Erfurt, 04062008
angela p.
buah pikir ketika mata tak mau terpejam di pukul 3 pagi... ditunggu kritik dan sarannya!^^
"Gema suara nafas yang terengah-engah memenuhi ruangan yang gelap gulita itu. Hanya seberkas cahaya bulan dari jendela kecil di seberang yang meneranginya. Sambil meraba-raba sekelilingnya, yang empunya suara berusaha menemukan jalan keluar dengan panik dan tergesa-gesa. Ia sendiri tak paham mengapa, hanya saja ia merasa ia harus pergi dari tempat itu jika masih sayang akan nyawanya, seolah kegelapan bisa menelannya perlahan dari dunia ini. Seketika ia terdiam saat mendengar derit suara pintu dibuka di belakangnya dan suara langkah kaki berjalan mendekatinya. Dipenuhi rasa takut, ia merasakan lututnya melemah dan tubuhnya pun jatuh terkulai di atas lantai yang dingin menusuk. Perlahan dia mengangkat kepala berusaha mengenali sosok yang mendekatinya dengan bantuan sinar bulan yang samar dan kengerian yang sangat menguasainya ketika wajah itu menyeringai kejam...
"Hhh... hh... hhh..." Rina terengah-engah. Mimpi itu lagi, pikirnya. Ia bisa merasakan tangannya yang masih gemetaran karena takut dan keringat dingin yang mengalir di balik kaos oblongnya. Disingkapkannya selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan beringsut ke dapur. Segelas air adalah obat paling manjur untuknya saat ini.
"Kenapa? Kenapa harus mimpi itu lagi?" gumamnya perlahan sambil melihat ke arah jam dinding yang menggantung di dapur. 04:20. sudah hampir pagi, tapi di musim dingin seperti ini matahari baru akan terbit beberapa jam lagi. Rina memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya. Rasanya kengerian mimpi itu telah menghilangkan semua rasa kantuk dan lelahnya.
Ia duduk di tepi meja makan sambil memikirkan mimpi itu lagi. Sudah sekitar tiga atau empat kali ia terbangun karena mimpi yang sama. Semuanya selalu berakhir ketika ia melihat seringai mengerikan itu. Ah, mengingatnya saja sudah membuat bulu kuduknya beridiri. Untuk mengusir rasa takutnya, ia berjalan menuju ruang kerjanya di lantai dua. Lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku, pikirnya.
Satu jam berlalu sejak ia berkonsentrasi pada laptopnya dan akhirnya berhasil melupakan rasa takutnya, ketika listrik tiba-tiba padam. Ia memaki pelan, kesal karena ia belum sempat men-save dokumen yang sedari tadi dikerjakannya. tapi kemudian ia membeku ketika mendengar suara dari luar ruang kerjanya. ada orang lain di apartemen ini. orang yang sudah pasti tidak diundang kedatangannya.
berusaha mengalahkan rasa takut, Rina berdiri dari kursinya, meraba-raba mencari benda yang cukup meyakinkan untuk bisa dijadikan senjata. Ia menemukan gunting di laci meja. Dengan perlahan Rina berjalan ke arah pintu berniat menyergap tiba-tiba sang penyusup ketika ia memasuki ruangan itu. Tapi ia terlambat. Orang itu mencapai pintu terlebih dahulu. Ketakutan, Rina mencoba berteriak minta tolong, namun teriakan itu tak pernah sempat keluar dari mulutnya. Sebilah pisau tajam telah terlebih dahulu merobek isi perutnya. Dan seketika, di antara hidup dan mati, Rina mengenali semua kejadian ini dari sinar bulan yang menerobos dari jendela kecil di sana dan seringai orang di hadapannya. sayang semuanya sudah terlambat.
dikirim angeaja 17 minggu 6 hari yang laluTag:













