Anima/Moonless Orchestra - Kepingan I

'Monster' tidak pernah ada di dunia ini, dan kalaupun ada sesuatu yang pantas diberi nama 'Monster', itu adalah 'Pemikiran Manusia'.

***

Bising suara Cicada mengumumkan kedatangan musim panas. Seluruh kota membara. Angin kering bertiup menerbangkan debu ke udara. Di dalam perpustakaan, beberapa kipas angin berputar, berdengung, dengan sia-sia berusaha menyejukkan ruangan.

Tapi dibandingkan di luar, suasana di dalam perpustakaan sungguh sangat nyaman. Beberapa orang dengan santai membaca buku atau majalah, beberapa lainnya sambil berbisik berbincang-bincang dengan riang, sementara itu di ujung sebuah lorong di antara rak buku dengan tenang Arkhan tertidur , duduk bersandar pada dinding ruangan. Di atas pangkuannya sebuah buku terbuka.

Lonceng angin yang beberapa saat lalu dipasang oleh penjaga perpustakaan berdenting saat angin mempermainkannya. Sekarang sudah lewat tengah hari.

Arkhan menguap lebar sebelum akhirnya ia membuka matanya. Waktunya kembali ke rumah. Sambil mengusap matanya ia mengembalikan buku di atas pangkuannya ke tempat semula.

"Sudah mau pergi?"

Arkhan menganggukkan kepalanya. Gadis penjaga perpustakaan itu tersenyum lalu mengambilkan ransel Arkhan dari lemari penitipan barang.

"Hati-hati di jalan."

Pintu perpustakaan dengan perlahan tertutup di belakang Arkhan. Suara Cicada, terik matahari, sekarang benar-benar musim panas. Untuk beberapa lama Arkhan hanya diam berdiri dengan tatapan kosong. Ia tak ingin kembali ke rumah.

Dengan hati-hati ia mengeluarkan skuter listriknya dari tempat parkir di samping gedung perpustakaan. Lalu tanpa mengenakan helmnya ia mengendarainya ke luar.

Jalanan tampak jauh lebih lengang daripada biasanya. Anak-anak kecil yang biasanya berlarian di lapangan di sebelah sungai pun hari ini sama sekali tak terlihat. Arkhan memandangi bukit kecil di sebelah selatan kota, seingatnya dulu ia biasa menghabiskan musim panasnya bermain di sana bersama kawan-kawannya.

Biasanya ia membutuhkan dua puluh menit untuk tiba di rumahnya. Kali ini pun juga begitu, hanya saja entah kenapa dua puluh menit kali ini terasa jauh lebih lama. Mungkin sang waktupun ikut memuai akibat panas siang ini. Seharusnya ia membeli skuter biasa yang jauh lebih cepat, tapi setidaknya skuter listrik ini jauh lebih hemat dan sedikit banyak ia pun berperan serta mencegah pemanasan global.

Sebuah pertigaan, belok ke kiri. Sebuah perempatan, lurus. Pada pertigaan berikutnya untuk sejenak Arkhan menghentikan skuternya.

"Halo Koku, bagaimana kabarmu hari ini? Hei-hei jangan mengacuhkanku."

Tapi Koku terlalu mengantuk untuk diajak bercanda. Ia membuka matanya, menguap lebar, memandangi Arkhan dengan tatapan kesal, lalu kembali memejamkan matanya.

"Dasar kucing malas..." Arkhan dengan gemas mengusap kepala Koku, "tapi benar juga, tempat ini terasa lebih sejuk." Kembali hanya terdengar dengung Cicada, entah bagaimana udara di bawah bayang-bayang pohon tempat koku tertidur terasa begitu melenakan. Arkhan memandangi Koku--kucing hitam gemuk dengan bercak putih di telinga kirinya, menarik napas panjang lalu kembali meneruskan perjalanannya. Beberapa saat kemudian ia tiba di depan sebuah rumah kecil bertingkat dua dengan halaman kecil yang di penuhi tetumbuhan. Rumahnya.

Bunga matahari di sudut taman sudah mulai mekar, di beranda atas beberapa helai jemuran melambai-lambai di tiup angin. Arkhan memasukkan skuter listriknya ke dalam garasi. Apakah ia melewatkan sesuatu ? Rasanya tidak. Tanpa mengetuk pintu ia bergegas masuk ke dalam.

"Aku pulang !!!"

Tentu saja tak ada jawaban. Kadang kala Arkhan tidak tahu apakah ia harus bersyukur tinggal di perumahan kecil yang tidak terlalu ramai. Ia tak bisa membayangkan seandainya suatu ketika orang yang tidak menyenangkan tiba-tiba saja masuk selagi ia tidak ada.

Setelah melepaskan sepatunya, seperti biasanya, Arkhan langsung menuju ke ruang keluarga. Di sana, tertidur dengan posisi yang cukup memalukan, satu-satunya keluarga yang dimiliki Arkhan.

Wanita itu berbaring dengan piyama yang kelihatannya terlalu besar untuknya--piyama itu milik Arkhan. Rambutnya yang hitam legam tergerai, wajahnya yang polos tampak begitu manis. Sulit membayangkan wanita ini telah berumur 39 tahun. Untuk sesaat Arkhan tak bisa menahan diri untuk tetap membiarkan wanita itu tertidur, tetapi...

"Hei Rarisa..."

"Emmm... aku akan menyelamatkan seluruh dunia..."

Apa yang diimpikan wanita ini.

"Kau bisa masuk angin jika tidur disini."

AC di dalam ruangan itu berdengung perlahan.

"Emm.. bertahanlah kucing kecil..."

"..."

Ini sudah keterlaluan.

"M-A-M-A"

"..."

Pukulan telak, wanita itu seketika membuka matanya dan ketika ia melihat Arkhan ia pun mulai terisak.

"Jahaaaatttt!!!"

Wanita itu langsung berlari meninggalkan ruangan.

Arkhan tak pernah tahu mengapa ibunya tak pernah mau di panggil 'Mama', samar-samar ia masih ingat bagaimana Rarisa setengah mati mengajarinya ketika kecil untuk memanggil dirinya dengan nama aslinya. Yah setidaknya pekerjaan membangunkan Rarisa jadi lebih mudah.

Naik ke lantai dua, Arkhan masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan kipas angin. Biasanya ia akan membuka jendela besar yang menghubungkan kamarnya dengan beranda atas namun karena saat ini masih tengah hari rasanya itu bukan ide yang baik.

Arkhan kembali mengeluh, sebenarnya ia ingin langsung berbaring tapi sayangnya masih ada mulut yang harus diberi makan. Setelah mengganti pakainnya, Arkhan beranjak menuju dapur. Sepintas pandangannya tertuju ke beranda di seberang jendela. Rasanya ada sesuatu yang ia lewatkan, tetapi sekejap kemudian, ia sudah melupakannya.

***

"Tidakkah kau ingin belajar memasak?"

Rarisa menggelengkan kepalanya. Dengan susah payah ia menghabiskan makanan di dalam mulutnya.

"Hei, hei pelan-pelan."

"Enaknyaaa!"

"Kau benar-benar tidak ingin bisa memasak?"

"Aku sudah bisa memasak. Umm tambah!"

Arkhan kembali mengambilkan makanan untuk Rarisa. Rupanya bagi wanita ini, mendidihkan air untuk menyiapkan mkanan instant sudah bisa dikatagorikan memasak. Arkhan kembali menghela napas.

"Aku kembali ke kamarku."

"Ummm."

***

Sudah pukul empat saat Arkhan terbangun dari tidurnya. Langit sudah berubah kemerahan. Pakaian yang ia jemur di beranda seharusnya sudah kering sejak tadi. Dengan enggan ia beranjak ke beranda lalu mengambil jemuran yang tergantung, memasukkannya ke dalam keranjang lalu mengangkatnya masuk ke dalam. Setidaknya Rarisa cukup ahli dalam pekerjaan rumah tangga lainnya.

"Rarisa! pakaiannya kuletakkan disini!"

"Ya, terima kasih."

Sedang mandi rupanya. Sepertinya ide bagus. Arkhan kembali kekamarnya untuk mengambil baju ganti.

"Oh ya apa kau melihat sesuatu di beranda ketika menjemur pakaian ?"

"Apaa?"

"Lupakanlah dan tolong jangan terlalu lama di kamar mandi."

"Baaaiiikkk."

Arkhan baru saja akan menutup pintu kamarnya ketika tiba-tiba ia kembali merasakan ada sesuatu yang ia lewatkan. Ia mempertimbangkan apakah sebaiknya ia tidak perlu menghiraukannya. Tapi tunggu dulu, ini sama sekali tidak tepat. Maka dengan sigap Arkhan membuka jendela kamarnya.

"Hei, kau mau makan malam?"

Gadis yang sejak tadi siang duduk di pagar pembatas beranda menolehkan wajahnya. Matanya yang hitam legam bertemu pandang dengan mata Arkhan yang berwarna merah saga, memandangi Arkhan dengan tatapan aneh seakan-akan ia tak yakin apa dirinyalah yang diajak bicara oleh Arkhan.

"Masuklah. Aku tak tahu apa yang kau sukai, tapi seharusnya masih ada sisa Omelet yang kubuat siang tadi."

Gadis itu menganggukkan kepalanya lalu dengan tenang memasuki kamar Arkhan.

Read previous post:  
Read next post:  
50

asyik ....! lam knal ya....!

Writer Alfare
Alfare at Anima/Moonless Orchestra - Kepingan I (11 years 10 weeks ago)
90

cicada +-= higurashi +-= tonggeret

145, kayaknya kalo menilai dari jenis cerita ini, kita memiliki jenis selera imajinasi yang sama. Yang pasti, dengan kemampuan kamu menggambarkan suasana dengan jumlah kalimat minimal, kamu betulan punya bakat jadi penulis light novel.

Ngomong2, soal ibunya itu mengingatkanku akan sebuah serial bernama Toradora! Apa kamu juga baca?

IMO, aku masih belum sreg sama judulnya. Tapi terserah kamu. Selebihnya, bagus kok.

Writer Villam
Villam at Anima/Moonless Orchestra - Kepingan I (11 years 10 weeks ago)
90

ini cerita yang menarik!
dengan deskripsi dan narasi yang cukup, kamu berhasil membangun suasana di sini. bagus. tinggal rentetan dialognya saja, yang banyak sekali tanpa menggunakan keterangan, hingga dibaca dua atau tiga kali masih sulit menentukan siapa yang sedang berbicara. bantulah pembaca lebih banyak di sini. :-)