Cerita ini masih membingungkan, jika itu terjadi, silahkan memberikan pendapat tentang itu.,,,
Makasih....
Jemari itu kembali menari, dengan lincahnya menyusuri semua lekukan sang keyboard. Tapi kurasakan ada yang berbeda tatkala sang jemari itu terpatung beku bahkan tak berdaya ketika dihadapkan pada lekukan huruf-huruf. “Ada apakah dengan jariku?”. Pikir ku waktu itu. Tanpa komando dari sang otak, dia segera berlari menuju tempat dimana asap itu terbentuk rapi. Api itu segera melumat habis uraian tembakau yang disusun apik oleh balutan kertas tiada arah. Kutemukan jemari itu tak lagi menyentuh tubuh sang keyboard lagi, tapi mencoba mengais sisa-sisa asap yang membuatnya berimajinasi.
Semburan asap yang indah, menyusuri semua unsur-unsur yang ada dalam kamarku. Ku biarkan asap itu memenuhi pojok ruanganku, untuk membentuk kemahiran dalam berinteraksi. Berinteraksi? Ya, paling tidak berinteraksi dengan komoditas otak. Tak lama berselang, suara dering telpon genggamku membuyarkan semua lamunanku. “Hallo..”. Ucapku singkat mengawali pembicaraan. “Hallo juga mas, tolong untuk besok semua harus sudah jadi ya mas”. Suara di seberang sana melumat semua imajinasiku. Suara yang sebenernya tak ku inginkan, berharap suara itu datang dari seorang hawa yang selalu kuimpikan dalam berkhayal. “Iya, besok semua sudah jadi”. Tutupku tanpa mau berdiskusi lebih panjang dengan suara yang sepantasnya ku anggap sampah.
Lalu ku kembali dengan tatapan bisu seorang pemimpi. Pemimpi yang senantiasa mengobarkan semangat kemerdekaan, semangat yang membuatnya bisa hidup dan bahkan mampu berkembang. Setidaknya sampai saat ini. Tak ragu lagi, dengan paksaan sang otak, jemari yang sedari tadi sibuk berargumen dengan pendapatnya sekarang mulai melirik tajam pada lekukan huruf-huruf tadi. Huruf-demi huruf tersusun rapi dalam layar monitor 14 inchi itu, membentuk kumpulan kata yang tak tahu seberapa besar artinya. Dan dari itu, kata-kata tersebut seolah di perkosa untuk bergabung menjadi kalimat-kalimat yang aku pun tak tahu kemana akan di arahkan.
“Akhirnya selesai juga deadlineku untuk hari ini”. Ucapku sendirian di dalam keheningan malam, yang mencoba bertaruh untuk membuyarkan semuanya. Ku ambillah bantal dan kutata rapi semua peralatan yang mendukungnya untuk kembali menuju singgasana mulia, yakni mimpi. Sebelum ku matikan lampu yang sedari tadi menemaniku dalam kegelapan dunia, kupaksakan naluri ini mengais sisa-sisa keindahan yang tadi siang kudapatkan. “Sial, dimanakah engkau wahai bidadari? Mungkinkah engkau bosan terus berkhayal denganku”. Umpatku lirih dalam puing-puing kesendirian. Tanpa sadar, aku pun tertidur dalam remang-remang kehidupan.
dikirim zacky 22 minggu 3 hari yang laluTag:








