heheh, sebenernya agak mirip sama kejadian yang menimpa aku
tapi lama-lama kok kuganti2 juga...
heheh
pliss kritikk
pake sambel,, sama kentang gorengnya juga boleh...
heheh
"“Selamat malam, Dik. Mimpi indah.”
Adik hanya tersenyum menanggapi perkataan Kakaknya. Ah, mungkin orangtua keduanya.
Pagi itu ketika si Kakak menyeduhkan teh untuk Adik tersayangnya, Ayah menghampiri meja.
“Nasi goreng lagi?” Ayah mengernyit.
Kakak melirik meja makan.
Ayahnya menatap bakul di meja makan dengan pandangan jijik. “Ayah pergi, cari makan di luar.”
“Selamat jalan, Yah.” Suara kakak teredam deru mobil.
Sedetik kemudian Ibu keluar dari kamar, lengkap dengan caci-makinya.
“Mana si bangsat itu?!” bentak Ibu pada putri sulungnya.
Kakak tertunduk. “Beli makanan di luar, Bu…”
Sumpah serapah. “Si kurang ajar itu…!” jari Ibu menuding foto Ayahnya di dinding ruang makan. “Hanya bisa nyusahin orang!” lalu jari Ibu berpaling ke foto buram Bapak yang tergantung di dinding kamar Adik. “Yang kau sebut Bapak itu!” Adik yang baru bangun menatap lantai datar. “Mata duitan!”
“Sama sengaknya!” pintu kamar mandi berdebam dibanting Ibu.
Lima detik sunyi itu dipecahkan oleh suara desahan nafas Adik.
“Selamat pagi, Dik. Hari yang cerah, ya.” Kakak menatap sinar matahari yang mengintip ke dalam jendela rumahnya.
Adik duduk di kursi. Diapun tersenyum mengejek. “Sudah tiga tahun tidak ada hari yang cerah di rumah ini, Kak.”
Kakak meletakkan kembali bungkus roti ke dalam lemari. “Pagi sekali kau bangun, Dik.” Pagi ini Kakak tidak ingin berdebat.
“Bapak juga bangun mendengar caci-maki Ibu tadi.”
“Apa katamu tadi, Hah!? Bapakmu itu sudah mati, mampus!” teriakan Ibu membahana dari kamar mandi.
Kakak mengoleskan mentega di atas setangkup roti.
“Adik pergi dulu, Kak. Hati-hati di rumah.” Adik menadahkan tangan ke kakak. Kakaknya menyerahkan roti sebagai bekal Adiknya dan selembar uang lima ribuan.
“BBM naik lagi, ongkosnya pas.”
“Assalamu’alaikum.”
Bibir Kakak kelu untuk menjawabnya, Ibu keluar dari kamar mandi.
“Mana anak Bapak, hah!? Anak Bapak yang selalu diajarkan mengaji? Hah!?” Kakak menatap kaki menja nanar. Dinding rumah kontrakan itu seolah bergetar.
“Siapa Bapaknya, hah!?” Kakak membuang muka, menyembunyikan perasaannya.
Ayah sudah pulang. Dengan sepuntung rokok di tangannya beserta perut tambunnya.
“Bapaknya yang mata keranjang sudah pulang…” Ibu mendesis tajam.
Dua minggu kemudian Ibu jadi janda lagi.
Sudah dua minggu pula Adik tidak keluar kamar.
Ibu tidak sadar, mungkin. Ya, mungkin Ibu tidak sadar.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Kakak mencoba membuka pintu kamar Adik. Berharap ia lupa mengunci pintu. Setidaknya kakak bisa mengucapkan selamat malam.
Beruntung, setelah empat belas hari mencoba berbicara dengan adik semata wayangnya, Kakak mendapat jawabannya.
“Tidak, aku bahagia bisa tidur dengan tenang tanpa mendengar pertengkaran…”
Siang bolong, Jakarta. 6 Juni 2008
dikirim starof hope 17 minggu 4 hari yang laluTag:












