RASANYA baru saja Adam membaringkan tubuhnya tatkala suara melengking itu menggelegar lagi membangunkan tidurnya. Di luar, langit masih gelap. Mungkin sekitar jam tiga pagi, karena cahaya bulan sudah tidak seterang kelihatannya. Ia menggosok-gosok matanya, menghalau kabut yang masih setia mengaburkan pandangannya. Sambil menguap lalu menggeliat, Adam berjalan menuju kolam kecil di dalam ruang guanya. Seraya membasuh muka dengan air tersebut, ia menajamkan lagi indera pendengarannya. Angin dingin cukup mencengkram tubuhnya dengan kuat menyebabkan bulu kuduknya kaku.
Adam mencoba meneliti suara teriakan itu lagi. Aneh bin ajaib suara itu tidak terdengar. Mungkin tadi hanya perasaannya atau memang ada sesuatu di luar sana. Rasa penasaran dan takut bergejolak di dalam pikirannya. Adam melangkahkan kakinya menuju luar gua dengan sebuah obor di tangan. Tak lupa pisau belati melingkar di pinggang, mencegah jika hal buruk kalau-kalau mengancam nyawanya. Udara masih dingin dan angin laut bertiup kencang, meliuk-liukkan api pada obor yang di bawanya. Ombak bergulung pelan membawa pasir menyebabkan erosi.
Adam mengatur langkah kakinya, sangat hati-hati. Kewaspadaannya semakin ditingkatkan, seperti seorang polisi yang akan menangkap seorang buronan kelas kakap dalam sebuah negosiasi narkotika. Obornya diarahkan ke setiap sudut, ke arah semak-semak yang dianggapnya mencurigakan. Kini Adam berdiri di antara rumput-rumput yang menyerupai ilalang. Suara jangkrik yang saling bersahutan menandakan kegelapan masih kuat berkuasa.
“Kemarin, di semak-semak itu aku melihat bayangan makhluk menyerupai srigala,” gumamnya pelan.
“Apa mungkin suara melengking tadi juga berasal dari sana?” tanyanya kemudian yang entah ditujukan kepada siapa.
Obornya diarahkan ke semak-semak berduri itu. Batang-batangnya yang panjang dan melingkar-lingkar bagai sulur, kokoh. Duri-duri tajam terlihat menyelimuti batangnya saat cahaya obor menyinarinya. Tidak ada apa-apa di sana, tidak seperti yang ada dalam bayangannya tadi. Mungkin hanya pikirannya yang ketakutan menyebabkan imajinasi sosok menakutkan itu menampakkan diri di dunia nyata.
“Apa itu di pohon?” katanya pelan. “Mirip goresan benda tajam? Seperti bekas cakaran,”
Adam mendekati pohon itu. Sinar obor memperjelas penyedikan cepatnya. Dirabanya tanda itu berulang-ulang.
“Ini memang bekas cakaran. Cakaran binatang. Ya, binatang yang besar. Sangat besar.”
“Apa mungkin makhluk itu yang membuat tanda ini?” katanya dalam hati menyimpulkan cepat.
Sesosok bayangan hitam, besar, bersayap, samar-samar terlihat bersembunyi di balik batu besar. Nafasnya terdengar saling memburu ketika mendekati bayangan sosok itu. Langkah Adam tetap waspada. Sebelah tangannya sudah memegang pisau belati yang melingkar di pinggangnya. Tiba-tiba keseimbangan Adam goyah. Ia terjatuh. Rupanya, kakinya tersangkut oleh akar pohon yang tersingkap di tanah.
Obornya menggelinding terus mendekati sosok banyangan itu.
Cahaya yang ada memberikan gambaran akan rupa makhluk tersebut. Mulut Adam kian menganga. Matanya melotot seolah mau keluar dari kelopaknya. Cepat-cepat ia berdiri sambil mencabut pisau belatinya. Adam mundur beberapa langkah. Jantungnya berdegup kencang dengan aliran darah mengalir deras ke seluruh organ. Tak lupa adrenalin menyembur cepat ke otaknya, beda dari biasanya. Bulu kuduknya berdiri kaku. Seluruh tubuh dan deretan gigi dalam rahangnya gemetaran karena takut. Hawa dingin tiba-tiba menyergap tubuh juga jiwanya.
“Ma... makhluk apa kau? A... apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanya Adam ketakutan. “Apakah kau penghuni asli pulau ini?”
Makhluk itu menatapnya tajam. Rupa makhluk itu sangatlah luar biasa. Sangat menakjubkan, seperti yang pernah dibacanya di cerita-cerita dongeng. Sosok makhluk itu berkaki empat seperti singa, tubuhnya tegap besar. Cakarnya kuat mirip cakar si raja rimba. Bulu di sepanjang punggungnya berwarna hitam dan bagian depannya berwarna merah semerah darah bercampur warna biru tua. Sisanya berwarna kuning keemasan. Di pinggangnya terdapat sepasang sayap dengan bulu bercorak putih bercahaya. Yang membuat Adam bertambah kagum adalah bagian kepalanya. Kepalanya mirip kepala elang dengan paruh yang bengkok dan runcing. Apakah makhluk tersebut adalah makhluk mutasi? Hasil kesalahan penggabungan antara singa dan elang.
“Makhluk apa kamu sebena...” kalimat itu tercekat di tenggorokannya. Belum sempat Adam menyelesaikan kata terakhirnya, seekor makhluk kembali muncul dari semak-semak di sampingnya.
Dengan tiba-tiba makhluk yang baru muncul itu menyergap dan menyerangnya. Kukunya tajam yang menyatu di semua ruas jarinya menancap di pundak Adam. Ia ditindih. Pundaknya sakit, perih tak tertahankan. Adam berteriak sambil meringis kesakitan. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah makhluk itu.
Tampang makhluk itu bringas, barisan gigi yang runcing berderet di rahangnya, dengan liur yang terus menetes bagai bisa ular yang sangat mematikan. Makhluk itu seperti pernah dilihatnya. Seluruh tubuhnya menyerupai anjing, berbulu hitam lebat dan kusut, sepasang tanduk menjulang di kepalanya. Sorot matanya mengerikan, berwarna hitam seakan-akan indera itu bisa menghisap semua kebahagiaan yang tersimpan dalam kenangan pikiran.
Tiba-tiba makhluk yang berwajah elang dengan tubuh singa itu langsung menyerang sosok anjing yang tadi menyergap Adam. Mereka saling mencakar, menggigit serta menghindar. Sempat sekali sebelum Adam pingsan, ia melihat makhluk yang menolongnya itu digigit membuatnya meronta kesakitan.
***
Dirasakannya hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, terlepas dari udara dingin yang terasa di dalam gua. Ingin rasanya Adam terus berbaring namun saat tangannya meraba-raba sesuatu yang aneh dari biasanya, lebih menyerupai bulu, ia langsung terbangun. Cepat sekali, hingga tak bisa dibayangkan olehnya sendiri. Matanya masih setengah terbuka tatkala makhluk yang dilihatnya tadi malam tidur di sampingnya. Wujudnya anggun nan berkharisma. Perpaduan yang sangat indah antara badan singa dengan kepala menyerupai elang. Adam menggosok matanya sekali lagi mencoba keluar dari alam mimpinya yang masih berbayang. Walau digosok berapa kali pun, mimpi itu tidak juga pergi.
Ini bukan mimpi. Ini kejadian nyata. Adam telah sadar sepenuhnya. Di perhatikannya makhluk itu dengan teliti. Matanya memperhatikan tiap sudut tubuh makhluk itu. Tiba-tiba tangannya bergerak sendiri. Antara kagum dan dilumat oleh rasa takut, dielusnya badan makhluk itu secara perlahan.
Halus. Lembut sekali. Lebih lembut dari kain sutra yang pernah aku rasakan, ujarnya dalam hati. Adam kaget ketika makhluk itu terbangun lalu bergerak pelan. Cepat saja Adam melompat, mendorong badannya ke belakang. Sosok makhluk itu menatap tepat ke arah kedua mata Adam. Seakan sedang menghipnotis pikirannya. Adam terdiam, tak dapat bergerak. Pandangannya tak dapat dialihkan ke arah manapun juga.
I... ini berbahaya. Makhluk itu berdiri dengan susah payah, lalu berjalan mendekati Adam dengan langkah tertatih. Baru setengah jalan, makhluk itu kembali terjatuh. Lengkingan suaranya terdengar sangat pilu. Langsung saja Adam melihat luka menganga di kaki makhluk itu. Keberanian yang tadinya sempat muncul lalu menghilang, entah kenapa muncul lagi dengan tiba-tiba. Mungkin rasa kasihan yang mendorongnya berbuat demikian. Dengan cepat Adam mengambil kain bekas sobekannya kemarin dari dalam tas ransel temuannya. Disobeknya kain itu menjadi beberapa bagian lagi. Dengan hati-hati kain itu dililitkan satu persatu hingga menutupi luka menganga itu. “Terimakasih...” kata-kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulut makhluk itu. Adam kembali ke kesadarannya semula, ke kepribadiannya yang penakut tadi. Langsung saja ia mundur gemetaran.
“Ka... kau. Apa barusan kau yang berbicara padaku? Apa kau yang mengucapkan ucapan terimakasih itu?”
Makhluk itu menggangguk. Ia kemudian mencoba berdiri lagi dengan tenaga sisanya, berjalan mendekati orang yang telah menolongnya. Adam menyeret tubuhnya kembali ke belakang, terus hingga tak bisa lagi karena terhalang oleh dinding gua. Kini wajahnya dan wajah makhluk itu sangat dekat. Sangat dekat hingga ia bisa melihat bulu-bulu halus di wajah makhluk itu. Baunya harum, seharum bungan mawar yang baru dipetik dari kebun surga.
“Jangan takut,” kata makhluk itu menenangkan. Suaranya pelan, seolah tertelan oleh suara deburan ombak di luar saat menabrak dinding karang. “Aku tidak akan melukaimu. Malah sebaliknya, aku ingin berterimakasih padamu karena telah mengobati lukaku ini.”
“I... itu bukan apa-apa,” ujar Adam masih ketakutan. “Lagipula kaulah yang sebenarnya menolongku. Bukankah kau yang menolongku saat tadi diserang oleh makhluk yang mirip srigala itu.” Lagi-lagi Adam teringat akan peristiwa itu apalagi terhadap makhluk buas yang mau membunuhnya itu. Cepat-cepat ia menghilangkan bayangan sosok menakutkan itu dari pikirannya sendiri.
“Kau sebenarnya makhluk apa? Apakah kau berasal dari pulau ini?”
Makhluk itu diam sebentar lalu berbicara dengan suara rendah, serendah tadi. “Aku adalah Griph dari bangsa Gryphon. Aku datang dari Hygia Sophia.”
“Hygia Sophia? Tempat apa itu?”
“Kau tak mungkin tahu tempat itu. Itu adalah dunia di mana sihir dan makhluk sihir seperti aku ini diciptakan. Dunia kami sebenarnya hampir mirip dengan dunia kalian,” makhluk itu menjelaskan tanpa sungkan.
“Memangnya kalian pernah melihat duniaku tinggal? Maksudku tempat manusia seperti aku ini hidup?” jelas Adam.
“Tentu saja. Memangnya siapa sosok bayangan aneh ataupun sosok raksasa yang terkadang kalian lihat pada malam hari. Kami kadang muncul dengan wujud berbeda secara tak sengaja di depan kalian. Kami adalah makhluk sihir. Kami biasanya pergi ke duniamu hanya sekedar untuk memperhatikan tingkah dan pola hidup kalian para perculyar.”
“Perculyar?” kata Adam tidak mengerti.
“Itu sebutan kami untuk kalian para manusia dan sebangsanya sebab kalian berbeda seperti kami. Berbeda dalam hal rupa, bentuk tubuh maupun semuanya. Ingat, kami adalah makhluk sihir.”
“Aku kira makhluk sihir itu hanya bualan cerita dongeng. Hanya isapan jempol.”
Makhluk itu mengurai senyuman. “Percayalah, makhluk seperti kami ini memang nyata.”
Adam mengangguk, kemudian bertanya lagi, “Maukah kau lanjutkan lagi ceritamu? Sepertinya aku mulai tertarik dengan semua itu. Ini benar-benar baru di telingaku.”
“Seperti yang tadi aku katakan kepadamu, dunia kami hampir mirip dengan dunia kalian. Namun di dunia kami—Hygia Sophia terbagi atas tiga tempat berbeda, berdasarkan makhluk tempat penghuni masing-masing wilayah tersebut. Yang pertama adalah Machu Piccus yang merupakan tempat tinggalku, beserta makhluk sihir lainnya. Stone Hangius merupakan rumah bagi para kaum Nymph.”
“Nymph? Makhluk apa lagi itu?” Sebelah alis Adam naik.
“Mereka adalah makhluk dari sebuah kaum legendaris di dunia sihir. Wujudnya seperti seorang peri atau bidadari yang tinggal di alam bebas. Mereka biasanya tinggal di air, pepohonan maupun di daerah pegunungan.”
Adam mengangguk-angguk walaupun ia tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh makhluk itu. Rasa takutnya yang tadi muncul telah lama menghilang.
“Ada apa? Bagaimana dengan tempat yang terakhir?” tanya Adam saat melihat ekspresi wajah makhluk itu berubah.
“Ah tidak apa-apa,” katanya. “Tempat yang terakhir adalah tempat yang tidak boleh didatangi siapapun, baik dari bangsa tempatku tinggal maupun dari kaum Nymph.”
“Memangnya ada apa dengan tempat itu?” tanya Adam sambil membetulkan posisi duduknya.
“Ayers Rockdius disebut juga sebagai Death Valley. Itu adalah tempat terlarang. Tempat di mana semua makhluk kegelapan tinggal. Tidak ada satupun dari bangsaku maupun dari bangsa makhluk sihir yang lain mau pergi ke tempat itu. Semua makhluk sihir yang mencoba ke tempat itu tidak pernah kembali. Mereka seolah-olah tertelan di dalamnya.”
“Lalu bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini? Bagaimana kau bisa ada di sini?” Adam mengulangi pertanyaannya.
“Aku di kejar-kejar oleh makhluk dari Ayers Rockdius. Seperti yang kau lihat kemarin saat kau diserang. Dia adalah Kerberos—makhluk sejenis srigala yang tinggal di Ayers Rockdius. Konon dia adalah makhluk peliharaan Hades, penjaga neraka berkepala tiga, tapi dia membuat suatu kesalahan yang tidak bisa dimaafkan sehingga dua kepalanya dipenggal dan dia pun diusir dari neraka dan sekarang tinggal di Ayers Rockdius.”
“Mengapa makhluk itu mengejarmu? Apa kau pergi ke wilayahnya, maksudku ke Ayers Rockdius?”
Makhluk dari bangsa gryphon itu duduk. Mencari posisi agar dia bisa beristirahat dan mengumpulkan kembali kekuatannya.
“Bukan, bukan seperti itu. Sebenarnya, mereka menginginkan benda ini,” sambil memperlihatkan sebuah kunci emas yang menggatung di leher sang Griph. Kunci itu tampak lusuh. Ada goresan-goresan pada ujungnya.
“Dia telah membunuh semua bangsaku demi untuk mendapatkan kunci ini. Hanya aku satu-satunya yang masih tersisa. Hanya aku yang sanggup bertahan.”
“Memangnya buat apa kunci itu bagi mereka? Itu tidak tampak seperti sebuah kunci yang berharga? Kenapa kau tidak memberikan saja kunci itu untuk menyelamatkanmu?” jelas Adam.
“Ya, mungkin bagimu yang belum tahu betapa berharganya kunci ini pasti akan berkata begitu. Tapi jika kau tahu betapa pentingnya kunci ini, kau akan bersedia menjaganya bahkan dengan mengorbankan nyawamu sendiri seperti kami. Kunci ini merupakan satu-satunya cara untuk menghubungkan dunia kami dengan duniamu—dunia manusia.”
Adam terkejut. Semua kisah-kisah yang ia dengar ini, tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Ini seperti cerita dongeng. Ya, cerita yang sering dibacakan oleh orang tuanya saat ia akan tidur di malam hari. Benar-benar imajinasi yang menjadi kenyataan.
~To Be Continue~
dikirim abc 16 minggu 6 hari yang laluTag:












