Air Mata Bu Heni…..
Guru yang baik hati itu sedang berjalan menuju kelas yang akan diajarnya hari itu. namanya Bu Heni, dia adalah wali dari kelas 3.a di SMU Tunggal Ilmu. Anak-anak yang menjadi anak didiknya selalu menyukai setiap pelajaran yang diberikan oleh bu Heni, karena selain orangnya baik dia sangat pandai menerangkan segala jenis pelajaran terhadap anak didiknya, terutama terhadap kelas 3.A. sehingga anak-anak mudah dibuat mengerti dengan apa yang diajarkan olehnya.
Matematika adalah pelajaran yang akan diberikannya hari itu di kelas 3.A. dengan wajah yang ceria bu Heni melangkahkan kakinya menuju kelas 3.A yang berada tidak jauh dari arah kantor para guru. Hanya terpisah jarak sekitar tiga ruangan. Semua buku yang akan digunakannya untuk mengajar sepertinya telah lengkap berada di tas jinjingnya. Bu Heni sangat senang jika tiba saat untuk mengajar di kelas 3.A, karena selain bu Heni wali kelas mereka, kelas 3.a juga terkenal dengan kepandaiannya menyerap pelajaran, mereka juga sangat ramah terhadap para guru yang mengajar di kelas. Karena itulah kelas 3.a dijuluki sebagai kelasnya para Juara.
Saat itu seluruh anak sudah berada di kelas. Siswa di kelas itu berjumlah 29 orang. Anto adalah ketua kelas di kelas 3.A. pintu kelas terlihat tertutup ketika bu Heni Hendak Masuk. Dibukanya pintu.
“Selamat pagi Anak-anak..” Bu Heni menyapa ramah anak-anak.
Tidak ada suara yang menjawabnya. Hening. Masing-masing anak seperti tidak mengindahkan kedatangan bu Heni, mereka sibuk dengan urusan masing-masing di kelas itu. Ada yang sibuk memainkan HPnya, ada yang membaca buku tanpa memperhatikan ke arah Bu Heni, bahkan ada pula yang tidur di bagian belakang kelas. Sama sekali mereka tidak memperhatikan bu Heni. Dengan terheran-heran bu Heni masuk ke kelas itu. apakah dia tidak salah dengan apa yang sekarang dilihatnya. Sungguh ini adalah kelas 3.A, namun apa yang mereka lakukan tidak mencerminkan mereka anak 3.a.
Rasa penasaran tidak dapat dibendungnya. Bu Heni tidak langsung menegur anak-anak di kelas. Bu Heni memanggil ketua kelas yang dianggapnya paling bertanggung jawab di kelas. Dipanggilnya Anto ke depan oleh bu Heni.
“ Anto bisa kesini sebentar..!” Bu Heni akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anak kelas 3.A yang biasanya semangat ketika akan diajar oleh Bu Heni.
Apakah ada yang salah dengan dirinya hari ini, ataukah ada sesuatu yang lain yang sedang dirasakan oleh anak-anak. Pikiran-pikiran yang tidak jelas berseliweran di pikiran bu Heni. Anto yang dipanggil oleh bu Heni berdiri dari tempat duduknya. Kemudian berjalan ke depan, namun….dia tidak menghadap ke meja untuk memenuhi panggilan bu Heni. Dia seperti tidak mendengar apa yang diperintahkan oleh bu Heni, dia malah berucap..
“ Bu saya Izin ke belakang sebentar..”tanpa menunggu bu Heni bicara Anto langsung melengos ke luar kelas.
Hampir saja bu Heni hendak marah dengan apa yang dilakukan oleh Anto barusan, dia merasa masih bingung dengan sikap yang dilakukan oleh Anto. Ketua kelas 3.A itu adalah anak yang dia pikir paling menurut dan sangat baik tingkah lakunya, namun sekarang apa yang terjadi. Anak itu sangat tidak mengindahkan apa yang dia katakan. Akhirnya bu Heni tidak mau berlarut-larut dalam kebingungannya. Dia hendak memulai saja pelajaran hari itu.
“ baik anak-anak hari ini akan kita mulai pelajaran mengenai rumus relatifitas, minggu kemarin ibu sudah menyuruh kalian untuk membaca mengenai hal ini. apa kalian sudah membacanya?” Bu Heni ingin setiap pelajaran dimulai anak-anak sedikitnya mengetahui tentang apa yang akan diajarkan sehingga akan terjadi interaksi yang aktif anatra guru dan murid. Sebenarnya bu Heni sudah yakin kalau anak-anak di kelas 3.A adalah anak-anak yang pasti senang membaca apa yang akan diajarkan, namun melihat gelagat mereka hari ini bu Heni tidak yakin dengan itu. dan apa yang terjadi,
“ belum bu..buat apa baca pelajaran, kan sekarang mau diajarkan sama ibu, mendingan dengerin ibu aja..” salah seorang anak mewakili teman-temannya menjawab pertanyaan bu Heni.
Mendengar jawaban itu sedikit sesak menyelusup ke dalam dada bu Heni, sungguh jawaban yang diluar pikirannya. Tak kehilangan cara bu Heni kembali bertanya kepada anak yang bernama Bowo tersebut.
“ Bowo kenapa kamu ngga baca buku di rumah, apa kamu sudah bisa?” Bu Heni sebisa mungkin meredam amarahnya. Karena memang dia orang yang paling anti dengan yang namanya kemarahan. Menurutnya guru yang marah hanya akan membuat siswa tidak hormat dan tidak senang dengan gurunya.
“ yah saya kan seorang pelajar, sudah wajar dong saya belum bisa bu, ibu gimana sih..?!” Bowo menjawab seenaknya pertanyaan bu Heni.
“ yang lainnya, apa kalian sudah baca buku kalian mengenai Relatifitas ..?” bu Heni tidak bertanya lagi ke Bowo, dia takut rasa marahnya akan muncul. Dan dia tidak ingin itu.
“ Belum bu… Buat apa baca buku..!!” serempak anak- anak sekelas menjawab pertanyaan bu Heni.
Jawaban dari anak-anak sekelas ternyata sama dengan jawaban Bowo, bu Heni berpikir terhadap dirinya sendiri. Apa yang salah dengan dirinya? Apakah dia tidak menjadi wali kelas yang baik? Apakah dia tidak pernah memperhatikan anak-anaknya? Kenapa sampai anak-anak 3.a yang dikenalnya penurut dan baik sekarang berubah menjadi seperti ini?kembali berbagai pikiran melintas di benaknya.
“ baik anak-anak, tidak apa-apa kalau kalian belum membaca buku, ibu akan memulai pelajaran mengenai relatifitas. Rumus relatifitas adalah……”
“ Bu udah ngga usah belajar .. kita kan belum baca mengenai itu..!!!” seorang anak memotong apa yang akan dikatakan oleh bu Heni.
Merasa dirinya tidak dihargai bu Heni hendak marah.
“ kamu yang ada dibelakang kesini…!!” Bu Heni hendak memberikan pelajaran kepada siswa yang barusan memotong pembicaraanya.
“ tidak mau bu, memangnya saya kenapa..?!!”
Ingin rasanya bu Heni menangis diperlakukan seperti itu oleh anak didiknya. Apalagi dia sebagai wali kelas 3.a, sungguh sedih rasanya diperlakuakn seperti itu oleh anak didiknya.
“ baik ibu tidak memaksa kamu untuk kesini…, tapi tolong jawab pertanyaan ibu, apa sebenarnya yang terjadi dengan kalian. Apa yang telah ibu perbuat sampai kalian memperlakukan ibu seperti ini? tolong jawab!!” hampir saja air mata bu Heni hendak tumpah, namun sebisa mungkin dia tidak menangis. Dia tidak ingin terlihat kalah di depan siswanya.
“ ibu gimana sih malah tanya sama kita, seharusnya ibu tahu dong kenapa kita sampai kaya begini..!!” Bowo menjawab mewakili lagi teman-temannya.
Mendengar jawaban yang diucapkan Bowo mata bu Heni bertambah sembab karena menahan air mata yang akan tumpah. Bu Heni berusaha sekeras mungkin menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia mengutakan hatinya. ‘ pokoknya saya jangan sampai dibuat menangis oleh anak didik saya, apa salah saya sampai mereka seperti ini?’ pertanyaan itu kembali terulang lagi di dalam pikirannnya.
Suasana kelas mulai riuh oleh anak-anak. Terdengar dari ucapannya mereka sedang membicarakan tentang diri bu Heni. Bu Heni masih terlarut dalam kebingungannya, dia tidak tahu harus melakukan apa, dia merasa tidak sanggup lagi kalau diperlakukan seperti itu. dia memutuskan untuk meninggalkan kelas itu.
“ baik anak-anak sekalian, kalau kalian sudah tidak mau diajar sama ibu, ibu akan keluar dari kelas ini. kalian boleh mencari guru lain untuk pelajaran ini. ibu tidak tahu harus berbuat apa la..gi kalau ter..nyata kalian tidak suka dengan ibu. Tapi ibu mohon kepada kalian, to…long beritahu kepada ibu kenapa kalian seperr..ti i..ni?!” Air mata itu akhirnya tumpah tak tertahankan lagi. mata bu Heni terlihat sembab, pipinya basah dengan air mata. Suaranya serak terputus-putus karena kesedihan yang mengisi jiwanya.
Melihat bu Heni menangis seperti itu serempak anak-anak berdiri. Mereka tidak langsung menjawab peranyaan bu Heni. Bowo yang memang selalu mewakili teman-teman untuk menjawab pertanyaan bu Heni maju ke depan kelas mendekati bu Heni. Kemudian beberapa anak putri mengikuti Bowo dari belakang mengarah ke depan menuju bu Heni. Melihat itu bu Heni semakin heran, dalam benaknya ‘apa yang akan dilakukan oleh anak didiknya?’
Setelah cukup dekat dengan bu Heni, Bowo angkat bicara. “ Bu sebenarnya kami melakukan ini semua, karena sekarang…ibu kan Ulang Tahun, jadi..”
“SELAMAT ULANG TAHUN BU….!!!!” Anak-anak serempak mengucapkan itu. kemudian Anto yang tadi keluar kelas datang dengan membawa kue tart yang diatasnya ada lilin. Dibelakangnya mengiringi juga beberapa guru dan bahkan kepala sekolah untuk mengucapkan selamat kepada bu Heni.
Air mata pedih yang tumpah kini telah berganti menjadi air mata kebahagiaan yang tidak terhingga. Ternyata anak-anak didiknya berlaku seperti itu bersandiwara untuk mengucapkan selamat kepada dirinya. Bu Heni sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh mereka. satu persatu mereka menyalami bu Heni mereka meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan barusan. Terlebih Bowo yang selalu menimpali pertanyaan bu Heni dengan jawaban yang menyakitkan.
“ Bu maafin saya ya Bu.. Sekali lagi Selamat ulang Tahun untuk ibuku yang baik hati…” Bowo mengucap itu disertai dengan deraian air mata haru dari Bu Heni. Sekenario yang dibuat oleh anak kelas 3.A berhasil. Sekarang ketegangan itu berubah menjadi suasana suka dan cita merayakan hari ulang tahun sang guru Teladan.
Tag:








