaran kuliah dan tidak tertarik dengan UKM kemahasiswaan. Dia anak pertama dari 2 bersaudara. Adiknya laki-laki bernama Nawal Abimayu, seorang aktifis dakwah sejak kelas dua SMU.

Waktu Heru ketemu Rida di kampus, Rida bukan gadis berjilbab. Perkenalannya dengan Rida adalah karena sebuah permainan iseng dengan teman-temannya yang memasang taruhan bila dia bisa pacaran dengan gadis asal tunjuk yang terlihat di kantin waktu itu. Dengan isengnya Heru mendekati Rida dan berkenalan. Selanjutnya Heru melakukan pacaran dengan Rida untuk beberapa bulan hanya karena ingin memenangkan taruhan dengan teman-temannya, namun Rida tidak menyadarinya. Yang pertama kali mengetahui adalah Nawal. Nawal beberapa kali berusaha memberitahu Rida, namun karena mereka jarang bertemu, Nawal di desa sedang Rida di Jogja, Rida tidak terlalu mengindahkannya. Baginya Heru adalah seorang cowok kaya yang sering menemani dan mentraktirnya. Kadang-kadang Heru mengajaknya nonton film atau even offroad. Rida menerima ajakannya meski tidak sampai mengganggu kuliahnya.

Sebulan pacaran Heru mulai berani agak ‘macam-macam’, Rida mulai diajaknya ke tempat-tempat dia bisa minum-minuman dengan teman-temannya dan mulai berani pegang-pegang. Sebenarnya Rida mulai risih, dia tidak pernah berpacaran sejauh itu. Mereka adalah anak yang taat kepada orang tuanya. Rida mulai terkena pengaruh Heru. Hingga suatu hari Heru dalam keadaan mabuk datang ke kos Rida hendak menjemput. Ketika Rida sedang berganti baju, Heru dengan tiba-tiba masuk ke kamar. Rida terkejut akan kenekatan Heru, namun Heru dengan cepat mengatakan bahwa dia berjanji akan menikahi Rida bila dia mau melayaninya. Masih dalam keadaan bingung, Heru hendak meniduri Rida. Tiba-tiba Nawal yang datang dari desa untuk menjenguk kakaknya berada di depan pintu. Dia dengan segera menarik Heru dari atas tubuh kakaknya. Terjadi perkelahian hebat antara Nalwan dan Heru. Nawal yang bertubuh lebih besar menghajar Heru hingga babak belur.

Setelah kejadian itu, Rida disuruh pulang ke desa. Kuliahnya cuti sementara. Rupanya Heru menyimpan dendam kepada Nawal. Suatu saat Heru mengajak teman-temannya mendatangi Nawal yang tidak kuliah karena kurang biaya dan bekerja di sebuah bengkel. Nawal dikeroyok dan salah seorang teman Heru memukul Nawal dengan besi hingga pingsan. Nawal masuk rumah sakit dan lukanya harus dijahit.

Bapak Nawal seorang guru SMU swasta. Tidak terima dengan kejadian itu. Dia mendatangi rumah keluarga Heru untuk minta pertanggungjawaban, namun mereka tidak pernah bertemu. Penjaga rumah selalu menahan keluarga Nawal di depan pintu.

Heru kembali kepada teman-temannya. Sementara Rida berada di rumah untuk menenangkan diri. Selama di rumah Rida mendapat pelajaran agama dari Nawal dan akhirnya memakai jilbab. Rida kembali kuliah untuk menyelesaikan S-1 nya dengan memakai jilbab.

Satu hari bapak Heru ditangkap polisi atas sebuah kasus besar yang melibatkannya dan dijebloskan ke dalam penjara untuk 3 tahun. Mulai saat itu keluarga Heru goyah dalam segi keuangan. Secara tidak sengaja, Heru bertemu kembali dengan Rida. Dalam hati sebenarnya Rida masih belum begitu mengerti kenapa Heru yang baik pada awalnya berubah menjadi nakal pada akhirnya. Heru kembali mendekati Rida dengan cara yang amat halus dan sembunyi-sembunyi.
Rida tidak serta merta menerima Heru. Dia membatasi diri. Ditengah kalutnya suasana keluarga, Heru semakin frustasi. Kehidupan finansialnya mulai sulit. Lambat laun Rida mengetahui dengan jelas latar belakang keluarga Heru. Rida mulai aktif dalam menjadi aktifis dakwah kampus. Dia mulai belajar menjadi pribadi yang terbuka kepada semua orang dengan tujuan berdakwah, termasuk kepada Heru yang mulai ditinggalkan oleh teman-temannya yang yang berorientasi materi.

Selama 1 tahun kuliah dan dan menjadi aktifis dakwah, diam-diam Rida menjadi idaman hati Heru. Meskipun Rida tidak secantik teman-teman wanitanya yang lain namun rupanya ketenangannya menjadi semacam innerbeauty tersendiri di mata Heru.

Heru memutuskan untuk menikahi Rida. Dalam keadaan ekonomi keluarga yang sedang terpuruk dan bapak yang sedang dipenjara, dia mengemukakan maksudnya untuk melamar Rida kepada orangtuanya. Sementara Rida sendiri belum tahu. Serta merta bapak Heru menolaknya dengan alasan kurang sederajat, sementara ibunya hanya menurut kepada bapaknya. Heru keras kepala, tekadnya sudah bulat untuk melamar Rida.

Heru mendatangi keluarga Rida di desa. Bapak Rida masih belum reda amarahnya mengingat kejadian yang menimpa anaknya. Heru dihajar babak belur dan Heru tidak melawan. Akhirnya Heru menyatakan permintaan maafnya kepada keluarga Rida dan bermaksud untuk melamarnya. Bapak Rida tidak menjawab apa-apa.

Setengah tahun berlalu, Heru berubah menjadi muslim yang taat. Keluarganya bangkrut, ibu dan adiknya hampir stress sementara kakaknya dibatasi oleh suaminya agar tidak berhubungan lagi dengan keluarganya. Heru berada dalam keadaan bingung dan sedih. Dia hampir putus asa dan hendak tergoda kedalam dunia minum-minuman dan obat-obatan untuk melepas stress.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba Rida datang kepadanya dan menyatakan bersedia menjadi istrinya. Heru seperti mendapat kekuatannya kembali. Dia melangsungkan pernikahan dengan Rida tanpa sepengetahuan bapaknya, hanya ibunya yang tahu, sementara keluarga Rida menerima Heru atas desakan Rida. Mereka percaya kepada Rida akan pilihan terbaiknya.

Mereka tinggal disebuah rumah kontrakan di Jogja. Heru putus kuliah dan membuka usaha bengkel mobil dan motor dengan modal dari ibunya, sementara Rida melanjutkan kuliah yang tinggal skripsi.

Baru 4 bulan berumah tangga, bapak Heru keluar dari penjara, lebih cepat dari hukuman yang sebenarnya atas bantuan loby dari temannya. Akhirnya bapaknya mengetahui Heru menikah dengan Rida. Bapak Heru naik pitam. Dia memaksa anaknya untuk meninggalkan Rida dan mengancam akan mencabut semua bantuan finansial termasuk hak waris apabila tidak menuruti perintah. Heru lebih memilih tetap bersama Rida. Belakangan Heru mengetahui bahwa modal yang diberikan ibunya adalah hasil hutang di bank dengan jaminan rumah. Ibu Heru dipersalahkan habis-habisan oleh bapaknya. Akhirnya atas saran Rida, Heru menyerahkan semua aset tokonya kepada bapaknya untuk menyelamatkan rumah dan untuk keperluan bapaknya memulai usaha.

Heru dan Rida memulai lagi usaha dari nol. Heru menjadi sales obat-obatan dari satu dokter ke dokter lain. Rida lulus S-1 dan sedikit demi sedikit juga mulai berpenghasilan dari hasil membuka terjemahan dan pengetikan komputer. Ketika mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan ternyata Rida telah mengandung 3 bulan. Mereka memutuskan untuk tidak menerima panggilan kerja itu.

Bapak Heru sukses memulai usaha dengan bantuan teman-temannya, bisnisnya mulai berkibar lagi tapi masih juga mengandung usaha ilegal, namun kali ini dia lebih berhati-hati. Heru diberi sedikit dana oleh bapaknya. Heru sering dipanggil pulang ke Malang dan coba ditarik oleh bapaknya kembali ke dalam bisnisnya ilegalnya. Heru lambat laun terpengaruh oleh bapaknya. Heru kembali punya banyak uang dari bisnis bapaknya yang tidak dipahami oleh Heru bahwa itu ilegal. Bapakya telah mengemasnya sedemikian rupa dengan lebih halus dan bahkan Heru sendiri tidak menyadarinya. Heru tidak menyadari bila bapaknya mempuyai rencana agar dia mau meninggalkan Rida dan bermaksud menikahkan dengan anak rekan bisnisnya agar usahanya lebih lancar.

Heru mulai hidup lagi dalam gelimang harta dan mulai tergoda untuk meninggalkan Rida. Dia banyak dikenalkan kepada gadis-gadis cantik anak rekan bisnis bapaknya yang sengaja diming-imingkan untuknya. Heru diberi sebuah rumah oleh bapaknya di Malang. Heru pindah ke Malang bersama Rida yang sedang hamil tua. Heru kembali ke dunia hobi offroad dan mabuk-mabukan. Rida melahirkan seorang putri yang diberi nama Zahra Putri Alia.

Ketika Putri berumur satu tahun Rida menerima tawaran beasiswa kuliah S-2 di Amerika namun ditolak oleh Heru dengan alasan tidak ada gunanya. Heru semakin tenggelam dengan bisnis bapaknya dan hampir meninggalkan Rida. Hingga pada suatu hari Heru mengalami kecelakaan fatal sewaktu offroad yang menyebabkan dia koma dan salah satu kakinya harus diamputasi.

Rida merawat suami dan putrinya dengan sabar. Kecelakaan fatal itu membuat Heru tersadar kembali akan arti hidup. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari bisnis bapaknya dan tidak mau menerima pemberian bapaknya yang dia tahu banyak tercampur dengan uang haram. Bapaknya sendiri seperti tidak terlalu perduli lagi padanya ketika dia menjadi cacat.

Heru memaksa Rida untuk menerima beasiswa itu dan mereka pindah ke sebuah desa di Semarang dekat dengan keluarga Rida yang taat beragama. (TAMAT – Malang, 09 mei 2008)

Your rating: None Average: 4.7 (3 votes)
dikirim ame268 24 minggu 3 hari yang lalu
Tag: