Naga Iblis…satu yang paling ganas di antara naga-naga api.
"Dongh Man Panna
(Penguasa Naga)
"Lempar telur itu ke api!" suruh Ni Ratma membuat Raojhin heran.
"Lempar?! Telur ini bisa terbakar! Bukannya guru menyuruhku untuk memeliharanya?" Raojhin ragu gurunya menyuruh demikian. Mukanya penuh heran sambil mengamati telur di tangannya.
"Memang benar! Api akan memanggangnya!" Tidak salah lagi, Ni Ratma menegaskan. Raojhin tidak habis pikir, justru terbengong saja.
"Turuti saja kataku…lempar segera!" suruh Ni Ratma tidak ingin banyak kata lagi.
"Guru memang orang yang sangat membingungkan! Aku sama sekali tidak mengerti. Bisa saja suatu saat Guru menyuruhku untuk terjun ke jurang tanpa boleh bertanya alasannya? Benar bukan?" Raojhin agak menggerutu sebelum menuruti perintah gurunya.
"Lempar dulu, setelah itu akan kujelaskan sesuatu…," kata Ni Ratma datar.
Telur di tangan Raojhin akhirnya dilempar ke tengah tumpukan bambu berkobaran api. Suaranya cukup keras terdengar saat terbanting ke sana. Setelah itu, Raojhin sama sekali tidak melangkah mundur meskipun api menggeliat semakin tinggi dan menggertak telur sampai terdengar rekahan bunyinya seperti lempengan pecah.
"Naga Iblis…satu yang paling ganas dan liar di antara naga-naga api. Usia telur itu lebih dari 10 ribu tahun.
Para leluhur dan turun temurun yang mewarisi, sengaja menyimpannya di dasar sungai agar bisa mempertahankan telur itu tetap hidup tetapi tidak bisa menetas," Ni Ratma menceritakan sekilas tentang telur yang sekarang sedang terpanggang itu.
Raojhin menoleh ke belakang, melihat wajah Ni Ratma yang memandang kosong ke kobaran api di hadapan mereka.
"Naga Iblis?" antara tidak percaya dan heran, Raojhin menatap balik gurunya, kemudian beralih lagi pada tumpukan bambu yang berkobar. Ujung bulat telur itu masih bisa terlihat dari tempatnya berdiri. Ia mulai menyala kemerahan dan berasap.
"Jadi itu telur naga?" Raojhin berkernyit dahi, seketika terbahak setelahnya.
"Guru tidak sedang mengecohku, 'kan?" tiba-tiba Raojhin kembali serius lantaran merasa curiga.
Ni Ratma bungkam. Namun bukan tanpa sebab, sepertinya ia sedang membaca sesuatu di pikirannya.
"Ia akan segera menetas…!" kata Ni Ratma masih dalam mata terpejam erat.
Raojhin terpaku di tempat. Tampak telur itu masih tak bergerak. Hanya warnanya yang semula hijau berubah seperti bara api.
"Apa mungkin makhluk naga masih ada di zaman ini?" Raojhin meracau sendiri. Namun cukup terdengar oleh Ni Ratma.
"Mereka adalah makhluk yang sudah sangat langka. 1000 tahun terakhir, hanya sedikit dari bangsa penyihir yang masih memeliharanya. Kecuali mereka, jangankan menyentuh, melihat naga hanya bisa terjadi dalam mimpi atau khayalan bagi orang-orang biasa," Ni Ratma mulai menanggapi lagi. Rupanya ia baru saja usai dari konsentrasinya.
"Akulah bangsa Mahelya terakhir yang mewarisi telur Naga Iblis. Tetapi sungguh…sebelumnya…aku tidak pernah ingin menetaskan telur ini hingga sekarang. Sampai aku bertemu denganmu dan…," Ni Ratma terdiam sejenak.
"…dan melihatmu berbeda, karena itu…aku memutuskan bahwa kamulah yang pantas menetaskan telur itu. Aku yakin jika naga itu berjodoh denganmu. Kamulah tuannya yang akan mengendalikan dan menguasainya. Kekuatannya adalah kekuatanmu juga!"
Raojhin termangu selama mendengar gurunya berbicara.
Untuk sesaat keduanya terdiam, saling memandang dari tempat masing-masing. Dan sebuah suara retakan keras mengejutkan mereka.
(Bersambung)
dikirim alifwood 15 minggu 6 hari yang laluTag:












