Belajar Terbang
Neira sangat ingin menjadi seekor burung. Ia akan melakukan apa saja, dengan cara apa saja. Kini ia tengah mencoba cara lain, yaitu dengan naik ke atas meja. Tapi ketika dicobanya untuk melompat dari atas meja dan mengepak-ngepakkan kedua tangannya, ia tidak bisa mengapung di udara seperti layaknya seekor burung. Malahan lututnya lecet dan jarinya terkilir.
Namun itu belum membuat Neira jera. Dia kemudian memanjat loteng rumahnya untuk bisa melihat burung-burung yang sering berkitar-kitar di sekitar kompleks rumahnya. Aku mungkin bisa belajar dari cara burung-burung itu terbang, pikirnya. Neira memang tak pernah ketinggalan menyaksikan terbang burung-burung. Di mana pun dia bertemu dengan seekor burung dia akan berhenti, menatapnya lama-lama. Belum lama dia juga membeli sebuah teropong kecil agar bisa melihat burung-burung dengan jelas. Neira betah berlama-lama, berdiri tegak seperti bajak laut yang memantau kapal-kapal di kejauhan. Saat teman-temannya memanggilnya dari bawah untuk mengajak main layang-layang, Neira selalu menolak. Neira tidak puas hanya dengan sanggup menerbangkan layang-layang. Kalian belum sanggup terbang seperti layang-layang, seperti burung? Begitulah Neira membatin.
Sengaja Neira tidak memberitahu kepada banyak orang tentang keinginannya itu. bisa jadi orang-orang akan terpingkal-pingkal, atau tidak peduli, atau malah marah besar. Mengatainya sebagai bocah ingusan yang bodoh seperti yang sudah dikatakan oleh kakaknya. Kecuali Mamanya, di mana Neira hampir mendapat jawaban dan sedikit harapan.
“Kamu bisa terbang nanti kalau kamu punya banyak uang.” kata Mamanya meyakinkan. Neira membelalak.
“Apa Neira bisa membeli sayap? Betulkah ada yang menjual sayap di supermarket !?”
“Makanya kamu harus rajin menabung. Nanti kamu bisa beli tiket pesawat ke manapun kamu suka. Kamu juga bisa terbang ke Disneyland.”
Neira cemberut. Harapannya yang meledak seketika langsung surut. Naik pesawat, naik pesawat, selalu itu saja yang dikatakan Mamanya. Padahal Neira ingin betul-betul terbang, bukan naik pesawat. Ingin terbang seperti burung, hinggap di pohon atau berkitar-kitar di atas rumah. Bisa terbang tanpa harus naik pesawat atau pakai parasut. Kalau cuma naik pesawat Neira sudah terlalu sering. Dia pernah ikut Mamanya saat pergi ke luar negeri. Ke Singapura, ke Australia, sampai ke Eropa. Tapi Neira belum pernah sekalipun terbang sendiri. Punya sayap sendiri.
Neira belum ingin melupakan keinginannya untuk bisa terbang. Setiap hari ia rajin berdiri di depan cermin dan melihat apakah sudah tumbuh sayap di sekitar punggungnya. Adakah tonjolan tulang terlihat mulai menyembul? Neira hampir tak percaya, setelah ia menanggalkan bajunya dan menengok ke cermin. Sayap itu sungguh-sungguh bukan mustahil. Di punggungnya kini, sudah melekat kedua sayap yang lebar. Membentang dan mencapai sudut kamarnya ketika ia berusaha menggerakkan tangan dan mendapati ada sepasang sayap yang tiba-tiba mekar. Mulanya Neira sangat terkejut, berulangkali mengusap matanya, tidak percaya. Apa aku tidak sedang bermimpi ? Benarkah ini sungguh-sungguh nyata? I believe I can fly ! Pekiknya menirukan lagu R. Kelly sambil berputar-putar. Tawanya hampir meledak seketika, tapi sempat ditahan dengan kedua tangannya.
Tempat yang pertama kali dikunjunginya adalah rumah Bibi. Maka dengan hanya mengepakkan sayap, Neira langsung melesap, terbang menyusuri seluruh rumah-rumah yang berada di kompleks perumahannya. Kini ia sudah tidak lagi perlu mengayuh sepeda kecilnya itu untuk bepergian. Ia tidak lagi harus menunggu teman-temannya untuk bermain-main. Dia sudah bisa terbang sendiri, pergi sendiri. Karena aku sekarang adalah seekor burung, kata Neira sambil berhenti meluncur dan hanya mengambang di udara. Ia ingin menatap rumah bibinya dahulu. Menikmati segala puncak keinginananya yang baru tercapai. Di tempat itu, di ketinggian itu, ia biasa melihat layang-layang terbang. Di tempat itu dia biasa melihat burung-burung terbang dan berkitar-kitar. Semua yang dulu sempat membuatnya penasaran. Semua yang dulu nampak begitu luar biasa yang kini terlihat biasa. Semua rumah-rumah dan pohon-pohon terlihat kecil di matanya. Rumah Bibi tidak begitu besar bila dilihat dari atas sana. Lapangan bola tempat untuk main teman-temannya hanya nampak selebar sampul buku gambar. Rumah-rumah itu menjadi sangat kecil, lapangan itu, pohon-pohon itu, betapa kecil dunia ini.
“Met pagi Bibiku yang paling cantik.” Sapa Neira melayang di atas jemuran.
Bibinya mendongak ke atas sebentar, lalu melanjutkan kembali menjemur pakaian-pakaian yang masih tertumpuk di ember hitam.
Neira bingung sendiri melihat bibinya yang tidak menaruh rasa heran sama sekali. Apakah Bibi tidak melihat kedua sayapku? Pikir neira
“Selamat pagi Bibiku yang paling cantik ….!!!” sekali lagi Neira mencoba menyapa Bibinya dengan suara yang lebih keras. Nyaris dia berteriak sekencangnya.
Bibinya sekali lagi hanya melongok ke atas, tapi tetap diam dan tidak berkata apa-apa. Tidak terkejut, atau berteriak seperti yang semula disangka Neira. Neira menjadi semakin kesal. Lantas turunlah dia mendekati bibinya.
“ Bibi, apakah bibi tidak tahu sekarang neira sudah punya sayap?”
Neira memamerkan kedua sayapnya yang menjuntai seperti tali jemuran.
“Bibi sudah tahu.”
“Dari mana Bibi tahu. Siapa yang memberi tahu?”
“Semua orang juga tahu. Buanglah sayapmu itu. Atau kamu akan mendapat malapetaka.”
Neira terbang, melesap kembali ke rumahnya. Dia mendarat, turun di halaman rumah, lalu melesap lagi dengan cepat ke ruang TV. Tidak ada ibu disana. Neira masuk lagi ke kamar kakaknya.
“Bangun! Bangunlah, Kak ! Aku punya kejutan buat Kakak! Bangun!” teriak Neira membangunkan kakaknya yang tengah pulas tidur di kamar.
Dengan mata yang masih berat, kakaknya berusaha bangun dari tidur. Melihat sepasang sayap yang membentang di dalam kamarnya. Neira menatap kakaknya tajam, menunggu reaksi.
“Turunkan sayap pembawa malapetaka itu. Bisa-bisa jatuh piguraku.” Kata Kakaknya yang lantas kembali meringkuk dan memeluk bantal.
Neira bertambah kesal. Bibi dan kakaknya keduanya sama saja. Neira tidak peduli dengan mereka. Apa pun maksud mereka mengatakan sayap itu adalah sumber malapetaka. Toh sekarang dia sudah berhasil mewujudkan keinginannya. Terbang, melayang di udara, meliuk-liuk menari-nari di alam bebas. Betapa bebasnya menjadi burung yang punya sayap. Bisa terbang kemana-mana. Bisa pergi ke mana-mana. Di udara Neira melayang-layang, meliuk-liuk, menukik, mengejar burung, mengejar layang-layang, melihat rumahnya yang nampak seperti kerikil, meninggalkan rumahnya yang lama-kelamaan tak kelihatan. Neira terbang amat jauh. Jauh dari rumahnya, dari kompleks perumahan tempat biasa ia main dengan temannya.
Dari pagi hingga malam, Neira sudah terbang ke mana-mana. Dia sudah terbang mengelilingi kota, menyeberangi lautan, menyentuh sungai di dusun-dusun terpencil, bahkan dia sudah hinggap di pohon-pohon paling tinggi di Indonesia, mengungguli gunung Himalaya dan menari di puncaknya. Neira telah berjanji, dia akan terbang mengelilingi dunia. Maka hari berikutnya Neira terbang ke Australia, ke benua Eropa, ke Jepang, Cina, Rusia, Mekah, Amerika, dan tidak lupa pula mampir ke Disneyland yang kesemuanya ditempuh hanya dalam beberapa bulan saja. Hanya dengan mengepakkan sayapnya, Neira dapat dengan mudah berpindah dari menara Eiffel sampai ke tembok besar Cina, atau dari Borobudur ke Prambanan. Dengan kecepatan yang bisa melebihi pesawat terbang. Dengan kata lain, Neira sudah sangat terbiasa bahkan menjadi sangat lincah meluncur di udara.
Ternyata begitu mudahnya jadi burung. Begitu mudahnya menjadi makhluk yang dapat terbang. Neira membatin puas, sambil menatap ke atas. Langit biru, enak dilihat. Dan barangkali juga, pikir neira, enak untuk dikunjungi. Selama ini hanya segilintir orang yang dapat terbang ke luar angkasa. Sekali-kali Neira juga ingin seperti para astronot itu, menembus batas cakrawala. Tapi apakah cakrawala punya batas?
Dengan segenap kecepatan, Neira meluncur lagi terbang ke angkasa. Menembus awan, meninggalkan bumi, melwati Mars, Bulan, Saturnus, matahari melewati batas atsmosfir, menghindari batas hampa udara, melewatinya dan mencapai ruangan yang entah dimana, dia sendiri juga tidak tahu karena dia terus terbang dan belum mencapai ujung cakarawala. Belum mencapai batas cakrawala. Sampai akhirnya Neira merasa kelelahan, lalu menambah kecepatan, tak sabar ingin mencapai ujung. Dimana batas cakrawala itu, dengan kecepatan yang tak terhingga Neira terus mencari, berkeliling, berputar, berteriak memanggil-mangil kalau-kalau ada yang mendengar teriakaknnya dan berharap bisa menanyakan di mana dan bagaimana supaya lekas mencapai batas cakrawala.
Lengang. Tak ada sahutan, hanya suaranya yang terdengar seperti mendesis. Tidak ada dinding yang memantulkan teriakannya. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak terlihat apa-apa. Bumi, Bulan Mars, Saturnus atau pun matahari yang pernah dilewatinya sudah tak nampak. Benda-benda itu seperti menghilang ditelan jarak. Dilihatnya sekeliling. Di mana aku ? Adakah yang dapat membantu memberi tahu ke mana jalan pulang? Segalanya terlihat sunyi. Neira adalah satu-satunya benda yang nampak. Selain itu, kosong.
“ Hai, Neira !”
Neira melihat Jane terbang di sebelahnya. Menyusul pula dibelakangnya Kiki, Doni, Vian, Ayu, Taufik, dan semua teman-temannya yang lain. Neira cuma melongo melihat Kiki melambaikan tangan dan menari-nari dengan sayap seperti miliknya. Sayap di punggung yang dimiliki oleh semua teman-temannya. Jane, Kiki, Vian, Ayu, Taufik bersama-sama mengelilinginya dengan sepasang sayap masing-masing. Mengelilinginya sambil menari dan bernyanyi, berputar-putar. Mereka semua tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Neira.
“Ayo Neira! Ikut dengan kami!” seru Jane
“Iya, ayo Neira! Ayo main ke lapangan !” kata temannya yang lain
Neira masih berdiri mematung di atas loteng dengan teropong kecil di tangannya. Sementara teman-temannya yang memanggilnya dari bawah satu per satu mulai pergi ke lapangan dengan membawa layang-layang. Neira akan terus belajar terbang. Dia tidak akan ke lapangan sebelum dia bisa terbang seperti burung, seperti layang-layang. Neira tidak akan berhenti memanjat loteng rumahnya. Melihat burung-burung yang terbang mengitari kompleks perumahan dengan teropong kecilnya.
dikirim An Fana 11 minggu 3 hari yang laluTag:







