Mengapa Begini? (sinopsis)

50
points
"

Ini adalah sinopsis FTV yang tidak jadi kuikutkan ke sebuah sayembara. Rencananya, mau diubah jadi novel saja. Atau, jika ada PH yang minat, boleh, deh, dijadiin film, asal royaltinya sesuai. Hehe.
Untuk sementara, silakan teman-teman apresiasi. Aku mohon kritik dan saran untuk pengembangan ceritanya. Insya Allah, 2015 nanti akan kumulai pengerjaan novelnya.

"

Lukman siswa kelas XII SMA, anak tunggal di sebuah keluarga sederhana. Di rumah, ia tinggal bersama Ayah seorang karyawan biasa sebuah perusahaan dan Ipas sepupu perempuan Lukman yang tunarungu. Ipas duduk di kelas VIII SMP. Orang tua Ipas dan ibu Lukman meninggal dalam suatu kecelakaan saat Ipas masih kecil. Mereka suka saling menjahili hingga salah satu jatuh menangis.

Hingga suatu hari, Lukman tidak menemukan dirinya dijahili oleh Ipas. Ipas sendiri tengah sibuk dengan lamunannya. Ia teringat dengan Mario, pemuda ganteng yang pernah tak sengaja menyenggolnya dengan setang sepeda motor saat pulang sekolah. Orangnya terlihat bertanggung jawab dan baik hati. Ia buru-buru turun untuk melihat kondisi Ipas.

Mereka berkenalan. Pemuda itu lalu sering terlihat saat pulang sekolah. Ia menunggu Ipas untuk mengantar pulang. Sepanjang jalan, Mario terus mengoceh. Ia terpaksa bicara sendiri karena Ipas tidak bisa bicara. Ipas hanya senyum-senyum melihat Mario bicara sendiri.

Suatu ketika, Mario melencengkan (melencengkan = merubah jalur, meleng) jalan pulang. Ia malah melarikan Ipas ke toko perhiasan. Ia hendak membelikan Ipas sebuah kalung mahal sebagai ganti kalung yang hilang saat kejadian itu. Ipas senang-senang saja. Apalagi saat masuk ke toko perhiasan yang Mario pilih, Ipas berdecak kagum. Tambah kaget saat Mario mempersilakan Ipas memilih sesuka hatinya. Ipas lalu memilih sebuah kalung sederhana, yang harganya terbilang paling murah dari yang lain.

Namun Mario menunjukkan kalung lain yang lebih cantik. Ipas tertarik. Namun ketika disebutkan harganya yang jutaan, Ipas terbelalak. Ia menolak. Mario bingung karena yang membayar tentulah bukan Ipas. Namun Ipas tetap menolak. Ia mengambil pena dan kertas dan menulis, “TERLALU MAHAL. GANTILAH DENGAN YANG SEPADAN.”

Mario mengaku ikhlas, tandanya pemaksaan terselubung. Ipas kembali tergoda. Tetapi ia segera sadar dan kembali menulis, “AKU HANYA ANAK SMP, BUKAN GADIS DEWASA. AKU SEBENARNYA TERTARIK. NAMUN UNTUK SEKARANG, AKU TIDAK MEMERLUKAN YANG SEMEWAH ITU.”

Mario tetap kukuh. Ipas bisa memakai kalung pilihannya setelah dewasa nanti. Ipas mendengus dan untuk yang ketiga, ia menulis, “JIKA BERNIAT MENGGANTI, GANTI DENGAN YANG SAMA. JIKA BERNIAT MENGHABISKAN UANG, LEBIH BAIK KAU BAWA AKU KE TOKO SEMBAKO. KELUAGAKU TERANCAM KELAPARAN.”

Mario ternyata playboy ulung. Baru kali ini ia bertemu dengan gadis yang memporak-porandakan rencananya untuk memberikan kesan dramatis saat bersama denganya. Sebenarnya, ia sudah berencana untuk menyatakan cinta gombalnya saat mengenakan kalung mewah yang ia belikan. Namun, akhirnya ia menyatakan cinta di depan pintu rumah Ipas, dengan tubuh penuh keringat dan tak mampu berkata-kata.

“TERIMA KASIH. KAU SUNGGUH BAIK,” tulis Ipas.

“KULAKUKAN INI DEMI CINTA,” tulis Mario. Ia sudah seperti Ipas saja yang telah (maaf) cacat sejak lahir. Mario terpaksa memikul 100 kg beras karena ban sepeda motornya mendadak kempis seratus meter sebelum sampai.

Di suatu kesempatan, dengan bersusah payah, ia mengajak Ipas singgah ke sebuah restoran. Mendadak, seorang gadis melabraknya. Mario berkelit bahwa mereka telah putus. Namun itu bohong oleh si gadis. Ipas yang tak tahan, segera melarikan diri. Ia menangis sehari-harian. Cinta pertamanya dilabrak orang.

Di lain pihak, Lukman senang bukan main. Tadi siang, ia diminta secara sepihak oleh seorang adik kelas anggota OSIS, untuk menemani mengantarkan surat undangan kepada OSIS sebuah SMA lain. Di sana, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang gadis. Pertemuan mereka tak sengaja tatkala Lukman hendak ke toilet. Gadis yang bernama Wina itu terkunci di toilet siswa. Bukannya terima kasih, teman-teman Wina malah menuduh Lukman bukan-bukan. Namun, pulangnya Wina menemui Lukman di SMA Lukman untuk minta maaf. Ia takut masalah kecil itu berujung besar.

Entah kenapa, pertemuan biasa itu membuat Luman terus memikirkanya. Maka untuk kali ini, giliran ia yang meminta secara sepihak untuk menemani adik kelas anggota OSIS ke SMA tersebut untuk meralat sesuatu. Lagi-lagi, Lukman menemukan Wina terkunci di toilet siswa (bukan siswi). Namun sekarang, ia melihat pelakunya serombongan siswi badung. Lukman sempat dihardik namun dengan sedikit peragaan tenaga dalam yang ia miliki -- sebuah hembusan angin di antara mereka -- gadis-gadis itu mundur teratur. Wina tersenyum kagum. Mulai saat itu, hubungan mereka makin dekat, makin dekat, dan akhirnya Lukman berani menemui keluarga Wina di suatu malam Minggu.

Di sanalah terungkap. Wina adalah Adek, sementara Lukman dulunya berpanggilan Bang Man. Reuni kecil terjadi antara tetangga berbelas-belas tahun lalu. Wina sendiri dulu adalah cinta kecil Lukman. Hingga sekarang, masih belum sirna.

Namun dulu, cinta tersebut terhalang oleh ayah Wina yang sama sekali tidak suka dengan Lukman semenjak ia sedikit-sedikit naik tingkat kehidupan ekonominya. Lukman hanya anak orang miskin. Lalu suatu ketika, mereka pindah ke luar negeri. Ternyata sekarang sudah pulang. Ayah Wina sudah tidak mempersoalkan status ekonomi tersebut. Justru, ia yang sangat antusias agar hubungan Lukman dan Wina lebih serius. Padahal, Lukman masih belum berani memastikan hubungannya dengan Wina sekarang.

Pelan-pelan tapi pasti, gayung pun bersambut. Di bawah naungan daun pisang yang diguyur hujan deras, Lukman menyatakan cintanya. Dan Wina menerima dengan tulus hati.

Rasa-rasanya, hubungan mereka akan berjalan dengan mulus. Apalagi? Orang tua Wina sudah benar-benar setuju, Wina suka dengan Lukman, dan keluarga Lukman tidak ambil pusing, meski sebelumnya Ayah sempat ragu. Ayah pernah dihina oleh orang tua Wina. Namun sakit hati tersebut, pelan-pelan untuk diusahakan agar sembuh.

Namun rupanya, halangan datang dari seorang teman Wina. Indri. Gadis tomboy anak tunggal seorang janda yang membuka warung kecil-kecilan itu sangat protektif atas Wina dan teman-teman lain satu kelompoknya. Ia tak mudah untuk diluluhkan. Ia yang paling berani menghajar siswi-siswi yang suka jahil dengan Wina.

Sekarang, musuhnya bertambah satu. Lukman. Sebelum ia bisa memastikan Lukman adalah pemuda baik-baik, ia takkan menyerahkan Wina begitu saja. Perang Dunia Ketiga pun dimulai. Lukman sering bermain geriliya untuk menghindari perang terbuka. Tapi akhirnya, tetap main perang nuklir juga. Menghadapi Indri, mendadak Lukman seperti tidak menguasai ilmu tenaga dalam yang pernah diajarkan sang kakek.

Diam-diam, ada pihak musuh lain. Mereka adalah gadis-gadis yang suka menjahili Wina. Mereka mulai melancarkan taktik agar Lukman terlihat sebagai pemuda hidung belang. Hal itulah yang semakin membuat Indri membenci Lukman. Ia semakin memperketat penjagaan.
Usai membalas dendam dengan gadis-gadis badung itu, giliran Lukman melancarkan strategi. Ia ingin mempermalukan Indri di telepon umum. Dengan penyamaran, ia meminta Indri membantunya untuk menelepon seseorang. Ketika Indri menyeberang jalan, Indri tertabarak oleh sepeda motor. Kejadian itu terjadi hampir sama persis dengan kejadian yang menimpa Ipas. Dan justru itu hal yang sangat menggembirakan bagi Lukman (meski di luar skenario).

Kian lama, karena sibuk dengan hubungannya dengan Mario, Indri merenggangkan penjagaan terhadap teman-temanya. Dengan leluasa, Lukman bisa menemui Wina.

Namun, masalah baru muncul lagi. Ayah yang telah lama menduda, berniat hendak menikah dengan seorang janda. Meski sulit mendapat persetujuan dari Lukman dan Ipas, akhirnya kedua anak itu bisa menerima, walau tetap ada beberapa syarat menyertai.

Sayangnya, tanpa sepengetahuan Lukman, janda itu adalah orang tua dari Indri. Indri juga tidak menyadari hal tersebut. Ia setuju saja asal ayah baru adalah orang yang baik, tidak akan menyiksa seperti yang ada di sinetron (hampir sama dengan tuntutan Lukman dan Ipas).

Sebelum mereka menikah, mantan suami ibu Indri yang lagi-lagi kebetulan pimpinan perusahaan tempat Ayah bekerja, meninggal dunia. Dalam surat warisan tertulis bahwa seperempat hartanya disedekahkan. Sisanya, diberikan kepada mantan istrinya, termasuk seluruh perusahaan yang ia miliki. Ibu Indri kaget. Tapi tidak bisa menolak karena terus dipaksa oleh orang-orang kepercayaan mantan suaminya tersebut untuk menerimanya.

Terjadi kehebohan saat ibu Indri pergi ke perusahaan. Ayah mengaku mereka akan menikah ke setiap karyawan yang menanyakan mengapa mereka selalu terlihat bersama. Dan Ayah sempat pingsan ketika tahu bahwa ibu Indri adalah pemilik perusahaan yang sekarang.

Sebelum pernikahan, rasanya perlu untuk mempertemukan keluarganya masing-masing. Ayah dengan membawa Ipas dan Lukman menyambangi kediaman ibu Indri yang masih sebuah rumah sederhana. Rencananya, ibu Indri segera akan pindah ke rumah mewah jika sudah menikah.

Gara-gara pertemuan tersebut, Lukman dan Indri langsung menyatakan tidak setuju. Alasannya, karena mereka adalah musuh. Namun, Ayah dan ibu Indri jalan terus. Mereka menikah dan pindah ke rumah mewah. Lukman dan Indri terpaksa ikut. Karena jika tetap tidak setuju, lebih baik tinggal sendiri (tapi, siapa yang akan masak?). Toh, siapa tahu jika mereka menjadi saudara, mereka bisa menjadi akrab?

Hari-hari pertama di rumah baru, Indri menjaga gengsi. Ia berlagak bisa menggunakan seluruh perabot rumah yang serba modern. Tapi ketika mempraktekkannya, hasil yang didapat berantakan.

Menjadi saudara Indri, berarti dapat kerjaan baru. Diputuskan bahwa Lukman harus mengantar dan menjemput Indri pulang sekolah. Karena untuk memindahkan salah satunya agar satu sekolah adalah tanggung. Mereka berdua telah kelas XII, tak lama lagi ujian dan lulus (amin).

Padahal menurut Lukman, Indri tidak perlu dijaga. Indri itu perkasa. Namun, Lukman tetap terpaksa. Menurut tanggal lahir yang beda tanggal, Indri adalah adiknya.

Pelan-pelan mendekati ujian, perseteruan heboh antara Indri dan Lukman berangsur-angsur mereda. Mereka malah saling membantu, meski Lukman jurusan IPA sementara Indri jurusan IPS. Akhirnya, mereka lulus dengan nilai memuaskan (alhamdulillah).

Namun masalah belum berakhir. Lukman tak sengaja tahu bahwa Indri (masih) berhubungan dengan Mario. Sebelum apa-apa, ia berusaha menyelamatkan Indri, namun terlambat. Ia mendapati Indri menangis di kamar. Siang ini ia muntah-muntah. Ia mengaku hamil. Namun Lukman tidak percaya begitu saja. Ia mengajak Indri ke dokter. Dan dokter menyatakan bahwa Indri hanya keracunan makanan yang telah kadaluarsa.

Your rating: None Average: 6.3 (8 votes)
dikirim dirgita 16 minggu 4 hari yang lalu
Tag: