DAMAR

27
points

Damar, seperti malam-malam sebelumnya, duduk di depan pintu kafe tua ini, di kawasan pusat hiburan malam kota Yogyakarta yang riuh rendah di pekatnya malam. Ia penjaga malam di tempat tersebut, entah telah berapa lama, ia sudah lupa. Kafe tua sisa-sisa kejayaan dari kawasan yang sepuluh tahun yang lalu sangat terkenal ini, kini kalah oleh kencangnya persaingan dengan tempat-tempat yang lebih bagus, bersih dan baru. yang ada sekarang, kafe ini hanya mencoba untuk bertahan, dengan musik-musik usang serta fasilitas karaoke dan makanan minuman yang ala kadarnya. Yang berkunjung bisa di tebak, juga mereka-mereka yang terpinggirkan, yang butuh hiburan tapi tidak bisa menyentuh tempat-tempat yang lebih baik, bagus, bersih dan baru itu.

Damar, bersama teman nya Kobel dan Cakung juga Baskoro, seorang pria tua bekas preman yang habis masa jayanya, menghabiskan malam demi malam berlagak menjaga ini tempat. Padahal tidak ada yang perlu dijaga, kalau pun ada keributan, terlalu kecil untuk dilerai, kebanyakan terlalu mabuk untuk merusak kafe tua ini yang akhirnya tak dihiraukan serta jadi pemandangan biasa disini.
Orang muntah, teler berat dan tidur terkapar di dekat mereka, tempat ini benar-benar berantakan.

Begitulah pemandangan setiap malam nya tempat ini, wajah buruk dari sebuah peradaban kota yang sedang berkembang menjadi kota metropolitan, menyisakan secuil dari bagian masyarakat yang dianggap gagal mengikutinya.
Di depan kafe ini, dan hampir di seluruh pinggiran jalan kawasan ini, banyak yang menjajakan badan,laki-laki, perempuan atau bahkan yang keduanya, mereka berserakan di antara lampu yang remang-remang, di antara dingin nya udara yang menusuk tulang, mereka berpakaian semenarik mungkin, mencoba terbuka di bagian mana saja.

Dan diantara mereka itu, bagi Damar tumbuh lah seekor kupu-kupu yang mengepakkan sayap indahnya di situ. Kupu-kupu yang berbeda dari kupu-kupu lainnya, karena Damar melihat sendiri ia tumbuh, dari ulat kecil yang jelek dan ingusan, kini telah mengepakkan sayap nya, di kawasan tanpa bunga satu pun di sini, Damar ingat ketika kupu-kupu tersebut masih lah seekor ulat yang jelek, sering ia di tegur sapa olehnya, diantarkan sepiring kecil makanan kesukaanya di depan kafe ini, dengan senyum tanpa giginya di setiap sore ulat kecil itu selalu bermain-main dengannya.

Tapi waktu dan usia menyadarkan semua, pada kenyataan kerasnya kehidupan, ketika si ulat kecil dipaksa menjadi kupu-kupu, sebagaimana mereka yang telah memberi dia makan dan kehidupan, kini Damar hanya melihatnya dari kejauhan, dari seberang jalan, di depan lampu merah tempat favorit kupu-kupu tersebut hinggap. tidak seperti ketika masih menjadi ulat kecil yang jelek, Damar tak pernah lagi melihatnya terseyum, bibir yang di gincu merahkan itu selalu terlihat tertekuk, ditambah sebatang rokok yang menyelip di selanya.

Kupu-kupu itu tak pernah terbang dengan lincah lagi, ia hanya hinggap di situ, hanya mencoba bertahan dari kehidupan yang entah untuk apa ia pertahankan.

Sesekali ada laki-laki hidung belang yang tertarik, tawar-menawar, ada transaksi yang terjadi tapi kadang juga tidak. Tiap malamnya, Damar melihat Kupu-kupu itu lebih sering hanya terdiam disitu, pelanggannya tidak sebanyak kupu2 lain disekitarnya. Kupu-kupu itu memang tidak menarik banyak pria, tapi bagi Damar dia selalu menarik.

Dan Damar tidak sendirian, ada salah seorang pelanggan kafe yang juga berpikir sama, Bandi, seorang gelandangan tanpa pekerjaan, gagal jadi preman, sekali-sekali mengemis di jalanan atau menipu beberapa temannya untuk hidup bertahan atau pun untuk bersenang-senang, yang biasanya di kafe yang di jaga oleh Damar disini.

Di malam ini di dekat Damar, terlihat lelaki tua itu telah setengah mabuk sekeluarnya dari kafe tersebut. dan sama seperti Damar, laki-laki itu terlihat memandangi Kupu-kupu nya Damar namun dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang menjijikan dengan mata memerahnya. Entah apa yang di dalam benaknya, laki-laki itu beberapa kali menghisap kretek kecilnya dengan tergesa-gesa. Ia sering meminta pelayanan dari kupu-kupu di sekitar situ tanpa membayar apa pun, hanya dengan janji-janji, serta bualan atau kalau semuanya tidak berhasil, dengan paksaan.

Ia sungguh penasaran dengan kupu-kupunya Damar, karena kupu-kupu belasan tahun tersebut adalah satu-satunya kupu-kupu yang belum berhasil dijamahnya. sudah beberapa kali ia coba, dengan berbagai cara tapi tidak berhasil juga, ia sungguh penasaran.
Kali ini, setelah ia membuang puntungan kreteknya itu, ia memantapkan diri untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, ia melangkah menyeberang jalan, seperti yang Damar takutkan, menuju ke arah kupu-kupu kesayangan Damar itu. Damar mencoba berteriak menghentikannya, tapi orang itu tak mengindahkannya.

Dari kejauhan, nampak Kupu-kupu itu mencoba terbang jauh menghindari laki-laki brengsek itu, tapi gagal, ia terhadang, dengan aroma busuk dari mulutnya ia mencoba merayu kupu-kupu itu, tapi seperti sebelum-sebelumnya, kupu-kupu tesebut menolaknya, di bayar berapa pun belum tentu ia mau, apa lagi tidak dibayar. akhirnya laki-laki tua itu nekat, mencengkram tubuh kupu-kupu itu dengan kuat, mencoba mendaratkan ciuman dan memeluk nya dengan kuat, Kupu-kupu itu mencoba melepaskan diri tapi tidak bisa.

Damar, demi melihat semua itu, terus berteriak-teriak marah dari seberang jalan, ia kemudian melalaikan tugasnya menjaga kafe tua tersebut dan berlari sekencang-kencang nya menyeberangi jalan, tidak peduli pada lalu lalang kendaraan yang hampir menabraknya serta mengklaksonnya dengan keras berbareng dengan umpatan-umpatan. Damar terus berlari dan tanpa berhenti ia kemudian melompat, menerjang tubuh laki-laki yang terus berusaha memeluk tubuh kupu-kupu malangnya tersebut lalu "Brukk"

Terjerembab lah tubuh laki-laki tua yang setengah teler tersebut, wajahnya mencium tanah. Damar mencoba lagi menyerang sebelum laki-laki itu bangkit, ia menerjang dan menggigit dengan beringas salah satu tangan laki-laki tersebut, dan laki-laki itu pun menjerit kesakitan, ia kibas-kibaskan tangannya mencoba melepaskan gigitan Damar yang kuat, ia pukul dengan tangan satunya yang telah meraih sebuah balok kayu yang entah dari mana, ke arah kepala Damar dan "prakk!" Damar sempoyongan, terpaksa ia lepaskan gigitan tersebut.

Giliran laki-laki itu yang menyerang, "Dasar Asu!!!" ia berteriak mengumpat Damar lalu ia layangkan tendangan ke tubuh Damar yang kecil itu hingga melayang ke tengah-tengah jalan. Kali ini Damar yang melengking kesakitan, dan belum sempat ia bangun, sebuah kendaraan beroda empat besar, menabrak tubuhnya hingga ia terpelanting lebih jauh lagi, seluruh orang yang melihat kejadian itu histeris, tentu juga tidak terkecuali kupu-kupu nya yang berteriak kencang serta berlari ke arah nya, sementara laki-laki tua itu entah sudah lari kemana.

Samar-samar, dengan tubuh tak berdaya, serta pandangan mata yang mengabur, Damar melihat kupu-kupunya mendekati nya lalu mendekap tubuhnya dengan erat.
Dekapan yang sudah lama Damar tidak rasakan, jemari tangan kupu-kupu tersebut mengusap lembut bulu-bulu coklatnya Damar, memeluknya dengan erat meski pakaian nya kemudian penuh dengan darah karenanya, Kupu-kupu itu tak peduli. Damar mendengar kupu2nya tersebut terus berteriak sejadi2nya menangis terisak2, seperti orang yang kehilangan akal, seperti kehilangan seseorang yang dikenalnya, dan tidak bisa berbuat apa-apa atasnya.

Kupu-kupu itu menangis sejadi-jadinya, sementara Damar sudah semakin tidak merasakan lagi pelukan kupu-kupunya itu, matanya telah berat untuk dipertahankan, tapi di dalam hatinya sejenak ini, ia merasakan kebahagiaan, telah melakukan sesuatu untuk kupu-kupu kesayangannya.

Setelah itu ia mati.

Di pangkuan seseorang yang ia sayangi..

Your rating: None Average: 5.4 (5 votes)
dikirim Redo Rizaldi 17 minggu 3 hari yang lalu
Tag: