Keinginan anak ini tidak bisa dihalangi lagi, setiap hari selalu menulis dan menulis dan mempublikasikan hasilnya di www.kemudian.com . Agar dia bisa menjadi yang terbaik dan bisa menggapai cita–cita menjadi penulis hebat.
Sepulang sekolah dia selalu meluangkan waktunya pergi ke warnet dan duduk di bangku komputer untuk menulis karya–karya terbaiknya. Tetapi kesalahnnya selalu dalam mengetik cerita-ceritanya karena kelalaian dalam mengedit tulisan. Saat menuliskan cerita yang berjudul “Menggapai Cita–Cita” dia berharap ceritanya kali ini bisa diterima di dunia, mengetik dengan lebih baik lagi.
Saat menuliskan cerita itu, orang tuanya marah besar karena mereka tidak setuju dengan keinginannya sebagai penulis, orang tuanya menginginkan anak itu sebagai pegawai negeri. Maklumlah dia berasal dari keluarga yang kelas bawah yang ingin berkehidupan mewah.
“Eh, kamu mau kemana,” bentak ibunya.
“Mau ke warnet bu...” kata anak itu
“Mau ngapain kamu kesana mau nulis di kemudian.com lagi ? tidak usah, cepat masuk,” ibunya marah.
“Tapi, ceritaku belum selesai,” katanya.
"Tidak usah...ayo masuk!" bentak ibunya
Dia kemudian berencana ingin menghibur ibunya dengan menuliskan seuntai puisi, padahal dia belum menyelesaikan ceritanya.
Selang dua hari puisi untuk ibunya sudah selesai, kebetulan ada lomba baca puisi di kampungnya, dia maju ke atas panggung membacakan puisi berjudul ‘IBU’.
“Assalamualaikum..., bapak dan ibu yang ada di sini…” dia menyapa semua orang yang ada di lapangan, sedangkan ibunya duduk di bangku belakang.
***
Ibu…
Engkaulah payungku
Payung yang selalu melindungiku
Dari panasnya kehidupan duniawi ini
Engkaulah ayunanku
Ayunan yang selalu menimangku dengan hati
Engkau sosok pahlawanku
Pahlawan yang selalu melindungiku
Jika aku besar kelak
Aku akan terus menjagamu
Menjagamu tiada henti
Walau aku besar kelak
Aku tidak bias membahagiakanmu dengan materi
Tetapi, do’a selalu ku panjatkan untukmu
Walau engkau pergi untuk selama – lamanya
Aku akan selalu berdo’a untukmu
Supaya engkau bahagia di dunia ataupun di akhirat kelak.
***
Kemudian sang Ibu berlari menuju ke atas panggung dan memeluk erat anaknya dengan aliran air mata penyesalan. Karena, lantunan puisi itu membuat hati seorang ibu yang tadinya sangat membenci sosok anaknya yang ingin sekali menjadi penulis menjadi runtuh.
“Terima kasih, nak...” sang ibu berkata dengan tangisnya
“Ya...bu...” katanya
“Sekarang ibu akan membiarkanmu berkarya dan berkarya di dunia sastra” kata sang Ibu
Sang Anak kemudian bersorak dengan gembira, karena sang Ibu sudah merestuhi kalau dia boleh menulis lagi, dan dia bisa melanjutkan tulisannya lagi mempublikasikannya di kemudian.com.

Emaak......[T.T]
nyntuh bgt..
^^
Emak!! sayangilah anakmu yak :D
Klimaksnya kurang greget bok :D
Saya setuju dengan .Klimaksnya tidak terasa. Ide untuk menulis puisi pada cerpen sudah baik tapi mungkin pengantar ke puisinya kurang.. Keep on writing! Practice to perfection :)
# Ini tentang kamu ya??
# Aku merasa deskripsi kamu di tulisan ini terlalu self-centered ya?? Padahal, kenyataannya kamu tidak menggunakan sudut pandang first person (orang pertama).
Mungkin akan lebih hidup kalau kamu membubuhkan deskripsi lingkungan, suasana, dan situasi di sekitar si-anak itu.......
# Konflik yang kamu bangun ini rasanya tidak menanjak sama sekali. Maksudnya ya?? Coba baca saja, bahkan klimaksnya pun saya tidak merasakan....
Mungkin suasana yang ingin kamu di kisah ini mellow-mellow gitu ya (syahdu-mendayu-dayu)?? Tapi, tetap saja konfliknya tidak menanjak dan berakhir begitu saja.
Mungkin akan jauh lebih baik lagi, kalau misalnya si tokoh (si anak itu) diceritakan mempunyai rintangan saat membuat puisi 'IBU'. Misalnya, si-ibu sama sekali tidak memberi waktu si-anak untuk mengetik puisi. Atau, si anak dusurh kerja gimana-gitu sehingga ia tidak sempat mengetik puisinya.
Lalu, dikisahkan pula bagaimana susah-payahnya perjuangan si anak membuat puisi itu....
Memang terkesan mendramatisir sih, cuma saya rasa itu akan jauh lebih berklimaks ketimbang si anak tiba-tiba baca puisi aja....
Salam!!!
Inti ceritanya bagus
tapi kenapa kok penggambarannya terlalu sederhana ya?
Apa mungkin itulah caramu berasumsi?
Bagus-bagus menyentuh bgt
MANTAP!
nah gitu dong kak!
hhmmm... nice, sebuah pemaknaan yg mendalam, terdefinisikan, sangat emosional, salut.... keep write,
Salam,
sangat sederhana...
namun itulah kekuatannya
good job, cieee...
teruslah kaya ini...kalau bisa lebih baik lagi
pegang prinsip, "kalau mau bercerita ya bercerita saja"
meski ada makna yang hendak kau sampaikan, jangan sampai makna itu malah merusak tutur kata bercerita.ok
ini pengalaman kakak??
keren and bagus bangett,,,^^
perpaduan puisi dan ceritaa,,,
MEnAriK
bagus bgt nieh...perpaduan puisi yang mendukung...
bagus...pengalaman pribadi?
sampe kepikiran masukkin puisi di cerpen, kreatif!!
sederhana..tp makna na dalem bgt..hehehe...
jd inget emak saya yg tadi na gak dukung sy jd penulis..
tp lama2 ortu bs ngerti jg loh hhehehehe..
komen tulisa saya jg ya.. hehehe
thx
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Walaupun ceritanya begitu sederhana, seolah memiliki keterbatasan waktu untuk menulis lebih detail dan jelas. Tapi Inti cerita yang ingin disampaikan dapat tergambarkan dengan baik. Saya jadi terpikirkan, klo cerita itu diperpanjang saat si anak masuk ke rumah karena tidak memperoleh izin untuk menulis di kemudian.com. Saya ingin tau karakter si anak yang dengan lapang dada menrima semuanya sehingga muncul inspirasi untuk memberikan sesuatu yang baik untuk ibunya melalui ketertarikannya dalam menulis. Seolah-lah tergambarkan seburuk-buruknya prilaku Ibu beliau adalah Orang tua kita yang melahirkan dan menjaga kita disaat kita masih dalam keadaan yang sangat lemah dan butuh perhatian lebih dari yang lainnya. Lain kali buat lagi tentang Ibu ya....! klo ada waktu kasih tau saya juga.
Terima kasih
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
yang ini bagus.
lugas dan santai denga inspirasi
Lebih baik dari ceritamu yang pernah kubaca. Walaupun cara berceritanya masih terlalu lugas dan sederhana. Banyak baca-baca buku dan cerpen bermutu ya.. Aku yakin dirimu pasti bisa lebih berkembang lagi.
Biar nggak diomelin ibu, coba ngetik tulisannya di komputer dulu. Jadi kalo pas di warnet tinggal posting saja...kekeke
hehehe
happy ending
bagus walau sederhana sekali
mengharukan..
ceritanya bguz!!
hehe...
pap ku jg sk bilang, buat apa sih nulis di k.com? ga ada guna..
gitu katanya..
hahaha...
Terus nulis!!
^^
puisi dlm cerpen? unik juga lho.
oke deh, boleh.
sy cm mau pesen ajaa,
semangaaaaatt!!!
ide yang briliant. mengangkat seputar pandangan masyarakat dan ketakutan orang tua jika anaknya hendak menjadi penulis. "jadi apa? jadi penulis? mau makan kertas?"
cerita ini mengusung tema yang memang seharusnya lebih mengemuka.
meski banyak kesalahan penetikan yang cukup mengurangi kenyamanan pembaca, tulisan ini layak mendapat acungan jempol.
salut!
bener kata yang lai buagus ey...
Keep spirit!... keren cerpennya, apalgi dengan perpaduan puisinya...
naseb... kalo aku tetep masih harus diam-diam nih sekarang... hu hu hu.... (terbesit rasa iri di hati)
akbhhirnya hahaha... setuju juga tuh ibu.
apa ya..?? alurnya terlalu cepat mungkin. puisi yang bagus. ah diriku hampir tak pernah lagi membuat puisi untuk ibu sejak masuk kul, padahal ibu sangat berarti banget buat aku
^^
brusha trz yahh utk menggapai cita2...
ttp zemangat ^^ yg ini udah bagus kok
Moga2 jadi penulis deh. Trus dapet tambahan uang jajan buat ngewarnetan dong? ^^ Good poem! ^^
apa ya??? salut sama niat jadi penulisnya yang ibaratnya dian yang tak kunjung padam ( novel marah rusli atau siapa ya??? ). cuma, ada beberapa typos saja. hehehe..koment yg klasik dari wie.tetap menulis ya ,de....semangat terus.......jgn menyerah......semoga kamu benar2 bisa menjadi penulis seperti cita2mu. Aminnnnnnnn
huakakakk,,,,,
mimpinya kecepetan.bangun-bangun nanti sakit kepala dan pusing. ga jelas, dia di panggung baca puisi dalam rangka apa.
yah,semangat yang bagus...
teruskan saja
Mudah-mudahan cira-citanya jadipenulis tercapai ya Wafi.. Amin