Anima/Moonless Orchestra - Kepingan II

Tiga hari telah berlalu sejak Arkhan pertama kali berbicara dengan Anima. Udara masih sama panas.

Saat ini sudah beberapa menit sejak Arkhan berkeliling dari satu rak buku menuju rak buku lainnya. Sesekali ia menghela napas sambil menggaruk kepalanya.Mungkin seharusnya ia pergi menuju laboratorium komputer. Tepat saat itu gadis penjaga perpustakaan datang menghampirinya, tersenyum lebar dengan sebuah buku di tangan kananya.

Sambil mebolak-balik halaman buku itu Arkhan mencoba mengingat kembali pembicaraannya dengan Anima.

Hari I:

"Jadi, boleh tahu siapa namamu?"

"Anima"

Hari II:

"Anima, aku tak melihatmu kemarin malam"

"Aku pergi berkeliling."

"Kau mencari sesuatu?"

"Umm"

"Bagaimana masakanku hari ini?"

"Lezat"

Hari III:

"Jadi apa kau manusia?"

"Aku bagian kecil dari Anima Mundi... tapi untuk berinteraksi secara langsung dalam realita ini, ya aku manusia."

"Ngomong-ngomong kau tak kepanasan?"

"Aku mengenakan Topi."

"Topi yang bagus... mirip topi penyihir hanya saja memiliki err dua puncak."

"Terima kasih."

Lalu siang ini, sebelum Arkhan pergi menuju perpustakaan. Seperti biasa Anima masih duduk di pagar pembatas beranda di depan kamar Arkhan.

"Aku akan pergi ke perpustakaan, kau mau ikut?"

Anima menggelengkan kepalanya.

"Emm kemarin kau bilang kau sedang mencari sesuatu, boleh kutahu?"

"World Eater."

Sejenak Arkhan berhenti membaca buku. Jika dipikirkan, percakapannya dengan Anima selama ini benar-benar tak masuk akal. Apa ada yang salah dengan kepalanya ? Itu mungkin saja, Rarisa beberapa kali bertemu dengan Anima, menanyakan beberapa hal yang tidak begitu penting, lalu melupakannya begitu saja seakan-akan hal itu tak pernah terjadi. Rasanya Anima berada di ambang batas antara Realita dan Khayalan.

Ini tidak benar. Ia seharusnya tak mempercayai ucapan Anima, tapi sesuatu memaksanya memilih antara mempercayainya atu melupakannya. Dan ia tahu jika ia memilih tak mempercayainya maka ingatan akan hal itu akan menghilang begitu saja.

"Aaaaa!!!"

Untuk kesekian kalinya pemandangan ini terulang. Orang-orang tertawa. Tolonglah, ini perpustakaan. Dengan enggan Arkhan menghampiri si gadis perpustakaan lalu membantunya memunguti buku yang dijatuhkannya.

"Terima kasih! Terima kasih!"

"Kau tak perlu repot-repot mentraktirku minuman kaleng."

"Umm, kau selalu membantuku, setidaknya izinkan aku mengucapkan terima kasih sewajarnya."

Di samping gedung perpustakaan ada mesin penjual minuman kaleng. Untungnya tempat itu hampir selalu dinaungi bayang-bayang.

"Namamu Loka kan? Aku tak pernah bertemu denganmu sebelum musim panas, kau bekerja sambilan?"

"Ayahku adalah ketua dewan pengelola perpustakaan"

Arkhan menghabiskan minumannya lalu membuang kalengnya ke tempat sampah. Tempat yang sejuk. Dia melirik kucing yang dengan tenang tidur di samping mesin penjual minuman kaleng.

"Dasar kucing malas."

"Eh?"

"Maaf-maaf yang aku maksud adalah Koku"

"Koku? Maksudmu Mimir? Dia sering datang kemari"

Loka kembali mengucapkan terima kasih sebelum berpamitan--ia harus kembali ke dalam--pada Arkhan. Rambut coklatnya yang dikuncir bergoyang ketika ia berlari kecil ke dalam gedung. Ah ia terjatuh, lucu sekali. Rambut Anima juga berwarna coklat, tapi rasanya kurang panjang untuk dikuncir seperti rambut Loka.

"Eh kau juga mau pergi?"

Koku meragangkan badannya, menguap lebar lalu berjalan perlahan meninggalkan Arkhan seorang diri. Samar-samar suara Cicada terdengar disela-sela deru kendaraan yang sesekali lewat. Arkhan menarik napas panjang lalu kembali masuk ke dalam gedung perpustakaan.

***

Anima Mundi adalah jiwa dari dunia yang menyatu dalam segala sesuatu yang ada di alam ini. Secara tidak langsung hal tersebut berarti pada dasarnya dunia ini juga merupakan satu makhluk hidup yang memiliki jiwa dan kecerdasan, suatu makhluk hidup tunggal yang mengandung makhluk hidup lainnya, dimana semuanya secara alami behubungan satu sama lain.

Benar-benar tak masuk akal sama sekali.

Anima Mundi adalah inti dari semua materi di dunia, namun ia bukanlah bagian dari materi itu. Lebih jauh lagi Anima Mundi diyakini memiliki hubungan dengan Jiwa Manusia, dikatakan kebijaksanaan dan pengetahuan yang dimiliki Anima Mundi berasal dari kebijaksanaan dan pengetahuan Jiwa Manusia.

Seseorang tolong terjemahkan hal ini dalam bahasa manusia.

Anima Mundi bukanlah suatu substansi yang statis, melainkan substansi yang hidup dan dinamis, tercipta dari harapan, mimpi, dan imajinasi terdalam yang dimiliki manusia dan semua makhluk lainnya. Sebuah kesadaran universal yang menghubungkan kesadaran dari seluruh manusia sepanjang masa.

Semakin buruk, semuanya tampak samar. Huruf-huruf, rangkaian kata, tumpang tindih tanpa arti.

Sementara sebagian besar berpendapat bahwa dunia ini hanyalah kumpulan materi yang terpisah dari Manusia, mereka melupakan bahwa pada dasarnya dunia ini hanyalah ilusi yang diciptakan oleh pemikiran manusia yang dapat dengan mudah berubah karena berbagai dorongan dalam jiwa manusia.

Satu ditambah satu sama dengan dua, dua ditambah dua sama dengan empat, empat ditambah...

Anima Mundi melingkupi segala hal yang ada di dunia ini, semua fenomena yang terjadi di dunia berpengaruh padanya, dan segala yang terjadi padanya berpengaruh pada dunia.

Sudah cukup!

Tunggu dulu, bagian berikutnya tampak lebih mudah dipahami.

Hadiah terbesar yang diterima oleh manusia dalam kehidupannya adalah kesadaran akan tujuan kehidupan itu sendiri. Tanpanya Keberadaan Manusia tak lebih dari materi belaka, dan segala yang dilakukannya sama sekali tak memiliki arti.

Tanpa kesadaran jiwa, Manusia terperangkap dalam dunia materi. Perlahan-lahan melupakan tujuan sakral keberadaannya di dunia, terasing dari hakikatnya sebagai manusia.

Saat ini Dunia tengah terlelap, menderita akibat mimpi-mimpi manusia, mimpi buruk yang telah berubah menjadi kekacauan dan ketidaksempurnaan.

Arkhan menutup bukunya. Ini tak banyak membantu. Lalu apa yang dimaksud World Eater ? Pemakan Dunia ? Mungkin sejenis binatang. Hari ini ia harus menanyakannya lebih detail pada Anima.

"Yooo!!!"

Seseorang menepuk punggung Arkhan dengan keras. Menyakitkan.

"Aku tadi ke rumahmu tapi Rarisa bilang kau ada di sini."

Arkhan berbalik lalu kembali mengeluh. Orang yang menyebalkan sudah kembali dari liburannya.

"Kau banyak kerjaan rupanya?"

"Dan kau? Kukira kau pulang ke rumah nenekmu liburan ini?"

Lelaki itu mengangkat bahunya lalu duduk di samping Arkhan, mengambil buku yang tadi dibaca Arkhan, mengerenyitkan dahi, lalu meletakkannya kembali.

"Anima Mundi, huh?"

"Kau tahu sesuatu?"

Sepercik harapan muncul.

"Tentu saja tidak."

Dan menghilang begitu saja.

"Kalau begitu tak usah bicara."

"Aku bawa oleh-oleh dari tempat nenekku."

"Benarkah?"

"Aku menyerahkannya pada Rarisa."

Sayang sekali tapi wanita rakus itu akan menghabiskannya. Arkhan meletakkan kepalanya di atas meja lalu menghela napas. Lelaki di sebelahnya hanya menyeringai lalu mengeluarkan sekotak rokok dari saku bajunya. Tolonglah ini Perpustakaan.

"Kau melihat sesuatu yang aneh di rumahku tadi?"

Arkhan pelan-pelan menghabiskan minuman kalengnya, sementara laki-laki berambut hitam cepak di sampingnya dengan tenang merokok. Entah darimana Koku tiba-tiba muncul lalu berjalan menghampiri laki-laki di samping Arkhan.

"Sesuatu yang aneh?"

"Misalnya sesuatu yang sebelumnya tidak ada di beranda atas rumahku. Ngomong-ngomong disini Koku dipanggil dengan nama Mimir."

"Benarkah? Tidak, kurasa tidak ada yang aneh, tapi kalau kau mau aku bisa menceritakan pengalamanku selama pergi ke tempat nenekku. Kau pasti tidak mempercayainya"

"Kalau begitu tidak usah."

Hari mulai menjelang petang, di barat langit memerah. Sementara Arkhan melamun, lelaki di sampingnya bermain-main dengan Koku. Suara Cicada terdengar makin nyaring.

"Musim panas menyenangkan ya?"

"Tidak juga."

"Oh ya, tadi Rarisa memintaku memberitahumu agar cepat kembali, dia mengatakan sesuatu seperti persediaan makanan habis atau semacamnya."

"Begitukah?"

"Ummm..."

Kembali hanya terdengar bising suara Cicada. Arkhan melempar kaleng sisa minuman ke tempat sampah.

"Akan kubalas kau!!!"

Dengan kecepatan tinggi, Arkhan berlari kembali ke dalam gedung perpustakaan. Lelaki yang tadi bicara dengan Arkhan tersenyum garing sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia benar-benar lupa.

Read previous post:  
23
points
(1067 words) posted by 145 11 years 10 weeks ago
57.5
Tags: Cerita | lain - lain | 145 | anima
Read next post:  
70

Ada adegan yang pernah gw baca di mana gitu... kayak visual novel Jepang. Tapi bumbu-bumbu yang dibicarakan di dalamnya lumayan.

Writer Alfare
Alfare at Anima/Moonless Orchestra - Kepingan II (11 years 10 weeks ago)
90

Sebenernya, istilah [tersenyum garing] ini datang dari mana sih? Aku kok enggak suka ya sama ungkapan itu.

Terlepas dari itu, di luar dugaan ini bab yang benar-benar bagus. Cuma, hm, daya cerna dan imajinasi pembaca mesti bagus kalo pengen bisa nikmatin cerita ini.

Aku menikmatinya. Betulan. Kurasa kamu harus mempromosikannya ke elbintang.