untuknya..
""Kamu kenapa, sakit ya?"
Aku mendongak dalam jongkokku. Perhatian dari panggung yang kini penuh orang-orang bersibuk check sound untuk pentas seni teralih sementara. Tak kusangka mendapat sapaan penuh perhatian darinya. Orang yang tak pernah sekalipun tak mengacuhkanku meski saling kenal.
Tuk..tuk...tuk...
Tiga ketukan mungil jari telunjuknya di ubun-ubunku.
"Kok diem aja dari tadi?"
Rasanya ada yang menarik bibirku. Seulas senyum tiba-tiba terkembang di bibirku tanpa pikirku mengambil alih komando terlebih dulu.
"Enggak kok..." aku bohong. Dingin tanah lapang yang terbuka sejatinya menusuk tulang. Tapi sapanya, serasa penghangat dada yang takkan pernah hilang.
!@#$%^
Tiga hari kemudian.
Aku berpapasan dengannya di belokan koridor ruang kelas X.
Sekali lagi, bibibrku melontarkan senyuman paling tulus yang pernah kupunya. Tapi dia tak mengindahkanku samasekali. Meneruskan jalannya dengan langkah pasti yang melebur dalam tatapnya yang menusuk hati.
Jiwaku mendesah.
Kharismanya tak akan hilang dari kalbuku meski dia acuhkan diriku.
dikirim pren_padzholic 23 minggu 5 hari yang laluTag:








